Petugas Dinas Kebersihan yang Mencintai Petrichor

image

Subardi terengah-engah, dadanya naik-turun, nafasnya terus memburu. Ibarat piston yang menerima hasil pembakaran campuran gas dan meneruskannya untuk memutar poros engkol, organ kardiovaskularnya dipaksa bekerja setengah mati untuk mengalirkan darah sebagai bahan bakar penggerak tubuh tambunnya yang sedang berlari. Lari terkencang yang pernah ia lakukan, jarak terpanjang yang pernah ia tempuh. Ia tak sempat menengok ke kanan dan kiri, yang ada di pikirannya kini cuma berlari. Ia muak, muak sekali. Ia benci dengan orang-orang di panti.

“Jayakarta, Jayakarta. Langsung berangkat, langsung berangkat,” terdengar seruan dari kondektur bus yang berusaha menggaet penumpang sore itu.

Bardi sampai di terminal. Ia berniat kabur meninggalkan semua kepahitan yang selama ini ia rasakan. Sudah tiga bulan ia menghemat uang jajan, rasa lapar di siang hari selalu ditahan. Ya, uangnya ia tabung untuk membeli tiket bus ke Jayakarta. Membeli kebebasan yang telah lama diidam-idamkan.

Bardi lahir seorang diri. Ah, tentu tak begitu saja hadir di dunia ini. Maksudku, sepanjang apa yang bisa ia ingat, orangtuanya telah pergi sebelum ia sanggup merekam momen dalam memori. Yang ia tahu hanyalah panti (beserta Ibu Sum, pimpinannya yang baik hati, atau para penghuninya yang degil dan keji). Bardi kadang bertanya-tanya, mengapa ia harus lahir di dunia? Atau kalaupun itu kehendak Tuhan yang sudah digariskan, paling tidak izinkanlah dia memilih siapa yang akan jadi kedua orangtuanya. Ia tak muluk-muluk, tak berharap punya orangtua yang kaya raya, atau suci, bebas dari dosa. Ia cuma ingin orangtua yang mau menerimanya apa adanya, tak malu akan kekurangan fisiknya (yang lantas menganggapnya hina untuk kemudian membuangnya begitu saja).

Bu Sum pernah bercerita, ia pertama kali menemukan Bardi suatu malam di samping bak sampah yang berada di pojok selatan panti. Sesaat sebelum mengunci gerbang, di tengah rintik hujan, Bu Sum mendengar tangis bayi. Tapi kali ini aneh, rengekannya tak biasa. Tak seperti suara tangis bayi pada umumnya. Suara itu berasal dari pojok selatan. Ia segera mendekatinya dan memang, ada bayi laki-laki teronggok di sana.

Sekilas bayi itu tampak normal, tapi ketika dilihat lebih dekat, tampak ada kejanggalan di bibirnya. Bibirnya cuma setengah. Ya, separuh bagian bibirnya melekat erat, seperti direkatkan oleh lem super yang biasa dipakai tukang sol sepatu. Bu Sum membawanya masuk. Mulai saat itu, Bardi resmi menjadi bagian dari Panti Welas Asri.

Bus Samber Kencono sudah melaju jauh meninggalkan terminal. Bardi pun telah menempati tempat duduknya. Tak disangka-sangka, ia duduk bersebelahan dengan gadis berparas rupawan. Berkali-kali Bardi mencuri tengok ke sebelah kanan. Ia heran, kok bisa Tuhan mencipta persona semanis gadis di sampingnya. Memang pemandangan semacam ini tak akrab baginya. Panti Welas Asri dikhususkan untuk kaum laki-laki, mereka pun disekolahkan di sekolah khusus laki-laki. Bisa dibilang, Bardi hanya pernah melihat paras cantik lewat TV.

“Mau ke Jayakarta juga, Mbak?”

“Eh, enggak Mas. Saya turun di Buniayu.”

“Oh, saya kira kita satu tujuan. Saya Bardi.”

“Lastri.”

Si gadis membalas jabat tangan dan senyuman Bardi dengan sepucuk sunggingan bibirnya yang manis.

Bardi membuka kedua matanya. Percakapan barusan lamunannya semata. Mana mungkin dia punya keberanian untuk membuka percakapan dengan orang tak dikenal, gadis manis pula. Atau kalaupun ia berani, sang gadis juga belum tentu bisa mencerna kata-kata yang keluar dari mulutnya, Si Bibir Setengah.

Tiga jam berlalu dalam keheningan, tak ada butir-butir percakapan yang mengalir. Bardi berusaha menguatkan tekad, tapi selalu terhenti di ujung bibirnya. Mungkin separuh bibirnya yang selalu terkatup itulah yang jadi tembok penghalangnya.

Tak lama kemudian, hujan turun. Bulir-bulir air berjatuhan menimpa sisi jendela, masuk melalui celahnya yang terbuka. Kali ini, Bardi merasa ada sesuatu yang menyenangkan. Bau, ya bau itu! Bau khas yang tercipta ketika hujan tiba. Bau yang muncul sesaat setelah rintik air bertumbukan dengan ketiak bumi yang kekeringan. Bardi selalu menemukan kenyamanan, juga kedamaian setiap kali menghirup bau hujan. Bau itu membuatnya berhenti mengutuki diri karena tak berani membuka percakapan dengan si gadis manis. Ia memejamkan mata cukup lama, menikmati harum hujan sendirian.

Bagi Bardi, bau hujan kali ini terasa berbeda. Terasa membebaskan. Ah iya, dia baru saja merasakan kebebasan. Meski sudah mencoba bertahan setengah mati, pada akhirnya ia terlampau muak dengan kehidupan di panti. Sudah tak terhitung banyaknya cacian juga cercaan yang ia terima, semata-mata karena kecacatan tubuhnya.

Asal tahu saja, dahulu di Solokromo, orang yang terlahir dengan bibir setengah dianggap najis. Dianggap sebagai anak hasil serong genderuwo dengan janda yang mencari pesugihan. Masa-masa itu sudah lama berlalu, tapi sayangnya, mitos itu masih banyak dipercaya orang sampai sekarang. Bu Sum berbeda, ia orang yang punya akal sehat untuk memandang Bardi sebagai manusia normal. Tapi Bu Sum tak setiap hari di panti, ia sibuk sekali. Di saat Bu Sum tak ada, kehidupan Bardi serasa dijejali tulah. Berulang kali, terus-menerus.

“Pupus, Pupus. Terakhir, terakhir,” suara kondektur membangunkan Bardi dari tidurnya.

Ia telah sampai di terminal paling ramai di Jayakarta, Tanjung Pupus. Terminal yang katanya hendak digusur demi memfasilitasi pembangunan Mass Rapid Transit (MRT), isu itu sudah berembus dari dua tahun silam tapi sampai sekarang tak kunjung terlaksana. Entah media yang terlalu banyak membual atau memang pemerintah yang tak matang dalam merencanakan.

Bardi turun, bergegas menuju musala. Suara azan terdengar lamat-lamat, baru pukul empat.

Bardi sebenarnya tak punya rencana hendak melakukan apa begitu sampai di Jayakarta. Akal pendeknya hanya berkata bahwa kebebasan adalah hal utama. Soal bagaimana selanjutnya, lihat nanti. Ia memang masih punya simpanan uang, tapi ini ibukota, kau harus menghasilkan bila ingin bertahan. Bardi memutuskan terus berjalan meski tanpa tujuan. Akhirnya, ia berhenti di sebuah taman.

***

Langit tampak cerah pagi itu, butiran embun membasahi daun-daun. Dari kejauhan, Bardi melihat sesosok lelaki tua yang sedang menyapu jalan. Bapak tua itu nampak kepayahan, terlihat jelas sekali.

Bruk! Lelaki itu ambruk. Bardi segera berlari dan mencoba menolongnya. Tak berapa lama, seorang rekan si lelaki penyapu jalan datang ke arah mereka.

“Pak Subur kenapa?”

“Gak tau, Pak. Tadi saya lihat dia sempat terhuyung-huyung, lantas ambruk begitu saja,” jawab Bardi, dengan cara bicara yang sukar dicerna.

“Hah?”

“Ambweuk, Pak. Jatweuh.”

Si bapak kemudian mendekati Pak Subur, lelaki itu tak lagi bernafas. Tangannya si bapak meraba leher Pak Subur, berusaha mencari denyut nadinya.

“Innalillahi, Pak Subur meninggal. Mungkin jantungnya kambuh. Ayo, kamu bantu saya nganter dia ke rumahnya.”

***

Bardi duduk di salah satu bangku, di pojok utara taman. Tugas menyapu hari itu selesai ia kerjakan. Ia baru saja mengingat kembali momen ketika ia berada di sana untuk kali pertama, dua tahun silam. Kalau saja ia tak melihat Pak Subur dan ikut mengantarkan jenazahnya ke rumah, mungkin ia tak bisa bekerja seperti sekarang ini.

Setelah pemakaman usai, Bardi menemui rekan Pak Subur, yang kemudian ia tahu bernama Pak Jarot. Ia mengutarakan niatnya untuk ikut bekerja sebagai penyapu jalan menggantikan Pak Subur. Pak Jarot menyampaikan kepada pimpinannya, seminggu kemudian, Bardi diterima dan mulai bekerja. Soal berapa jumlah penghasilan sebagai pegawai honorer dinas kebersihan tak terlalu jadi pikiran. Yang penting cukup untuk makan dan bayar kos-kosan.

Dua tahun berjalan, banyak pengalaman yang Bardi dapatkan. Mulai dari menjadi saksi mata pertengkaran pasangan karena perselingkuhan, keheranannya pada anak zaman sekarang yang bahkan ketika berada di taman masih sibuk saja mengutak-atik gawai di genggaman, sampai momen-momen rutin di akhir pekan: percumbuan di pojokan taman. Tahi kucing dengan budaya ketimuran, juga bangsa yang katanya agamis dan religius ini. Bolehlah rumah ibadah dibangun megah-megah, ritus peribadatan rutin dilaksanakan, cara berpakaian sesuai syariat diwajibkan; tapi soal kelakuan, nol besar. Orang cacat di mana-mana. Bukan cacat tubuh seperti dirinya, melainkan cacat akal dan perangainya.

Mendung menggelayut di langit, awan hitam datang beriringan, seakan menyampaikan salam pembuka yang berkata, “Hujan sebentar lagi tiba.”

Benar saja, sesaat kemudian hujan turun dengan lebatnya. Jutaan tetes air dari langit menghunjam deras ke lantai bumi. Tak seperti orang lain yang juga sedang berada di taman, Bardi bergeming. Ia tak beranjak dari tempatnya. Bau itu, bau yang selalu ia tunggu, datang menemuinya lagi. Ia memejamkan mata, menarik nafas dalam-dalam, lalu membiarkan harum hujan berturut-turut merasuki hidung, faring, trakea, laring, bronkus, bronkiolus, dan alveolusnya. Berulang kali, terus-menerus.

Bau hujan adalah satu-satunya yang selama ini membuatnya bertahan. Senantiasa menjadi teman dalam kesendirian, selalu memberi kepuasan tanpa pernah meminta balasan, kausa sederhana bagi Bardi untuk tetap tertawa dan berbahagia di tengah hidupnya yang penuh nestapa.

Bardi telah menyadari, pada siapa ia telah jatuh hati.