Pohon Beringin Tua, Sepasang Kenari, dan Telaga (3)

Telaga*

aku baru mengenalnya, tidak pernah benar-benar kenal, hanya seperti tahu masing-masing kita ini berada pada dunia yang sama, pada masa yang sama. Semacam itu.

Tiga puluh hari yang lalu adalah saat pertama kali aku datang mengunjunginya. Sejak hari itu, setiap akhir pekan sekitar pukul tiga sore, aku datang menanti petang di bawah sahabatnya, sebatang pohon beringin tua.

Entah karena alasan apa, aku merasa pohon beringin tua ini yang paling bersahabat menerimaku di telaga ini. Bukan pohon trembesi yang hidup 300 meter di seberang telaga. Apalagi lapangan ilalang di sebelah kanannya. Keduanya membenciku, juga entah dengan alasan apa.

Pohon trembesi itu seakan tidak suka jika aku duduk di bawahnya. Selalu saja dijatuhkan bunga-bunga kuningnya seperti ingin mengusirku lekas-lekas. Lebih-lebih sekawanan ilalang itu, mereka lebih suka bersahabat dengan sepasang kekasih yang melakukan foto prewedding di antara mereka, daripada aku yang hanya duduk dan tidak melakukan apa-apa. Lagipula ilalang-ilalang itu terlalu genit, mereka membuat kulitku gatal-gatal.

Aku mengenal kakek beringin tua dan nenek telaga ini dari seorang gadis kesepian. Ah ya, menurutku mereka lebih terlihat seperti sepasang kekasih abadi daripada sepasang sahabat. Beringin tua kokoh kaku yang bijaksana, serta telaga yang begitu sejuk dan ramah, juga tak pernah berbohong padamu. Mengingatkanku pada kakek-nenek di kampung ayahku.

Gadis kesepian yang mengenalkanku pada mereka, tak pernah lagi berkujung kemari. Leukimia menggerogoti tubuhnya. Seolah menyerahkan kekuasaannya, dia mengenalkanku pada telaga dan beringin tua saat menyadari aku merasakan kesepian yang sama. Dia gadis yang baik menurutku, aku sendiri berdoa agar dia tak menyerah pada cobaan itu.

Seperti yang kukatakan padamu, telaga ini tak pernah berbohong. Seluruh isinya dapat kamu lihat tanpa satu pun hal disembunyikan, sepenuhnya dia berikan. Ya, telaga ini juga benar-benar (ber)ikan. Telaga dan ikan memang tak pernah bisa dipisahkan. Kamu bisa melihat mereka berenang di dalamnya bagai terbang dalam suatu kekosongan, berkejar-kejaran merayu kekasihnya. Atau jika cukup beruntung, kamu bisa melihat seekor berang-berang yang menyelam.

Aku tak memintamu mengamini apa yang kupikirkan. Tapi bagiku, telaga ini adalah hal paling jujur yang pernah dialami manusia. Bahkan rumah tangga tak bisa dibangun sejujur ini. Tentu saja setiap pasangan suami istri berusaha mengusahakannya, tapi aku belum melihat yang benar-benar bisa. Tanyakan apa saja tentang dirinya dan telaga ini tak akan berdusta. Kamu bisa mendapatkan jawabannya hanya dengan menengok ke dalamnya, tak perlu dia memberikanmu jawaban tentang semua pertanyaanmu.

***

Sore pertama saat perkenalan kami, aku sedang duduk di bawah pohon beringin tua. Menggenggam beberapa batu pipih dan melemparkannya ke dasar telaga. Entah batu itu sedang riang (seperti adikku yang sedang gembira, selalu melompat-lompat seperti kelinci), atau mungkin dia tak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Batu-batu itu melompat dua-tiga kali di permukaan telaga sebelum menyelam. Air memercik ke atas, membentuk gelombang bulat-bulat dengan tempat menyelamnya batu ke dasar telaga sebagai pusatnya.

Aku senang memandang telaga, dia seperti ingin mengatakan sesuatu padaku. Atau mungkin dia yang sedang memandangiku, juga sebenarnya hanya aku yang ingin mengatakan semua isi otakku padanya. Entahlah.

***

Setiap sore, seorang nelayan tua berlayar mengggunakan perahu kecilnya (perahunya menggunakan dayung, bukan perahu berasap seperti nelayan kebanyakan), menyisir seluruh bagian danau dengan joran tergenggam di tangannya. Sepertinya dia satu-satunya nelayan yang diizinkan mengail di sana. Sejak kedatanganku yang pertama, tak pernah kulihat ada nelayan-nelayan lain yang mendampingi penjelajahannya pada setiap jengkal lekuk danau ini. Padahal danau ini cukup luas jika hanya untuk sepuluh nelayan mencari makan saja. Tapi tak pernah ada nelayan yang lain, hanya dia sendiri. Nelayan itu rupanya juga seorang sendirian, sama sepertiku.

Aku belum mengetahui namanya, kurasa ia juga tak akan mendengar teriakanku dari sini, di sela-sela kesibukannya menyibak seluruh telaga dengan perahu dayung miliknya. Ya, dia hanya mengail, memancing dengan joran bambu dan umpang cacing. Tidak ada jala, apalagi potas.[1] Padahal dengan air telaga sebening ini, akan sangat mudah baginya untuk menggunakan jala. Ikan-ikan telaga ini tak suka bersembunyi, mereka cukup paham tak ada tempat bersembunyi di telaga ini, tasik ini terlalu jujur untuk menyembunyikan mereka.

Kurasa nelayan itu mengamini sebuah kepercayaan yang begitu sederhana. Alam selalu menyediakan semua hal yang dibutuhkan manusia untuk tetap hidup. Dengan kemurahan yang diberikan Tuhan kepadanya, rasanya tak bijak untuk mengambil berlebihan dan merusaknya. Maka dia mengambil ikan-ikan di perigi buatan ini hanya untuk menyambung hidup, dalam arti sebenarnya, hanya sebagai lauk makan malam dirinya dan cucu semata wayang yang begitu dicintainya.

Bahkan tak pernah sekalipun terbesit di otaknya untuk menjual ikan-ikan penghuni telaga ini. Bagi seorang nelayan tua sepertinya, telaga ini sahabat, lebih dari kawan lama atau teman masa kecil. Hati manusia baik mana yang tega memeras sahabatnya sendiri?

Sebab kita hidup pada dunia, di mana setiap orang berlari mengejar kekayaan dengan mengatasnamakan kehidupan. Masa yang mengukur kemapanan dari jumlah gemerlap kemewahan yang mampu didapatkan. Kebersahajaan sudah pada tingkat harus dilindungi, seperti badak cula satu dan harimau Sumatra. Mereka tersisihkan hingga ke dasar palung tergelap sejarah manusia. Tersisa pada kampung-kampung jauh yang pada akhirnya dijadikan objek wisata, karena kesederhanaan sudah menjadi sesuatu yang sedemikian langka.

Sosok nelayan tua itu seolah-olah memberikan bukti padaku, bahwa hidup ini sebenarnya tak butuh uang. Hanya pendidikan yang membutuhkannya. Oleh sebab itu dia bekerja setiap pagi pada peternakan ayam di ujung desa untuk menyekolahkan cucunya. Tak sepeserpun ia menikmati uang yang cuma tak seberapa itu. Dia hanya makan dari pemberian sahabatnya, telaga sebening kaca. Juga pohon-pohon singkong yang ditanam sendiri di tepi-tepi telaga. Bibitnya ia dapat dari batang-batang singkong yang dibuang petani-petani di ujung bukit, itupun masih memohon ijin untuk memilikinya.

***

Telaga itu di sana, menjadi saksi saat kenari jantan berjuang demi teman-teman barunya. Dia juga di sana ketika kenari yang sama terkapar jatuh kepadanya. Tak seorangpun tahu, telaga ini jugalah yang meminta tujuh ekor lele penghuni tubuhnya untuk membersihkan jasad kenari yang tak bernyawa. Sebab ia tak cukup tega melihat si betina makin sedih melihat jasad kenangan kekasihnya yang tersisa. Ya, terkadang kenangan pahit lebih baik habis tak bersisa daripada menyisakan repih-repih yang bisa membuatnya makin terluka.

Tapi aku kesal padanya. Pada telaga, karena tak menceritakan itu semua padaku. Salahku juga yang tak menanyakan apapun padanya. Tak akan timbul suatu kewajiban kepada siapapun untuk menuturkan cerita jika tak ada yang memohon diriwayatkannya sebuah kisah. Satu lagi keahlian telaga yang pada akhirnya aku tahu, dia penyimpan rahasia terbaik di dunia.

Pada hari yang sama dengan saat seluruh penghuni telaga berduka, dia sudah berulangkali membujuk ikan-ikan agar menyerahkan diri mereka pada nelayan tua. Tak tega ia membayangkann nelayan tua itu dan cucunya hanya makan daun singkong rebus dan nasi dari beras jatah yang merupakan bayarannya untuk menjaga telaga ini (apa dia semiskin itu?). Tapi perjanjian penghuni telaga itu sudah jelas, setiap makhluk punya hak untuk memastikan nasibnya sendiri, dan para ikan tetap pada pendirian mereka untuk menyepi barang sehari. Masing-masing penghuni telaga harus menghargai setiap keputusan penghuni lainnya. Tak ada yang dianggap menjadi penguasa pada semesta. Semua sejajar, patuh pada hukum telaga.

Telaga menyerah, besok dia akan memaksa para ikan untuk menyerahkan keluarga mereka lebih banyak pada nelayan tua. Meskipun kumpulan bulir perekam kehidupan itu tahu, nelayan tua itu akan berhenti mengail saat telah mendapatkan ikan barang tiga-empat ekor. Setidaknya nelayan itu bisa pulang lebih cepat untuk beristirahat.

Biarlah hari ini nelayan tua itu berpuasa. Terpaksa ikut berduka pada hari kematian jantan kenari kuning, sang penghuni baru telaga.

***

Pohon beringin tua menjatuhkan daunnya pada telaga, saat seorang anak kecil bercerita tentang gadis cantik yang menghabiskan malam bersamanya, lewat saluran telepon jarak jauh. Rupanya genangan bulir-bulir hujan ini menguping pembicaraan kami. Tak ada satupun, baik anak kecil itu maupun pohon beringin, yang mempermasalahkannya. Beringin tua percaya bahwa telaga tak akan membocorkan apapun, juga pada siapapun. Telaga selalu seperti itu, merekam setiap kenangan-kenangan, menyimpannya pada tiap bulir air yang tergenang di dalamnya.

Barangkali itu sebabnya, hingga tak ada yang berenang di telaga itu kecuali ikan-ikan. Sebab belum ada manusia yang cukup tanggguh untuk menyelami ingatan-ingatan, tak ada yang cukup kuat berada pada genangan-genangan kenangan. Atau tanda dilarang berenang itu penyebabnya? Entahlah.

Daun itu masih mengambang hingga malam, dan tetap saja memandang bulan.

“Wahai bulir-bulir air yang menguasai telaga ingatan, kumohon tenggelamkan saja aku pada dasarmu yang paling pekat. Tak sanggup aku melihat pujaan hatiku di atas sana,” daun itu memohon pada telaga. Pada akhirnya bukan manusia yang meminta hal semacam itu.

“Duh, daun kecil yang patah hati. Pada saatnya kau akan berada di sana. Tak menyesalkah kau nanti?” Telaga itu balik bertanya atas permohonan daun kecil itu.

Air danau mendinginkan hati sepotong patera

Memupus mimpi menyanding purnama, o!

Hari ke seratus satu setelahnya, daun kecil itu benar-benar mencapai dasar telaga. Bukan dasar telaga yang sebenar-benarnya dasar telaga yang sebenarnya. Pagi harinya saja, daun itu tak lagi berada di tengah telaga. Dia sudah menepi bersama beberapa bongkah batu dan seekor kura-kura saat terbangun dari mimpi purnama yang turun ke bumi. Telaga itu mengering, jebol saat hujan datang terlalu lama seminggu itu. Ikan-ikan hanyut terkapar di atap-atap rumah penduduk yang memang berada lebih rendah darinya. Kukatakan saja seluruh tanah itu kini dasar telaga, toh tak ada bedanya sekarang. Bagaimana kamu mengartikan dasar telaga untuk danau yang bahkan tak berair?

Nasib nelayan tua? Nelayan itu kini kehilangan tempatnya mencari makan, pohon-pohon singkong miliknya mulai menguning sekarang. Tak sesubur saat telaga membantu dengan segala upayanya. Tidak, nelayan tua itu hanya termenung, bukan meratap seperti yang kamu kira. Meratap hanya akan menghilangkan harap. Dia merenungi telaga itu, untuk dirinya sendiri, untuk cucunya – yang tak juga paham arti belaian tangan keriput si kakek pada rambut ikalnya, atau genggaman erat dan ciuman pada keningnya.

Bisa kupahami memang, anak sekecil itu tak mempunya cukup pengalaman tentang kenangan, juga kehilangan. Kehilangan pertamanya adalah kehangatan rahim seorang ibu yang mustahil diingatnya. Sedang yang terakhir, bahkan hingga kini dia tak mengetahui bahwa ayah ibunya meninggal tenggelam di dasar telaga.

Sedang aku kehilangan tiga sahabat yang baru kukenal belum setahun. Telaga dengan semua rekaman ceritaku pada setiap bulirnya – kini kenangan-kenangan itu telah hanyut hingga ke laut, barangkali sesekali akan mengunjungiku saat gerimis. Juga sepasang kenari kuning dengan pilihan masing-masing atas kebebasannya.

Kini, tak ada lagi alasanku mengunjungi beringin tua. Sepertinya da kehilangan lebih banyak dariku. Pohon sebatang kara itu kehilangan kekasih tanpa pernah mengucapkan cinta, sepasang kenari kuning yang sama, juga seorang teman yang baru dikenalnya. Belum setahun. (Tamat)

*) Cerita sebelumnya …