Pohon Beringin Tua, Sepasang Kenari, dan Telaga (1)

Pohon Beringin Tua

sebatang kara, kayu hidup pada tepi danau yang entah apa namanya. Sebatang kara dan sebatang kayu barangkali kembar, atau bisa jadi hanya suatu kebetulanlah―atau kebenaran(?)―yang membuat mereka bernasib sama: menjadi sendirian. Pohon itu tak bertuan. Tidak juga memiliki pasangan.

Kerutan-kerutan dahan memberikanmu sedikit gambaran perihal keteguhan dirinya menghadapi kesepian. Tak seperti kamu yang manusia, kerutan membuat sebatang pohon terlihat makin gagah, gagah dengan keterlaluan yang sangat terlalu. Jangan menanyakan padaku, aku pun tidak tahu asal-muasal dari kerutan-kerutan itu. Mungkin terendam air terlalu lama seperti jari-jarimu saat berdiam di kamar mandi itu (kenapa sih kamu suka sekali berlama-lama di sana?). Atau waktu memang seperti itu, meninggalkan kerutan sebagai jejak-jejak pertemuan, petilasan kala menanggalkan usia.

Kaki-kakinya mengakar begitu kekar, unjuk kedigdayaan pada bumi yang tetap sama, lapang, dan tabah. Pokok-pokok kayu sebesar paha orang dewasa itu menyembul dari bawah tanah. Di pikiranku, mereka mengecam keserakahan. Setelah beton-beton didirikan dengan begitu megah, memenuhi seluruh permukaan dengan mengosongkan bagian bawahnya, bumi yang sudah penuh tak lagi muat untuk apapun. Tak kurang akal, beton-beton didirikan juga di bawah tanah yang telah kosong sebagai monument-monumen keserakahan manusia–seperti stasiun bawah tanah itu, misalnya. Maka akar-akar menyuarakan ketidaksetujuan seperti kera-kera yang menyerang perkampungan-perkampungan jauh. Bung Tomo menjelma akar, Diponegoro menjelma kera. Sebuah bangsa yang belum lama merdeka sedang ingin mencoba rasanya menjadi penjajah.

Tonjolan-tonjolan itu juga merekam kenangan, tentang pasangan-pasangan jatuh hati, juga punggung-punggung penat yang setengah mati. Terkadang punggung-punggung hanya ingin berteduh dari amarah siang dan hati-hati sekadar ingin bercumbu di antara dingin malam. Entah apa sekarang mereka, pasangan-pasangan jatuh hati itu, masih bersama atau malah bisa jadi telah lama terpisah. Atau bisa juga mereka telah menikah, dengan masing-masing orang yang berbeda. Akar yang sama, menjadi atap bagi kerajaan semut yang entah apakah kerajaan itu bernama. Kita tetapkan saja kerajaan itu sebagai kerajaan-semut-tak-bernama.

Dahan terkuatnya bahkan hanya terayun perlahan. Menggerak-getarkan daun-daun kecil yang kemudian melayarkan udara menjadi angin. Membelai pipi gembungmu seperti tangan seorang ibu. Menurutmu mana yang lebih tepat, daun-daun yang bergetar menggerakkan udara, atau udara yang bergerak menggetarkan daun-daun? Yang manapun, mereka berhembus menggodamu, sekedar menyibakkan anak-anak rambut di kening lebarmu. Membuat matamu menyipit menikmati gelitik angin. Genit. Mereka hanya ingin melihat senyuman di matamu dan sedikit binar bibirmu. Sesederhana itu.

Kamu tentu tahu, dahan-dahannya tak selentur yang ia mau, jika mampu pasti dia sudah mendekapmu. Makhluk mana di dunia ini yang tak tergoda untuk memelukmu? Tapi tak akan ada pelukan yang dilingkarkan. Sebab sepuluh ulat tengah berjuang menjadi ngengat pada daun-daunnya, tak tega ia mengganggu mereka. Bukan, bukan karenamu dia enggan menjamah tubuhmu. Tidak semua hal di dunia ini berkaitan dengan dirimu. Seringkali kamu, juga aku, merasa Tuhan tak adil karena suatu hal yang terjadi bukan tentang kita.

Beringin

Sepasang kenari yang kulepaskan kemarin, membuat sarangnya di sana, dalam sebuah rumah-rumahan coklat muda. Kupaku rumah-rumahan itu di sana, pada tubuh tua yang bahkan tak bergetah saat kupukulkan gada di atas paku kecil, menancap tepat pada ketiak dahan terendah pohon beringin tua.

Saat kupasang rumah-rumahan itu, daun-daun bergesek begitu berisik. Mungkin menahan sakit yang sedang terjadi, seperti bibirmu saat imunisasi pertama kali, atau berterima kasih karena memberi sepasang kenari untuk menemaninya.

Aku tersenyum, “Aku hanya memberi kedua kenari itu pilihan hidup. Mereka yang akan menentukannya sendiri, menemanimu, mencari sarang baru. Atau berpisah.”

Kuambil sebuah batu pipih di bawah pohon beringin dan melemparnya ke tengah telaga. Batu itu melompat tiga kali lalu tenggelam.

“Aneh bukan? Memang bisa jadi begitu, bisa jadi mereka akan bersamamu dan beranak pinak di sini, atau mereka pergi meninggalkanmu, atau bisa jadi kalian bertiga akan saling meninggalkan. Jalani saja bersama mereka selagi bisa.”

Angin lebih kencang bertiup, dahan tertingginya merunduk. Aku paham, dia mengangguk.

Sesaat aku tertidur di bawahnya, pada satu akar paling besar yang menyatu pada tubuh beringin yang begitu besar―jika tidak bisa kubilang raksasa. Aku ingin memanjat dan tidur di atas dahan-dahan pohon, tapi aku tak pernah berani memanjat. Di atas sana, kepalaku pusing, aku merasakan rotasi dan revolusi sekaligus. Alasan logis untuk jatuh dan patah kaki. Ah, apalah arti keinginan tanpa keberanian, yang seperti itu hanya suatu kesia-sian saja kan?

Sepotong daun tergeletak pada kelopak mataku. Kukatakan sepotong, sebab angin yang memotong tangkai layunya hingga jatuh di sini, pada mataku. Aneh, menurutku angin tak setajam itu hingga mampu memotong apapun. Tak penting, apa-apa yang bisa kau lihat dengan mata sudah pasti nyata, jika daun itu jatuh di sini, maka angin pasti setajam itu, tak ada yang perlu diragukan.

Sebenarnya aku lebih suka menyebut daun-daun itu sehelai. Jika imajinasiku benar, maka daun adalah rambut dari sebatang pohon beringin, maka aku menamainya sehelai. Bisa saja kamu setuju, bisa juga tidak, yang pasti si pohon tua ini mengirimnya untuk menemaniku tertidur di bawahnya. Sekedar menjaga mataku dari silau matahari. Dia begitu baik, padahal aku belum lama mengenalnya.

***

Seminggu setelahnya kulihat burung kenari itu tak lagi berdua, si jantan menghilang. Entahlah, mungkin tergoda oleh burung merpati, atau kutilang(?). Aku tetap duduk di bawahnya, di bawah rumah coklat muda mereka, dan menyebarkan biji-bijian. Saat kuperhatikan, ulat-ulat ngengat itu juga hilang dari daun-daun kecil. Kenapa semua hal jadi suka menghilang? Barangkali ulat-ulat itu sudah menjadi ngengat, atau kenari-kenari kuning yang kulepaskan minggu lalu penyebabnya. Apa mereka kelaparan dan mulai memakan ulat? Sejak kapan kenari makan ulat? Sejak itu aku berjanji menebarkan biji-bijian di sini. Agar tak ada lagi ulat-ulat yang perlu mati.

Janda kenari kuning itu melihatku. Sejak hari ini kusebut dia janda, anggaplah si pejantan itu mati, atau pergi atau apalah. Toh dia juga tak akan kembali. Dia masih melihatku, mungkin burung kecil itu bertanya padaku tentang kemalangan-kemalangan yang terjadi di hidupnya.

“Kadang seseorang menyadari bahwa ada beberapa hal di dunia ini yang tidak bisa disatukan, menyadari bahwa mereka sangat berbeda satu sama lain, tapi beberapa keras kepala. Mungkin pejantan kuning itu salah satu dari mereka, para keras kepala.”

Kenari betina itu berkedip-kedip. Memiringkan kepalanya seakan mencoba memahami perkataanku. Tak lama burung cantik itu masuk kembali ke dalam rumahnya yang coklat muda. Sedang aku masih duduk di sana memandang telaga. Kantong biji-bijian yang kubawa sudah kosong.

***

Sudah beberapa bulan aku tak mengunjungi mereka, kenari yang kini sendirian dan pohon beringin tua. Semoga mereka baik-baik saja. Ah, jika kukatakan padamu alasanku tidak datang ke tempat ini selama beberapa bulan, tentu kamu akan menertawakanku. Jadi lebih baik kusimpan sendiri saja untukku. Hari ini, aku kembali kesana, bukankah yang seperti itu lebih penting daripada membuat kalian tertawa? Tidak lupa kubawa kantong-kantong bijiku dan sebuah hati yang lapang. Andai kata nanti tak kulihat kenari betinaku itu di sana, aku tak perlu sakit hati. Lagipula bukan kesalahannya jika tak mampu menghadapi kesepian sendirian semacam itu.

Saat tiba di sana, kulihat sebuah pemandangan janggal. Sepotong pohon beringin muram dengan daun-daun kering yang terus lerai merajut permadani coklat yang menghampar. Kusapukan pandangan sepanjang padang, memastikan sekelilingku bukan bentangan gurun, dan tanganku mencoba meyakinkan otakku bahwa basahnya danau raya ini bukan fatamorgana. Jelas, waduk ini tidak mengering. Tak pernah ada hikayat yang menyebutkan telaga akan kering di musim hujan begini.

Aneh, seharusnya ini bukan waktu untuk pohon sebesar ini meranggas. Andaikata teori gunung es itu benar, pohon sekokoh ini pasti memiliki akar yang jauh lebih masif. Akar-akar itu pasti tertancap cukup dalam jika hanya sekadar untuk mencari air. Sudahlah, biar rahasia alam menjadi bagian para ilmuwan. Aku hanya ingin menghabiskan hari dengan bersantai.

Kurebahkan punggung pada singgasanaku, pokok batang yang sedemikian besar. Di bawah rumah-rumahan coklat muda yang sama, kutebar lagi biji-bijian seperti biasa. Tapi dia tak muncul. Menurutmu, siapa lagi yang kutunggu? Tentu saja burung kenari kecilku. Enah kemana dia pergi, barangkali mencari si pejantan, atau sedang menimba air di ujung lain telaga. Aku menunggu. Masih menunggu.

Pikiranku berjalan-jalan ke berbagai tempat, memikirkan berbagai hal tentang tempat ini. Tentang alasan pohon beringin tua meranggas pada musim yang begini basah, penyebab burung kenari jantan pergi. Apa kutilang secantik itu? Juga cara kenari kecil betina yang kesepian itu menimba air.

Tak lama, angin datang mengurai permadani daun kering yang terhampar begitu bentang di antara akar-akar melintang, tak jauh dari tempatku duduk sekarang. Sebujur kejur tubuh terbaring, dengan kepala menghadap kiblat dan kaki-kaki kecil hinggap di atas kekosongan. Aku mengenalinya sebagai kenari kuning milikku. Pohon beringin tua berduka, kenari kuning terbujur tanpa nyawa.

Aku yakin beringin tua ini mengetahui semuanya. Kakek tua itu juga yang memotong daun-daunnya untuk menutup bujur kaku bulu tanpa ruh itu pada mulanya. Hanya itu yang dapat dilakukan untuk menutupi mata kenari kuning yang masih basah pada ujungnya. Sebab tak pernah ada sesuatu di semesta ini yang tega melihat mata dengan bekas-bekas air mata. Pada saat yang sama, tak mampu beringin tua itu menguburkannya dengan layak. Aku yakin begitu.

Janda kenari kuning yang ditinggalkan kekasih, mati dalam kesepian yang begitu sunyi. Kini, pohon beringin tua itu kembali sendiri.

***

Setiap orang dengan alasan yang tak pernah berhasil dimengerti, suka menapaki petilasan kenangan. Penasaran atas semua peristiwa yang telah berlalu, keingintahuan yang menginspirasi sekolah-sekolah memberikan pelajaran sejarah. Pun demikian juga aku. Kutengok untuk terakhir kalinya rumah coklat muda burung kenari yang telah kosong.

Di sana, berserakan buah-buah beringin yang telah menghitam, juga tiga helai daun beringin mengering. Entah apa yang dipikirkan si betina, mungkin dia terus menghitung hari sejak kehilangan paruh terkasihnya.

Di sana juga, kenangan mereka akan tetap seperti ini. Saat sebelum mereka berdua pergi meninggalkan rumah coklatnya. Juga beringin tua.

Pohon beringin ini kembali kesepian. Aku, yang juga turut kehilangan duduk kembali di bawahnya, memandang telaga dan berbicara padanya, “Kemarin malam, aku bercengkrama dengan seorang putri. Dia cantik, sangat baik. Pekerja keras yang tak pernah aku tau dari mana dia mempunyai tenaga sebanyak itu. Dia bertanya padaku apa ada sesuatu yang ingin kukatakan padanya sebelum mengakhiri percakapan, dan aku terdiam.”

Aku menghela nafas panjang.

“Prajurit kecil sepertiku terlalu banyak bermain dengan pedang, gada, dan anak-anak kila-kila. Tak pernah pandai aku berbicara, dan ketika gugup, makin bodohlah otakku ini dibuatnya. Tak lama dia tertidur dan aku masih saja terdiam. Mendengarkan dengkur halus berhembus. Baru aku sadar, kenapa tak kukatakan saja aku mulai menyayanginya, selesai perkara!”

Seakan mengerti celotehanku sore itu, pohon beringin tua menanggalkan satu daunnya ke angkasa. Seperti sebagian dirinya ingin mencapai bulan yang masih malu-malu berenang di langit yang belum ingin menjadi malam. Beberapa saat kemudian, helai-helai itu jatuh pada telaga, mengambang di sana tanpa riak, hanya membuat sedikit getar di atas permukaan air. Aku tersenyum. (Bersambung)