Rujak

Ada tempat yang menjadi satu dari sedikit favorit saya di kantor, adalah lantai empat yang merupa aula besar yang sejatinya ruang makan bersama seluruh pegawai. Seperti foodcourt di mall-mall, di dalamnya berjejer meja dan kursi makan, dengan kafeteria tempat aneka makanan. Pembeli dan penjualnya dari-oleh-untuk teman sendiri. Mengadopsi “kantin kejujuran”, pembeli cukup menaruh uang di tempat yang disediakan. Tanpa penjaga, tanpa prasangka.

Selain tempat melarikan diri ketika bosan dengan pekerjaan, hal lain kenapa saya senang di sini adalah model transaksinya yang sewenang-wenang saya namai “pesta anarki kecil di punggung birokrasi”. Tapi tak perlulah rasanya ndakik-ndakik mem-filosofi-kan model transaksi yang telah jadi lumrah (model ini sempat berusaha jadi tren beberapa tahun lalu, meski tak terlalu berhasil). Saya justru ingin bercerita hal lain, tentang percakapan pada sepotong pagi yang terjadi di ruang makan ini.

Mendung belum bosan menggantung di kolong langit Jakarta sejak malam. Ketika manusia-manusia lain serba tergesa memulai hari, saya justru berjalan malas menuju ruang makan. Sekadar mencari camilan karena masih enggan memulai apa-apa. Pisang goreng mengepulkan uapnya, cocok untuk Jakarta yang lagi dingin. Atau donat yang sintal-sintal, biar mirip polisi-polisi di film tipikal Hollywood. Bubur kacang hijau hangat juga nikmat lagi mengenyangkan.

Semuanya masuk akal kecuali satu: rujak. Tapi justru saya pilih itu. Sebungkus tujuh ribu. Saya bawa satu ke meja dekat teve. Di meja itu, sudah duduk beberapa teman, juga Team Leader saya. Sekadar info, kantor ini punya tiga seksi, yang paling gemuk adalah Seksi Operasional, berisi duaratusan personel yang dibagi dalam duapuluh tim. Setiap tim dipimpin Team Leader yang saya sebut “Eselon Lima” (secara de jure, eselonir di kantor kami cuma sampai empat).

Tanpa perlu berkata, jelas terlihat ekspresi heran di muka teman-teman. Menyelingkuhi pagi yang frigid dengan sebungkus rujak memang bukan lelaku yang ideal di alam logika masyarakat kita. Ganjil meski tidak sampai mencederai tata nilai ketimuran nan adiluhung. Sementara mereka cuma bisa heran dalam diam, Team Leader saya, sebut saja Mas Eka, mengomentari dengan klise, “pagi-pagi kok sarapan rujak.”

Bukannya teman lain segan urun komentar, tapi lebih kepada malas, saya kadung dicap gemar berdalih sebagai pembenaran atas segala laku “menyimpang”. Sama menyimpangnya seperti jawaban untuk pertanyaan Mas Eka tadi, “wow, Indonesia banget, antum!” Saya menjawab sambil makan. Dahinya berkerut, menuntut penjelasan lebih lanjut tentang relevansi antara pagi-pagi-sarapan-rujak dengan keindonesiaan seseorang. Saya tak sedang ingin bertele-tele sebenarnya, tapi apa lacur.

Mengesampingkan fakta historisnya bagaimana, saya yakin mayoritas orang Indonesia mengklaim rujak sebagai makanan asli Indonesia. Tak ada rujukan tertulis, cuma kadung jadi common sense. Kalau tak percaya, tunggu saja sampai rujak diklaim oleh Malaysia, pasti banyak yang misuh. NKRI harga mati. Pula soal sarapan, saya yakin hampir semua rakyat Indonesia sepakat dengan penuh seluruh: rujak tidak diciptakan untuk sarapan. Mas Eka menolak sepaham. Menurutnya, ini bukan soal sepakat-tidak-sepakat, ada penjelasan logis kenapa rujak tidak cocok di pagi hari. Konon perut wangsa Melayu tidak terbiasa dengan buah dan sambal setelah bangun tidur.

“Terbiasa”, saya menemukan celah untuk membela diri. Terbiasa artinya sesuatu yang dibentuk, entah sengaja atau tidak. Bukan kodrati dari tuhan, tidak by nature, kalau istilah sekulernya. Secara hal-hal kodrati saja tak jarang terjadi penyimpangan, apalagi semata produk budaya. Apa salahnya makan rujak pagi-pagi? Untuk layak dinyinyiri seolah teramat gawat sedemikian rupa sehingga mampu mengancam tergelincirnya peradaban spesies kita sebagai khalifah fil ardl?

Alih-alih menjawab, Mas Eka justru berbelok pada kesalahan diksi yang saya pilih, “kenapa antum pakai kata nyinyir?” Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan nyinyir sebagai mengulang-ulang perintah atau permintaan; nyenyeh; cerewet. Dan dia memang tidak mengulang-ulang. Senyumnya menyeringai, barangkali begitu juga ekspresi Cah-EYD-intelektual-konservatif-ultra-ortodoks-puritan-radikal-garis-keras-di-media-sosial ketika menang twitwar. Harus saya akui kata nyinyir tidak tepat guna, tapi apakah KBBI benar-benar telah jadi keniscayaan? Kitab suci yang koreksi atasnya adalah harom? Memangnya bahasa tidak berevolusi?

“Bahasa memang adalah produk budaya, adalah kesepakatan. Jangankan nyinyir, sedangkan ‘meja’ saja bisa disebut ‘bakwan’ kalau sudah disepakati. Tapi belum ada konsensus pergeseran makna nyinyir, dan memang bangsa kita terlanjur biasa menggeser-geser. Sementara nyinyir cuma contoh sepele, banyak geser makna yang lebih patut dimusyawarah-untuk-mufakatkan. Anarki, misalnya, disinonimkan secara eksklusif untuk berbagai-bagai “tindak kekerasan”. Atau preman yang loanword dari ‘vrijman‘ (bahasa Belanda) yang bermakna ‘orang bebas’, tapi sekarang malah digunakan untuk menunjuk hidung para praktisi tindak kriminal. Atau komunis yang harusnya perkara ekonomi-politik, malah secara dzalim diasosiasikan pada para pembenci tuhan. Dan yang begitu itu, diamini dan diimani, tak cuma oleh masyarakat banyak, pula media disponsori negara. Dan kebiasaan menggeser-geser itu, kembali antum praktekkan barusan,” Mas Eka menjelaskan panjang lebar.

Dia memungut sepotong mangga muda, mencocolkan sambal, mengunyahnya perlahan. Saya diam saja karena takjub. Bukan karena dia pegawe negri yang entah bagaimana begitu fasih tetek-bengek semacam ini (stereotype yang melekat pada pegawe negri biasanya cuma tahu main zuma, tanggal muda gajian, tanggal tua cari obyekan, keorba-orbaan, lamban, dangkal, tapi petentang-petenteng). Bukan. Bukan karena itu saya takjub, tapi justru karena merasa seperti baru ditampar perihal keajegan.

Saya dipaksa bercermin, padahal di depan saya cuma ada rujak. Bahwa yang seringkali sok pintar mengoreksi orang lain yang gagal paham arti anarki, ternyata sendirinya melakukan dosa yang sama pada kata nyinyir. Atau sebaliknya. Dan itu pelajaran pertama hari ini: bersetia memang tak pernah mudah, merawat keajegan sungguh teramat susah. Sedangkan berlawan ketika awas saja, kita sering kalah, bagaimana pula kalau yang dilawan justru adalah lengah itu sendiri? Karenanya, kepada mereka yang tak lelah untuk bersetia, salam hormat akan selalu layak. Setelah tergagap beberapa menit, saya bisa kembali menguasai diri.

“Jadi apa yang salah dengan makan rujak pagi-pagi?” Pertanyaan perkara rujak saya ulangi kembali. Kali ini, dengan tambahan keterangan agar lebih spesifik. Yang ditanya menjawab tak ada yang salah, cuma aneh katanya.

“Sedangkan antum, pegawe negri, bisa ceramah centang-perenang semantik dan semacamnya, kenapa orang makan rujak pagi-pagi malah dianggap aneh,” giliran saya yang bingung dengan standardisasi aneh dan lumrah yang dipakainya.

Saya pernah punya kesimpulan bahwa masyarakat kita lebih suka pada perayaan ketimbang peraturan. Agama-agama “baru”, misalnya, banyak mengadopsi perayaan-perayaan agama yang telah lebih dulu ada di Indonesia. Sekarang, saya sendiri meragukan kesimpulan itu, karena banyaknya label bid’ah yang berujung vonis sesat. Entah saya saja yang dulu terlalu naif, atau banyak orang yang berubah orientasi: tergila-gila pada peraturan.

Ketika industri gencar mempromosikan frasa keposmo-posmoan semacam “berani beda”, atau “be yourself“, atau “anti-mainstream” melalui berbagai-bagai pranata dalam budaya pop, ironisnya, makin banyak yang fobia pada segala beda. Suka mengatur begini-begitu. Gemar melarang ini-itu. “Harus” dan “jangan” dihambur-hamburkan. Kalau perkara sepenting agama barangkali masih masuk di akal, tapi ini cuma makan rujak pagi-pagi juga masih dianggap aneh. Sudahlah agama banyak aturan, negara banyak aturan, mau makan juga banyak aturan.

Orang Amerika biasa minum orange juice pagi-pagi, orang Indonesia makan rujak pagi-pagi itu aneh. Sementara Eropa pernah menganggap makan langsung dengan tangan adalah bar-bar, Islam malah menganjurkan makan langsung dengan tiga jari karena sunah rosul. Makan dengan suara mulut berkecap pernah ditabukan tradisi Eropa, sementara tradisi Jepang pernah menganjurkan berkecap untuk menghormati pembuat makanan. Saat di Barat justru makan dengan kedua tangan, di Timur makan hanya boleh dengan tangan kanan. Tradisi kontemporer menganjurkan makan sambil bercakap-cakap untuk keakraban keluarga, tradisi konservatif melarang makan sambil bicara. Belum lagi tatakrama berurut a la Eropa: appetizer-main course-dessert, sendok-garpu-pisau dimulai dari yang paling luar. Hasprek!

Betapa globalisasi merangsek ke meja makan kita, menjadikannya medan perang yang riuh. Saling melarang, saling mengharuskan. Ada yang zakelijk ketimur-timuran, ada yang istiqamah kebarat-baratan. Ada yang intiqol, ada yang talfiq.* Ada yang berupaya menemukan sintesis. Ada yang sejatinya tak paham-paham amat. Ada yang sama sekali tak peduli. Dalam peperangan yang tak mutu itu, saya memihak kubu terakhir, kaum yang tak ikut-ikutan mempersulit diri sendiri. Tak sudi mengatur-atur, terlebih diatur-atur.

Bukan hendak ikut arus “anti-mainstream” atau trend “be yourself” (anti-mainstream kok ikut arus, be yourself kok trendi), cuma berupaya memberi sekat pada yang publik dan privat. Pula bukan mau sok kosmopolit, tapi sepanjang tak mengambil hak orang lain, apa perlunya sesuatu diatur-atur? Tapi ya begitulah, ada jenis manusia yang baginya, peraturan adalah candu. Entah hasrat menguasai atau gairah dikuasai, menyelinap di antara kata “harus” dan “jangan”.

“Pokoknya” bagi saya, menyelingkuhi dinginnya pagi dengan sebungkus rujak bukan perilaku menyimpang, justru reaksi-reaksi setelahnya saja yang kadang lebay. Mas Eka tiba-tiba bertanya berapa usia kandungan istri saya, saya jawab tiga bulan. “Pantesan,” katanya sambil senyum lalu berjalan ke luar ruangan. Sepertinya dia sudah dapat kesimpulan atas sengkarut perdebatan itu, giliran saya yang belum, “maksud antum?”

Post scriptum:

Penulis meminjam istilah intiqol dan talfiq dari tradisi fikih dalam Islam. Secara sederhana, intiqol artinya berpindah madzhab, sedangkan talfiq berarti mencampur madzhab yang berbeda-beda. Masing-masing ulama ahli fikih memiliki pandangan berbeda mengenai dua hal ini, ada yang melarang, ada yang boleh, ada yang boleh dengan syarat, bahkan ada yang mewajibkan. Tapi dalam tulisan ini, penulis meluaskan kedua istilah itu bukan semata untuk urusan fikih.