Dis-KIRI-minasi

Aku punya cerita untuk kalian, cerita tentang seorang teman. Teman yang kumaksud di sini, benar-benar seorang teman. Bukan sekadar saling mengenal, berbalas sapa bila bertemu di jalan, sesekali ngopi bersama, tapi di belakang saling mengumbar keburukan. Bukan. Bukan yang seperti itu. Dia temanku, satu dari sedikit yang kupunya saat itu. Namanya Abidin, Abidin Sagitinov.

Aku mengenalnya semasa SD kelas lima. Dia anak baru, pindahan dari luar kota. Kota yang kumaksud di sini adalah benar-benar kota. Sekolahku (yang selanjutnya juga akan menjadi sekolahnya sehingga kelak akan kusebut ‘sekolah kami’) berada di desa. Aku anak desa, teman sekelasku anak desa, dia anak pindahan dari kota. Tapi dia tidak sombong barang sedikitpun. Mungkin karena keluarganya juga berasal dari desa, pindah ke kota, dan sekarang kembali lagi ke desa. Ah, kenapa aku jadi berputar-putar seperti ini, ya. Maafkan.

Pertama kali Ibu Aisyah (wali kelasku saat itu) memperkenalkan dia di depan kelas, seluruh murid berdecak kagum. Abidin Sagitinov. Untuk kata pertama kami tak heran, hampir semua orang tentu tahu kata itu berasal dari bahasa Arab yang berarti ‘hamba’, atau ‘ahli ibadah’. Kata kedua ini yang luar biasa, Sagitinov! Apa dia berdarah Rusia ya?

“Sabtu legi tiga November,” jawabnya malu-malu.

“Panggil saja Didin,” lanjutnya.

Teman-temanku tertawa. Aku kecewa. Aku jadi tak bisa berbangga punya seorang teman berdarah Rusia, negara yang salah seorang warganya jadi orang pertama yang pergi ke ruang angkasa.

Aku tak hendak bercerita tentang detil pertemanan kami berdua saat itu. Aku sedang tak punya minat, mungkin lain kali. Yang jelas buka kali ini. Singkatnya, kami berteman akrab, bisa dibilang dekat, atau bisa juga dibilang erat. Terserah kalian menyebutnya apa.

Namun itu tak berlangsung lama. Lulus dari SD, kami berdua berpisah. Didin pindah ke kota lagi. Dia sebenarnya enggan, desa memberikannya rasa nyaman, juga aman (soal hal ini aku tahu dari perkataannya padaku di suatu sore, sesaat setelah kami selesai dus-dusan di sungai sebelah lahan sawah Pak Badu).

“Ayahku berprestasi, lalu mendapat promosi. Mau tak mau kami sekeluarga mengikuti,” tuturnya kala itu.

Perpisahan kami terjadi begitu saja. Biasa saja. Aku sedang tidur siang saat Didin menyempatkan diri datang ke rumahku untuk berpamitan. Kata ibuku, dia tak mau membangunkanku, takut mengganggu tidur siangku. Ah, dia memang seperti itu. Kelewat baik kalau kataku.

Lima belas tahun sejak saat itu, kami kembali bertemu. Bukan, bukan secara kebetulan. Semua ini telah kami rencanakan. Aku mendapat beasiswa kuliah gratis di kota. Sementara dia, sejak sepuluh tahun lalu itu, tak pernah lagi berpindah-pindah. Minggu sore kami bertemu.

Harus aku akui, Didin tampak berbeda, jauh berbeda dari tampilan masa kecilnya. Rambutnya dulu ikal, dibiarkan menjuntai tak terawat. Kali ini dia datang dengan potongan rapi belah pinggir, klimis pula. Pastilah dia pakai minyak rambut atau pomade yang sedang nge-trend itu!

Badannya? Aku pun heran. Aku teringat bagaimana ia selalu terengah-engah ketika berlari dulu, badannya yang tambun tentu menjadi beban yang berat bagi organ kardiovaskularnya. Tapi sekarang, beuh, posturnya bak model celana dalam yang anti selip dan ‘adem beneeer‘ itu. Membentuk huruf V, semakin mengerucut dari atas ke bawah.

Kami berbincang cukup lama. Wajar saja, lima belas tahun kami tak berjumpa. Didin bercerita banyak hal padaku. Mulai pacar pertama, motor pertama, sampai perpisahan ayah dan ibunya (aku pun kaget saat mendengarnya). Di topik terakhir itu, aku diam sepanjang cerita. Harus kuakui, ia penutur yang baik. Jujur, tak bertele-tele, emosinya pun tetap terjaga. Meski aku tahu, di balik senyumnya, pastilah tersimpan lara.

Kami berpisah, tapi berjanji untuk bertemu kembali. Rutin dan dijadwalkan, sebulan sekali.

Tiga bulan berlalu sejak pertemuan di Minggu sore itu. Ini pertemuan keempat. Seperti biasa, aku tak pernah telat. Kutunggu hampir setengah jam, setelah dua gelas lemon tea tandas, dia akhirnya datang. Kali ini tak sendiri. Didin menghampiri mejaku sambil menggenggam tangan seorang gadis. Kalau dilihat dari penampilannya, aku yakin dia masih berusia belasan tahun. Abege! Parasnya biasa saja, tapi tubuhnya jelas terlihat sintal menggoda. Aku yakin dia rajin berolahraga, tubuh seperti itu tentu bukan doorprize dari Tuhan semata, butuh usaha keras untuk mendapatkannya. Tak semua orang bisa. Namanya Ana, kekasih baru Didin. Kukatakan baru karena memang benar-benar baru.

“Bro, aku punya pacar baru. Sabtu besok aku kenalkan padamu!” Katanya melalui telepon tiga hari yang lalu.

Setahuku, baru sebulan lalu dia curhat tentang pacar lamanya yang dia putuskan karena berselingkuh, si Nayla. Dia sepertinya tak terbiasa (atau tak bisa?) menyendiri terlalu lama.

Kami bertiga berbincang cukup lama. Tapi kali ini tak akan kuceritakan padamu topik-topik apa yang kami bahas saat itu. Cukup kami bertiga yang tahu. Tapi, tenang, aku punya cerita lain untukmu. Tentang keanehan yang kurasakan: Didin sekarang kidal!

Sebenarnya dia sudah bertingkah seperti itu sejak lama, sejak pertemuan pertama. Dia bersalaman denganku dengan tangan kiri, menyendok kopi dengan tangan kiri, makan spaghetti dengan tangan kiri, juga menyerahkan kartu kredit pada pramusaji untuk membayar bill (ya, kala itu dia mentraktirku; jamuan bagi tamu dari desa, katanya—sial!) dengan tangan kiri. Ingin sekali kutanyakan langsung saat itu, tapi urung. Kisah perceraian orangtuanya membuat hatiku tak enak.

Kali ini aku tak tahan lagi. Pertemuan keempat, harus kutanyakan selagi sempat.

“Din, sejak kapan kamu bertangan kidal?”

“Hah? Perasaan dari dulu deh, masa kamu lupa?”

Dia mencoba menipuku. Tak butuh keahlian ataupun pengalaman untuk tahu.

“Gak usah bohong! Aku masih inget waktu kamu bikin Soimah, anak kelas 5B itu, nangis di lapangan. Kamu lempar bola kasti ke dia pake tangan kanan, kan? Atau waktu kamu memalsu tanda tangan orangtuaku di surat izin sakit yang aku buat, jelas itu kamu pakai tangan kanan,” jawabku segera. Didin tersenyum.

“Wah, kamu masih ingat saja ya.”

I know you better than you think I do, Bro.

Didin menyeruput cappuccino-nya sejenak.

“Memangnya kenapa kalau aku kidal, lebih aktif mengggunakan tangan kiriku untuk melakukan berbagai macam hal?”

“Ya, gak kenapa-kenapa, toh itu hakmu. Aku heran saja.”

“Begini sobat, aku memang tak terlahir kidal. Kau bahkan ingat dengan jelas bagaimana aku selalu menggunakan tangan kanan di setiap kegiatan. Tapi suatu waktu, aku merasa ada yang tak beres.”

“Apa?”

“Aku melihat, ada semacam diskriminasi terhadap tangan kiri dan hal-hal lain yang berbau kiri. Sejak kecil kita sudah dididik (atau didoktrin?) bahwa tangan kanan lebih sopan. Makan, minum, dan melakukan hal apa pun yang di anggap baik dianjurkan menggunakan tangan kanan. Masuk masjid dengan kaki kanan, masuk toilet dengan kaki kiri. Gerakan berwudu selalu mendahulukan yang kanan, saat selesai salat juga diawali dengan gerakan salam ke arah kanan. Paham komunis yang menentang pemerintahan, kita sebut ekstrim kiri. Di kartu tarot, iblis memegang pedang dengan tangan kiri sementara dewi keadilan digambarkan memegang pedang dengan tangan kanan. Bahkan, dalam bahasa Inggris, kanan itu ‘right’ yang juga berarti ‘benar’. Coba tolong kamu jawab, apa sebenarnya salah si kiri sehingga ia begitu terdiskriminasi?”

“Aku setuju dengan beberapa poin yang kamu sampaikan barusan. Tapi terkait dengan tangan kiri—dan ini hanya urusan tangan, bukan hal lain—kamu tentu tahu kalau tangan kiri itu kotor. Tangan yang digunakan untuk membersihkan dubur setiap kali kita buang hajat. Kotor sekali,” tukasku kemudian.

“Aku tak sepenuhnya setuju. Banyak hal lain yang juga kotor, yang kita lakukan dengan tangan kanan.”

“Contohnya?”

“Hehe… hehe,” Didin senyum-senyum sendiri sambil menatap Ana yang ada di sampingnya, sesekali.

“Apa contohnya?” Aku tak sabar ingin segera mendengar jawabannya.

Didin mengarahkan badannya padaku yang berada di sisi lain meja, mendekatkan kepalanya.

“Akui saja, kamu pasti masturbasi bukan dengan tangan kiri kan?”