Cokelat

Pada mulanya adalah kursi. Tidak ada satu orang pun di ruangan itu yang peduli tentang asal usul kursi-kursi yang ada di ruangan tersebut, apalagi untuk peduli pada kursi yang satu ini. Untuk mempermudah penyebutan, sebut saja kursi ini dengan sebutan kursi cokelat yang tak dipelitur dengan sempurna sehingga masih terlihat serabut kasar pada kaki kursi belakang sebelah kanan, ah masih terlalu sulit untuk menyebutnya, kita sebut saja Cokelat. Ya, warna kursi itu memang Cokelat. Kalau diperhatikan lebih seksama, memang agak berbeda dari kursi-kursi lainnya yang berwarna cokelat kehitam-hitaman. Namun Cokelat bukan kursi sembarang kursi, begitu inti dari cerita ini.

Misalkan Gregor Samsa yang pada suatu pagi menemukan dirinya telah berubah menjadi kecoa, maka Cokelat menemukan dirinya telah berubah menjadi kursi. Bayangkan betapa menderitanya dia, menyadari sosoknya yang sekarang adalah kursi. Kecoa masih lebih baik daripada kursi, minimal masih bisa berjalan, makan, bahkan punya kekuatan super yaitu terbang! Tetapi kursi bisa apa selain hanya menjadi tempat duduk, tempat berdiri orang yang hendak mengganti bola lampu tapi tidak cukup tinggi, atau tempat pijakan kaki kala mengikat tali sepatu. Memang ada saja keuntungan menjadi kursi dibandingkan kecoa, misalkan menjadi sebuah kursi tidak bisa makan maka ia tak akan merasa kelaparan.

“Namun menjadi kursi tetap tidak bisa terbang,” sesal Cokelat dalam pikirnya.

Cokelat cepat menyadari ini bukanlah sebuah mimpi. Tidak sampai lima menit sejak menyadari dirinya berubah menjadi kursi, Cokelat segera membiasakan diri, menerima keadaannya yang sekarang. Menjadi kursi, pikirnya, jauh lebih baik dibandingkan menjadi manusia.

Mari sebentar melihat-lihat kehidupan Cokelat sebelum menjadi kursi. Sebelumnya Cokelat adalah seorang sarjana yang sudah menganggur empat tahun. Lulus menjadi seorang sarjana filsafat tidak mudah baginya, terlebih ia sesungguhnya tidak benar-benar menyukai pelajaran filsafat. Berkali-kali Cokelat melamar pekerjaan dan berkali-kali pula ditolak, alasannya sederhana: tidak ada lowongan yang pas dengan latar belakang ilmunya. Memang benar di dunia ini tidak ada yang mustahil tetapi seorang sarjana filsafat bekerja sebagai seorang dokter di Rumah Sakit tetaplah kemustahilan. Cokelat absen dalam pelajaran tentang logika semasa ia kuliah, baik ketika membahas Aristoteles hingga Aquinas. Selama empat tahun ini, Cokelat hanya melamar pekerjaan untuk posisi dokter. Hingga tibalah suatu hari ia melamar pekerjaan untuk sebagai seorang dokter di Rumah Sakit Bersalin Bunda Kasih. Karena merasa lelah menunggu panggilan wawancara selama lima belas menit, Cokelat tertidur dan terbangun satu jam kemudian, menyadari dirinya telah menjadi sebuah kursi.

Cokelat yang sekarang adalah sebuah kursi di ruang tunggu panggilan wawancara kerja Rumah Sakit Bersalin Bunda Kasih. Ruangan itu jarang ada orang, seperti halnya hari ini hanya dia–yang sekarang telah menjadi kursi–dan seorang perempuan. Perempuan yang duduk dua baris didepan Cokelat itu juga menunggu panggilan wawancara kerja. Perempuan tersebut sepertinya tidak sadar kalau Cokelat telah berubah menjadi kursi atau bahkan perempuan tersebut tidak menyadari kehadiran Cokelat sama sekali. Perempuan itu sesekali melihat kebelakang, tetapi masih belum melihat Cokelat. Ketika perempuan itu melihat kebelakang, Cokelat menyadari bahwa perempuan itu manis sekali. Rambutnya pendek sebahu, memakai kacamata bingkai hitam, bibirnya merah karena lipstik dan ia tampak manis, dari samping.

Cokelat berpikir keras bagaimana caranya agar perempuan itu menyadari keberadaannya yang kini adalah sebuah kursi. Seperti yang kusebutkan diawal, Cokelat bukan kursi sembarang kursi. Ia bukan kursi yang tidak bisa berbuat apa-apa sehingga tidak seorang pun, termasuk perempuan itu, menyadari keberadaannya. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana agar perempuan itu tahu bahwa Cokelat adalah kursi yang tak dipelitur dengan sempurna sehingga masih terlihat serabut kasar pada kaki kursi belakang sebelah kanan diantara kursi-kursi lainnya yang bewarna cokelat kehitam-hitaman. Dan Cokelat adalah kursi yang sebelumnya merupakan seorang manusia, seorang sarjana filsafat yang juga menunggu panggilan wawancara, sama seperti perempuan itu.

Cokelat memulai usahanya dengan mencoba menggerak-gerakkan tubuhnya yang kini hanya susunan kayu berkaki empat itu, tapi hasilnya nihil. Sebagaimana layaknya kursi, ia tidak bisa bergerak sendiri kecuali ada campur tangan manusia, mesin atau angin, yang pasti bukan dengan kehendaknya sendiri. Tidak bisa bergerak berarti tidak bisa berjalan, Cokelat tidak akan bisa berjalan menghampiri perempuan itu. Kalau tidak bisa menggerakkan diri, maka pastilah juga Cokelat tidak bisa terbang. Ini bukan kisah tentang bangku kosong di ruangan kelas yang bisa terbang karena konon ada yang “menunggu”. Kalau tidak bisa bergerak, tidak bisa berjalan, dan tidak bisa terbang, maka pusinglah Cokelat sekarang. Bagaimana ya caranya agar perempuan itu menyadari ada aku disini, begitu pikir Cokelat.

Setelah melanjutkan berpikir dengan keras, mengerahkan segala daya dan upaya, Cokelat berakhir pada satu kesimpulan untuk menyelesaikan persoalannya: Memanggilnya. Memanggil perempuan itu, sesederhana itu. Sekali lagi kuingatkan Cokelat bukan kursi sembarang kursi, meski tidak lagi dalam wujud manusia, Cokelat masih dapat berbicara, masih bisa berkomunikasi. Memang masih kalah dibandingkan menjadi kecoa yang bisa berjalan, makan, dan bahkan terbang.

“hei!” Seru Cokelat memanggil perempuan itu.

Mendengar ada suara yang memanggil, perempuan itu bergidik ngeri. Bulu kuduknya otomatis berdiri, entah kalau bulu-bulu yang lainnya juga ikut berdiri. Bayangkan perasaaan si perempuan–ini yang belum terpikir oleh Cokelat ketika memanggil perempuan itu–ada suara yang berseru seakan memanggil padahal yang ia tahu tidak ada orang selain dia sendiri di ruangan itu.

“hoi, ini kursi yang tak dipelitur dengan sempurna sehingga masih terlihat serabut kasar pada kaki kursi belakang sebelah kanan, yang berwarna cokelat,” seru Cokelat lagi, menegaskan suara barusan adalah suaranya bukan suara hantu atau semacamnya, “dua baris dibelakang tempat dudukmu.”

Perempuan itu memalingkan mukanya, melihat ke dua baris di belakangnya, menatap kursi yang tak dipelitur dengan sempurna sehingga masih terlihat serabut kasar pada kaki kursi belakang sebelah kanan, dua sampai tiga detik lamanya. Setelah merasa tidak ada yang berbahaya akan sebuah kursi yang memanggil, perempuan itu mendekati Cokelat. Mengambil kursi yang ada di sebelah Cokelat dan duduk disitu.

“Kau yang memanggilku barusan?” Tanya perempuan itu pada Cokelat.

“Ya! Aku yang barusan memanggilmu, tidakkah kau merasa aneh?”

“Tentu tidak, sebuah kursi yang berbicara bukanlah hal yang aneh, mungkin kalau kecoa yang memanggilku barulah aku merasa aneh.”

Cokelat merasa tenang, merasa keadaannya yang sekarang masih lebih baik ketimbang menjadi kecoa, ketimbang Gregor Samsa.

“Kau menunggu panggilan wawancara?”

“Iya, dan ini mulai membosankan, senang ada yang bisa diajak berbicara.”

“Aku pun tadinya menunggu panggilan wawancara, tertidur, dan ketika terbangun aku menyadari telah menjadi sebuah kursi sekarang.”

“Tapi kau masih bisa berbicara, itu harus disyukuri, tidak banyak yang bisa berbicara. Kau masih bisa melihat?”

“Masih, dan masih bisa melihatmu dengan jelas.”

Perempuan ini sungguh-sungguh manis, tidak hanya tampak dari samping. Dari depan juga. Rambutnya pendek sebahu, memakai kacamata bingkai hitam, bibirnya merah karena lipstik, dan satu tambahan yang ia lihat, gigi gingsul-nya menambah manis ketika berbicara.

Mereka berbicara, bertanya satu sama lain, berkenalan sebagai dua manusia yang baru pertama kali bertemu. Sampai pada adanya panggilan dari ruang wawancara memanggil nama perempuan itu, Leila nama perempuan itu.

“Tunggu sebentar ya, kita lanjutkan obrolan kita lagi nanti.”

“Ya semoga sukses, Leila!”

Cokelat girang bukan main sebenar-benarnya. Pertama, perempuan ini tidak merasa aneh berbicara dengan sebuah kursi yang bisa bicara. Kedua, perempuan ini manis sekali. Ketiga, ia menenangkan hati Cokelat bahwasanya menjadi kursi masih lebih baik daripada menjadi kecoa. Dan yang keempat, perempuan ini masih mau berbicara dengannya sehabis wawancara.

Tiga puluh menit lamanya perempuan itu di ruang wawancara. Seandai-andainya Cokelat yang berada di dalam ruang itu, pastilah sudah keluar sejenak sepuluh menit yang lalu, pasalnya Cokelat lebih berpengalaman dalam hal wawancara. Empat tahun ditolak berbagai Rumah Sakit pastilah berbuah hasil, minimal pengalaman menghadapi wawancara. Seandai-andainya juga Cokelat yang dipanggil wawancara dan ternyata berhasil, Cokelat sudah berencana membuat buku: 913 Hal yang Harus Kamu Siapkan dalam Menghadapi Panggilan Wawancara Kerja.

Tidak lama Cokelat melamun, perempuan itu, keluar dari ruang wawancara. Wajahnya girang sekali, pandangannya tertuju pada Cokelat. Benar saja, perempuan itu langsung menghampiri Cokelat yang sedari tadi menunggu, meski tidak pakai cemas.

“Kata mereka aku diterima,” kata Leila girang, bahagia sekali. Cokelat bahkan bisa melihat raut bahagianya.

Lalu suara yang sama dari ruang wawancara memanggil lagi, memotong luapan kegirangan Leila. Seorang lelaki nyaris tua berumur empahpuluh tahunan keluar dari ruang wawancara itu.

“Kau boleh langsung bekerja sekarang,” kata lelaki nyaris tua itu pada Leila.

Bukan main tambah girangnya Leila mendengar ucapan lelaki nyaris tua itu. Ia mengangguk tanda setuju untuk langsung bekerja.

Taa daaaaaa … perempuan itu langsung berubah menjadi kursi, kursi berwarna krem yang dipelitur dengan sempurna dan tidak menyisakan serabut-serabut kasar kayu dimanapun.

“Aku sudah lama memimpikan pekerjaan ini,” kata perempuan itu pada Cokelat.

“Menjadi kursi???”