Gadis Itu Bernama Amel

“Benarkah kamu akan bertunangan dengan Lia?” Tanya pak guru didepan para anggota keluarga yang lain.

Beliau salah satu tokoh penting di kampung ini, seorang tokoh masyarakat yang cukup disegani. Kali ini, beliau berperan sebagai perwakilan keluarga perempuan yang akan bertunangan denganku.

“Ya, pak,” jawabku malu-malu.

Sungguh perasaanku layaknya seorang terdakwa yang sedang menghadapi sidang vonis pengadilan. Dag dig dug jantung ini terasa semakin kencang.

“Kapan kamu mulai berpacaran dengannya?”

“Sudah lumayan lama, lebih dari 6 bulanan.”

Ini mulai menyiksa. Tak biasa aku harus berkata di depan seluruh kerabat seperti ini.

“Ketemu di mana? Dengan cara bagaimana?”

Pak Guru sudah mirip polisi yang sedang menginterogasi tersangka.

“Ketemu di perantauan, biasa saja via hape, sms dan telpon.”

Keringat dingin mulai menjalari setiap jengkal tubuh ini. Telapak tangan dan kakiku terasa semakin dingin.

“Untuk apa sih menanyakan hal-hal seperti ini? Hubungannya apa dengan acara pertunangan ini? Kepo amat sih?” Gerutuku dalam hati. Aku mulai tak tahan.

***

Malam makin larut. Suara binatang malam mulai makin jelas terdengar. Sesekali terdengar pula deru motor yang melewati gang beberapa meter dari kamar kos yang aku tempati bersama dua rekanku. Mereka adalah Excel dan Pangky, rekan-rekan yang sedari awal aku lahir, memang sudah sekampung denganku. Hingga kini kami bekerja, merantau ke kota Tangerang ini, kami masih bersama, bahkan berbagi kamar.

Kamar kami cukup untuk bertiga yang sama-sama masih bujang, meski tak begitu luas, hanya empat kali empat meter persegi saja luasnya. Selain karena alasan sekampung, ini kami lakukan umtuk menghemat pengeluaran di kota yang lumayan besar ini.

Aku dan Excel pulang ke kos. Sayup-sayup dari luar pintu kamar, kami mendengar Pangky sedang menelpon seseorang. Kami membuka pintu kamar, Pangky buru-buru menyudahi teleponnya ketika melihat kami datang.

“Sudah dulu ya, teman-temanku datang. Nanti aku telpon lagi. Assalamualaikum,” katanya.

“Telponan sama siapa? Cewek ya?” Tanyaku.

“Memangnya kenapa? Ga boleh gitu? Memangnya cuma kamu aja yang bisa telponan sama cewek?” Rentetan pertanyaan meluncur deras tanda protes, “Dia temanku, namanya Tini. Kalau mau kenalan, nanti aku coba tanyakan dulu ke orangnya ya.”

“Ide yang cerdas, kenalin denganku ya, hehehe.”

Pangky akhirnya menyebutkan nomor telpon cewek tersebut.

***

Hallo, assalamualaikum? Ini dengan Tini ya? aku dapat nomor kamu dari Pangky.”

“Waalaikumsalam. Bukan, aku bukan Tini, ini siapa?” Suara cewek itu di ujung telpon.

Aku terkejut saat dia bilang bukan Tini. “Aku pasti sudah dikerjain sama Pangky nih. Sudah kepalang tanggung, lanjutkan saja,” pikirku

“Panggil saja Dion, temannya Pangky. Nama kamu siapa?” Tentu itu nama samaran.

“Aku Amel.”

“Tapi kamu benar temannya Pangky kan?”

“Ya, aku temannya saat di SMA dulu.”

Senang aku mendengar jawaban ini, setidaknya aku tidak merasa dikerjai seratus persen oleh Pangky.

“Berarti kamu orang Cirebon dong?”

“Ya, aku orang Plumbon, Cirebon.”

“Apa kita sudah pernah bertemu?”

“Ya, aku kenal kamu, aku tau semua tentang kamu.”

Waduh! Aku semakin penasaran. Aku mulai menduga-duga siapa sebenarnya gadis ini. Katanya dia mengenalku dengan baik, tapi aku tak mengenalnya. Apakah Pangky sudah menceritakan semua tentangku?

***

Tiga bulan berlalu, aku beranikan diri untuk bertanya, “Boleh aku main ke tempatmu?” Berhari-hari sejak perkenalan kami, kami tak pernah bertemu. Komunikasi kami hanya sms dan telpon saja.

“Boleh saja, emangnya berani? Jarak kita kan lumayan jauh,” tantangnya.

Rasa penasaranku menuntun aku untuk nekat bagaimana pun caranya agar bisa bertemu dengannya, apalagi dengan tantangan seperti ini. Aku menanyakan alamat pertemuan kami. Sebuah bengkel di Kota Serang menjadi tempat janji ketemu.  Dengan penuh semangat aku coba berangkat menuju Serang, dan ketemulah dengan bengkel yang dimaksud Amel.

Hari masih siang ketika aku sampai di bengkel. Aku terkejut ketika kudapati di depanku berdiri laki-laki muda yang sangat aku kenal. Dia adik temanku, sekampung pula. Laki-laki itupun terkejut melihat kedatanganku.

“Bro? Kamu ada di sini? Sama siapa?”

“Aku sama mas Ari. Tuh dia,” sambil menunjuk Mas Ari.

Aku makin terkejut, ternyata bengkel ini milik orang sekampungku. Dia kakak Mas Ari. Lantas hubungan dengan Amel apa?

Ari mengajak masuk. Layaknya bertemu kawan lama, kami mengobrol melepas kangen. Seorang gadis menyuguhkan minuman kepada kami. Aku pangling namun masih mengenalnya, tetanggaku satu RT di kampung. Kami jarang bertemu karena sejak lulus SMA, dia sudah merantau.

“Lia, kamu di sini? Apa kabar?” Aku menyapanya sambil menyodorkan tangan.

Orang-orang sekeliling tersenyum.

“Baik, bagaimana denganmu, Dion?”

Kenapa dia memanggilku Dion? Itu adalah nama yang kuberikan hanya pada Amel. Amel memang menjanjikan ketemu di sini.

“Apa ka-ka-mu, Amel?”

“Ya, nama lengkapku Amelia”.

Amel yang kukira orang Plumbon dan tak pernah kukenal, ternyata dekat denganku. Rumahnya hanya beberapa meter dari rumahku. Dunia memang sempit.

***

Post Scriptum: Kisah ini terinspirasi dari sahabat penulis.

  • http://www.pradirwam.tk Pradirwan pradirwancell

    saat ini Amel dan Dion telah dikarunia seorang anak…