Bunuh Diri

“Aku akan mati sekarang!” Perempuan muda itu berteriak hingga otot lehernya mengencang. Seorang lelaki yang berada tak jauh darinya memandang dengan tatapan datar.

“Jika ingin mati, mengapa tak kau lakukan sekarang. Kau membuang waktuku,” lelaki itu mengucapkan kalimat seolah ia tak peduli tentang apa yang akan dilakukan oleh si perempuan.

“Aku benar-benar akan mati!,” si perempuan menggertak lagi.

Kali ini lelaki itu malah sama sekali tak menggubris. Ia menyarungkan kedua tangan ke saku celananya dan menggeloyor pergi. Namun sebelum ia sampai pada langkah kesepuluh, perempuan itu benar-benar memenuhi ancamannya.

***

Tubuh perempuan itu terjun bebas dari gedung bertingkat 23 serupa air dalam plastik yang jatuh ke lantai. Darahnya muncrat membasahi trotoar dan menjadi tontonan para pejalan kaki serta orang-orang yang kebetulan melewati jalan raya. Mereka berkerumun. Mayat perempuan itu ditutupi dengan koran dan kardus.

Polisi segera datang disusul ambulan—barangkali salah satu dari orang-orang yang berkerumun memanggil mereka. Mayat perempuan itu dibawa petugas ambulan untuk diotopsi di rumah sakit. Polisi memasang garis batas dan menandai tempat jatuh mayat perempuan itu dengan kapur khusus.

Lelaki yang tadi bersama perempuan yang sekarang sudah menjadi mayat diamankan oleh polisi. Kesaksian sejumlah orang menyatakan bahwa dirinya adalah orang terakhir yang bersama si perempuan. Saat ditanya oleh polisi ia tak menampik.

***

Setibanya di kantor polisi lelaki itu digiring ke ruang interogasi. Dua polisi, sebut saja A dan B, telah duduk di ruangan berukuran empat kali empat meter. Tak ada apa-apa di ruang senyap itu selain tiga kursi. Satu untuk si lelaki dan dua untuk polisi. Mereka berhadap-hadapan.

Polisi A bertanya, “Siapa namamu?”

“Maut,” jawab lelaki itu.

“Maut siapa?”

“Hanya maut”

“Baiklah. Usia?”

“26 tahun.”

“Pekerjaan?”

“Baru saja mencabut nyawa.”

“Heh, serius!”

“Dari mana asalmu?”

“Neraka”

“Kurang ajar! Beraninya kau mempermainkan kami!”

Polisi A mendekati si lelaki dengan cepat dan segera mendaratkan tinju tangan kanannya pada pipi sebelah kiri. Ditambahkannya pula tinju lain dari tangan kanan. Dua pukulan yang cukup membuat si lelaki nyengir kesakitan meskipun tak terdengar suara aduh, auw, atau semacamnya.

***

Polisi B, yang sedari tadi mencatat hasil interogasi, bergantian tugas dengan Polisi A.

“Siapa gadis tadi yang meloncat dari atas gedung,” tanyanya, “jawab yang benar!”

Si lelaki lantas memandangi dua polisi itu. Matanya seperti menebar mikroba yang mencari celah-celah dari tubuh mereka; melalui mata, masuk tenggorokan, menyusuri usus, lalu keluar dari anus.

“Heh!” Bentakan polisi B membuat lelaki itu melepas pandangannya.

“Siapa gadis itu?” Polisi B mengulangi pertanyaannya.

“Kekasihku.”

“Apa yang terjadi padanya?”

“Ia meloncat dari atas gedung.”

“Kami tahu. Apa yang sebelumnya kau lakukan bersamanya?”

“Tidak apa-apa. Kami hanya berbincang.”

“Hanya berbincang?”

“Iya.”

“Lalu mengapa ia sampai terjun ke bawah?”

“Aku tak tahu”

“Tapi kau ada di sana!”

“Tapi aku benar-benar tak tahu. Jika ingin tahu tanyalah sendiri padanya!”

“Bajingan!”

Polisi B melempar catatannya ke lantai dan mendaratkan dua pukulan di kedua pipi lelaki itu. Cepat. Kiri dan kanan. Hidung si lelaki mengucurkan darah.

“Kau membunuhnya?!” Polisi B bertanya dalam keadaan masih berdiri.

“Tidak”

“Jangan main-main!”

“Aku tidak punya alasan untuk itu”

“Baik. Apa isi pembicaraan kalian?” Kali ini polisi B telah duduk kembali.

“Hanya sedikit. Ia bilang ingin mati.”

“Mati?”

“Ya.”

“Maksudmu ia sengaja bunuh diri?”

“Mungkin.”

“Jika kau kekasihnya, mengapa tak kau cegah?”

“Karena itu maunya sendiri.”

“Kau tidak mencintainya?”

“Tidak. Yang benar aku sangat mencintainya.”

“Lalu kau tidak melakukan apapun saat ia akan bunuh diri?”

“Untuk apa?”

“Untuk cintamu, bodoh!”

“Dia akan selalu mendapatkan cintaku.”

***

Setelah dua jam di ruang interogasi, lelaki itu keluar diapit oleh Polisi A dan Polisi B. Ia digiring ke penjara. Lelaki itu memasuki sel tanpa mengatakan sepatah kata pun. Ia berdiam di sana. Sendirian.

Semalaman lelaki itu tak tidur. Ia hanya melentangkan tubuhnya dan memandangi langit-langit sampai pagi. Setelah diberi jatah makan pagi yang tidak ia sentuh sama sekali, kembali ia dimasukkan ke ruang interogasi. Polisi A dan Polisi B telah menunggu di dalam.

“Kau membunuh kekasihmu. Mengakulah!” Begitu pantatnya menyentuh kursi si lelaki ditohok oleh tuduhan dari Polisi A.

“Lihat ini!” Kata Polisi A sambil memperlihatkan sebuah dokumen yang merupakan hasil otopsi tim dokter rumah sakit. Ada sebuah keterangan disana yang menyatakan bahwa memang tak ada bukti kekerasan fisik telah terjadi, tetapi si perempuan dinyatakan positif dalam keadaan hamil, dua setengah bulan.

Mengetahui itu si lelaki lantas tertawa. Awalnya tawa kecil tetapi lama kelamaan menjadi terbahak-bahak. Polisi A dan Polisi B menjadi geram karena ulah itu.

“Heh, Kenapa kau tertawa? ada yang lucu? ha?” Polisi B membentak.

“Tidak. Dengan berat badannya, kekasihku itu seharusnya bisa jatuh lebih lama. Tetapi karena ia mengandung, ia jatuh satu detik lebih cepat.”

Karena ucapannya itu si lelaki mendapatkan bogem mentah pertama pagi ini dari polisi A. Kiri dan kanan.

***

Di luar ruang interogasi, suasana kantor polisi sangat ramai. Para pria dan perempuan berseragam berlalu lalang mengerjakan tugas mereka. Sibuk.

Salah seorang petugas di bagian resepsionis menerima telpon dari entah siapa. Ia memencet sebuah tombol dan seketika sirine berbunyi. Para polisi di ruangan bersiap diri. Ada sebuah laporan mengenai dua orang, lelaki dan perempuan, yang sedang memanjat sutet. Ditengarahi mereka akan bunuh diri bersama.

Selama dua bulan terakhir polisi di Kota Ghalas disibukkan dengan banyaknya kasus bunuh diri. Angkanya hampir mencapai limapuluh persen. Penduduk mudah sekali melakukan bunuh diri bahkan untuk hal-hal sepele seperti kehilangan kucing, tak dibelikan mainan, dimarahi oleh guru, kalahnya tim sepakbola kesayangan, sampai gara-gara dicintai oleh lelaki jelek. Sebuah majalah internasional yang berbasis di Montreal memberikan predikat Ghalas sebagai kota paling konyol sedunia.