Surat-Surat Tanpa Alamat

SuratDemi Tuhan, kalau nanti kutemukan Anopheles betina yang sudah berani menghisap darahku, pelaku yang meletakkan plasmodium-plasmodium kurang ajar yang sekarang berpesta dan beranak-pinak di dalam badanku ini, akan kuhisap darah mereka. Biar mereka tahu, penyakit rindu seorang perantau sepertiku ini bisa mendekam lebih lama, menjangkit lebih sakit, dan membunuh lebih perlahan daripada malaria yang mereka tebarkan.

Jika memang mengeluh harus menjadikanku pendosa, maka berdosalah aku. Pun jika sekarang aku harus mati, maka matilah aku. Tak akan ada bedanya, mati sekarang, nanti, atau sebentar lagi. Kurasa tidak ada lagi yang perlu kuanggap terlalu serius. Kalau aku harus menyerah pada plasmodium-plasmodium itu sekarang, biar kutuliskan dulu sebuah wasiat. Hikayat untuk anak-anak, yang atas masing-masing mereka bertanggung jawab mengecup kerut di kening ibunya. Sebab pada setiap kerut-kerut yang keriput itu setiap anak berutang hayat. Sebab sejak aku kecil ibu juga mengatakan padaku, bahwa setiap utang harus dibayar lunas sebelum tubuh menjadi tak lebih dari seonggok mayat.

Kamu tahu,  seringkali aku menyesal menjadi dewasa. Dulu, saat kecilku itu, tubuhku ini negara yang merdeka. Lalu negaraku ini mengenal waktu, si pencipta usia, orator yang giat berpidato tentang rasa malu. Dengan pemilihan waktu yang tepat, mereka berkuasa dengan doktrin-doktrin kemaluan yang dijejalkan sedemikian pejal pada otakku, memahat hatiku menjadi pengecut seperti sekarang ini. Sedangkan, apalah arti rindu. Mereka hanya sekumpulan pemberontak kecil yang  berjuang  di bawah tanah, memimpikan tubuh yang merdeka dan punya kuasa atas dirinya sendiri sekali lagi.

Sebut aku pengecut, sebut aku penakut, yang manapun aku terima. Aku tak pernah berani menyatakan seluruh kerinduanku. Sejak cinta jarak-jauhku dengan ibu yang Jakarta—Surabaya karena kuliah, hingga hari ini aku membalik lembar-lembar kalender dari Timika untuk bekerja, seluruh kerinduan itu kusimpan rapat-rapat pada surat yang tak pernah mengenal alamat. Kamu harus tahu, semua rindu yang tidak disampaikan tak pernah berhak kamu sebut menyatakan, bagaimana mungkin kamu membuatnya nyata yang kau rindukan tak pernah tahu rindumu nyata?

Disinilah aku sekarang, menggigil di antara malaria yang berpesta semalaman. Tenggelam dalam kenangan-kenangan, genangan yang ditampung mangkuk pelupuk. Membaca kembali keropak-keropak rinduku yang lapuk, satu-satu.

/1/

:Ibuk,

Tidakkah kau lupa mengajarkanku sesuatu sebelum aku berangkat ke Jakarta dulu? Tentang cara melipat mimpi-mimpi? Menjadi pesawat, tangga darurat, atau apalah. Agar aku bisa kabur saat lelah pada angka-angka. Atau bolehkah nanti saat libur semester kubawa saja sepasang lenganmu pulang?

/2/

:Ibuk,

Jika sekarang aku hampir wisuda, tentu karena kamu yang penyihir itu. Ramuanmu yang berisi ejaan-ejaan kata apel dan garuda, yang mati-matian kau paksakan untuk kutelan dalam semalam saat taman kanak-kanak itu. Tentu saja itu rahasianya. Hingga aku mampu begitu lahap menyantap buku-buku, tidak ada kata kenyang. Dosaku untuk menjadi begitu serakah ini, engkaukah yang menanggungnya buk?

Ibuk sayang, kuharap kau ahli dalam menunggu. Sebab pada harinya nanti kau harus menanti hingga disebutkan angka 280, untuk sekedar melihat dari layar raksasa saat tali di topi persegiku (atau belah ketupat?), ini dipindahkan. Kau sedang merapal mantra apa, buk? Apa yang mengukir senyummu begitu rekah melihat angka-angka tak seberapa di kertas dalam mapku?

/3/

:Ibuk,

Beginikah rasanya patah hati? Bahkan aku dibuatnya tak cukup yakin dengan perihal kelelakianku. Menangis tidak menjadikanku dipecat dari pekerjaan berbakti padamu kan, buk? Maaf, buk, lebaran kali ini aku tidak bisa mencium tanganmu. Aku tahu, maafkan aku ya, buk. Maaf.

Harga tiket melambung begitu tinggi seperti balon karet yang diisi helium. Aku sudah berjinjit, tidak sampai.  Aku berlari, menaiki anak-anak tangga ke lantai tiga dan melompat hingga patah kaki, tetap tak sampai. Balon-balon itu sudah terbang membumbung lebih jauh dari langit-langit bumi.

Aku ingin bertemu presiden dan menggugat undang-undang. Jarak antara aku yang anakmu ini dan kau sekarang sudah terlalu jauh. Kerinduan membuatku sedemikian terlantar. Aku ini anak-anak terlantar. Bukankah berarti kerinduanku ini ditanggung negara? Atau gugatanku ini salah alamat?

/4/

:Ibuk,

Memang tidak ada yang abadi di dunia ini; yang manapun, pertemuan bahkan perpisahan, sama saja. Nanti kita akan bertemu, lalu berpisah lagi. Nanti kita menabur rindu, lalu menuai kembali. Aku sudah hafal di luar kepala dengan kata-katamu yang satu itu.

Tapi, buk, apakah kesabaran selalu menjadi solusi? Apakah tidak ada yang perlu ditentang, yang bisa membuatku berontak segagah pejuang? Ya, aku percaya pada Tuhan seperti yang kau ajarkan. Tapi apa Tuhan percaya padaku juga, buk, bahwa aku rindu?

/5/

:Ibuk,

Apa di  sana sedang turun hujan? Jika ya, mungkin kelesahku sedang disampaikan padamu. Tadi pagi Timika juga hujan. Sepertinya aku belum bercerita tentang kawan baruku. Sekarang aku bersahabat dengan awan, segumpal tukang pos bagi perantau-perantau kesepian.

Setiap hujan berteriak, kubisikkan doa-doa pada bulir-bulir gerimis yang jatuh di teras rumah hingga mereka bersatu dengan tanah, atau ditadah oleh daun-daun talas. Atau tergenang di dalam sepatuku. Atau apapun. Lalu matahari menguapkan mereka, bergegas membawa rindu-rindu agar masih hangat saat tiba di sujudmu setiap malam.

Semoga rindu-rindu itu sampai padamu. Bersama aroma tanah-tanah basah, mengendap-endap memenuhi rongga paru-paru. Larut bersama darah dan menyentil sel-sel otakmu agar mengingatku. Setelahnya doakan aku juga ya, buk?

/6/

:Ibuk,

Sekarang, saat makin jauh jarak kita dipisahkan, bahkan jam dinding rumah kita saja tak lagi menunjukkan angka yang sama, aku makin merindukanmu.

***

Aku menangis. Mangkuk pelupuk itu tak pernah cukup besar untuk menampung semua rinduku yang begitu sesak. Hujan salah alamat, kerinduanku itu seharusnya disampaikan kepada ibuku,  bukan dilarutkan kembali dalam air mataku begini. Atau jangan-jangan air-air di daun talas dihisap oleh nyamuk-nyamuk itu? Lalu memasukkan rindu-rindu itu kembali dalam tubuhku, beranak pinak bersama malaria-malaria ini?

Aku mengambil telepon genggamku di atas meja di samping tempat tidur. Aku tak mau mati sebagai pengecut. Nama ibuku sudah muncul di layar telepon, kali ini rindu-rindu akan kukirimkan sendiri, akan kubacakan surat-suratku itu untuk ibuku. Aku tak mau mereka salah alamat lagi. Aku sudah tak percaya pada mereka, bulir-bulir hujan itu.

Operator menjawab teleponku, bukan ibuk. Apa memang takdirku dibikin jadi pengecut begini? Telepon sialan, berani-beraninya dia menghabiskan pulsaku. Telepon genggam itu berteriak, ambyar setelah menabrak dinding yang tetap membisu. Mampus kau dikoyak-koyak sepi! [1]

(Timika, 2014)

[1] sepotong kalimat dari Sajak Khairil Anwar : Sia-sia (Februari, 1943)