Ada Paradoks yang Kompleks dalam Hal Meninggalkan

bohemian girl

Ada paradoks yang kompleks dalam hal meninggalkan. Seperti kau pergi, tapi hatimu tinggal. Atau kau menyerah, tapi kau yang patah. Atau kau lepas, tapi kau yang mati kebas.

Keputusan tinggal seringkali lekang. Dan tiap kali sarak, kau terus mengalami babak yang sama. Diulang terus saja dengan skenario yang kau yakin sudah menguning, lapuk dimakan waktu, sampai-sampai membalik halamannya pun kau ragu. Kau ingin hal baru, kau ingin reaksi yang keliru, tapi tidak kunjung bertemu. Semua sama. Yang semula kau pikir lain pun ternyata hanya klise yang lumrah. Di titik semesta yang nadir, kau diam dan menganggap sekitar mulai timpang.

Tujuan hidupmu menjadi tenang, katamu? Mimpi! Selamanya kau hanya akan bisa terus bergumul dengan semesta, melibasnya acap kali, membuatnya membelokkan garis sesuai ingin, sampai kau tahu bahwa yang kausebut inginmu bukanlah inginmu. Basi.

Tiap malam, pejaman matamu hanya membawa semua, benar-benar semua, berputar-putar di kepalamu seperti pusaran yang ajeg. Jalanan, wajah-wajah, langit-langit, langit, debur ombak, udara asin, cangkir kopi, udara dingin, mata yang kaucintai sampai kini, alunan radio di mobil, gesekan biola, gema tawa kersai, ujung sepatu, tautan tangan, senyum yang dikulum seiring dengan kejapan mata yang bergerak lambat, suara halus yang berkata aku-cinta-padamu.

Kau tak lagi sekadar luluh. Kau luluh lantak. Lalu bagaimana kau bisa tidur sekarang?