Siapakah Sekularis Sejati?

Menurut KBBI, sekularisme berarti paham atau pandangan yang berpendirian bahwa moralitas tidak perlu didasarkan pada ajaran agama. Sementara itu, menurut wikipedia, sekularisme adalah ideologi yang mengamini pendirian institusi harus berdiri terpisah dari agama, yang sebenarnya sebuah institusi juga. Beberapa sumber lain menyatakan bahwa sekularisme adalah paham penduniawian. Nah, jadi bila kita bicara negara sekuler, artinya negara tersebut―baik konstitusi, peraturan, kebijakan, maupun politiknya―terpisah dari agama. Agama hadir hanya untuk pemeluknya saja, seperti kapitalisme, jadi milik pribadi. Bisa saja Agama jadi urusan publik, tapi toh seringnya negara tidak perlu ikut campur (misalnya bikin pengajian komplek). Tulisan tentang negara sekuler dan bukan negara sekuler sudah banyak, rasanya kami tidak perlu membahas.

Tampaknya banyak orang-orang Indonesia yang alergi dengan yang namanya sekularisme. Tentunya di tengah masyarakat yang penuh dengan hikmat-hikmat keagamaan dan kepingin masuk surga, pemisahan ini disambut dengan ke-anti-an. Inipun bisa digugel, tak perlu kita bahas di sini. Tapi sebelum kita tersetir apapun, tidak, kami tidak bilang bahwa sekuler itu lebih baik dari ketidak-sekuleran. Pun sebaliknya, kami juga tidak mengamini. Tujuan kami menulis ini sebenarnya ingin menunjukkan bahwa ada kemungkinan para anti sekuler ini, sebenarnya adalah sekuler sejati.

Seorang yang anti-sekuler tentu akan menanamkan setiap ajaran ideologinya―apapun itu, baik agama maupun non-agama―dalam setiap peri kehidupan. Misalnya pemeluk agama yang diajarkan kedamaian pasti akan mengutamakan kedamaian. Agama yang mengajarkan untuk tidak mengambil hak orang lain, dalam kehidupan duniawi-nya, akan menjauhi hak-hak orang lain supaya dia tidak mengambil.

Jadi kemungkinan, kita akan menemukan dua tipe orang non-sekuler. Orang pertama adalah relijius sejati. Dia tidak korupsi, jujur, transparan, dan rajin bersyukur berapapun gajinya. Tipe kedua, relijius KTP. Selain korup, praktek agamanya juga nggak bener: jarang salat, tak pernah menyebut-nyebut Tuhan, tak percaya bahwa kepemimpinan Tuhan di alam semesta ini yang paling adil dan tak pernah meleset memberi rezeki. Heck, bahkan bisa saja dia memang atheis sekalian.

Namun ada tipe ketiga, ya tipe sekuler ini. Dia punya minimal 2 kepribadian: ketika berada di institusi non-agama dan ketika berada di institusi agama. Pernah lihat orang yang begitu alim, sangat baik pengetahuan agamanya, ibadah rajin, tapi korupsi jalan terus? Entah di tempat lain tapi di tempat kami banyak. Bahkan berita tahun 2012 ini mengutip pernyataan KPK yang bilang bahwa Kementerian Agama adalah kementerian paling korup! Padahal lembaga mana lagi yang punya ahli-ahli agama terbaik kalau bukan Kementerian Agama?

Kami menyebut orang-orang ini sekuler karena memisahkan dua sisi hidupnya: ketika sedang bekerja dan ketika sedang beribadah. Beribadah seolah korupsinya tidak dihitung sekaligus korup seolah tak pernah ibadah. Coba perhatikan saat kita tandatangan honor atau uang apapun, atau sedang membahas “uang-uang aneh”, terus tanya ini dosa apa tidak, hak kita apa bukan, dan hal-hal relijius lain. Perhatikan jawabannya. Tak akan jauh-jauh dari “tak usah munafik lah” atau “jangan bawa-bawa agama (atau Tuhan)”. Tidak membawa-bawa agama dan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, bukannya sekuler ya? Atau barangkali Tuhan memang ada di mana-mana, kecuali di ruang rapat, ketika membahas keuangan.

Di kantor kalian ada yang begini juga?