Jayapura, Mengail Senja, Mengejar Pagi, Mencari Cinta

1. Mengail Senja di Sentani

Pada mulanya, aku ingin memberikan judul pada catatan perjalanan ini “Sungguh, Ini Perjalanan Karena Pekerjaan” tapi terdengar seperti pengecut di telingaku saat kubaca sekali lagi dan sekali lagi. Jadi lebih baik aku mengaku saja, hanya sedikit dari perjalanan ini yang berisi pekerjaan, sisanya (kupaksakan) jalan-jalan. Sepenuh hati kuminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia yang membiayai Perjalanan Dinas ini. Tapi barangkali begini, aku bisa menjamin kepada seluruh Wajib Pajak bahwa pekerjaanku, terkait perjalanan ini, semua tuntas. Sekali lagi, aku minta maaf. Kalian mau memaafkan aku, kan? Kita mulai saja cerita ini, ya.

Senja, bagi beberapa kita, selalu menjadi ciptaan Tuhan paling melankolis. Hiburan tersendiri bagi pegawai-pegawai yang sedang berdesakan dalam metromini, bermimpi menggendong anak-anak mereka jika tidak terlalu malam ketika tiba di rumah nanti, sesungging senyum buruh-buruh yang barangkali sedang tidak dipaksa lembur hingga malam merayap pergi, atau apa saja yang seringkali berhubungan dengan rindu-rindu dalam hati. Bagiku, senja yang selalu datang sekerlingan mata itu selalu istimewa, bisa dibilang tidak pernah gagal membuatku jatuh cinta. Jadi ketika tiba di kota ini, lekas-lekas kucari arah matahari, mengira-ngira di mana tempat paling indah yang dipilih senja untuk rebah.

Rencanaku sederhana, aku akan menunggu, mengintai, mengendap-endap, lalu kutangkap senja itu. Hingga Sukab tidak lagi bisa memotong dan mengirimkannya lewat kartu pos untuk Alina. Seluruhnya akan kuhadiahkan untuk kekasihku sendiri. Aku sudah bisa membayangkan betapa geramnya Sukab nanti.*

Tapi di hari pertama, pekerjaan-pekerjaan kelewat mesra memelukku, menggelayuti kelopak mataku. Kutimang-timang mereka bersama kopi, yang aku yakin akan membuat perut melilit setengah mati esok hari. Mereka gembira, tertawa-tawa dengan wajahnya yang sumringah. Pekerjaan-pekerjaan itu akhirnya tertidur ketika malam sudah jauh berlari. Mereka senang, aku juga. Ibuku pernah bilang bahwa kita tidak boleh meratap di antara kebahagiaan orang lain, bahkan jika yang berbahagia itu bukan orang sekalipun. Jadi saya juga harus bahagia bersama mereka.

Ah, mereka selalu begitu, sisa-sisa permainan mereka ditinggal begitu saja, penuh dan menghitam di kantung mata. Berat sekali. Aku kesal bukan karena tidak bahagia dengan pekerjaan. Bukan itu. Tapi Sukab pasti akan tertawa melihat hari pertamaku menangkap senja gagal total begini. Sialan!

***

Pagi merayap naik ke singgasananya, cepat sekali. Rasanya baru saja aku tertidur tapi matahari sudah sampai di atas ubun-ubun. Kertas kerja dan laptop masih tertidur. Saya berjalan berjingkat masuk ke kamar mandi. Pelan sekali. Kalian tahu, bisa gawat kalau mereka sampai terbangun. Mereka adalah bayi-bayi yang susah sekali diajak istirahat, dan saya yang bakalan redam menidurkan mereka lagi.

Di bawah guyuran hujan buatan di dalam kamar mandi, aku lagi-lagi menyusun rencana menangkap senja. Rencana yang masih sama. Aku akan menunggu, mengintai, mengendap-endap, lalu akan kutangkap senja itu. Hingga Sukab tidak lagi bisa memotong dan mengirimkannya lewat kartu pos untuk Alina. Hahaha, saya tertawa, sampai busa shampo masuk dalam mulut dan membuatku terdiam seketika. Pahit.

Lepas Ashar, seorang kawan menelepon, mengajak berbuka dengan lauk ikan mujair dari keramba miliknya di daerah Danau Sentani. Ingin kutolak, bukankah aku harus menangkap senja? Kawanku ini bersikeras kalau aku harus datang, pantang menolak ajakan berbuka dari seorang kawan, katanya. Baiklah, sepertinya Sukab bakal menang lagi kali ini. Tapi tidak akan ada yang kalah, tidak akan ada artinya buatku menertawakan Sukab kalau kawanku ini yang harus dikorbankan. Jadi aku pergi ke rumah apungnya di danau Sentani, jaraknya kira-kira satu jam setengah dari Jayapura.

1

“Matahari biasa terbenam di sebelah sana, di antara dua bukit itu. Keren sekali, Gus,” kawanku menunjuk bukit-bukit di seberang danau.

Sial sekali rasanya, senja akan muncul tepat di pucuk hidungku dan aku datang tanpa peralatan yang memadai untuk menangkap mereka.

“Kamu mau mancing? Itu ada joran di dalam rumah,” kata temanku lagi.

Aku mengangguk, segera kusambar joran dalam rumah dan mulai melempar kail ke arah matahari terbenam.

“Gus, umpannya ketinggalan,” Temanku berjalan menghampiri.

“Terima kasih,” Kataku sambil tersenyum dan menyambut umpan yang ternyata hanya roti tawar itu. Aku meletakkannya di samping tempatku duduk. Tak ada yang kukaitkan pada mata kail, rasanya senja bukan bule yang doyan makan roti.

Dia datang!

Dia datang dengan keanggunan paling cantik layaknya seorang putri tanpa sepatu kaca. Aku tidak perlu menjadi pangeran untuk ikut menikmatinya bersama nelayan-nelayan danau Sentani yang pulang mengail ikan gabus. Kerendahan hati yang membuat Sukab terpesona dan memotongnya seukuran kartu pos untuk Alina. Aku terus mengail dan senja terus saja tidak peduli. Dia tetap berjalan perlahan dan menghilang dari pandangan mataku.

“Tidak dapat ikan?” Temanku bertanya

Aku menggeleng. Sejak awal memang bukan ikan yang kuincar.

“Sudahlah, memancing itu memang gampang-gampang susah. Mari makan. Kau puasa, kan?” Kali ini aku mengangguk.

Sebuah pesan masuk dalam ponselku. Chat berisi foto dari sebuah nomor tak kukenal, di bawahnya ada pesan yang membuatku geram setengah mati: Dari Sukab, kau kalah! Hahaha!

Suuukaaaaaaabbbb!!!

2

2. Memburu pagi, mencari cinta

Sedangkan fajar adalah senja yang diabaikan karena digantung terlalu pagi seperti baju-baju koko dan sejadah di hari biasa, lalu laku keras ketika digantung ulang menjelang lebaran. Kamu tidak percaya kalau fajar dan senja itu kembar? Di tengah-tengah perjalanan kedua ini, aku menemukannya.

Sebagai laki-laki yang terlatih patah hati, sudah barang tentu aku tidak pernah kapok mengejar cinta. Mungkin tidak setangguh Gita Wiryawan yang kau bayangkan. Tapi aku cukup tangguh, hasil dari latihan bertahun-tahun patah hati. Jadi pagi ini aku memutuskan mencari cinta–yang entah sedalam apa, di mana pun dia berada.

Kami, aku dan dua temanku, berangkat setelah salat Subuh, jadi jangan berharap kami melihat fajar keungu-unguan seperti yang dikejar fotografer terkenal. Kami hanya singgah sebentar di depan satu-satunya pura di Jayapura, untuk melihat matahari yang sudah separuh terbit di antara gunung dan laut, mencari sisa-sisa rasa syukur yang sering kali tertinggal, terselip dan dilupakan.

3

Aku mengingat Sukab. Kamu lihat ini, Sukab? Kamu boleh menguasai senja sesukamu, tapi fajar ini milikku. Akan kukirimkan semuanya pada kekasihku dan tidak ada yang akan tersisa untuk Alinamu!

Setelah selesai memotong beberapa fajar, kami melanjutkan perjalanan. Sebagai catatan, jika kamu melakukan perjalanan pada hari Minggu seperti kami, persiapkan bekal kue dan minuman. Jayapura menetapkan setiap hari Minggu, toko-toko baru buka setelah pukul sebelas siang, jadi kalau tidak dipersiapkan akan merepotkan sekali. Untungnya kali ini hal itu tidak menjadi masalah, karena kami pergi saat bulan puasa.

Setelah lepas perkampungan-perkampungan nelayan, yang terlihat adalah bukit-bukit rumput teletubies di sebelah kiri, dan pemandangan Danau Sentani di sebelah kanan. Beberapa kali memasuki hutan-hutan kecil, lalu pemandangan padang rumput akan menemani lagi sepanjang peralanan. Perjalanan ditempuh sekitar dua jam dari Jayapura, karena tidak satupun dari kami yang tahu arah cinta itu berada, jadi mobil berjalan perlahan menyusuri jalan beton dua jalur yang kukira baru saja dibuat demi kepentingan pariwisata.

“Kalian lurus saja, sebelum jembatan besi belok kanan, di sana tempatnya. Sudah dekat.”

Setelah berterima kasih, sampailah kami di tempat yang kami cari. Tempat di mana cinta bisa membuatmu tenggelam dalam arti yang sebenarnya. Ah ya, barangkali memang sebelum orang-orang berpikir untuk jatuh cinta, mereka harus lebih dulu belajar berenang. Hanya saja kami bertiga sepakat, cinta yang satu ini memang cukup dalam untuk membuatmu tenggelam, tapi tidak akan membuatmu patah hati.

4

*) paragraf tersebut terinspirasi dari cerita pendek Seno Gumira Ajidarma, Sepotong Senja Untuk Pacarku.