Setetes Hujan untuk Pacarku

Fenny tercinta,

Berikut ini aku kirim setetes hujan kepadamu, yang dibungkus amplop kerinduan dan dibubuhi prangko kesunyian, dan tentu saja tidak disertai dengan angin yang menderu dan petir yang menggelegar. Apakah kamu menerimanya dengan gembira?

Fenny yang baik,

Aku mengirim setetes hujan ini dari kamarku di suatu kota yang konon bertuah. Di suatu malam yang dingin dan berangin …, hei, akan kuceritakan saja ya, bagaimana aku memperoleh setetes hujan nan ajaib ini.

Jadi begini, Fenny sayang,

Aku terbangun di sepertiga malam terakhir karena beranjak tidur terlalu awal. Sehabis Isya hujan turun deras, enak sekali tampaknya buat tidur memimpikanmu. Maka saat orang-orang sedang terlelap dengan mimpi mereka masing-masing, aku malah terjaga. Dan sehabis tigapuluh menit melakukan apa yang seorang bujangan lakukan kalau sedang sendirian di kamar, telingaku mendengar suara-suara. Suara-suara yang berasal dari atap. Aku tengok gorden, ada yang bergerak-gerak. Setelah itu, setetes hujan tiba-tiba saja menyelonong masuk ke kamar melalui lubang ventilasi.

Belum lenyap rasa kagetku, muncul rasa penasaranku karena setetes hujan sebesar kelereng itu tampak lagi ngos-ngosan. Dia terkapar bersimbah peluh di tikar merah (Fenny manisku, kautahu, setetes hujan memang bisa berkeringat.) Matanya terkatup-terbuka dan mulutnya meringis—nyaris seperti ekspresi seorang perempuan yang hendak mbrojoli, melahirkan. Mau kuusir dia karena berani-beraninya masuk ke kamarku tanpa permisi tapi tak tega aku melihat mukanya yang lucu menggemaskan itu. Maka kutunggu saja sampai ngos-ngosannya reda.

Fenny pacarku, kekasihku, pujaan hatiku,

Kamu pasti juga akan terkejut kalau kuceritakan bahwa setetes hujan itu ternyata bisa bicara. Bahasa Indonesianya fasih. Tapi suaranya cempreng sekali. Setelah tak lagi ngos-ngosan, ia menatapku dengan matanya yang bundar berbinar-binar.

“Tengkyu sudah menampungku sementara, Broh,” katanya, “kira-kira adakah sesuatu yang bisa kumakan? Aku lapar. Ternyata terlempar dengan kecepatan tinggi bisa membuat perutku keroncongan.”

Sudah masuk kamar tak permisi, sekarang, seenaknya saja minta suguhan. Tapi karena kasihan, aku ambil stoples biskuit yang biasa menemaniku kala aku kelaparan di malam hari, menghidangkannya pada setetes hujan yang tak tahu sopan santun.

“Terima kasih,” katanya sembari mengunyah biskuit dengan rakus.

Lima menit berlalu, dia sudah kenyang. Dikembalikan stoples biskuit yang sudah berkurang setengahnya itu kepadaku sambil menceritakan pengalamannya soal mengapa tiba-tiba masuk ke kamarku dan, tentu saja, kenapa setetes hujan seperti dirinya bisa bercakap-cakap, jalan-jalan, dan ngos-ngosan seperti itu.

Maka setetes hujan itu pun duduk bersila di atas tikar, lagaknya seperti petapa saja.

Namaku Saimin, ujar setetes hujan itu memperkenalkan diri. Saimin ternyata serdadu hujan yang ditugaskan secara khusus bersama rekan-rekannya yang berjumlah miliaran untuk turun dari negeri awan menghujani kota Semarbaru. Namun karena asap yang terlalu pekat menyelimuti kota, yang memulas langit menjadi kelabu selalu, dia tak kuasa mengontrol laju tubuhnya, tergampar asap yang berasal dari pembakaran lahan gambut itu dan terlempar hingga bilik kamarku.

Saimin sedih lantaran gagal menuntaskan misi untuk membasahi kota Semarbaru dan membanjirinya dengan air bah penuh kemuraman. Padahal sebelum ini, akunya, ia tak pernah gagal. Banjir bandang yang menenggelamkan kota Tabipoy di pojok barat negeri ini bertahun-tahun yang lampau adalah misi Saimin yang paling berhasil sejauh ini.

“Kalian mesti berterima kasih pada asap karena tanpanya semua akan tinggal kenangan.”

Fenny yang membenci sepi,

Mendengar maksudnya untuk membanjiri kota, tak bisa tidak aku naik pitam. Pikirku berbahaya nian membiarkan setetes hujan dengan niat jahat semacam itu berkeliaran di kamar seorang bujangan. Maka kuambil gelas di sudut kamar, kupegang pantatnya, dan, hap! Kukurung setetes hujan badung itu dengan gelas sebelum ia sempat menyadarinya.

Namun Saimin tak kalah gesit. Bagian lain tubuhnya masih berada di luar gelas. Ia dengan mudah mencelus dari celah gelas yang kutangkupkan dan mencoba kabur. Tak kurang akal, kuambil gombal yang teronggok di pojokan dan kulempar ke Saimin yang lagi menggelinding. Berhasil. Kain yang lembut berkerut-kerut pastilah musuh yang tak bisa disepelekan begitu saja bagi semua jenis zat cair. Saimin dengan mudah terperangkap dalam gombal yang kulemparkan padanya.

Kuperas gombal itu dan terjatuhlah ia ke dalam stoples silikon kedap air yang telah kupersiapkan. Kukurung dia tanpa belas kasihan. Melalui kaca stoples, kupandangi Saimin yang sibuk memukul-mukul dinding stoples dan sesekali merengek minta dibebaskan. Tapi aku mana peduli. Biarin. Rasakan. Kapokmu kapan.

Fenny yang selalu menawan hati,

Malam ternyata telah berganti jadi pagi sejak tadi. Capek juga semalaman bergulat dengan setetes hujan yang menyebalkan. Saimin masih saja meronta-ronta di dalam stoples. Sebentar lagi aku harus berangkat kerja. Maka kurebahkan badan dan mencoba terlelap sebisaku seraya memikirkan tindakan apa yang selanjutnya akan kulakukan pada Saimin.

Lalu tiba-tiba aku teringat padamu, Sayangku. Betapa dirimu selalu mengeluh kesepian karena jarak yang memisahkan kita. Kamu yang selalu merintih-rintih setiap kali aku telepon, “Kapan ke sini? Kapan ke sini?” Seolah kita tak akan pernah berjumpa lagi. Kamu yang selalu berkata bahwa cinta akan selalu bertahan hanya jika dua insan saling berdekatan. Betapa sedih aku mendengar ratapan-ratapanmu, Sayangku.

Akhirnya, kuputuskan untuk mengirim setetes hujan yang bandel ini saja kepadamu. Agar dia menemanimu dalam kesendirianmu. Aku tahu kamu dari dulu suka hujan, maka kurasa kamu pasti senang menerima kirimanku. Semoga setetes hujan ini selalu mengingatkanmu pada kenangan-kenangan manis kita bersama hujan. Saat-saat susah kita yang, walaupun sekarang belum tentu sudah tak susah, tentulah teramat indah. Aku ingin kamu merasa diriku selalu ada di sisimu saat memandang setetes hujan yang terperangkap di dalam stoples ini.

Fenny yang manis, paling manis, dan akan selalu manis,

Terimalah setetes hujan berukuran gundu bernama Saimin ini. Taruhlah ia di atas meja kerjamu, pamerkanlah pada teman-temanmu yang jahil itu, dan bawalah ia ke kamar kosmu untuk menemani malammu. Tapi, awas, jangan sampai stoples yang mengurungnya terbuka. Bisa-bisa dia kabur dan memanggil kawan-kawannya. Kalau itu yang terjadi, maka kantormu, kotamu, bahkan mungkin negaramu akan berada dalam bahaya. Jangan pernah lupakan bahwa meskipun tampangnya mungil dan menggemaskan, pikiran Saimin bisa sangat jahat karena ia mampu dan pernah menenggelamkan sebuah kota.

Fenny, Fenny, Fenny,

Beserta surat ini kukirimkan pula kerinduan, kesunyian, dan rasa cintaku yang terdalam lagi abadi kepadamu.

Pekanbaru, 30112014

Post Scriptum: tulisan ini terilhami oleh cerpen “Sepotong Senja untuk Pacarku” karangan Seno Gumira Ajidarma.