Lelaki yang Tak Menikahi Pasangan Jiwanya

Aku, mari kita namakan tokoh ini “Aku”. Aku lahir ke bumi secara biasa seperti kalian dari rahim ibu, buah tangan ayah, seperti kalian. namun ketika pubertas melanda, Aku tak seperti kalian. Kalian mungkin hanya mimpi basah, perut kram, atau mulai mengenal onani. Aku mengalami satu hal tambahan, melihat aura.

Jangan panggil Aku dukun, penyihir, atau hal-hal absurd dalam pikiran kalian jika memikirkan hal-hal yang mejik, karena selain itu, Aku hanya manusia biasa seperti kalian. Menurut penelitian ada sekitar enambelas juta warna di dunia yang merupakan gabungan dari empat warna dasar, Aku dapat melihat hal-hal itu pada pundak seseorang, kadang berbentuk biru yang tenang, kuning yang memukau, atau coklat mendekati pekat. Aku tak mengerti semua maknanya atau ingin mencari tahu.

Pada beberapa kesempatan, Aku melihat warna hitam pada pundak seseorang, lalu Aku mengerti bahwa seseorang itu memiliki niat jahat dalam hatinya. Aku juga melihat lingkaran kuning samar di atas kepala seorang wanita, lalu Aku tahu dia sedang mengandung dan bersiap menjadi ibu. Mungkin saja Aku lebih cepat tahu wanita itu mengandung ketimbang alat bernama testpack itu.

Lalu tiba saat itu, kala Aku melihat cahaya terang pada dada kiri seorang gadis, kita sebut saja “Dia”. Pada awalnya, Aku hanya terpukau pada cahaya itu, Dia orang yang biasa di mataku, jilbab putih, tinggi, kurus, dan agak jutek. Tapi Aku suka melihat cahaya di dada sebelah kirinya.

Dalam setengah sadar, Aku merasa suatu malam, seorang malaikat putih mendatanginya.

“Kau telah bertemu dengan salah satu pasangan jiwamu,” kata malaikat.

Kemudian Aku tertidur. Dalam mimpi, Aku melihat Dia sebagai manusia biasa berbalut jilbab coklat dan pakaian kerja.

“Ini pasangan jiwaku?” Tanyanya ke malaikat putih, dia mengangguk. Waktu berlalu Aku mendekati dia lebih dari biasanya, namun Dia tetap dengan gayanya.

“Apakah ini pasangan jiwaku?”

Aku lalu mengenal Wanita, iya kita panggil saja “Wanita”. Jalan dengannya membuat Aku bahagia walau tak ada cahaya pada dada sebelah kirinya seperti Dia, namun auranya selalu berwarna cerah. Apakah Aku jatuh cinta bukan dengan pasangan jiwanya? Bagaimana bisa? Nafsu? Lalu waktu berputar, Aku melihat Dia menikah dengan orang lain, apakah Dia menikah dengan pasangan jiwanya?

Aku dan Wanita mesti berakhir, mungkin manusia memang tak bisa menikah jika bukan dengan pasangan jiwa. Jadi Aku dan Dia pasangan jiwa yang tak menikah, Dia menikahi pasangan jiwanya yang lain?

Bersama putaran bumi, Aku melihat cahaya lagi pada dada sebelah kiri seorang perempuan, seperti tokoh yang lain kita namakan dia “Gadis”. Wanita ini jauh lebih muda darinya, apakah Tuhan kasihan pada Aku, lalu menciptakan pasangan jiwa yang lain? Mereka rekan sekerja, Gadis seruangan dengan Aku, dia perpaduan antara Wanita dan Dia dalam pendangan Aku, namun ternyata Gadis pun telah memilih lelaki lain menjadi pasangan hidupnya.

“Apakah Gadis telah menikahi pasangan jiwanya? Apakah Tuhan lagi bermain dengan hatiku?” Aku kembali bertanya.

Saat Gadis berbulan madu, Aku memutuskan menghadap ke atasannya, minta ditugaskan ke pulau Borneo. Di Borneo, Aku masih melihat begitu banyak aura, Aku berkawan dengan para lelaki perantau sepertinya. Mereka tinggal bersama dalam sebuah camp, Aku dan jiwa sentimentilnya mengkhayalkan hidup dalam pulau buru di tahun-tahun awal sang Jendral Senyum membelenggu demokrasi bangsa ini. Di sana, Aku tetap bisa melihat aura, aura para lelaki yang rindu rumah, kekasih, dan anak-anak mereka, aura yang memaksa hitam menjadi kuning. Buram.

Jumat, 08 mei. Bala itu menimpanya, sebuah patahan kayu dari ranting pohon tua tepat mengenai kedua matanya, Aku di vonis buta. Berapa besar kemungkinan ini menimpanya? Sejuta banding satu?

“Tuhan apakah kamu bercanda lagi?”

Lalu Aku mulai mengenali manusia lewat suara, mengenali keagungan dari perbuatan dan bukan penampilan mereka. Aku tak lagi melihat aura-aura.

“Perempuan”, itu namanya. Orang-orang sini memang teramat aneh memberi nama, Aku pernah mendengar anak diberi nama “Sharp” dan “Polytron” oleh orang tua mereka. Tapi seperti kata pujangga itu, “Apalah arti sebuah nama, bukankah mawar tetap harum walau namanya bukan mawar?”

Perempuan itu, apakah dia pasangan jiwa Aku? Mungkin indahnya hidup ada pada misteri-misterinya, mungkin kita memang mesti benar-benar buta untuk jatuh cinta

Parepare, 08 Mei 2015