Manimbong untuk Kakek

Lima belas minggu tempo waktu aku memandangmu

digamit Pong Lalondong menuju

Tongkonan yang kau bangun. Di sana pula kau tengah menunggu:

bertambahnya jumlah tanduk kerbau senilai hartamu.

 

Lima bulan setelahnya aku melihatmu

sedang tertidur dengan kain sederhana dalam isak

Pong Lalondong masih setia bersamamu, di barisan belakang dengan memegang surat

perjanjian semanis madu. Kau bilang akan kembali dengan beratus kerbau dan babi

dalam tungganganmu. Sedang dalam Tongkonan yang kau bangun:

jumlah tanduk kerbau masih sama seperti yang dulu.

 

Dua tahun ini aku selalu menengokmu

Masih terlelap dengan Pong Lalondong di sebelahmu. Jumlah tanduk kerbau

sudah bertambah, namun bukan untukmu. Surat manismu masih dipegangnya dengan sayu

sanak kelurga sudah tak sebanyak yang dulu. Ratap pun menghilang

bersamaan dengan Tau yang hampir selesai mirip rupamu

 

Dan hari ini, Kakek, aku mengelusmu

masih tertidur dalam Tongkonan yang kau bangun. Rante yang tergagas sepertinya

tak jadi dilaksanakan: Golok menghilang, kerbau berlarian, gerbang Puya pun menutup

seiring dengan kasus korupsimu yang santer di kejaksaan.

 

 

Post Scriptum

Pong Lalondong: dewa kematian pada kepercayaan Aluk, kepercayaan tradisional masyarakat Toraja

Tongkonan: rumah untuk menympan jenazah sampai rante dilaksanakan

Tau: boneka kematian

Rante: upacara kematian tradisional

Puya: alam akhirat bagi kepercayaan Aluk

  • fanny perdhana

    Membacanya seperti mengiris kedukaan. Magis.

    • http://birokreasi.com/author/trendingtopiq/ ☭Cah Cinta

      Yha~~