Pohon Beringin Tua, Sepasang Kenari, dan Telaga (2)

Kenari Kuning*

awalnya mereka adalah sepasang kenari kuning yang berdiam pada sangkar besar di depan rumah. Tak ada seorang pun yang mengetahui apa mereka benar-benar bahagia. Tidak kamu, tidak aku, tidak siapa pun. Kecuali Sulaiman, Hanuman, atau mereka-mereka yang mengerti bahasa burung.

Tapi jika kalian bertanya tentang apa-apa yang ada di pikiranku, aku bisa menjawabnya dengan penalaranku. Kurasa ya, mereka bahagia. Mereka punya persediaan makanan yang cukup, rumah berteduh tanpa atap bocor di atasnya, jerami yang selalu hangat di dalam rumah-rumahan kayu mereka, juga pasangan berwarna sama. Apa lagi yang kamu harapkan dari dunia burung selain itu semua? Bahkan segelintir masyarakat di negara yang katanya dipimpin oleh presiden yang sangat merakyat ini pun, tak mendapatkannya. Maka aku yakin mereka bahagia. Setidaknya jika semua hal itu didapatkan oleh orang sepertiku, aku sudah merasa cukup bahagia.

Lalu pasti kalian menuntutku dengan seluruh perihal kebebasan. Biar kuberitahukan padamu satu hal. Kenyataannya, tak ada yang benar-benar menjadi orang merdeka di dalam hidup kita. Kita dikurung oleh sebuah sangkar yang tak pernah bisa dilihat. Pekerjaan, peraturan-peraturan yang terkadang membuat tangan dan kaki kalian benar-benar ingin melanggarnya, norma-norma yang berlaku di masyarakat, seluruh persepsi tentang baik dan buruk, di otakku mereka adalah sangkar-sangkar kita. Hanya menjadi gila yang akan membuatmu benar-benar menjadi orang merdeka.

Aku hanya berpikir ada satu hal yang belum pernah mereka rasakan dalam kehidupan mereka, yang mungkin hanya seperempat umur manusia: membuat sebuah pilihan. Mereka tak pernah memilih akan seperti apa hidup mereka.

Pada akhirnya, aku menemukan satu hal yang menjadi perbedaan antara aku dan mereka. Aku dan semua manusia memilih sendiri sangkar-sangkarnya, karenanya aku tetap menjalani kehidupan dan bentuk kurunganku, sebab aku memilihnya sendiri. Sedangkan mereka hanya mengikuti semua hal yang kupilihkan untuk mereka sebagai jalan hidupnya. Lalu kuputuskan untuk memberikan pilihan itu pada mereka. Ya, walaupun pilihan kebebasan itu tetap saja pemberianku, setidaknya kali ini kubiarkan mereka memilih.

Hari ini, aku mengunjungi sahabatku, pohon beringin tua di tepi telaga. Hari yang sedikit berbeda sebab aku membawa beberapa hal yang menemaniku. Sepasang kenari, sekotak perkakas, dan rumahnya yang berwarna coklat muda. Sepasang kenariku tampak kebingungan dengan daerah baru mereka. Sejak awal kedatangan kami, mereka nampak kebingungan dengan sekumpulan air yang terbentang begitu luasnya. Seakan-akan aku mengajak mereka kemari untuk mengajari mereka berenang.

Barangkali mereka berpikir tentang sayap-sayap mereka. Jika mereka tenggelam, rasanya tak akan ada di antaranya yang selamat. Sayap mereka tak pernah diciptakan untuk berjuang di dalam air.

Sekotak perkakas yang lebih seperti kantong ajaib milik robot kucing dari masa depan ketika aku berusia tak sampai sepuluh. Ayah selalu membawanya ketika mainanku rusak dan selalu berhasil menyulapnya seperti tidak ada hal yang pernah terjadi pada mainanku. Setelah mengambil peralatan dari kotak itu, semua kembali seperti baru.

Rumah kenari berwarna coklat muda itu? Entahlah, sudah berwarna seperti itu saat pertama kali aku membelinya dari seorang janda.

Kupaku rumah kenari coklat muda itu pada ketiak pohon paling rendah yang mampu kugapai. Aku memang tidak membawa tangga, juga tidak pernah merencanakan untuk membawanya. Aku pusing pada ketinggian, lebih terhormat daripada kukatakan kalau aku takut, kan? Kumohonkan maaf pada beringin tua itu saat kupaksakan jelujur besi tajam menembus tubuhnya. Tak bergetah, tak ada suara. Padahal aku saja menangis saat pertama kali jarum suntik yang kecil itu menembus kulitku.

Entah dengan apa dia bekap mulutnya, tapi tak kudengar sedikitpun jeritan. Dia tetap kokoh berdiri di depanku, dan rumah kenari coklat muda itu sudah terpasang di atas sana sekarang.

Entah sejak kapan, pintu sangkar bambu sepasang kenari kuningku sudah terbuka. Mengherankan, tak ada satupun dari mereka yang mencoba terbang. Barangkali sudah terbiasa dengan sangkar sempit mereka di rumah–manusia membanggakan yang semacam ini dan menyebut mereka jinak.

Mereka tak pernah tahu bahwa angkasa lebih lapang dan dikara dari yang mereka kira. Terlalu lama terkurung membuatmu berpikir bahwa dunia tak lebih luas dari sangkar sempitmu. Diam-diam aku memaki diri sendiri yang membuat mereka menjadi sedemikian pengecut.

Kuulurkan jari telunjukku dan mereka hinggap di sana sekarang. Aku mulai berbicara pada mereka, tanpa peduli bagaimana cara mereka mengerti seluruh arti percakapan kami.

“Sekarang tentukan sendiri nasib kalian, tak pantas bagiku untuk mengurung kalian pada sangkar yang seperti ini,” kuletakkan mereka pada rumah-rumahan coklat itu satu-satu.

***

Si jantan yang pertama kali keluar dari rumahnya dan berjingkat berkeliling. Satu buah beringin jatuh mengenai kepalanya, sapaan hangat dari sebarang (kara) beringin tua. Dia mulai berkicau, memanggil betinanya untuk menemaninya.

“Sayang, keluarlah dan lihat sangkar baru kita. Sangkar ini lebih bagus dari rumah kita sebelumnya. Luas dan berjeruji sangat mahal. Bahkan mataku tak bisa melihat tiang-tiang besi itu,” kicaunya sambil terus berjingkat.

Sedang si betina masih tak peduli. Terlalu lelah setelah tidak tidur semalaman. Kemarin hari kamis, ditambah perjalanan panjang yang harus dilalui tadi, sekarang kepalanya benar-benar pusing.

Ulat-ulat ngengat memandang kenari jantan sambil terus mengunyah daun, tak begitu peduli pada kehadiran penghuni baru di pohon mereka. Mereka terlalu sibuk makan, tiga hari lagi mereka harus sudah menjadi kepompong.

Sudah tiga malam dan empat sore sejak mereka berada di sana. Mereka sudah berkenalan dengan beringin tua, telaga, juga ulat-ulat ngengat yang tak berhenti mengunyah. Besok ulat-ulat kecil itu akan mulai menenun kepompong kerasnya. Sedang sepasang kenariku masih sibuk mengumpulkan rumput untuk penghangat rumah mereka. Daun-daun beringin yang diletakkan dalam rumah mereka ternyata basah. Bukan alas yang nyaman untuk menghadapi musim hujan yang menggigilkan seperti sekarang.

Sudah banyak juga cerita yang mereka dengar di sana. Tentang cita-cita besar para ulat yang ingin segera menjadi kepompong, telaga yang tak pernah berbohong, juga beringin dan sejoli-sejoli yang pernah singgah di sana. Dari cerita-cerita yang dihembuskan angin, mereka mendengar salah satu dari sejoli itu segera menikah tak lama setelah si perempuan mengandung. Beberapa yang lain memilih pergi pada dukun jahat untuk memotong-motong tubuh yang belum genap sembilan bulan.

Pada hari keempat, delapan ekor kutilang singgah pada tepian telaga. Barangkali hanya sebuah kebetulanlah saat mereka hinggap pada beringin tua. Suami Istri kenari menyambut mereka dengan sangat ramah, belum pernah mereka kedatangan tamu. Mereka berkicau selayaknya kenari, dan para kutilang acuh. Kutilang-kutilang itu lapar dan tidak tertarik pada buah-buah beringin berwarna merah itu. Sesaat kemudian mereka mulai memakan ulat-ulat ngengat. Satu-satu. Kamu heran? Tentu, aku juga. Bukan kebiasaan kutilang makan ulat, bukan untuk makanan seperti itu paruh mereka diciptakan Tuhan.

Entah kenapa ulat-ulat itu juga tak berteriak, pun tak berlari menggeliat menjauh. Mereka tetap makan seakan menunggu kematian yang sudah mereka perkirakan.

Kenari jantan terdiam, teringat cita-cita tinggi ulat-ulat ngengat, mimpi yang akan segera mereka kejar esok pagi. Satu persatu kehilangan kesempatannya masing-masing oleh kematian. Entah dari mana keberanian itu datang, kenari jantan mulai mematuk, menyerang enam kutilang kelaparan.

Ini dunia nyata, maka penulis mohon maaf jika kenyataan yang penulis ceritakan tidak berakhir bahagia, tak ada keajaiban di dalamnya. Kenari jantan itu kalah. Dirinya terlalu kecil untuk melawan enam kenari kelaparan, juga terlalu sendirian. Dilihat dari sisi sebelah mana pun, pertengkaran yang tak seimbang begini sudah jelas hasil akhirnya. Jantan itu mati. Dan terjatuh menyatu dalam telaga.

Tak seperti jasad kebanyakan, kenari kuning itu tak mengambang, dia tenggelam. Tujuh ekor lele gesit menyambarnya. Hilang sudah cita-cita para ulat ngengat, juga nyawa seekor kenari, yang menikmati sebuah kebebasan baru empat hari.

Apa hanya penulis yang menyadari ada dua ekor kutilang yang tak ikut dalam pembantaian sadis itu? Ah, kalian juga mempertanyakannya dari tadi rupanya. Dua ekor kutilang itu adalah sepasang suami istri yang lebih memilih lapar dan saling bercerita di balik batu pada sisi lain telaga. Bagus bagi mereka, setidaknya mereka tidak ikut menanggung kutuk dari paruh kenari betina.

IMG_4196

Hari keenam saat aku kembali ke sana, kenari betina itu sudah sendirian. Dia memandangku, mengatakan bahwa kekasihnya mati sebagai pahlawan. Menyadari bahwa aku tak mengerti, juga salah mengartikan apa yang dia sampaikan, betina itu menyerah. Kakinya melompat-lompat kecil masuk ke dalam sarangnya dan menangis. Sesekali mata kecilnya mengintip keluar. Melihatku yang duduk di bawah rumahnya dan masih saja melemparkan biji-bijian dari kantong plastik hitam. Lalu dia kembali meringkuk, menangis hingga tertidur.

Semut-semut hitam mengangkut biji-bijian yang kutebarkan kemarin. Persembahan untuk ratu mereka yang tak berhenti bertelur sejak sebulan yang lalu. Mengangkut biji-bijian itu bukan pekerjaan berat bagi mereka, jumlah mereka jauh lebih banyak daripada jumlah biji-biji yang berserakan itu. Biarlah, aku tak mempermasalahkan perut-perut yang akan kenyang oleh biji-bijian yang kutabur.

Kenari kuning betinaku masih meringkuk di dalam rumah coklat muda yang kubuatkan untuknya. Terus mendekam seolah-olah sudah tak ingin lagi keluar dan melihat dunia. Pohon beringin menemani dengan begitu setia. Sesekali melemparkan buahnya ke dalam rumah coklat muda, memastikan kenari kesepian itu tak kelaparan. Sia-sia, tak satupun tersentuh oleh paruh si betina yang mulai berlumut.

***

Tak banyak sesuatu yang bisa hidup dengan hati yang tinggal separuh. Setelah si jantan mati, kenari betina tak lagi berhasrat. Dia sekarat. Pada hari kesembilanpuluh tiga, kenari kecil itu keluar dari rumah dengan tubuh lemah, terjatuh pada celah akar beringin tua. Regang sudah sebuah nyawa bersama air mata terakhir yang menetes dari mata kecilnya.

Hari itu, seluruh semesta tepian telaga berduka, ikan-ikan berpuasa dengan mulut terkatup. Tak satupun dari mereka mau menyangkutkan bibir pada kail nelayan tua yang sudah empatpuluh lima tahun mengail di sana. Sepertinya malam ini, nelayan tua itu dan cucunya harus bersantap daun singkong lagi. Seluruh hewan masuk pada sarangnya. Telaga sepi untuk sehari.

Semesta berduka atas kematian seekor betina dengan kesetiaannya.

Hari berkabung tak hanya sehari bagi pohon beringin tua. Sudah dua hari ini ia terus melihat mata kenari betina yang masih terbuka, dahannya tak mampu menutup kedua mata itu. Tak ada kesedihan yang lebih perih dari kesendirian bersama jasad yang mati dalam kesepian.

Pohon beringin tua itu bersumpah. Sumpah yang tak main-main, seperti Patih Gajahmada yang bersumpah Palapa menyatukan Indonesia kuno, juga Drupadi yang tak akan memotong rambutnya sebelum para Kurawa mati, dan mencuci rambutnya dengan darah Dursasana.

Mulai hari kematian itu, akarnya berhenti menghisap hara, merangggas tidak pada waktunya. Hingga anak kecil yang datang membawa kantong plastik bijian itu mengunjunginya lagi dan mengubur jasad kenari betina itu dengan semestinya. Anak kecil yang sama, yang meletakkan rumah coklat muda dan sepasang kenari itu untuk menemaninya. Anak kecil yang sama, yang memberikan kebahagiaan sesaat untuknya dengan duka yang lebih panjang setelahnya. Usia anak itu dua puluhan tahun, yang dia yakin tak akan sampai pada usia sepertinya–karena itu dia menyebutnya anak kecil.

Usahanya mulai berbuah. Bukan, penulis tak sedang membicarakan tentang pohon yang berbuah, ini tentang sumpah beringin tua untuk meranggas. Daun-daunnya mengering, lerai dari dahan seperti kunang-kunang kuning terbang lalu hinggap menjadi selimut tubuh kenangan. Kuning dan kaku. Hanya itu yang sanggup dilakukannya saat tak sanggup menguburkan jasad kesepian itu dengan layak.

***

Tepat pada hari ke seratus, seminggu setelah hari duka telaga itu, aku datang. Melakukan seluruh rutinitas seperti biasa. Berdiri di bawah rumah burung coklat muda yang kupaku seratus hari yang lalu, menebarkan biji-bijian dari kantong plastik hitam, lalu duduk di tepi telaga. Semut-semut pekerja mengintip dari kerajaan mereka di bawah akar beringin, menungguku pergi untuk kembali memungut biji. Sedang aku masih menunggu burung kenari kecilku turun kemari, menemaniku menghabiskan hari.

Angin datang kencang, kesal padaku yang tak juga menyadari jasad yang tertimbun daun-daun kering, iba pada beringin tua yang masih belum berhenti berpuasa, juga menangis mengingat kisah duka kenari betina. Terbang sudah semua daun kering yang menjadi kasur empuk di bawah beringin tua yang hampir tak berdaun. Berai sudah pemakaman yang dibangun beringin tua, jasad itu terbujur di sana. Aku belum menyadari apa-apa.

Aku terpejam menikmati kecup-kecup angin, bersandar pada batang beringin tua botak, bersiap untuk tidur. Angin kencang di tempat seperti ini benar-benar memanjakan. Kamu tentu mencintai tempat ini sama sepertiku. Telaga sejuk, beringin tua dengan ribuan tajuk (walaupun sekarang dia lebih seperti penderita kanker), kicau-kicau burung jantan merayu betina-betina yang merajuk. Bisa tidak kau bayangkan surga kecil jatuh ke bumi? Seperti itu.

Beringin tua berkali-kali menjatuhkan buahnya, sengaja mengenai kepalaku. Mencoba mencuri perhatianku untuk melihat jasad yang sudah tak lagi tertutup selimut kunang-kunang kuning yang dia korbankan. Kali ini dia berasil, aku melihat jasad itu.

Mulutku kelu, dadaku membuncah tak karuan melihat kenari kuningku terbujur kaku. Apa ini pilihan hidup mereka? Si jantan dengan bodohnya memilih meninggalkan betina kecilku, dan paruh kuning betina ini dengan sama bodohnya memilih untuk mati. Hidup ini begitu penuh kebodohan-kebodohan yang mencari kebenaran, apa nasib mereka diriwayatkan begini? Cinta mati lalu membenci hidupnya sendiri? Apa pantas aku menyebut mereka bodoh?

Kedukaan merayap mengintai jantungku begitu perlahan, mengendap-endap melalui mata, menikam jantungku pada bagiannya yang paling rentan, memaksaku merasakan kematian dengan tubuh masih bernyawa.

Kuambil sebuah batu pipih dan menggali tanah di celah-celah akar beringin tua. Jasad itu kubaringkan disana, kupendam bersama seluruh kesedihan dan kesetiaannya. Kini kesetiaannya abadi: menyatu dengan tanah, dihisap oleh akar-akar beringin, tersurat pada setiap gurat dahan beringin tua, rimbun bersama daun-daun. Kini kesedihannya abadi: meradang di antara cabang-cabang, menghujan mengaliri dahan-dahan.

Batu pipih itu kutancapkan di atas pusara. Barangkali suatu saat aku ingin mengunjunginya. (Bersambung)

*) Cerita sebelumnya: Pohon Beringin Tua