Inlander

selfie

Anggap saja ini sebuah surat terbuka untuk Mas Fadli Zon. Tapi maaf, Mas, saya ndak suka menulis judul panjang-panjang semacam Surat Terbuka untuk Mas-Mas Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia yang Terhormat dan sebagainya. Maka izinkan saya memberi judul seperti di atas. Kenapa Inlander? Ah, masa Mas Fadli ndak tahu sih? Eh, benar-benar ndak tahu ya, Mas? Iya deh, nanti kita bahas juga soal itu.

Oya, saya sampai lupa bertanya kabar, bagaimana kabar Mas Fadli? Setelah pulang dari Amrik, tentu Mas Fadli lelah. Saya sepenuhnya paham jenis kerja macam apa yang Mas Fadli lakukan, amanah suci dari duaratus tujuhpuluh juta jiwa rakyat Indonesia—jumlah ini merujuk pada twit Ustadz Yusuf Mansur tempo hari—diletakkan di bahu Mas Fadli. Saya berharap Mas Fadli selalu sehat sentausa agar bisa menjalankan semua tugas itu dengan baik, Mas Fadli juga harus tetap sehat agar bisa mencalonkan diri lagi pada pemilihan legislatif periode depan. Pokoknya kamu harus sehat, Mas. Saya ndak mau Mas Fadli sakit.

Mas Fadli Zon yang baik, rasanya kok kurang elok kalau saya ndak bertanya juga tentang bagaimana perasaan Mas Fadli. Mas Fadli jadi olok-olok di media sosial semenjak beredarnya foto-foto Mas Fadli bersama Donald Trump, ada juga foto Mas Fadli bersama mbak-mbak yang memegang tulisan “the silent majority stands with Trump.” Bagaimana perasaan Mas? Menjengkelkan ya, Mas? Orang Indonesia memang begitu, katrok, cuma foto-foto saja dipermasalahkan. Dasar norak! By the way Mas Fadli sempat kenalan dengan mbak-mbak itu, ndak? Cantik ya, Mas? Blonde lagi. Dapat pin BBM-nya, ndak? Kapan lagi bisa BBM-an sama bule cantik seperti mbak-mbak itu? Teman-teman BBM Mas Fadli selama ini pasti rambutnya hitam semua kan, Mas? Bosen kan, Mas? Sama, hih!

Kembali lagi ke foto Mas Fadli bareng Donald Trump. Baru foto bareng saja, Mas Fadli kena damprat sana-sini. Padahal apa salahnya seorang Fadli Zon mengidolakan Donald Trump? Toh cuma kebetulan saja Donald Trump dikenal rasis, kadang juga seksis. Juga cuma kebetulan saja Mas Fadli adalah anggota dewan. Kalau yang mengolok-olok punya kesempatan yang sama, pasti mereka juga minta selfie. Jangankan Donald Trump yang pesohor, pengusaha sukses, dan kandidat calon presiden di negeri adikuasa, bule kere lagi backpacking di Kepulauan Seribu saja banyak orang kita yang kegatelan minta selfie. Terus template pertanyaannya juga itu-itu saja: what is your name, Mister? Where are you from, Mister? Would you mind to take some photos with me, Mister? Eek kuda, Mister?

Norak ya, Mas? Ya, begitulah kelakuan beberapa orang kita. Inlander itu sudah menjadi karakter bangsa kita, Mas, termasuk anggota dewan sekali pun. Keminderan khas penduduk negeri dunia ketiga—yang biasanya sekaligus kepongahan kelas menengahnya—adalah penyakit klasik yang lumrah diderita oleh mereka yang pernah dijajah, penyakit orang-orang kalah. Ndak hanya anggota dewan, penyakit ini juga bisa menjangkiti dedek-dedek gemes, bahkan kaum ngintelektuil yang dapat beasiswa luar negeri juga. Harusnya semua orang maklum dengan itu.

Contoh lain yang agak halus biasanya dipraktikkan oleh kaum ngintelektuil, mereka membanding-bandingkan Indonesia dengan luar negerinya sana: Indonesia akan jelek sekali, negeri lain akan hebat sekali. Entah Singapore lebih bersih dari Indonesia, etos kerja penduduk Jepang lebih baik dari Indonesia, di Amrik ndak ada macet seperti Indonesia, orang Belanda lebih tertib dari Indonesia, di Aussie ndak ada gembel seperti di Indonesia. Pokoknya, yang dibahas melulu berputar-putar pada perkara kasat mata: ketertiban, pelayanan umum, infrastruktur, atau sedikit ekonomi makro biar terkesan ciamik.

Dalam perbandingannya, ndak akan ditemui penjelasan apakah negeri lain yang dikunjunginya itu juga pernah dijajah bertahun-tahun? Apakah negeri lain itu lebih punya akses terhadap teknologi? Sudah sepanjang apa tradisi pendidikan di negeri lain itu? Apakah negeri lain itu juga mengalami revolusi industri? Apakah negeri lain itu pelaku dalam Perang Dunia atau cuma korban? Bagaimana perbandingan daya beli penduduknya? Kenapa tenaga kerja mereka dihargai lebih tinggi daripada tenaga kerja kita? Bagaimana posisi negeri lain itu dalam ekonomi pasar yang bergerak semakin transnasionalis ketimbang realis?

Halus sekali ya, Mas? Ngintelektuil sekali ya, Mas? Sebuah ‘kritik membangun’ (sumpah, saya jijik sekali dengan frasa ini) yang menunjukkan kepedulian pada bangsa. Jangan-jangan yang mereka sebut ‘kritik membangun’ itu cuma cara lain untuk bilang, “Aku lho, pernah ke luar negeri. Situ belum pernah ya? Pantesan ndak berbudaya, ndak ngintelektuil, ndak sophisticated.” Sama belaka dengan orang dari lereng bukit Kendeng piknik ke Jakarta. Sepulang piknik, marah-marah karena susah air. Beda dengan Jakarta yang tinggal pencet dispenser. Tanpa mau tahu bahwa kampungnya kekeringan karena penambangan pabrik semen di dekat rumahnya, sehingga daerah resapan air rusak, kali-kali kering, dan sawah bapaknya ndak bisa ditanami.

Mas Fadli Zon yang baik, saya kok jadi kepikiran lagi soal mbak-mbak tadi ya. Misalnya Mas Fadli sudah mendapatkan pin BBM mbak-mbak itu, mbok saya dibagi. Oya, Mas Fadli juga jangan sampai bilang begini di media sosial, “Abis chatting sama mbak-mbak cantik berambut blonde yang kemaren nich!” Jangan. Nanti Mas Fadli di-bully lagi, dibilang seksis dan rasis. Feminis-feminis itu suka sekali caper akhir-akhir ini, Mas. Susah lihat orang senang, senang lihat orang susah.

Cukup foto yang kemarin saja yang jadi bahan bully-an, selanjutnya Mas Fadli harus bisa ambil hikmahnya. Mas Fadli tentu masih ingin mencalonkan diri jadi anggota dewan di periode depan bukan? Benar bahwa orang Indonesia itu gampang lupa, Mas. Ndak sampai sebulan, mereka pasti lupa kejadian ini seperti mereka melupakan Aylan—adik kecil yang tewas di pinggir laut Turki itu—yang sekarang mereka gembar-gemborkan. Bedanya, pada pemilihan legislatif periode selanjutnya, foto Aylan ndak akan keluar lagi dalam bentuk meme.

Dan soal somasi yang konon akan Mas Fadli layangkan kepada Imam Shamsi Ali, Mas Fadli serius? Saran saya, Mas, jangan melawan yang ndak perlu dilawan. Haters itu ada di mana-mana. Saya juga percaya kok bahwa Mas Fadli yang benar dan Imam Shamsi Ali yang salah, tapi kebenaran ndak akan mengubah haters jadi lovers. Akan lebih baik kalau Mas Fadli playing victim saja daripada jadi agresif. Bangsa Indonesia yang suka drama ini, Mas, gampang sekali jatuh cinta kepada pihak teraniaya daripada kepada pihak yang benar. Coba lihat Teuku Wisnu, semula banyak orang yang mem-bully dia, tapi berbalik jadi simpatik karena Teuku Wisnu mau minta maaf.

Juga jangan gunakan pertemuan Jokowi dengan Jenderal Sisi sebagai tameng. Di facebook, fans Mas Fadli sudah melakukan itu. Katanya Jokowi juga ketemu penjahat HAM tapi kenapa ndak ada yang nyinyir? Saya juga ndak paham kenapa banyak fans Mas Fadli di media sosial berbuat hal bodoh seperti itu, Mas Fadli tentu lebih pintar dari mereka. Mas Fadli pasti tahu, Jokowi selalu punya dalih bahwa pertemuannya dengan Jenderal Sisi adalah urusan diplomatik dua kepala negara, urusan politik bilateral, sebuah agenda resmi. Bukan jumpa fans yang berjenis Malayan Mongoloid dari negeri dunia ketiga, dengan idolanya yang bule dari negeri adikuasa. Bukan. Bukan pertemuan semacam itu, Mas.

Mas Fadli Zon yang baik, saya kira cukup sampai di sini dulu surat dari saya. Jangan sering-sering bikin kotroversi ya, itu bukan kelas Mas Fadli, kecuali Mas Fadli ingin disamakan dengan Aurel dan Kris Dayanti. Dan kalau ada kata-kata saya yang kurang berkenan di hati Mas Fadli, mohon saya jangan disomasi. Karena seperti lagunya Tangga, Mas: kulakukan ini semua hanya ‘tuk buatmu bahagya, mungkin kuhanya ndak bisa pahami bagaimana cara tunjukkan maksudku.

Post Scriptum: soal pin BBM mbak-mbak tadi, Mas, saya ndak bercanda.