Hikayat Urang Lom dan Cerita-Cerita Absurd di Sekelilingnya

“Nanti kalau masuk daerah Urang Lom, mesti hati-hati dan jangan sembarangan, jaga niat, jaga kelakuan, pipisnya jangan sembarangan.”

Glek! Beberapa kali diingatkan seperti itu, saya mengernyitkan kening tanda sedikit heran bercampur cemas. Urang Lom, diambil dari kata ‘belum’, karena mereka memang belum menganut agama seperti masyarakat kita pada umumnya. Apa benar saya akan masuk ke daerah asing yang jauh dari peradaban dan—meminjam kata-kata kaum kolonial zaman dahulu—eksotis karena orang-orang masih telanjang berlarian dan pipis sembarang?

Saat SMA dulu, saya juga sering ditakut-takuti, jangan sampai berhubungan dengan Urang Lom, nanti bisa dijampi-jampi. Dalam pikiran saya, jampi-jampi berafiliasi dengan lagu Mbah Dukun-nya Alam yang hanya dengan komat-kamit baca mantera, segelas air putih lalu pasien disembur, buur!

Ternyata saya salah, Saudara-Saudara!

Urang Lom bukanlah sebuah komunitas terbelakang yang tidak tahu perkembangan zaman, mereka juga bukan perapal mantera semua—tentu ada, tapi tak semua—pun meski masih pipis di luar rumah, setidaknya mereka sudah punya kamar mandi sendiri. Mereka bertani dan berladang juga mencari ikan di laut. Mereka mungkin banyak memilih untuk mengosongkan kolom agama di KTP, tapi mereka tak pernah merusak alam lingkungannya. Keseimbangan antara diri sendiri dan lingkungan benar-benar dijaga dengan baik.

Hutan Desa Pejem

Sebagai salah satu bagian dari suku Melayu Bangka, orang-orang Lum ini masih memelihara dan cenderung menutup diri dari pengaruh luar. Oleh sebab itu, mereka banyak mendapat cap negatif dari masyarakat luar. Tidak bisa dipungkiri, stereotip ini membuat masyarakat pun menjadi segan terhadap mereka. Termasuk salah satunya di antaranya, saya.

Ketika pertama kali mendapat tugas untuk turun lapangan, dalam rangka penelitian kewilayahan sebagai bagian program jangka panjang dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, saya merasa gembira tak alang kepalang. Akhirnya saya bisa punya kesempatan menengok sendiri bagaimana Urang Lom yang sedari kecil hanya saya tahu dan kenal lewat mitos-mitos yang berseliweran di sekitar saya.

Pada perjalanan dinas kali ini, saya akan menuju ke dua lokasi dengan populasi Urang Lom terbanyak, yakni Dusun Air Abik di Gunung Muda dan wilayah Pejam di Belinyu, Kabupaten Bangka. Tujuan utama penelitian kali ini adalah untuk memetakan bahasa Melayu yang ada di wilayah Bangka. Minimnya waktu penelitian yang diberikan membuat tim hanya bisa menuju dua tempat tersebut.

Perjalanan menuju kedua dusun ini lumayan menguras tenaga. Jalanan menuju ke sana masih setengah-setengah, setengah diaspal, setengahnya enggak. Begitulah. Dari ibukota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Pangkalpinang, kedua dusun ini dapat ditempuh dalam waktu sekitar 2,5—3 jam. Jalanan yang berkelok, belum diaspal, keluar masuk hutan dan perkebunan sawit, serta berdebu, membuat kami harus banyak bersabar sebelum akhirnya mencapai Desa Pejam.

Pertama kali memasuki wilayah Air Abik dan Pejam, saya langsung ber-oh ria. Oh, jadi begini bentuknya wilayah Urang Lom ini. Bayangan suku primitif layaknya suku Badui atau suku Anak Dalam serta-merta memudar. Urang Lom saat ini, sudah memilih untuk tinggal di rumah berdinding beton dan bukan rumah panggung lagi seperti zaman dahulu. Anak-anak Urang Lom juga sudah bersekolah meskipun hanya sebatas tingkat pendidikan dasar atau menengah. Fakta yang kemudian saya tahu belakangan adalah, ternyata memang ada Urang Lom Dalam dan Urang Lom Luar, seperti halnya suku Badui Dalam dan Luar. Masyarakat desa Air Abik dan Pejam yang saya temui dapat dikategorikan Urang Lom Luar karena mereka adalah orang-orang yang menetap di sebuah kampung dan dapat ditemui oleh orang asing kapan saja.

Rumah adat panggung Urang Lum
Rumah adat panggung Urang Lom

Di luar kampung yang saya datangi, ada sekelompok Urang Lom yang masih hidup nomaden. Merekalah yang disebut dengan Urang Lom Dalam. Perumahan komunitas Urang Lom Dalam masih semi permanen. Rumah panggung dengan dinding kulit kayu dan atap daun nipah menjadi tempat berdiam mereka. Kadang rumah-rumah panggung itu letaknya tersembunyi di dalam hutan atau bahkan di tengah-tengah ladang. Kehadiran mereka sulit dilacak karena mereka bisa berpindah sewaktu-waktu tanpa diduga, dan perpindahan itu menggunakan jalan tikus di tengah hutan yang bercabang-cabang dan membingungkan. Ini adalah alasan yang tepat mengapa orang-orang yang tidak memahami karakteristik Urang Lom ini akan menganggap mereka misterius, antara ada dan tiada.

Rumah panggung Urang Lom yang ada di tengah ladang di hutan

Selama proses pengambilan data, kami menanyakan bahasa Urang Lom untuk 1200 kosakata dasar. Hampir memakan waktu 4 jam, proses wawancara kami diselingi dengan gelak tawa dan cerita-cerita yang kami tak pernah tahu sebelumnya, termasuk masalah perebutan lahan antara masyarakat dengan perusahaan perkebunan sawit yang ternyata sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Sejauh-jauh saya mengenal Indonesia atau bahkan negara lain, saya masih sangat awam dengan daerah saya sendiri. Tak urung hal ini membuat saya merasa ironis. Sengketa wilayah ini konon sudah merambah ke ranah hukum. Lahan adat desa yang seharusnya tidak boleh diganggu gugat sudah dirambah oleh tangan-tangan asing.

1200 kosakata dasar Swadesh
1200 kosakata dasar Swadesh
Di sisi kiri dan kanan jalan adalah perkebunan sawit

“Cemane nek bekebun mun lahan kami ge la diambik urang ya.” Bagaimana mau berkebun kalau lahan kami sudah diambil oleh mereka.

Banyaknya hutan lindung yang telah dikonversi menjadi areal perkebunan membuat reaksi perlawanan dari warga terhadap perusahaan. Saya cuma bisa duduk diam termangu memandang Bapak Tagtui, kepala Dusun Air Abik, yang sedang bercerita pada kami. Ada yang berdesir di hati saya. Siapa saya dan apa yang bisa saya perbuat untuk membantu mereka. Apalah yang bisa dilakukan oleh abdi negara (kata Bapak saya) ecek-ecek seperti saya ini? Pertanyaan itu terus saja menggema dalam kepala meski saya sudah kembali ke kota. Hikayat Urang Lom dengan segala keabsurdan cerita tentangnya kemudian menghantui saya. Begitulah.