Syukur

Kami adalah anak anak
Yang lahir dengan
Ribuan tanda tanya
Merupa api berlompatan
Dalam tempurung kepala
Seperti ingatan wajah kekasih
Saat cinta masih terlalu belia
Serba tergesa gesa
Meringkas dan meringkus
Jadi tesis sekaligus antitesis

Kami adalah anak anak
Yang sering gelisah
Kenapa begini dan bukan begitu
Tapi orang orang dari masa lalu
Bilang kami kurang bersyukur
Entah sejak kapan tanda tanya
Jadi antonim kata syukur?
Diametral seperti jarak kepada rindu
yang menghasutnya jadi cemburu?
Oposisi seperti binary number?

Jika tidak satu maka nol
Jika tidak hitam maka putih
Jika tidak kawan maka lawan
Jika tidak malaikat maka setan
Jika tidak baik maka jahat
Jika bersyukur maka jangan banyak tanya
Jika bertanya maka pasti tidak syukur

Tuhan, kami juga ingin bersyukur tapi bukan jenis syukur yang lebih mirip dengan kontestasi keangkuhan, dimana kenyamanan hidup dipajang berjejer berderet layaknya mainan anak anak di etalase mall ibukota, berhadap hadapan dengan kemalangan orang lain

Setidaknya aku punya pekerjaan
Ketimbang orang orang celaka itu
Yang sekarang masih menenteng
Map ke sana ke mari
Dari pintu ke pintu

Setidaknya aku punya gaji bulanan
Yang cukup untuk
Kredit mobil LCGC
Ketimbang orang orang celaka itu
Bersesakan di KRL

Setidaknya aku bisa beli
Tiket pesawat Jakarta Makassar
Menengok anak istri sebulan sekali
Ketimbang orang orang celaka itu
Yang ke Malaysia jadi TKI

Setidaknya aku bisa upload
Steik dan lasagna di media sosial
Setiap tanggal muda
Ketimbang orang orang celaka itu
Yang makannya Senen Kemis

Adalah perkara kami punya dan mereka tidak
Adalah perkara kami bisa dan mereka tidak
Adalah perkara kami enak dan mereka tidak

Tidak, tuhan. Kami tak ingin syukur semacam itu. Maka ajari kami bersyukur tanpa harus mensyukuri kemalangan orang lain, ajari kami bersyukur yang tidak angkuh. Karena angkuh adalah wabah yang bisa menjangkiti siapa saja

Yang alim bisa angkuh dengan kealimannya
Yang saleh bisa angkuh dengan kesalehannya
Yang bijak bisa angkuh dengan kebijakannya
Yang zuhud bisa angkuh dengan kezuhudannya
Yang tawaddu bisa angkuh dengan ketawadduannya

Pun yang bersyukur
Bisa angkuh dengan
Kesyukurannya

Tidak, tuhan. Kami tak ingin syukur semacam itu. Kami ingin syukur yang pijarnya membawa sebanyak banyak manfaat bagi orang lain. Kami ingin syukur agar orang lain juga punya lebih banyak lagi alasan untuk bersyukur. Kami ingin syukur dengan bekerja lebih baik lagi

Agar yang miskin bisa sekolah
Agar yang miskin bisa berobat
Agar yang miskin bisa makan