Pendakian di Bulan Ramadhan: Gunung Prau dan Lautan Kabut

Bulan puasa naik gunung? Tak begitu masalah bagi saya, itung-itung melengkapi perjalanan ke Dieng bulan Mei kemarin yang belum lengkap karena meninggalkan Gunung Prau. Boleh sih, tapi itu tidak berlaku untuk orang yang sedang masuk angin dan kondisi tidak sepenuhnya fit sehingga dua hari sebelumnya hanya tidur-tiduran. Apalagi saya yang mendadak ikut, minim persiapan, untuk fisik terutama. Pendakian pertama saya di bulan Ramadhan, pendakian yang bisa dibilang bikin kapok naik gunung ini memberikan banyak pelajaran. Awalnya Pangki, Sundul, dan Pono, tiga rekan pendakian saya yang berencana ke Prau bertiga. Karena Sundul bertanya tempat sewa tenda ke saya, saya jadi ikut juga, cewek sendiri tak masalah. Ternyata Pangki batal, digantikan oleh En-En, Kunti, dan Arya yang berangkat dari Solo. Sementara saya, Sundul, Pono dari Magelang. Gunung Prau here we come.

Rabu, 2 Juli 2014

11.00

Setelah sejam lamanya mondar-mandir di Indomaret Secang, pilih-ambil-kembalikan jajanan di raknya, dan belanja cuma seiprit, saya naik ke bus jurusan Wonosobo – Magelang. Sudah ada Pono dan Sundul di bus itu. Akhirnya berangkat juga.

13.00

Setelah ngobrol, tertawa, dan sempat tepar, akhirnya sampailah kami di terminal Wonosobo.

1

14.16

Kami sholat sebentar, menunggu sekian menit, lalu diputuskanlah meeting point-nya sambil jalan. Di basecamp pendakian sekalian. Dengan naik minibus (atau yang biasa disebut engkel kalau di daerahku), kami menuju Dieng. Sayangnya ongkos kami kemahalan, yang seharusnya cuma Rp10.000,00 jadi Rp15.000,00. Ya sudah, itung-itung beramal kalau kata orang dulu.

15.56

Cuaca dingin Wonosobo menyapa, perjalanan kami diiringi oleh hujan deras. Oh, God why? Bagaimana kami nanjak nanti kalau hujannya sederas ini? Bingung, tengok ke kanan, eh justru Sundul dan Pono tertidur dengan lelapnya. Saya hanya bisa menatap kaca. Bulir-bulir hujan jatuh membasahi Dieng, tumben saya tidak tidur.

Beberapa saat kemudian, kami sampai di kaki gunung, di depan basecamp pendakian Gunung Prau. Hello, Dieng! Kami turun dari engkel dengan senangnya, sampai melihat pengumuman di depan basecamp:

PENDAKIAN GUNUNG PRAU DITUTUP SELAMA RAMADHAN!

Dhuaar!

Kami bertiga panik. Ditambah En-En, Kunti dan Arya belum datang, jauh-jauh mereka berangkat dari Solo. Ah, harus bagaimana ini, masa saya harus mengarang catper biar tidak malu karena batal naik gunung?

2

3
Trolling sekali, Bung!

Tapi saya tak jadi mengarang, salah satu petugas basecamp menjelaskan situasi yang sebenanya. “Tadi ada empat pendaki juga dari Semarang, Mbak. Mereka udah naik tadi, ya kalau kalian mau mendaki ga apa-apa. Tapi kami ga bertanggung jawab kalo ada apa-apa ya,” kata mas-mas itu.

Oya, mas petugas ini keliatan agak keras orangnya. Bahkan setelah ada kasus kejadian ada yang mati di Gunung Prau ini, dia malah senang, “Kemarin habis ada kejadian yang mati, Mbak, di sini. Tapi saya malah seneng, jadi ga pada ngeremehin kalo mau ngedaki gunung ini.”

Glek!

16.30

Datanglah En-En, Kunti, dan Arya. Kami bertiga sembunyi di masjid, mengerjai mereka biar merasai panik yang sama. Kami bingung dan masih galau, setelah bertemu dan berunding kami berteduh ke masjid dulu.

17.12- 17.40

Sambil menunggu hujan reda, diputuskan kami akan buka puasa di sini. Makan di bawah sekalian masak untuk makan besar. Tadinya ide membuat kolak sempat akan dieksekusi tapi karena keburu adzan akhirnya batal, jadi pisangnya dimakan batangan tanpa dikolak. Thanks to En-en Kunthi yang menyiapkan logistik dan Pono yang membawa kurma. Selamat berbuka puasa.

4

20.08

Duduk di basecamp yang sepi, berdiskusi hingga niatan untuk ngecamp di sini pun muncul mengingat hujan terus mengguyur. Karena keterbatasan waktu, kami salat tarawih sendiri-sendiri, ada juga yang tidak tarawih. Sundul dan Pono yang bosan terus berada di dalam basecamp, berjalan keluar. Makan besar sudah siap, saatnya makan, sambil mengobrol dan ribut. Kata Pono dan Sundul di luar kering, sudah tidak hujan. Tapi suara gemericik air masih terdengar, dan gaya mereka pun tidak berusaha meyakinkan.

“Ah ga mungkin di luar kering, ini suaranya masih kedengeran. Kita camp di sini aja!” Kata Arya

” Kalau ga percaya ayo kita cek! Ayo, En!” Kata Sundul.

Dan benar ternyata, di luar hujan reda. Pintu belakang basecamp kami buka. Tahu itu suara air dari mana? Ternyata ada sungai di belakang. Ah, so embarrassing. Jadi dari tadi kami menunggu hujan reda yang ternyata suara kali.

21.00 – 21.30

Bismillah, bintang di langit kelihatan terang. Siap jalan! Kata orang-orang kami cuma harus menempuh perjalanan menanjak maksimal tiga jam, malah ada yang cuma satu setengah jam. Berarti tak susah-susah amat, pikir saya. Setengah jam jalur pendakian setelah melewati pemukiman penduduk berupa jalanan berbatu,  sampailah kami di Pos 1. Sementara Kunti sempat muntah karena tidak enak badan. Kami istirahat sebentar.

Perjalanan dilanjutkan. Gerimis datang. Kepala saya mulai nyut-nyutan, saya berusaha untuk di barisan depan. Bukan karena sok-sokan, mental bisa breakdown kalau berada di paling belakang, apalagi kondisi badan sedang tidak fit, perut juga mules.

22.15

“Ada tenda,” batin saya.

Itu camp empat orang yang lebih dulu naik. Alhamdulillah ada teman, sepertinya kami juga akan camp di sini. Ternyata mereka anak SMA baru lulus dan habis daftar kuliah. Juga habis merokok di tenda. Ealah, dasar terong!

Sundul dan Pono naik lebih dulu untuk memeriksa jalur, kami tidak berhenti untuk camp di sini, jalan masih panjang. Tapi saya tetap menahan mules, kepala pusing, dan badan meriang. Ditambah hujan. Duh, Bang. Tiga jam sampai puncak seems impossible dengan kondisi ini. Kata orang jalurnya lumayan, bagiku ini bikin kapok.

23.30

Arya dan Sundul naik lebih dulu sampai puncak, sementara Pono ditinggal dengan tiga cewek di belakang. Jalan menanjak tanpa ampun, licin, dan saya hanya mengenakan sandal. Tak menyangka jalurnya akan semenyedihkan ini. Bahkan Kunti sempat terpeleset duluan. saya naik dengan merangkaki tanah yang konturnya rapuh. Sempat takut merosot dan terguling ke jurang.

“Tinggalin aku aja di sini, aku gapapa, aku pasrah,” kata Kunti.

Saya bengong memegang senter dan sandal. Saya nyeker sekarang, dengan jubah ponco yang lumayan menyusahkan pergerakan. En-En sigap menolong, sementara saya menyenteri pergerakan mereka bertiga sambil memanggil-manggil Arya dan Sundul. Tetap tidak ada jawaban.

00.30

Setelah camp 4 orang tadi, tak ada jalur yang terlihat manusiawi, lumpur dan licin sana sini. Pakai sandal, licin. Tak pakai sandal, terpeleset. Ketinggalan di paling belakang bikin nyali ciut, apalagi dengan jalur semacam ini. Saya merayap, celana saya gulung sampai di atas lutut. Jangan dibayangkan penampakan saya kala itu, porak-poranda.

Ada jalur naik yang lebih licin dari jalur tadi. Pono, En-En, dan Kunti naik. Sedangkan aku ketinggalan, kepala pusing, lihat ke bawah saya trauma. Mau naik kaki dua berpijak di tanah licin semua, akhirnya badan gemetar semua. Ayo, Naik! cari pijakan lain! Tetap tak bisa, yang saya injak licin semua. Saya takut. Saya menangis seperti pecundang.

“Ibuuk, aku mau pulang, mau belajar TKD. Aku ga mau mati di sini, aku ga mau ditemukan sebagai pendaki yang mati karena kepleset.” Pikiran aneh-aneh sempat menghampiri, alhamdulillah saya berhasil naik dibantu teman-teman. Saya malu. Perut juga makin sakit.

Kamis, 3 Juli 2014

01.38

Kabut semakin tebal, dingin semakin menusuk, ingus malu-malu keluar. Sudah dekat puncak berarti. Dan akhirnya ketemu tenda kami, terharu, akhirnya di puncak juga. Penampilanku compang-camping sekali.

02.30 – 03.30

Hampir waktu sahur, saya pilih tidur sebentar. Badan remuk-redam rasanya.

04.00-04.30

Saya tetap meringkuk di tenda sementara semua orang di tenda sebelah. Kebangetan dinginnya. Saya kebas, pusing. Setelah diteriaki berkali-kali, saya bergabung dengan mereka. Sahur yang istimewa, di tengah lautan kabut puncak Gunung Prau. Selamat puasa.

05.45

Karena terlalu dingin, kami tidur lagi setelah Subuh. Ide berburu sunrise terlupakan. Dan empat orang pendaki yang kami lewati di awal, ternyata menyusul kami ke puncak Subuh tadi. Saya keluar tenda karena kebelet pipis, selain karena ocehan mereka sebenarnya.

Lautan kabut
Lautan kabut.
Selfie sementara yang lain masih tidur.
Selfie sementara yang lain masih tidur.
Our camp.
Our camp.

Lihatlah keluar, kabut di mana-mana, seperti bukan puncak Prau. Where is the sunrise people used to see? Inilah perjalanan kami, susah-payah, no sunrise, tapi lautan kabut yang kami dapat. Well, setidaknya pernah ke Prau.

10.00 – 11.00

Sempat beberapa kali keluar tenda dan kondisi masih sama, sementara adek-adek tenda sebelah turun duluan karena desperate tanpa sunrise pagi ini. Well, kalau orang biasanya foto di puncak Prau dengan latar belakang sunrise dan pemandangan gunung-gunung lain, kami tidak. Hampir semua foto selfie, dengan background putih kabut tentunya. #tksbyePrau

8

12.00 – 14.00

Setelah bongkar tenda dan packing, kami trekking turun. Oya, barusan ada pendaki datang rombongan baru anak UGM. Sebenarnya kami punya sisa logistik pisang. Dan tak tega mau mewariskan ke mereka karena mereka datang tanpa niat camp, tanpa tenda.

Turun dengan jalur yang sama, kok rasanya beda, jalannya tak seseram kemarin. Saya berniat ngesot seperti masa turun Gunung Slamet. Lihatlah pemandangan dari ketinggian, subhanallah. Dan sepertinya cuaca besok akan cerah. Sayang sekali.

15.30

Sampai basecamp, mandi dengan air sedingin es. Beberes dan siap-siap pulang setelah berburu Carica. See you, Prau, semoga ini pendakian paling bikin kapok yang terakhir.

17.15

Terminal Wonosobo sepi, bingung naik kendaraan apa pulangnya. Sempat ada miss komunikasi karena kami beda rombongan, beda bus yang dinaiki. Belum sempat pamitan ke rombongan En-En, bus Magelang datang. See you! Saya, Sundul, dan Pono pulang dulu.

Karena perjalanan yang lumayan lama kami bertiga buka puasa di bus. Subhanallah, ya musafir. Thanks, Guys. Paling tidak ada hiburan puasa naik gunung, buka puasa di bus, naik di bangku paling belakang dengan tamparan angin dingin, dan selimutan bertiga.

20.15

Alhamdulillah bapak sudah menjemput di pertigaan Secang, saya turun duluan. Sampai ketemu di perjalanan lain yang menyenangkan.

Post scriptum: hari ini adalah 3 Juli 2014 dan aku punya puisi untuk diriku sendiri tentang hari bersejarahku ini

Sudah 13 tahun berlalu rupanya, semenjak peristiwa yang dulu memporak porandakan hidupnya.

3 Juli 2001- 3 Juli 2014

13 tahun yang lalu, dibalut perban seluruh tubuhnya seperti mumi dan terbaring di ruang pesakitan..

13 tahun berlalu, dia di puncak gunung yang diselimuti lautan kabut..

Pendakiannya diiringi hujan, tanah basah menguras energi, sahur berselimut lautan kabut dingin dan pagi hari tak didapatinya sunrise sesuai harapan..

Setidaknya tujuannya tercapai, memperingati hari bersejarahnya bukan di ranjang pesakitan rumah sakit seperti 13 tahun yang lalu..

Thanks Allah for giving me second chance to live,

I’m grateful for being alive,

9

In a cold and foggy place, Mount Prau 2.565 mdpl, with all my prayer and hope

A grateful one..

Anggi

Anggi Restiana Dewi

Twitter: @restiananggi