Bela Negara?

“Konsep bela negara ini tidak ada batasan umur. Yang umurnya 50 tahun ke atas dan ke bawah itu disesuaikan saja porsi latihannya,” kata Ryamizard Ryacudu.

Setelah membaca itu, saya membayangkan orang-orang tua seangkatan bapak dan ibu saya, bercelana coklat tua, kemeja coklat muda dengan dua kantong bertutup, berkalung hasduk, memegang tongkat, melakukan baris-berbaris sambil sesekali mengusap jenggotnya yang basah karena keringat. Sungguh pemandangan yang pastinya jenaka. Sungguh jenaka karena mereka saling menertawakan temannya yang salah gerakan, karena pikirannya ndak lagi muda. Setelah puas menertawakan, yang tertawa tadi giliran ditertawakan karena ternyata juga salah gerakan.

Mereka menertawakan satu sama lain, menertawakan dirinya sendiri. Ciamik sekali, bukan? Barangkali ini bisa menjadi wadah bagi mereka untuk bersosialisasi secara gayeng di ruang-ruang publik yang semakin terbatas, mengingat kembali masa anak-anak, bertemu dengan cinta pertama yang dulu ndak pernah punya nyali untuk sekadar menyapa, sampai tiba-tiba tentara berpangkat Sersan menghardik mereka. Wajah mereka pucat.

Kemudian bayangan orang-orang sepuh baris-berbaris hilang, digantikan dedek-dedek unyu yang beberapa bulan ke depan, memenuhi media sosial dengan foto-foto lagi memanggul senjata. Sambil mukanya disangar-sangarkan. Atau justru tersenyum menyeringai seperti Anwar Congo di film The Act of Killing. Mereka akan dibiasakan dengan diksi semacam ketertiban, stabilitas nasional, anasir politik, manunggal, gerakan subversif, bahaya laten, merongrong kedaulatan, basmi ke akar-akarnya, dan lain-lain. Lalu beberapa tahun kemudian, bersamaan dengan tumbuhnya bulu keriting di kemaluan dedek-dedek unyu ini, mereka akan mendirikan ormas yang kerjanya rebutan lahan parkir sekaligus mitra negara yang bisa digunakan sewaktu-waktu untuk proxy war.

“Jangan-jangan ini cuma bentuk kepanikan pemerintah yang semakin insecure, merasa turun wibawanya di mata masyarakat seiring dengan melemahnya rupiah tempo hari (meski sekarang sudah menguat lagi), bencana asap yang ndak kunjung dapat solusi, dan peristiwa dibunuhnya Salim Kancil dan Tosan di muka umum,” kata seorang teman mulai terdengar sok tahu.

Begitulah kelakuan beberapa teman saya yang kekiri-kirian, sok rebel, sok selalu anti dengan kebijakan pemerintah. Saya juga heran kenapa mereka ndak pernah mencoba husnudzon? Barangkali bela negara ini justru bagus, siapa tahu ini upaya pemerintah untuk diam-diam mempersiapkan Angkatan Kelima? Melatih dan mempersenjatai sipil (para buruh dan tani) sebagai kelanjutan dari revolusi mental 2.0? Lho kan siapa tahu. Ingat! Pak Ryamizard itu anaknya Musannif Ryacudu, perwira militer yang dekat dengan Bung Karno. Siapa tahu beliau diam-diam sukarnois juga, marhaen ‘muda’ yang percaya bahwa revolusi haruslah bersama rakyat.

Saya pribadi sebenarnya setuju dengan bela negara, asal bukan model Penataran P4, GBHN, Butir-Butir Pancasila, dan sebagainya. Basi. Pak Harto sudah menggunakan cara itu bertahun lalu, nyatanya tetap gagal menahan gempuran krisis ekonomi 1998. Juga jangan pula yang model baris-berbaris a la dedek-dedek Pramuka. Karena pernah menjadi Praja Muda Karana dan jago baris saja ndak bisa membantu angkatan muda mencari kerja. Apalagi mencari cinta. Apel itu perlu bensin, bukan Trisatya. Dan perempuan mana yang mau dilamar dengan Dasadarma? Kalau dilamar dengan Bismillah mungkin malah ada.

“Bisa juga malah karena militer sudah bosan setelah sekian lama dwifungsi ABRI dicabut, sekarang mereka gantian minta dwifungsi sipil,” teman lain menjawab dengan ndak kalah sok tahunya.

“Dwifungsi sipil? Istilah macam apa itu? Yang bener itu ya karena dia tahunya cuma itu, bisanya cuma itu. Coba kalau menterinya mantan prohramer, pasti bilang semua wajib ngoding. Kalau dia mantan novelis, pasti bilang semua wajib nulis fiksi. Kalau dia mantan santri, pasti bilang semua wajib belajar Nahwu,” teman pertama tadi masih belum mau kalah.

Sebenarnya saya ndak punya saran apa-apa karena saya juga bingung negara ini yang harus dibela dari apa, atau sebaliknya, apa yang harus dibela dari negara ini? Ancaman, Tantangan, Hambatan, dan Gangguan (ATHG) yang mampu merongrong kedaulatan bangsa di masa sekarang bukan lagi serangan bangsa lain dalam bentuk adu senjata atau olah kanuragan. Dulu sebuah negara memang harus menjajah sebanyak mungkin negara lain sebagai sumber bahan baku industrinya, sekaligus sebagai pasar untuk menjual produk hasil industri itu. Tapi sekarang bukan zamannya VOC atau Mojopait lagi, perebutan resource dan persaingan pasar di masa sekarang justru melalui G20, NAFTA, IMF, WTO, World Bank, pasar modal, teknologi-informasi, dan lain-lain.

Punya rakyat yang jago kelahi semua dan hafal Butir-Butir Pancasila juga percuma kalau ketemu perjanjian kontrak karya cuma kebagian royalti 1%. Sipadan dan Ligitan nyatanya gampang sekali direbut Malaysia padahal konon tentara kita diklaim punya prestasi ciamik di lomba-lomba internasional. Atau contoh yang baru-baru saja terjadi ada Yunani pasca keruntuhan nilai mata uang, Troika datang menawarkan paket bailout dengan syarat utama: menempatkan kontrol terhadap inflasi alih-alih tujuan ekonomi yang lain, mengurangi dan menghapuskan hambatan perdagangan serta arus modal, meliberalisasi sistem perbankan, mengurangi pengeluaran negara untuk apapun yang ndak terkait dengan pembayaran utang, dan privatisasi aset-aset negara. Yang begituan ndak bisa dilawan dengan baris-berbaris atau Butir-Butir Pancasila.

Tapi karena beberapa motivator bilang bahwa kritik harus membangun, kritik harus bijak, kritik harus sopan, kritik harus bisa memberi solusi, baiklah, saya tawarkan beberapa contoh bela negara yang relevan untuk kondisi sekarang ini: penanggulangan bencana asap itu bela negara, mencegah tempat-tempat ibadah dibakar lagi itu bela negara, reforma agraria itu bela negara, menghapus outsourcing itu bela negara, meningkatkan daya beli masyarakat itu bela negara, mengangkat guru-guru honorer itu bela negara, mengadili penjahat HAM itu bela negara, mendorong teknologi industri itu bela negara, memajaki golongan mampu dengan tarif tinggi itu bela negara, mendukung para ilmuwan untuk menciptakan alutsista yang canggih itu bela negara, remunerasi penghasilan tentara dan polisi berpangkat rendah agar ndak terlalu jauh dengan penghasilan para jenderal itu bela negara, melindungi hutan dari cengkeraman korporasi sawit dan tambang itu bela negara, ibu-ibu yang berdemo menolak pabrik semen di Kendeng itu bela negara.

Banyak cara bela negara yang lebih enak dan perlu, semua orang punya cara masing-masing tanpa harus didikte oleh Menteri Pertahanan. Lagi pula militer bukan satu-satunya pihak yang paling paham soal bela negara, dan harusnya memang tak ada pihak yang berhak merasa paling paham sendiri soal ini. Yang militer tak perlu disipilkan, yang sipil tak perlu dimiliterkan. Itu kalau yang kita bicarakan adalah bela negara. Kalau bela penguasa, ya itu lain perkara. Jadi siapa sebenarnya yang minta dibela?