Ada Cinta di Setiap Gigitan

“Memasak adalah membuat sesuatu yang enak untuk orang lain.” – Ayumi Komura

Kalau diingat-ingat lagi, saya mulai bisa memasak sejak kelas 5 SD. Cuma masak air, menggelikan, bukan? Ingin tertawa rasanya, mengingat dulu memegang panci saja gemetaran setengah mati, mengisi dengan air hingga setengahnya, meletakkan ke atas kompor, lalu menyalakan api. Berkali-kali menyalakan api kompor saja tidak sanggup, seluruh tubuh keringat dingin, dan begitu apinya menyala, klik! Rasanya sungguh senang tiada tara. Sensasi menunggu air yang berbuih seluruhnya sangat mendebarkan, mondar-mandir tak karuan. Lucu sekali saat-saat itu.

Setelah bisa memasak air dengan baik dan benar (versi Ibu, dan mungkin kebanyakan orang), saya belajar merebus mi instan. Dan masakan pertama saya saat itu terasa seribukali enaknya dibanding mi-mi lainnya yang dijual di warung kopi atau warung tenda. Padahal hanya mi yang diberi bumbu penyedap, begitu melekat di hati sampai-sampai masih saya ingat rasanya sampai sekarang.

Beranjak dari situ, suatu hari, teman-teman saya satu kelas berbincang sepakat untuk membawa bekal esok hari. Saya setuju. Sambil berpikir ingin dibuatkan apa oleh Ibu, tiba-tiba salah satu teman saya menyeletuk, “Besok pada bawa masakan sendiri ya! Awas ya kalau pada dimasakin, kan malu masa cewek nggak bisa masak?”

Jleb! Kata-katanya membuyarkan segala bayangan tentang ayam semur, nasi goreng, fuyunghai, dan semua masakan andalan Ibu. Lah, baru kemarin bisa masak mie instan, sudah disuruh masak-masak segala. Tapi namanya bocah, diledek teman-temannya, pasti merasa tertantang. Akhirnya sampai rumah, saya bertekad buat sendiri masakan untuk bekal besok!

Karena belum lancar memasak dan pasti lama menyiapkan bekal, sehabis sholat Subuh saya langsung melangkah ke dapur (kejadian yang sangat langka pada saat itu), dan langsung menuju kulkas. Sayang, di balik lemari es hanya ada telur beberapa butir, cabai merah, setengah potong fillet dada ayam, daun bawang, dan makanan kaleng lainnya. Bagus sekali. Belum bisa masak yang aneh-aneh, cuma bertemu bahan sisa. Pemandangan gersang tadi tiba-tiba memberikan sebuah ide untuk mencampurkan semua bahan yang ada menjadi sebuah tumisan.

Saya ambil sepotong dada ayam, cabai, dan telur dari kulkas, beberapa bawang merah dan bawang putih dari tempat bumbu. Ibu yang dari tadi memperhatikan, mulai nyambung kalau anaknya mau masak sendiri bekalnya. Pagi bersejarah itu tiba. Saya diajarkan cara mengupas bawang, mengiris tipis-tipis, memotong daging ayam, meracik telur orak arik, dan segala teknik masak sederhana. Entah bagaimana caranya saya mendeskripsikan perasaan yang mungkin lebih berbunga-bunga dibanding sekadar jatuh cinta (monyet). Benar-benar pengalaman pertama yang mendebarkan sekaligus menyenangkan.

Masakan saya pagi itu saya namakan: Tumis Ayam Cabai. Dengan hati riang sekaligus bangga, saya bawa bekal itu ke sekolah. Saat istirahat tiba, kami berkumpul di kelas untuk memakannya bersama-sama. Ada yang buat capcay, nasi goreng, telur dadar, dan lainnya. Jadilah kami saling bertukar dan mencicipi bekal masing-masing. Serempak kami bilang, “Enak!” Sedikit memang, tumis ayam cabai yang saya buat, tapi melihat masakan saya juga dinikmati orang lain, rasanya senang sekali, lebih-lebih mengetahui bahwa itulah makanan yang saya buat pertama kali untuk mereka.

Sejak saat itulah, ketika saya memasak, saya selalu memikirkan orang yang ingin memakannya. Misalnya ketika si adik minta dibuatkan masakan dari brokoli, saya sudah tahu bahwa dia ingin separuhnya digoreng tepung, separuhnya ditumis saus tiram. Begitupun untuk orang tua, saya selalu memasak dengan sedikit garam dan rasa yang tidak terlalu tajam. Saya juga suka membuatkan cemilan seperti lumpia keju coklat atau steak ayam kesukaan teman-teman. Untuk yang terkasih, saya juga pernah membuatkan puding mangga kesukaannya.

Terkadang setelah memasak, rasanya ‘kenyang’ untuk ikut makan masakan kita. Kenyang akan kepuasan bisa membuatkan sesuatu yang lezat dan melekat di hati penikmatnya. Apalagi ketika memasak untuk keluarga tercinta. Saya sering merasa masih kurang rempah dan cita rasa apalagi keragaman tekstur. Namun, melihat adik dan ibu saya makan dengan lahap (sampai piringnya licin, bahkan minta tambah), ada sesuatu yang menggelitik hati. Entah itu rasa puas atau rasa sayang saya kepada mereka, yang jelas memasak untuk ‘siapa’ akan lebih meninggalkan kesan dibanding memasak sesuatu yang seperti ‘apa’.

Lebih dari semua itu, wajah puas sumringah dan kata-kata “kapan-kapan buatin lagi ya” dari mereka, menjadi motivasi saya untuk selalu memasak dari hati. Mungkin memang benar adanya, memasak harus dengan cinta. Karena akan menyentuh ‘rasa’ setiap orang yang menggigitnya.