Akting

The Creation of Prometheus

“God is Director.”

Begitulah tagline film yang kutonton beberapa tahun lalu, aku suka sekali ceritanya. Film itu mengisahkan sepasang sejoli yang berbeda hampir di segala hal. Pria Cina, pintar, talkative, dan Kristen; memiliki pasangan wanita Jawa, kuliah tak lulus-lulus, pendiam dan Islam. Ada banyak intrik yang terjadi akibat jurang perbedaan di antara mereka. Tapi sekarang, aku tidak mau membuat review film, justru aku ingin membahas tagline di atas, God is director. Tuhan adalah sutradara. Seluruh orang beriman pasti setuju, tapi berapakah dari orang beriman yang kemudian merenungkan hal itu dan percaya bahwa kita hanya aktor yang terus-menerus berakting sampai kita kembali kepada-Nya? Tuhan adalah sutradara tapi kenapa kita sering ngeyel ketika diarahkan? Tuhan adalah sutradara tapi kenapa kita harus memaksakan kehendak dan kecewa kalau keinginan yang tidak tercapai?

Kita semua adalah aktor yang dikontrak untuk berakting di dunia. Sebagai aktor, Sang Sutradara mengarahkan kita untuk berbuat apa, kapan, dan bagaimana. Segala yang kita lakukan bahkan sekedar alur pikiran pun tidak bisa lepas dari arahan Sang Sutradara. Mulai dari kata-kata yang keluar dari mulut sampai prasangka yang tersirat dalam hati, semuanya sudah ada dalam skenario yang masif dan terstruktur dari sang Sutradara. Kemudian muncul argumen kontra yang mengatakan bahwa manusia itu memiliki kehendak bebas, manusia berhak dan bisa menentukan nasibnya sendiri. Itu betul semua karena memang tersurat sebagai firman Tuhan di dalam kitab suci, tapi coba tebak dari mana kita punya pikiran bahwa manusia memiliki kehendak bebas? Ya dari Sang Sutradara yang sedang mengarahkan kita untuk memperbaiki nasib kita sendiri.

Bagaimana dengan urusan perasaan, karena katanya sekali seseorang sudah mengukir kenangan di dalam hati kita, selamanya rasa itu terpelihara? Artinya sang Sutradara sedang mengarahkan kita untuk menghargai kenangan karena sesungguhnya tidak ada hal yang sia-sia dan keinginan yang percuma. Di dunia ini, selain Sang Sutradara, semuanya sekedar properti. Jadi kalo dititipi sesuatu, nikmatilah selagi bisa dan ikhlaskanlah sedari awal. Sadar dirilah bahwa itu adalah properti Sang Sutradara yang sewaktu-waktu akan diambil kembali karena sudah tidak pas dengan peran yang kita mainkan.

Tidak ada film maupun aktor yang abadi, yang abadi hanyalah Yang Maha Abadi. Bahkan pemeran James Bond dengan berbagai misi pun diperankan oleh 6 aktor berbeda. Sedangkan peran manusia yang tugasnya hanya satu, yaitu mencintai, harus diperankan mulai dari Adam sampai manusia terakhir nanti. Manusia seringkali gagal dalam memainkan peran percintaan karena ketika sudah mulai mencinta, manusia lupa dan bersifat ingin memiliki. Padahal segala hal yang dapat disentuh adalah properti yang statusnya hanya dipinjampakaikan.

Tidak ada yang luput dari arahan sang Sutradara. Dialah yang mengatur bagaimana kita jatuh cinta. Bila kita merasa benci, sejatinya kita sedang diarahkan untuk mencinta. Tidak percaya? Sesungguhnya benci itu sebagian dari cinta. Tidak percaya lagi? Berdasarkan ilmu cocoklogi, benci + cinta = bencinta. Jika diperhalus kata ‘bencinta’ itu akan menjadi ‘mencinta’. Masih tidak percaya? Coba lirik ke dalam hatimu, kebanyakan orang yang kau benci itu dulunya pernah kau cintai, atau justru sekarang kau mencintai orang yang dulunya kau benci?

Sebagai aktor, kita pun akan selalu berkompetisi dengan aktor lainnya untuk memenangkan penghargaan sebagai aktor terbaik. Kalau di bumi ini ada Oscar dan Academy Awards, sang Sutradara pun punya penghargaan sendiri terhadap aktor yang dinilai perannya paling total, berintegritas, dan penurut, yaitu khusnul khotimah atau mati dalam keadaan mulia. Kenapa penghargaannya berupa kematian? Karena kematian adalah tiket emas kita menuju pertemuan dengan Sang Sutradara untuk menyempurnakan kontrak akting kita di dunia.

Sang Sutradara menyukai roman komedi, makanya Dia seringkali membolak-balikkan hati. Kenapa hati? Karena di situlah Dia berada untuk mengarahkan segala hal, baik yang kita kuasai maupun yang bukan merupakan kuasa kita. Mencintaimu, misalnya. Itu kuasa-Nya, bukan kuasaku. Apalah aku, hanya sebutir debu, menjaga agar tetap bernafas pun aku tak mampu. Oleh sebab itu, seraya menundukkan kalbu, aku bertanya kepadamu. Cintaku ini adalah cinta-Nya, maukah engkau berakting menerimanya?