Lebaran di Jawa dan Derita PNS Muda

“There is no mile as long the final one that leads back home.”

– Katherine Marsh.

 Lebaran

Ini adalah malam yang syahdu di penghujung bulan Ramadan. Alunan tadarus juz-juz terakhir sahut-menyahut di kejauhan. Anak tetangga meletuskan sisa-sisa petasan. Dan iklan-iklan sirop di televisi mulai digantikan oleh iklan orang bersalam-salaman. Pertanda sebentar lagi Lebaran.

Tidak banyak yang berubah pada Lebaran kali ini dibanding tahun-tahun sebelumnya. Aku masih akan menyambut Lebaran dengan cara pulang ke kampung halaman di Jawa. Segera. Tiket kereta api sudah di tangan. Ransel-ransel sudah disiapkan. Tidak ada yang dengan berat hati perlu ditinggalkan. Jakarta sudah tak menarik lagi saat musim mudik tiba.

Lebaran, menurutku, bukan sekedar perayaan hari raya keagamaan semata. Lebaran, bersama prosesi mudik di dalamnya, adalah mengenai ritual sosial-budaya yang secara khusyuk terus dijalankan. Lebaran adalah soal luapan rindu yang lama terpendam. Lebaran adalah tentang menata kembali hati yang ingin pulang. Dan bagiku, Lebaran di Jawa adalah sebuah keniscayaan.

***

Di Jawa, kami tidak pernah meributkan klaim dominasi antara Nastar atau Kaastengel. Tidak perlu ada kubu Nastar dan kubu Kaastengel yang riuh seperti di twitter. Karena menu Lebaran kami sudah sangat saklek dan baku. Kami secara istiqomah meyakini satu menu camilan yang diturunkan lintas generasi: kacang goreng bawang.

Kaastengel dan Nastar, menurut kami, adalah dua produk impor hasil pemikiran barat yang liberal. Nastar yang sangat English. Kaastengel yang imperialis. Coba tengok bahannya: adonan terigu, mentega, dan telur, yang membalut keju atau selai nanas. Lalu dipanggang di dalam oven dengan satuan derajat Fahrenheit. Sangat tidak Indonesiawi. Bahkan membayangkannya saja sudah cukup melelahkan. Coba bandingkan dengan kesederhanaan kacang goreng bawang. Cukup kacang tanah yang direndam air garam, lantas digoreng bersama dengan irisan bawang. Sebuah penganan yang jujur dan syar’i. Mudah dan memudahkan.

Di Jawa, kami juga tidak merayakan Lebaran dengan cara memasak ketupat dan opor ayam. Opor ayam bisa jadi. Tapi ketupat? Tidak sama sekali. Ada tradisi yang masih kami, masyarakat Jawa, pegang erat-erat mengenai urusan ketupat dan Lebaran ini. Ada kemurnian yang perlu dijaga. Kami tidak secara ceroboh mengikutcampurkan ketupat ke dalam perayaan Idul Fitri. Ketupat bernilai lebih dari itu. Untuk itulah di Jawa kami merayakan Lebaran kedua: Lebaran Ketupat.

Berbeda dengan Lebaran Monyet, Lebaran Ketupat adalah sebuah perayaan yang benar-benar nyata adanya. Lebaran Ketupat diperingati di Jawa pada hari ketujuh bulan Syawal, satu pekan setelah Idul Fitri dirayakan. Ditinjau dari kajian tradisi, makna Lebaran Ketupat ini sangat mendalam, masyarakat Jawa hanya akan menikmati keistimewaan hidangan ketupat setelah menjalankan sunnah puasa enam hari di bulan Syawal. Begitu istimewanya ketupat bagi masyarakat Jawa.

Namun selain menu santapan di hari raya, sesungguhnya tidak banyak yang berbeda dari Lebaran di Jawa dengan di tempat lain. Tidak berbeda dengan di Jakarta, tidak berbeda pula dengan di Tahuna. Lebaran secara universal dimaknai sebagai hari untuk saling memaafkan. Untuk itulah seluruh orang mengisi Lebaran dengan kegiatan kunjung-mengunjungi dan saling meminta maaf. Prosesi silaturahmi yang bergizi. Selain untuk memperkuat ukhuwah, Lebaran juga memberikan makna yang beragam bagi masing-masing kita.

***

Bagi remaja-remaja tanggung di mana pun berada, Lebaran dimaknai sebagai ajang mencari jodoh dalam tumpukan jerami. Dengan mengenakan setelan koko atau pashmina terkini, remaja-remaja ini patuh mengikuti kehendak orang tua untuk bersilaturahmi ke kediaman kerabat dan sanak famili. Ritual membosankan salam-menyalami tuan rumah dan menyeruput seduhan teh hangat berani mereka tempuh demi tujuan yang hakiki, siapa tau sebenarnya selama ini ada sepupu bening yang kebetulan sedang kuliah di Psikologi.

Lain lagi dengan bocah-bocah kecil yang baru bulan lalu naik kelas. Bagi mereka, Lebaran tak lain adalah momen yang sempurna untuk mencari serpihan rejeki. Selepas salat Id, bocah-bocah ini berinisiatif memisahkan diri dari rombongan orang tuanya masing-masing. Mengenakan baju baru dan berkumpul di sebuah meeting point untuk kemudian menjajaki pintu satu ke pintu yang lain. Tujuan utamanya tentu saja mengumpulkan amplop berisi lembaran uang baru. Jika kebetulan ada cemilan enak, itu bonus. Dalam usia belia, bocah-bocah ini telah belajar strategi marketing door-to-door yang efektif: bermodalkan assalamualaikum, salaman, duduk diam, dan hanya akan pergi apabila lembaran duapuluh ribuan telah terselip dalam genggaman. Praktis dan ekonomis.

Tapi semua kemeriahan Lebaran itu tak lantas dapat dinikmati oleh semua golongan. Di antara golongan-golongan yang tak bersemangat menyambut hari Lebaran ini, yang paling merana justru kaum PNS muda. Kaum ini ditandai oleh mereka-mereka yang hanya memiliki satu jenis NIP yang delapan belas digit saja. Beberapa di antaranya, bahkan belum lulus diklat Prajabatan.

Lebaran bagi PNS muda, terutama pegawai Kementerian Keuangan, adalah saat di mana mengajukan izin cuti perlu siasat jitu. Salah momen sedikit saja, bos besar bisa murka. Imbasnya tiket pesawat hangus dan waktu liburan cuma ikut kalender cuti bersama. Sungguh menderita. Sudah menyedihkan begitu, saat di kampung pun sanak saudara tak mau kalah memberi petaka. Mereka selalu mengajukan satu pertanyaan yang diulang-ulang. Sebuah pertanyaan yang mustahil dijawab tanpa menimbulkan hati getir dan luka menganga. Sebuah pertanyaan yang abadi: kapan nikah?