Simpelnya Halte Bus OV

Siang tadi, seorang penumpang perempuan membawa naik sepeda lipatnya ke bus OV (openbaar vervoer/transportasi publik) yang saya tumpangi. Sebenarnya bukan baru sekali ini saya melihat ada penumpang yang melakukan hal tersebut. Malah hal seperti itu lazim terjadi di Belanda sini. Tetapi, entah kenapa, perempuan tadi membuat saya tiba-tiba kepikiran tentang transportasi kita. Bagaimana seandainya kita mau melakukan hal yang sama di bus Transjakarta? Di dalam bus OV, ada satu sudut di mana penumpang bisa meletakkan sepeda/trolley bayi, sudut itu dilengkapi semacam sabuk pengaman agar sepeda/trolley bayi itu tidak bergerak selama perjalanan. Mungkinkah yang seperti itu bisa ada di Indonesia?

Jawabannya: mungkin saja sih. Dengan syarat petugasnya tidak melarang. Soalnya desain bus Transjakarta bukan seperti Metromini yang sudah penuh sesak dengan kursi. Bagian tengah bus Transjakarta adalah ruang kosong, jadi rasanya kalau penumpang mau bawa sepeda 5 biji pun akan masuk-masuk saja, jika tidak pada di jam sibuk. Atau, di jam sibuk, asalkan ia tahan menghadapi pelototan mata orang-orang yang seolah berkata, “sepeda siapa sih nih? berani-beraninya ngambil ruang berdiri saya,” hahaha. Masalahnya, untuk bisa masuk ke bus Transjakarta itu dulu, si pembawa sepeda sudah butuh usaha lebih. Dia harus “berolahraga” terlebih dahulu, mendorong sepedanya naik ke jembatan penyeberangan, lalu mendorongnya lagi turun menuju halte busway.

transjak

Inilah kenyataannya, sebagian besar halte Transjakarta hanya dapat diakses lewat anak tangga yang super banyak. Memang membantu sekali untuk orang-orang kantoran yang jarang olahraga, hahaha. Emm, kembali bicara serius. Saya rasa ide peletakan halte bus Transjakarta di tengah badan jalan adalah agar ia lebih terkontrol. Pintu bus Transjakarta sendiri didesain berbeda dengan bus-bus lainnya di Indonesia, yaitu terletak di sebelah kanan, dan relatif tinggi jika diukur dari permukaan jalan, tanpa ada tangga di pintu masuk. Dengan desain seperti ini, penumpang jadi tidak bisa seenaknya naik dari pinggir jalan. Penumpang hanya bisa naik dari halte saja, yang notabene memang letaknya di kanan jalur bus. Harapan Pemda DKI yang merancangnya saat itu, masalah angkutan umum yang seenaknya mengambil penumpang di luar halte bisa teratasi, tidak seperti bus Pengangkutan Penumpang Djakarta (PPD) yang nakal berhenti sesuka hati, padahal sudah disediakan halte. Padahal, PPD itu sama seperti Transjakarta lho, sama-sama dikelola BUMD. Dengan case perbandingan PPD dan Transjakarta ini, saya dulu sempat menyimpulkan, ternyata memang desain halte berpengaruh untuk mengontrol ketertiban kendaraan umum.

Tapi, kesimpulan saya saat itu mungkin keliru. Tiga minggu belakangan, di tanah yang jaraknya puluhan ribu kilometer dari Jakarta, saya hampir setiap hari berdiri di halte yang ada di foto di bawah ini.

ov

Halte yang sangat simpel: halte bus OV. Tak perlu AC karena memang bukan di ruang tertutup. Tak perlu naik tangga untuk menjangkaunya. Dan saya yakin, tak perlu biaya yang lebih mahal untuk membuatnya dibanding halte Transjakarta kita.

Dan yang menakjubkan, halte sesimpel ini benar-benar berfungsi sesuai kodratnya. Bus-bus OV hanya mengambil dan menurunkan penumpang di halte-halte seperti ini. Semua penumpang pun, entah warga lokal maupun orang asing seperti saya otomatis langsung paham, menunggu bus OV selain di halte ini adalah sebuah pekerjaan sia-sia karena bus tidak akan mungkin mau berhenti. Padahal tak ada satupun penjaga di tiap halte lho. Tapi supirnya bersedia taat pada sistem, hebat ya?

Pemda DKI sudah pernah membuat halte sesimpel ini, tapi kita (baik supir dan penumpangnya) jarang sekali peduli. Kita lebih biasa rusuh ingin naik dan turun di sembarang tempat. Akibatnya Pemda DKI kemudian putar otak, dan lahirlah ide kreatif yaitu Transjakarta. Sebuah ide yang saya rasa biaya pembangunannya mahal, dan bagi kita sebagai pengguna pun desainnya kurang efisien jika dibandingkan dengan halte simpel Bus OV.

Tentu saya tidak menyalahkan Pemda DKI. Mereka hanya mencari solusi dari transportasi umum yang semakin sulit diatur. Saya hanya menyalahkan diri saya sendiri: kenapa dari dulu tidak manut untuk menunggu di halte sederhana, kenapa dulu egois ingin bebas naik-turun di mana saja ketika naik PPD/Metromini, hingga akhirnya sekarang malah harus mengeluarkan tenaga lebih kalau ingin menggunakan bus Transjakarta. Secapek-capeknya saya naik turun tangga halte bus Transjakarta, mungkin masih tidak apa-apa. Yang lebih kesulitan adalah mereka-mereka yang hanya bisa berjalan dengan bantuan kursi roda atau tongkat. Dengan halte sesimpel halte Bus OV, kawan-kawan berkursi roda di sini masih bisa mandiri naik turun bus. Namun di halte bus Transjakarta? Ah, egoisnya saya!