The Martian: Menggugah dengan Cara yang Baik*

Tidak salah jika siapapun menduga bahwa publikasi NASA beberapa waktu yang lalu tentang pernah adanya air di permukaan Mars adalah bagian dari promosi The Martian, film fiksi-sains terbaru dari sutradara Ridley Scott. Sejatinya temuan NASA tersebut berdasarkan pengamatan saintifik dan, yang terpenting, The Martian sudah tayang secara internasional jauh-jauh hari sebelum temuan tersebut. Tapi, ditambah fenomena Blood Moon yang ramai di jagat maya belakangan ini, kehadiran The Martian di bioskop Indonesia menjadi momen yang tepat bagi kita, baik pecinta fiksi-sains atau bukan, untuk mendongak sejenak ke langit malam bertabur bintang dan berpikir, apa mungkin suatu saat nanti kita akan tinggal di luar sana.

Imajinasi manusia akan kehidupan di luar angkasa tak pernah habis dijadikan bahan oleh penulis dan pembuat film untuk menjual kreativitas dan, syukur-syukur, inspirasi. The Martian masih berpijakan pada imajinasi yang sama, walaupun saya sendiri tak ikhlas menyebutnya ‘imajinasi’ karena film ini diadaptasi dari novel fiksi-sains karya Andy Weir yang konon didasarkan pada hasil riset nan akurat. Saya belum membaca bukunya tapi seorang teman yang kelar membacanya mengatakan bahwa novel tersebut kaya akan hal-hal teknis tentang NASA, Mars, dan sains antariksa dengan detil yang mengagumkan.

Ceritanya sederhana: serombongan astronot NASA yang tengah menjalankan sebuah misi di planet Mars terpaksa harus kembali ke Bumi karena badai. Saat akan berangkat pulang, seorang astronot cum botanis bernama Mark Watney (diperankan oleh Matt Damon) terhantam puing dan diasumsikan tewas. Astronot lainnya akhirnya melanjutkan perjalanan pulang mereka ke bumi meninggalkan Mark. Tak disangka, Mark masih hidup. Dengan berbagai cara, Mark berusaha untuk tetap hidup di Mars yang gersang dan tak berpenghuni sambil mencoba mengontak NASA di bumi dan berharap ia bisa kembali.

Saat melakukan eksplorasi di Mars, mereka mendirikan sebuah pangkalan yang bernama HAB. Persediaan makanan, perkakas, dan oksigen tersedia di dalam HAB. Tentu saja, semuanya terbatas: tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan Mark sampai ia berhasil mengontak NASA. Berbekal apa yang tersedia dan ilmu pengetahuan yang ia miliki, Mark ditantang alam semesta untuk menjadikan Mars sebagai tempat yang bisa ia huni walau hanya sementara.

Mengutip pernyataan pembuat film ternama, Paul Thomas Anderson, sebagai penonton “… I never remember plots of movies. I remember how they make me feel.” Untuk film-film teknis seperti ini, saya membayangkan akan ada banyak sekali hal-hal teknis berkaitan dengan fisika dan astronomi yang jika terlewat, tak terpahami akan membuat penonton bingung (lihat saja Interstellar). Apalagi jika Anda sudah punya bekal informasi tentang kualitas novelnya. Tetapi naskah film yang ditulis Drew Goddard mengolah materi yang pelik tersebut menjadi suguhan yang menggugah, jika tidak memperkaya pengetahuan.

Tidak akan lagi ada debat tentang cacat plot (seperti yang pernah terjadi pada Interstellar) karena jika ada cacat plot pun debat seperti itu tak akan lagi menarik. Seberat apapun materi hard science yang melandasi, The Martian disulap menjadi hiburan yang bisa dikonsumsi siapa saja. Sekadar tahu bahwa sejauh ini Mars belum terbukti bisa jadi tempat layak huni saja sudah cukup untuk mencerna cerita The Martian, karena sains disediakan hanya untuk jadi ‘wowing factor’, bukan untuk tampil snob (seperti yang agak muncul di, lagi-lagi, Interstellar, atau ‘Tesseract’? Portal lintas dimensi?). Lihat bagaimana Mark meraut kayu salib untuk dibakar (karena semua perangkat antariksa NASA anti-api), menciptakan air dari hasil ‘pembakaran’ tersebut, mengorek-ngorek tinja untuk dijadikan pupuk, dan menanam kentang di tanah Mars. Melalui proses trial-and-error yang ia jalani, penonton diajak untuk sama-sama bereksperimen bersama Mark dan, pada akhirnya, terkagum saat proses tersebut menunjukkan hasil. Apalagi selama proses yang melelahkan dan menguras emosi itu, penonton justru disajikan lagu-lagu nostalgia dari legenda macam David Bowie atau ABBA―seperti jadi pernyataan bahwa mau ceritanya berat kayak apapun, why so serious?

Lagipula mengamini pernyataan Paul Thomas Anderson di atas, kalaupun pengetahuan sainsnya tidak bisa dicerna, The Martian menjual kesan. Karakter Mark yang jatuh-bangun ditempa kerasnya alam Mars menjadi inspirasi bagi penonton bahwa segala hal, sekecil apapun, jika dikerjakan dengan tekun dan gigih, akan membuahkan hasil. Sebenarnya pesan moral seperti ini umum disajikan baik dalam buku maupun film, tetapi di The Martian, pesan ini dibungkus dengan cara yang baik: ia menunjukkan―bukan mengajari―bahwa saat berusaha ada kalanya manusia gagal dan saat usaha itu membuahkan hasil pun ada kalanya ia musnah dalam sekejap, sehingga penonton terlibat dalam lelah, getir, dan keputusasaan yang dialami si karakter utama. Formula ‘jika berusaha maka akan berhasil’ tidak serta-merta diiyakan oleh The Martian (dan ini konsisten, walau dengan intensitas yang tidak terlalu kuat, hingga film berakhir), sehingga kesan realistis tampil sangat kuat. Sederhana, tetapi yang sederhana seperti ini kadang dipersulit atau dilupakan oleh sajian hiburan sejenis.

Satu hal yang menurut saya mengganggu adalah saat film menyorot apa yang terjadi di Bumi. Catatan besar saya dari Pacific Rim, selain penggunaan bahasa asing sebagai simbolisasi adu kekuatan antarbangsa (Jaeger, Kaiju, dan semacamnya), adalah bagaimana pembuat film mempersilakan orang-orang politis untuk mengangkangi saintis. The Martian, secara halus, masih menerapkan formula yang sama. NASA yang terlihat selalu pikir-pikir bahkan untuk menyelamatkan astronotnya sendiri adalah komponen cerita yang pengembangannya tidak seprogresif pengembangan karakter Mark di Mars. Instruksi-instruksi bossy Teddy Sanders (diperankan oleh Jeff Daniels), direktur NASA, menunjukkan bahwa film fiksi-sains ini masih malas mengatur ulang komponen ‘fiksi’-nya walaupun komponen ‘sains’-nya sukses dirapikan.

Dalam satu kalimat, saya menyimpulkan bahwa The Martian menggugah dengan cara yang baik. Terlepas dari seperti apa novelnya, kita bisa melihat kejeniusan sang penulis dan pembuat film menghadirkan kesegaran dalam genre sci-fi survival yang lesu belakangan ini. Bukan yang terbaik (jika ia bisa menjejalkan pengetahuan tentang antariksa sambil tetap tampil menghibur akan jauh lebih baik), tapi The Martian cukup memberikan rehat bagi kita yang terlalu sibuk dengan urusan Bumi sampai-sampai lupa bahwa yang kita pijak ini hanya satu dari delapan planet, yang mengitari satu dari ratusan miliar bintang, dalam satu dari ratusan miliar galaksi.

*) Tulisan ini juga diterbitkan penulis di blog Me On The Movie dalam bahasa Inggris.

Akbar Saputra

Twitter: @akb_r