Dilema Alumni STAN Pegawai Pajak

Pegawai pajak? Tak pernah menjadi cita-cita tapi justru itu realitas yang sekarang saya alami. Selain ancaman DO setiap semester, kuliah dibayari uang negara juga sering menjadi sebab serbasalah. Kalau ada apa-apa sedikit, orang bisa nyinyir sesukanya. Karena beberapa alumninya tenar setelah terjerat kasus pajak, seringkali seluruh mahasiswanya juga dikaitkan dengan image miring. Kasus Bang Gayus tempo hari, misalnya. Ya kali satu almamater korup semua.

“Wah anak STAN, ya? Sekolahnya Gayus. Entar pasti kayak Gayus.”

Sedangkan di tempatnya orang jahat saja, pasti ada yang hatinya masih manusiawi meski sedikit. Apalagi di kampus ini, yang mayoritas isinya anak-anak alim dan cupu. Kalau ada yang menyimpang, mereka ibarat kutu yang terbawa di karung beras belaka.

Semenjak jadi mahasiswa dan tinggal di Bintaro, keserbasalahan tak henti-henti datang. Semua pasti ada salahnya. Jadi anak baik-baik dan rajin belajar, dibilang cupu. Jadi mahasiswa yang tak serius memperhatikan kuliah, dibilang tak tahu diri (karena kuliah gratis). Datang kuliah terlalu pagi, dibilang sok rajin, lebih sial lagi ternyata kuliah dibatalkan. Bagaimana pula yang cuma datang, duduk, tidur, pulang, dan main? Kurang ajar betul mahasiswa model begini!

2

Selain keserbasalahan akademis, ada juga keserbasalahan yang tidak mutu. Cinta lokasi (cinlok) dengan sesama STAN, dibilang selera rendah. Tak segera mendapat pasangan, dibilang kalah bersaing. Atau yang lebih bergengsi: dibilang terlalu pemilih, jual mahal. Dekat dengan teman sekelas, dibilang merebut pacar orang. Tak dekat dengan siapa-siapa, dibilang kelainan. Cowok jomblo terus, dibilang homo. Yang jomblo, iri kepada yang punya pacar. Yang punya pacar, ingin jadi jomblo. Begitu saja terus sampai Agnes Monica betulan go internesyenel!

Setelah lulus, tetap banyak juga yang cinlok. Kawin dengan sesama STAN, dibilang biar penempatan sama-sama. Tak kawin-kawin, ditanya-tanya terus. Terlalu sering datang ke kondangan, dibilang berburu buket kembang. Tidak datang kondangan, dibilang sombong. Padahal saya yakin, semua akan kawin pada waktunya. Yang penting mah ikhtiar, berdoa, dan tawakal. Ada amin?

Lulus kuliah dan tidak langsung dipekerjakan oleh negara juga salah. Menganggur di rumah sekian bulan, pasti bosan ditanya-tanya: kapan kerja? kapan penempatan? Panas juga di telinga. Saya cukup beruntung sempat mendapat pekerjaan sementara di Jakarta dan menjadi pengguna commuter line sekian bulan. Dan sekian bulan penantian, ternyata masih harus dites lagi ketika mau kerja.

Jadi anak baru di tempat kerja juga serbasalah. Apalagi anak magang, apa-apa salah. Pakai baju necis sedikit, dibilang centil, sok kecakepan, terlalu modis. Pakai baju yang biasa-biasa saja, dibilang tidak gaul. Memangnya jadi pe-en-es bajunya harus kusut dan tak menarik? Padahal saya percaya pepatah Jawa, “Ajining raga saka busana.” Penampilan itu menentukan nilai kepribadian.

Kerja di kantor pajak pasti bersinggungan dengan masyarakat. Apalagi bagian pelayanan, dijamin tak kurang pengalaman yang aneh-aneh (untuk tidak menyebut tidak enak). Baru-baru ini, dengan berita kenaikan gaji pegawai pajak yang ramai di media, orang gampang saja bilang pegawai pajak kaya mendadak.

Kaya mendadak mbahmu!

Padahal yang di-blow up media cuma secuil informasi, tanpa menyertakan pembahasan utuh. Yang penting publik tahunya kenaikan gaji pegawai pajak fantastis. Sementara April sudah lama lewat, nyatanya saya belum kaya juga. Setiap ada berita tentang pajak, baik soal pegawai maupun lembaganya, entah kenapa perspektifnya selalu homogen: menyudutkan. Kami mah apa atuh, cuma sansak tempat pelarian agar hidupmu terasa lebih baik.

Banyak pegawai pajak yang akhirnya resign demi ketenangan batin. Kalau saya pribadi, yang penting kerja sesuai kemampuan, yang penting di jalan yang benar. Sisanya, pasrahkan kepada yang di atas. Barangkali benar, urip iku ming mampir serbasalah. Hidup cuma mampir serbasalah.

  • Wahyu Budianto

    “kaya mendadak mbahmu!” hahaha
    super mbakyu

  • Hotma Utama

    MINDSET JADI PEGAWAI NEGERI SUPAYA KAYA RAYA ITU SANGAT SALAH… MINDSET JADUL NAN SESAT… JADI ORANG KAYA ITU DENGAN JADI PENGUSAHA, ARTIS ATAU PENGACARA DENGAN BAYARAN FANTASTIS… JADI EGAWAI NEGERI ITU ABDI NEGARA ..PELAYAN MASYARAKAT .. GAJI SESUAI KETENTUAN PEMERINTAH… KALAU MAU JADI KAYA RAYA KELUAR DR PNS.. JADILAH PENGUSAHA ATAU LAINNYA… MENTAL HARUS BERSIH UNTUK JD PNS.. SALAM BERSIH DAN INTEGRITY!!

    • Anggi Restiana Dewi

      ini udah versi diedit sih pak, kalau versi aslinya kan banyak bagian haha hehe nya, termasuk yang kalimat saya belum kaya. Mau kaya ya jelas ga usah jadi PNS saya sangat paham itu, toh itu kalimatnya beberapa bagian diedit karena bahasanya kebanyakan bercanda..
      Lagian mau jadi kaya dengan jadi PNS juga bukan mindset saya sih, mungkin bapak salah nangkep maksud tulisannya..hmm..

      Salam dari pegawai biasa aja yang ga ada cita cita kaya dengan jadi pegawai DJP