Ekonomi Insani A La Polanyi

“Ilmu ekonomi sedang sakit,” ungkap Mark Blaug, seorang ekonom dari Belanda.

“Fungsi utama prediksi ekonomi adalah untuk membuat astrologi kelihatan terhormat,” sindir seorang ekonom lain, John Kenneth Galbraith.

Mereka nyinyir begitu pedasnya melihat tendensi ilmu ekonomi yang terlalu bergantung pada keketatan analisis (analytic rigor) yang sering tak merefleksikan realitas.[1] Ilmu ekonomi di masa kini enggan berhenti “bermain-main” dengan model-model matematis yang spekulatif, pretensius, kompleks, serta penuh simbol dan persamaan yang membingungkan. Akhirnya ia menjadi sesuatu yang hanya dipahami oleh orang-orang tertentu saja dan makin jarang berkolaborasi dengan riset historis dan ilmu-ilmu sosial lain.

Dalam salah satu tulisannya di blog Crooked Timber, Bruce Wilder menyatakan bahwa ilmu ekonomi bukanlah peta seluruh kegiatan ekonomi manusia, bahkan bukan peta dari sebagian kegiatan ekonomi manusia. Ilmu ekonomi hanya ibarat sebuah alat pembuat peta yang, bersama-sama dengan ilmu-ilmu lain, mencoba memetakan hubungan yang saling sengkarut dalam interaksi manusia. Pendek kata, ketergantungan pada matematika menjadikan ilmu ekonomi gagal untuk mempelajari apa yang menjadi pusat dari ekonomi, yakni manusia itu sendiri.

Kegagalan berikutnya adalah penyederhanaan logika demi memudahkan penghitungan dan generalisasi, serta pembuatan asumsi-asumsi yang bisa melenceng dari kenyataan, menjadikan para manusia pelaku ekonomi hanya sebagai data dan angka statistika. Kita bisa mengetahui akibat kebijakan ekonomi yang diambil dengan mengabaikan sifat-sifat manusia sebagai pelakunya sendiri, seperti pada krisis seperti yang terjadi pada 2008. Lihat bagaimana para ekonom hanya bisa menggigit jari sembari membikin rasionalisasi ex post facto tentang krisis tersebut dengan model matematis mainan mereka.

Karl Paul Polanyi (1886-1964), seorang ekonom dari Austria, adalah salah satu ekonom yang menggunakan pendekatan insani dalam melihat ekonomi. Ia mempelajari motif-motif ekonomi pada manusia Jaman Batu hingga zaman Kolonialisme—dari manusia modern pada saat Revolusi Industri hingga ke suku-suku Trobriand, Kwiakutl, serta suku-suku di Melanesia Barat. Alih-alih menggunakan matematika, Polanyi lebih memilih mengawinkan ilmu ekonomi dengan studi antropologi, etnografi, sosiologi, dan historiografi.

Dengan demikian, sebelum dianggap sebagai kritik atas kapitalisme, karyanya bisa dipandang pertama-tama sebagai kritik atas ilmu ekonomi itu sendiri. Pemikiran-pemikiran Polanyi ini (bersama-sama dengan pemikiran dari teoris-teoris Polanyian/Neo-Polanyian lain) disarikan oleh Justinus Prastowo ke dalam buku berjudul “Ekonomi Insani” terbitan Marjin Kiri.

Kesesatan Pasar Swatata

Prastowo berangkat dari penceritaan biografi Polanyi dan karya-karyanya (hal. 15-19). Ia kemudian memaparkan apa yang dimaksud Polanyi sebagai pasar swatata (self-regulating market), yakni sebuah sistem yang dipandu oleh harga pasar. Pasar swatata adalah sebuah utopia bagi mereka yang mengamini Adam Smith dan ekonom-ekonom klasik/neoklasik lainnya.

Di dalam pasar swatata, manusia bertindak demi mengoptimalkan kepentingan individu (self-interest), baik maksimalisasi utilitas sebagai konsumen maupun memaksimalisasi laba sebagai produsen. Dengan istilah lain, manusia adalah Homo Economicus. Meskipun kelihatan egois, kegiatan ekonomi akan tetap berjalan efisien di dalam pasar swatata, karena tangan tak terlihat dan rasionalitas pengambilan keputusan akan mengoreksi hal-hal yang mendistorsi ekonomi tersebut (maka dari itu disebut swatata). Ini adalah salah satu asumsi yang menjadi dasar bagi para kapitalis dan kaum libertarian yang memuja pasar swatata tidak mengijinkan adanya campur tangan kebijakan negara (hal. 34).

Namun, seperti yang dijabarkan Prastowo, Polanyi melihat bahwa sistem pasar swatata memiliki beberapa kesesatan. Dengan studi kemasyarakatannya, ia melihat bagaimana pasar swatata tidak mengacuhkan modus-modus ekonomi dan institusi-institusi lain di luar pasar, seolah seluruh fenomena ekonomi adalah presentasi dari ekonomi pasar. Ini berarti pasar swatata dianggap sebagai fenomena yang menjelaskan dirinya sendiri (self-explanatory).

Implikasi dari argumen bahwa pasar swatata merupakan self-explanatory ini yaitu bahwa harga ekuilibrium di pasar dianggap hanya berasal dari interaksi yang efisien antara pembeli dan penjual. Hal ini mengandaikan penjual dan pembeli sama-sama memiliki informasi yang sempurna. Padahal, di alam nyata tidak ada yang bisa memiliki informasi dengan sempurna (hal. 26). Akan selalu ada asimetri informasi. Misalnya, penjual punya informasi lebih banyak tentang barang yang ia jual, atau pembeli punya informasi tentang harga-harga penjual lain.[2] Asimetri informasi ini akan selalu menimbulkan friksi, sehingga pasar tidak pernah bisa efisien.

Sisi lain argumen ini yaitu harga dianggap semata-mata muncul dari persilangan antara penawaran dan permintaan. Dalam realitas, tidak semua komoditas diperjualbelikan di pasar (atau bahwa tidak semua hal adalah komoditas). Maka di dalam gagasan pasar swatata, tenaga kerja manusia, tanah, dan uang semua direduksi menjadi suatu komoditas – dengan kata lain, dikomodifikasi (hal. 28). Inilah yang disebut Polanyi sebagai ketercerabutan sosiologis/ontologis (sociological/ontological disembedding).

Kritik yang lain yang dilontarkan Polanyi kepada pasar swatata adalah bagaimana ia mereduksi motif ekonomi menjadi hanya dua pilihan: ketakutan pada kelaparan dan hasrat memperoleh keuntungan. Ia menihilkan adanya motif relijius, politis, tradisi, atau estetis yang mendasari perilaku ekonomi (hal. 32). Dengan kata lain, pasar swatata memperlakukan individu sebagai unit analisis yang diandaikan selalu rasional (penekanan pada kata “selalu”) serta terpisahkan dari masyarakat sebagai kesatuan sosial. Ini yang disebut sebagai ketercerabutan antropologis (anthropological disembedding). Tak heran Polanyi menyebut pasar swatata sebagai sebuah,

“[…] Utopia yang ekstrem. Mengingat suatu institusi tidak dapat bertahan hidup dalam waktu yang lama tanpa menihilkan substansi manusia dan alam di masyarakat; ini secara fisik akan menghancurkan manusia dan membawanya ke dalam bencana.” (hal. 35)

Berbeda dengan aliran formalis yang mengedepankan rasionalisme ekonomi dan individualisme manusia yang atomistik sehingga menimbulkan kesesatan-kesesatan ekonomistik (economistic fallacy) seperti di atas, aliran substantivis yang diusung oleh Polanyi memandang ekonomi sebagai hubungan yang terlembagakan antara manusia-manusia yang setara dan alam yang melingkupinya. Aliran substantivis menilai motif-motif seperti meneruskan tradisi atau pilihan-pilihan etika/moral tidaklah kosong makna seperti yang dilihat oleh rasionalisme ekonomi. Jika aliran formalis menganggap kodrat manusia sebagai makhluk Homo Economicus yang individualistis dan mengedepankan efisiensi, maka aliran substantivis Polanyi memandang manusia sebagai Homo Socius yang komunal dan lebih mementingkan ketercukupan, daripada sekedar efisiensi atau laba (hal. 48).

Gerakan Ganda

Ketika logika ekonomi pasar bekerja, ia tak puas hanya dengan mengkomodifikasi tenaga kerja, uang, dan tanah saja. Ia akan berusaha merangsek ke dalam setiap sendi kehidupan sosial. Karenanya, kebijakan mengenai politik, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kesejahteraan lambat laun diukur semata-mata dengan logika untung-rugi yang ekonomis. Ia tak lagi memperhatikan takaran biaya-manfaat yang non-ekonomis. Pengabaian pada takaran biaya-manfaat yang nonekonomis ini adalah sesuatu yang bisa disebut sebagai ciri dari neoliberalisme. Masyarakat kemudian menjadi subordinat (bahkan aksesoris) dari kegiatan ekonomi itu sendiri. Melihat kondisinya yang terasingkan dalam pasar swatata, masyarakat melakukan tindak perlindungan diri baik dalam tataran kelas maupun tataran kelembagaan untuk menghindari kehancuran (hal. 83). Gerakan tandingan (countermovement) ini, bersama gerakan ekonomi pasar, adalah wajah dinamika ekonomi dalam masyarakat yang dinamai Polanyi sebagai gerakan ganda (double movement).

Gerakan ganda tersebut diuraikan pada Bab 3 oleh Prastowo. Boleh dibilang sifat gerakan ganda adalah dialektis: satu gerakan mencoba memperluas ekonomi pasar, sedangkan satu gerakan tandingan melindungi diri dari ekonomi pasar. Sifat ekstensi dan proteksi yang muncul bersamaan ini dicontohkan Polanyi melalui perdagangan internasional yang meluas dengan cepat namun secara bersamaan muncul institusi proteksionis untuk mengontrol pasar (hal. 85). Polanyi, seperti yang dikutip Prastowo, menyebutkan bahwa ciri dari gerakan tandingan adalah spontanitas, seperti gerakan buruh, misalnya. Sifat gerakan tandingan ini kontras dengan gerakan menuju hegemoni kapitalisme yang direncanakan oleh para kapitalis (hal. 86-87). Singkatnya, gerakan ganda adalah pertarungan antara kekuatan yang mencerminkan ekonomi yang tercerabut (disembedded) dengan kekuatan yang mencoba “menanam kembali” (re-embedding) ekonomi ke dalam masyarakat.

Selain itu dibahas juga mengenai bentuk ekonomi berupa paguyuban (gemeinschaft) dan patembayan (gesellschaft). Meminjam pemikiran Ferdinand Tönnies, Polanyi menjelaskan paguyuban sebagai bentuk ekonomi yang komunal dan tidak profit-driven, seperti yang banyak ditemui pada masyarakat adat. Sedangkan patembayan (gesellschaft) adalah bentuk ekonomi di mana relasi sosial di dalamnya ditundukkan di bawah sistem ekonomi berbasis laba yang membuat individu-individu terpisah satu sama lain. Konsep ekonomi tertanam serta peran manusia dalam komunitas (paguyuban) ini dibahas lebih lanjut dalam Bab 4 dan 5.

Beberapa Catatan

Secara garis besar Prastowo merangkum pemikiran Polanyi yang tertuang dalam karya-karyanya dengan bernas, walaupun ia tidak secara ekstensif mengambil uraian Polanyi mengenai keadaan masyarakat pasca-Revolusi Industri dan imperialisme yang mengikutinya. Beberapa tabel dan skema yang dibuat Prastowo juga memudahkan pemahaman tentang gagasan Polanyi tanpa harus menyusuri narasi yang panjang lebar. Meskipun demikian, ada beberapa catatan.

Pertama adalah terjemahan yang kurang pas. Contohnya sudah saya kutip di atas. Prastowo (atau siapapun yang menerjemahkan karya Polanyi ke dalam Bahasa Indonesia ini) menerjemahkan kalimat:

“… the idea of self-adjusting market implied a stark utopia. Such an institution could not exist for any length of time without annihilating the human…”

menjadi

“…ide pasar swatata mencerminkan Utopia yang ekstrem. Mengingat suatu institusi tidak dapat bertahan hidup dalam waktu yang lama tanpa menihilkan substansi manusia dan alam di masyarakat…”

Ini tentu kurang pas, karena “such an institution” berarti “institusi tersebut”, yang kemudian lebih jelas bahwa frasa ini menunjuk frasa yang mendahuluinya, yakni pasar swatata.

Kedua, Prastowo agaknya perlu memperjelas beberapa ilustrasinya. Misalnya pada halaman 45 tentang kelangkaan:

“Sebutlah ada tujuan A, B, C, D dengan sarana pencapaian tujuan X, Y, dan Z maka akan terdapat pasangan tujuan-sarana: AX, AY, AZ, lalu, BX, BY, BZ, berikutnya, CX, CY, CZ, dan terakhir DX, DY, DZ. Apabila ternyata sarana yang tersedia X, Y, Z sudah berturut-turut dipilih oleh tujuan A, B, dan C, maka D tidak memiliki pilihan sarana. Bagi tujuan D ini bukan situasi kelangkaan karena untuk dapat disebut langka harus diandaikan ada lebih dari satu sarana dan lebih dari satu tujuan.” (huruf tebal merupakan penekanan dari saya)

Baris yang saya tebalkan terlihat kontradiktif mengingat jelas diilustrasikan bahwa ada lebih dari satu sarana (X, Y, Z), dan lebih dari satu tujuan (A, B, C, D). Jika tujuan D diisolasi dari tujuan-tujuan lainnya maka tidak akan pernah ada yang namanya kelangkaan. Mengapa? Karena dengan hanya melihat D saja (atau A saja, atau B saja, atau C saja), yang cuma sebuah, langsung secara otomatis menegasi kriteria kelangkaan yang mensyaratkan adanya “lebih dari satu sarana dan lebih dari satu tujuan”. Lalu apa kelangkaan itu bila setiap tujuan diisolasi dari tujuan-tujuan yang lain?

Ketiga, bagaimana Prastowo hanya memasukkan sedikit pembahasan tentang pengaruh Marx kepada Polanyi. Mengapa ini penting? Polanyi berangkat dari Georg Lukacs, yang merupakan seorang Marxist klasik. Ide Marx tentang materialisme historis, alienasi, dan fetisisme komoditas sendiri juga banyak tercermin dalam gagasan-gagasan Polanyi. Sebagai sebuah buku tentang Polanyi, alangkah lebih lengkap bila tak hanya pengaruh dari Ferdinand Tönnies tentang gemeinschaft/gesellschaft yang diterangkan dalam buku ini, tetapi juga dari pemikir-pemikir Marxisme klasik.

Di samping itu, penjelasan Prastowo tentang teori Polanyi yang menurutnya (atau menurut pemikir Polanyian yang ia kutip) kemudian berpisah dari Marxisme klasik (hal. 94), misalnya, juga bisa dielaborasi lebih dalam dan tak hanya disebutkan begitu saja. Ini akan lebih membuat terang evolusi atau kematangan pemikiran Polanyi seiring waktu.

Namun yang disebut di atas hanyalah catatan-catatan minor. Yang lebih saya sayangkan adalah bagaimana ia hanya berakhir sebagai buku pengantar semata. Ada potensi yang bisa dikembangkan Prastowo. Sebuah pemikiran orisinil atau pembacaan yang baru atas pemikiran Polanyi yang sayangnya tidak ada di buku ini. Komentar-komentar dan reinterpretasi terhadap gagasan Polanyi justru lebih sering diambil Prastowo dari pemikir-pemikir Polanyian/Neo-Polanyian luar negeri seperti Jan Beckert, Bob Jessop, atau Gareth Dale.

Catatan kritis dari Prastowo hanya muncul di tiga halaman terakhir dan beberapa paragraf di bagian pendahuluan. Padahal, dengan panjang tak lebih dari 200 halaman, rasanya tambahan satu bab khusus untuk membahas relevansi ide Polanyi di jaman sekarang tidak akan membuat buku ini terlalu panjang. Prastowo hanya menyebut sekilas pentingnya pemikiran Polanyi ini pada halaman 170-171, namun setelah itu tidak ada elaborasi lebih lanjut. Padahal pertanyaan yang justru penting dijawab adalah bagaimana ide Polanyi dapat diterapkan dalam era modern ini, sehingga – tak seperti yang dituduhkan kritikus-kritikus Polanyi kepadanya – ide-ide tersebut tak hanya dilihat menjadi sebuah romantisasi tentang masa lalu dari seorang laudator temporis acti.

Adalah penting untuk menjawab bentuk embeddedness seperti apa yang feasible untuk dilakukan pada masa di mana ekonomi pasar sudah menguasai kehidupan manusia? Bentuk paguyuban seperti apa yang bisa bertahan di tengah gempuran modus ekonomi kapitalis? Apakah dengan bentuk persekutuan koperasi-koperasi produksi seperti Mondragon? Ataukah dengan bentuk komunitas kolektivis setingkat munisipal seperti yang ada di Marinaleda, Spanyol dan Kerala, India? Atau jangan-jangan Indonesia punya sebuah bentuk ekonomi insani yang lebih orisinal? Akan lebih menarik juga misalnya melihat kondisi masyarakat Indonesia kontemporer, serta apa yang bisa dilakukan di negara ini lewat kacamata pemikiran Polanyi.[3]

Penutup

Anda bisa menemukan gaung pemikiran Polanyi pada kasus yang saat ini sedang hangat dibicarakan di Indonesia: ojek Gojek. Tukang ojek pangkalan yang merasa bahwa aplikasi Gojek telah merebut sumber penghasilan mereka kemudian bersitegang dengan para pengemudi Gojek. Ini adalah gerakan ganda Polanyian dalam bentuknya yang paling familiar dengan kita. Di satu sisi ada persaingan antara paguyuban tukang ojek pangkalan, dengan perusahaan Gojek yang berbentuk patembayan. Di sisi lain, gesekan antara sistem ojek pangkalan yang berbasis kekeluargaan dengan modus ekonomi Gojek yang profit-driven. Ekonomi matematis tak bisa menguraikan masalah ini dalam bentuk persamaan, pun tak akan memperhatikannya juga, meskipun masalah seperti Gojek ini adalah masalah yang nyata kelihatan.

Ekonomi, dengan demikan, tak boleh bermain dengan model-model matematis saja, tetapi juga harus bisa memahami manusia seutuh mungkin. Karl Polanyi memberikan jalan untuk memahami interaksi manusia tak hanya dalam level interaksi mikro-mikro (antar-dua individu saja), tetapi juga interaksi antara level mikro (individu), meso (kelompok, komunitas), serta makro (institusi besar seperti negara, perkumpulan negara, atau bahkan alam). Jika ekonometrik bergulat dengan angka, dan game theory/ekonomi behavioral mencoba memahami motivasi individual, maka ekonomi antropologis/sosiologis yang diusung Polanyi melengkapi gambaran yang seringkali hilang dari ilmu ekonomi: sebuah gambaran ekonomi yang insani.

Lewat pemikiran Polanyi pula kita diingatkan kepada kapitalisme dan pasar yang semakin bebas di masa ini. Melalui corong para kapitalis, logika ekonomi pasar menghendaki semakin sedikitnya kontrol dari negara kepada ekonomi. Media tak pernah kehabisan berita tentang tuntutan para pengusaha agar pajak semakin kecil, agar upah buruh tidak naik, atau agar pasar saham dan lembaga-lembaga finansial dideregulasi. Contoh yang terakhir ini, dan berpotensi paling berbahaya bisa kita lihat pada lobi yang dilakukan Wall Street agar Undang-Undang Dodd-Frank, yakni sebuah reformasi sistem keuangan yang diundangkan setelah krisis finansial 2008, dicabut. Padahal, praktik shadow banking dan transaksi jual-beli derivatif yang begitu beresiko bisa membawa dunia kembali pada krisis keuangan global bila ia tidak dimonitor dan dikontrol. Belum lagi bahaya makin rusaknya lingkungan hidup, makin memanasnya suhu bumi, atau makin tersingkirnya masyarakat oleh penggusuran lahan.

Pasar swatata menutup mata tentang semua ini dan menganggap bahwa sistem ini, syukur-syukur semakin tidak diatur, hanya akan membawa kebaikan bagi umat manusia. Buku “Ekonomi Insani” ini menjadi penting karena logika pasar swatata yang ditakutkan Polanyi makin menjadi-jadi di masa kini dan kita mungkin sedang terlena. Kita sekarang hidup pada jaman yang sinis, sebuah jaman di mana kita lebih mengerti harga dari segala sesuatu, tetapi tidak mengerti nilai dari apapun. Maka, yang ditulis Justinus Prastowo bukan hanya sebuah buku, melainkan juga sebuah pengingat.

insani

Judul: Ekonomi Insani, Kritik Karl Polanyi terhadap Sistem Pasar Bebas
Penulis: Justinus Prastowo
Penerbit: Marjin Kiri
Tahun terbit: 2014
Dimensi: xx + 183 hlm, 14 x 20,3 cm

Post scriptum:

  1. Saya menyebutnya modelling dilemma: semakin rigid sebuah model ekonomi, ia akan semakin akurat untuk menggambarkan sebuah interaksi ekonomi tertentu, tetapi hanya interaksi tersebut saja. Kerigidannya itu membuatnya tidak fleksibel jika dipakai untuk melihat gambar yang lebih luas, atau peristiwa ekonomi yang terjadi di ruang atau waktu yang berbeda. Begitu pula sebaliknya, semakin simpel sebuah model, semakin baik (elegan) ia melihat gambaran yang luas atau mencakup beberapa waktu dan tempat sekaligus – namun simplifikasi tadi membuatnya tidak akurat.
  2. Teori tentang ketidaksempurnaan informasi, juga masalah searching theory dan signalling theory dapat ditemui pada karya-karya Peter Diamond, Michael Spence, dan Joseph Stiglitz
  3. Saya teringat pada peristiwa menjelang pemilu 2014, di mana ada ketakutan terhadap munculnya fasisme kalau-kalau salah seorang calon yang militeristik menjadi presiden yang baru. Polanyi memberi penjelasan yang berbeda. Seperti yang dikutip Prastowo, menurut Polanyi fasisme muncul bukan karena militerisme, tetapi karena kehancuran sistem pasar swatata. Fasisme ingin mempertahankan kapitalisme, tetapi ia tidak puas dengan kegagalan dari liberalisme yang menopang kapitalisme itu. Maka, ia menghapus kebebasan dan individualisme kemudian menggantinya. Dilihat dalam retrospeksi, ketakutan beberapa orang waktu pemilu 2014 semata-mata karena seorang calonnya terkenal militeristik adalah tidak masuk akal menurut Polanyi.