Selapanan

hijabSudah tigapuluh lima hari lamanya sejak anak saya, Bumi, dilahirkan di tengah malam. Andai lahirnya sebelum Isya, bisa dipastikan wetonnya Jumat Kliwon. Atau jika lewat tengah malam, berarti sudah Sabtu Legi. Masalahnya Bumi lahir pukul 11.50, tanggung memang. Menurut kalender matahari masih Jumat, sementara kalender bulan sudah Legi. Yang jelas usia Bumi sudah selapan sekarang. Istri saya mendapat kabar kalau Bumi sedang dibikinkan selamatan oleh eyangnya (ibu saya) di Jawa. Sedangkan saya dan istri tinggal di Makassar.

Seperti etnis lainnya, tradisi Jawa memasang bermacam-macam penanda pada banyak hal, termasuk waktu. Saya ingat ketika kecil dulu, suka sekali memanjat pohon jambu air di depan rumah nenek. Ibu tak pernah marah, tapi ketika Adzan Dzuhur berkumandang, saya harus turun sejenak. Begitu juga sore hari, biasanya saya bermain layangan di tanggul utara desa. Saya akan dimarahi kalau Adzan Magrib belum masuk rumah. Surub, katanya, banyak sandikala.

Sandikala sendiri berasal dari frasa dalam bahasa Sanskrit, sandi dan kala. Jika sandi berarti menjadi ‘samar’ atau ‘remang’, maka kala bisa diartikan sebagai ‘waktu’ atau ‘Bathara Kala’. Bahasa Jawa memang teramat lentur untuk direntang seluas-luasnya atas segala tafsir. Sedemikian lentur sehingga kata sandi sendiri juga berubah pengucapan menjadi candik atau sandya. Dari candik, frasa sandikala berubah menjadi candik-ala, dengan kata ala berarti ‘jelek’ dalam bahasa Jawa. Sedangkan dari sandya, konon melahirkan kata ‘senja’ dalam bahasa Indonesia.

Sandikala adalah asosiasi masyarakat Jawa kuno atas senja yang samar pula remang, saat-saat kritis di mana bumi mengalami penurunan intensitas sinar kosmik. Tapi itu kan tradisi masyarakat Jawa kuno, ketika agama-agama lama mengajarkan untuk menghormati tidak hanya kepada sesama manusia, tapi juga kepada semesta beserta isinya, pula dimensi ruang dan waktu yang melingkupinya. Entah berasal dari animisme-dinamisme kuno Jawa, entah dari tradisi Hindu, yang jelas tak ada istilah itu dalam tradisi Islam. Tapi kalaupun semua hal harus ada dalilnya, nabi pernah bilang begini:

Apabila sore hari menjelang malam tiba, tahanlah (di dalam rumah) anak-anak kecil kalian, karena pada saat itu setan berkeliaran. Apabila permulaan malam sudah tiba, diamkanlah anak-anak kalian di dalam rumah, tutuplah pintu-pintu (termasuk jendela) kalian dengan terlebih dahulu menyebut nama Allah karena setan tidak akan dapat membuka pintu yang terkunci dengan menyebut nama Allah sebelumnya, dan ikatlah qirab-qirab air kalian sambil menyebut nama Allah, tutuplah bejana-bejana atau wadah-wadah kalian sambil menyebut nama Allah meskipun hanya ditutup dengan sesuatu alakadarnya dan matikanlah lampu-lampu kalian (sebelum tidur).

Kata qirab, adalah bentuk jamak dari kata qurbah, kendi tradisional suku-suku Arab masa itu yang terbuat dari kulit, biasanya ada tali pengikat di ujungnya. Hadits ini diriwayatkan Imam Bukhari, kalau ditanya bagaimana sanadnya, saya tak paham, silakan tanya ke ulama-ulama ahli hadits saja. Soal Adzan Dzuhur harus turun dari pohon jambu, nabi menganjurkan berdiam diri ketika adzan tapi haditsnya lemah, tak perlu disebut di sini karena yang saya tahu ada orang-orang yang alergi dengan hadits lemah.

Untuk selapanan, selain sebagai bentuk syukur atas segala nikmat sehat dan selamat, adalah upaya menyingkiri sandikala. Doa dipanjatkan, harapan disematkan, ambengan dibagikan. Ambengan biasanya berisi nasi putih, telur rebus, dan urap, dibungkus daun pisang atau daun jati, dibagi ke sanak famili dan tetangga kanan-kiri. Kenapa harus nasi putih? Telur rebus? Urap? Daun Pisang atau Jati? Ya ndak kenapa-kenapa, mau diganti mie ayam juga ndak masalah. Tentu ini cuma tradisi di Jawa, tempat lain boleh berbeda, dan tidak disyariatkan.

“Katanya selamatan itu bid’ah?” Tanya istri tiba-tiba.

“Pasti! Selamatan memang bid’ah. Tahu dari mana?”

“Facebook. Temen-temenku banyak yang share, katanya selamatan itu tradisi Hindu.”

Benar dugaan saya. Di wall Facebook saya sendiri beberapakali berseliweran yang seperti itu, postingan mengutip seseorang yang (entah benar ada atau tidak, kalaupun ada, entah benar pernah berucap begitu atau tidak) mantan pendeta Hindu dan sudah mualaf. Kata mantan-pendeta-Hindu-mualaf itu selamatan adalah tradisi Hindu, tak lupa menyertakan aneka rupa ayat dari Weda dan Upanishad. Belakangan ini, beberapa umat Islam memang sedemikian insecure sehingga perlu mencantumkan status mantan pendeta mualaf, mantan pastur mualaf, mantan biksu mualaf, dan mantan whatever mualaf lainnya sebagai bukti kebenaran imannya. Ya robb.

Soal sejarah selamatan, saya tidak kaget. Semua anak-anak di kampung kami tahu itu, sudah jadi klise malah. Tapi istri saya bukan Jawa, saya merasa perlu menjelaskan bahwa di balik selamatan a la ‘Islam Jawa’ itu, ada aspek sosiolohis yang melatarbelakangi, sekaligus menentukan wajah mayoritas masyarakat Islam di Jawa masa sekarang. Soal golongan yang suka membid’ahkan orang lain, saya juga tidak kaget. Dari dulu, memang ada golongan yang menganggap semua bid’ah adalah dlalalah, adalah tertolak, adalah haram hukumnya.

Selapanan dan selamatan-selamatan yang lain, nawaitunya untuk mensyukuri nikmat sehat dan selamat yang dianugerahkan tuhan kepada si jabang bayi. Sekali lagi, ini tradisi, tidak disyariatkan, dianggap bid’ah boleh. Soal dalil, gampang, bisa dicari-carikan. Kata nabi (insyaallah shahih Muslim) begini:

Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam Islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat-buat hal baru yg buruk dalam Islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya.

“Jadi gimana, kita bikin selamatan juga apa tidak usah?” Istri saya tanya lagi.

“Tak usah. Bukan karena anti bid’ah, tapi karena di sini tak ada tradisi itu.”

Banyak selamatan dalam tradisi Jawa memang bid’ah. Bukan cuma berasal dari Hindu, beberapa malah dari animisme-dinamisme. Dulu sekali, di senjakala Majapahit, ulama datang silih berganti untuk mengislamisasi Jawa. Banyak yang gagal. Sampai kemudian datang ulama yang menggunakan cara yang benar-benar berbeda, cara yang lebih lembut dan bijaksana. Sebagian dari mereka ini yang sekarang disebut Walisongo, sembilan wali.

“Masyarakat kita memang lebih menyukai perayaan, ketimbang peraturan. Kondisi sosiolohi ini yang sering tak mau dipahami para pembawa risalah baru sehingga misi mereka kandas,” sambung istri sembari merapikan rambut Bumi dengan jari.

Berbeda dengan Walisongo, mereka tidak menghapus tradisi lama itu sama sekali, nuansanya saja yang diubah jadi lebih ‘islami’. Doa-doa dari tradisi Hindu diganti Alfatihah, Tahlil, Yasin, atau Shalawat. Sesaji yang biasanya dipersembahkan di pura, perempatan jalan, pohon-pohon besar, tak lagi dilakukan. Diganti dengan makan bersama-sama dengan sanak saudara dan tetangga, nawaitu untuk sedekah dan terimakasih karena turut mendoakan. Tak jarang, acara selapanan sekaligus juga aqiqahan. Karena masyarakat tidak kaget, agama baru ini jadi lebih mudah diterima dan berkembang pesat.

“Lalu di mana letak salahnya bersyukur atas nikmat keselamatan dan kesehatan? Di mana letak haramnya baca Alfatihah, Tahlil, Yasin, dan Shalawat? Di mana letak sesatnya bersedekah kepada para tetangga? Apakah karena ketiganya dilakukan bersama-sama pada hari ulang tahun seorang bayi? Kok hebat sekali kalau seorang bayi bisa menggoyang aqidah banyak orang?” Tanya istri. Nada suaranya meninggi.

Bumi terlihat menggeliat di pangkuan ibunya, suara kami mengganggu tidurnya. Saya betulkan posisi bantal yang bergeser dari kepala Bumi, mengelus-elus punggungnya, si jabang bayi kembali tenang.

“Wahabi?” Suara istri tak lagi tinggi kali ini.

“Jangan buru-buru memasang label. Aku tak yakin mereka sendiri paham apa itu Wahabi. Aku lebih suka menyebut mereka Muslim Akhir Zaman.”

Banyak yang menuduh selamatan sebagai bid’ah–yang otomatis dlalalah—cuma karena tahu bahwa tradisi ini berasal dari Hindu tanpa paham konteks historis. Tapi kalaupun setelah paham konteks tetap menyebut dlalalah, ya ndak apa-apa, namanya keyakinan harus dihormati. Toh nyatanya dengan bid’ah itu, Walisongo berhasil mengislamkan masyarakat tanpa perlu menumpahkan darah saudara sendiri seperti pada Perang Padri. Sementara yang melulu bilang bid’ah, jangan-jangan malah ndak pernah mengislamkan siapa-siapa, termasuk dirinya sendiri.

Dalam ushul fiqih, ada illat jika lebih banyak mudlarat ketimbang manfaat, maka bisa dihukumi haram. Menumpahkan darah saudara sendiri tentu sangat mudlarat, padahal mereka bisa saja didekati baik-baik andai orang-orang seperti Tuanku Imam Bonjol mau sedikit lebih bersabar. Tapi kalau perkara fiqih-fiqihan begitu, lebih baik tanya ke santri betulan saja. Sedangkan saya kan cuma nun mati ketemu huruf idghom bilaghunnah, ndak perlu dianggap. *duhdek*

Adapun yang meyakini Walisongo cuma mitos, ndak masalah, namanya keyakinan harus dihormati. Dan omong-omong soal mitos, tiba-tiba istri googling tentang siapa itu Romo Pinandhita Sulinggih Winarno, mantan pendeta Hindu yang katanya mualaf itu, yang katanya sarjana agama Hindu dan berkasta Brahmana (setahu saya semua pendeta memang berkasta Brahmana deh). Nihil. Sampai page ketujuh, tetap tak jelas yang mana orangnya, karakter fiksi atau fakta. Padahal kalau benar-benar ada, kita bisa belajar fiqih dari beliau. Meskipun mualaf kalau sudah berani menyatakan suatu amalan sebagai bid’ah, berarti sudah tidak baen-baen lagi ilmu agamanya. Seperti ustadz Felix Siauw saja, wuogh jagoan sekali itu ilmu fiqihnya!

Bagi Muslim Akhir Zaman, cerita dari seorang pendeta Hindu yang ‘baru belajar’ Islam, jauh lebih meyakinkan daripada Walisongo yang mengislamkan satu pulau. Mualaf yang sudah mahir menghukumi bid’ah, jauh lebih meyakinkan daripada kompetensi ratusan kiyai sepuh dari pesantren seantero Nuswantoro. Menetapkan kebid’ahan (memurnikan Islam) justru menggunakan dasar kitab Weda dan Upanishad, jauh lebih meyakinkan daripada menggali kitab-kitab ushul fiqih.

“Jangan-jangan jika Nabi Isa diturunkan lagi nanti di hari akhir, beliau juga akan kena stempel ahli bid’ah, mitos, sesat, bahkan kafir oleh mereka,” kata istri.

“Bisa jadi. Yang jelas pendangkalan dengan membid’ahkan golongan yang berbeda ini, sejalan dengan tahayul-tahayul seperti konspirasi wahyudi, Kristen ‘menyamar’ jadi Islam, Will Smith jadi mualaf, yang belakangan jadi begitu mudah tersebar.”

Dari istri juga, saya jadi tahu ada golongan yang mengaku-aku sebagai NU Garis Lurus, seolah NU (Nahdlatul Ulama) di luar mereka adalah NU yang bengkok. Kelakuannya jelas tercermin dari namanya, merasa paling lurus sendiri, gemar membid’ahkan orang lain, termasuk kepada kalangan sesama nahdliyin. Pertanyaan yang paling masuk akal atas ini adalah: siapakah pihak yang paling diuntungkan dengan adanya golongan Muslim Akhir Zaman seperti mereka?

Silakan bagi yang mau mencari jawabannya, saya tak berminat. Merayakan selapanannya Bumi lebih bermanfaat bagi saya, mendoakan segala yang baik dan segenap rasa syukur. Lho, berdoa dan bersyukur kan bisa kapan saja, kenapa harus menunggu pas selapan? Benar, berdoa dan bersyukur bisa kapan saja, tak perlu menunggu selapan. Tapi kenapa kalau selapan jadi salah?

Menjadi istiqomah itu tak mudah. Segala yang rutin itu sangat berat sejak manusia adalah makhluk yang gampang bosan. Itulah kenapa kita membuat penanda, memasang pengingat, memancang tetenger. Termasuk untuk berdoa dan bersyukur. Jika kita memang harus minta maaf setiapkali punya salah kepada orang lain, lantas kenapa harus ada Idul Fitri? Jika membaca Alquran harusnya setiap hari, kenapa pahala membaca Alquran di bulan Ramadlan lebih tinggi? Begitupun selapanan, saya ambil hikmahnya sebagai penanda, tetenger agar tak tersasar terlalu jauh dari jalur lalu bosan bersyukur.

Dan begini, Akhy dan Ukhty yang mengaku pengikut ulama Salaf: setahu saya, ulama Salaf itu berusaha menggunakan kepandaiannya untuk membela saudara yang berbeda pemahaman, tapi Muslim Akhir Zaman sebaliknya, berusaha menggunakan kepandaiannya untuk menyalahkan saudara yang berbeda pemahaman.

Itu juga yang jadi doa saya untuk Bumi. Sekarang usiamu sudah selapan, sudah makin besar. Selamat, Ngger. Selalulah membumi, rendah hati, dan jangan merasa paling hebat sendiri. Semoga tuhan melimpahimu hanya segala yang baik, baik untukmu juga baik untuk orang lain. Jadilah manusia yang tahu diri, tahu dirinya sendiri. Jadilah manusia yang tahu terimakasih dan selalu bersyukur. Lebih baik jadi ahli bid’ah yang tahu bersyukur, daripada mengaku ahli sunah tapi gemar tahayul.

Post Scriptum: ditulis tanggal 10 Juli 2015, ketika anak penulis tepat berusia selapan.

  • fanny perdhana

    mencerahkan. Nuansa sufistik merebak waktu membaca tulisan ini. Hampir pasti kalo mz topiq ini titisan Jalaluddin Rumi yg sufi itu..hehe

    • http://birokreasi.com/author/trendingtopiq/ ☭Cah Cinta

      Ah, Bang Fanny sa ja … :3