Obrolan Sepanjang Jalan Pulang

Malam itu tak seperti biasa, kamu mengantarku pulang berjalan kaki bukan dengan motor hitammu. Aku dan kamu pulang melewati lapangan kampus yang setiap hari yang kita lewati saat kamu mengantarku pulang. Malam itu pun langit Jakarta tak seperti biasa. Bulannya bersinar lebih terang.

Sudah setahun lebih setelah lulus, kita masih tinggal di dekat kampus. Magang di Jakarta sebelum akhirnya harus bersedia untuk ditempatkan di seluruh kantor pajak di seluruh Indonesia.

“Sayang,  kenapa ya, setiap orang kantor yang tahu kalau aku pengen ditempatkan di Papua, pasti kaget dan bingung?” Katamu padaku.

“Ya iyalah, ngapain juga milih penempatan luar Jawa kalau bisa di sekitar Jakarta?” Protesku.

“Bukan gitu, kalau ditempatkan di daerah kan bisa berkembang. Setidaknya bisa mengeksplor tempat baru, belajar hal baru, dan ketemu orang baru,” kamu membela diri.

“Emangnya harus banget ke Papua? Gak ada yang lebih deket gitu?” Aku masih tidak bisa menerima argumenmu.

“Sayang, coba lihat! Itu pelangi,” katamu sambil menujuk bulan di langit.

“Apaan sih, mana ada pelangi malem-malem gini? Kamu gak usah mengalihkan pembicaraan!” Aku melihat ke langit tapi aku sedang tidak memakai kacamataku.

“Itu, lihat yang bener! Di deket bulan ada pelanginya.”

Aku memicingkan mataku agar dapat melihat lebih jelas. “Hah, iya beneran ada lingkaran di sekitar bulannya,” ujarku bersemangat.

Malam terasa lebih khidmat, untuk sejenak, hanya ada suara langkah kaki kita.

“Gimana ya kalau kita jauh nanti?” Tanyaku.

“Sayang …,” katamu membuka pembicaraan, “Ibnu Sina pernah bilang air yang hanya diam di satu tempat, lama-kelamaan akan menjadi keruh.”

“…”

Aku menunduk.

“Berbeda dengan air yang mengalir, ia akan selalu jernih. Mungkin suatu saat ia akan melewati aliran yang bersih, bisa jadi melewati aliran yang keruh, kadang dia harus melewati arus yang deras. Tapi akhirnya air itu akan bermuara ke lautan. Ke samudera yang sangat luas. Sama seperti manusia, ia harus terus bergerak, terus belajar, sampai akhirnya ia mendapat ilmu yang sangat luas.”

Aku terdiam. Tak tahu harus menjawab apa.

“Atau kamu coba lihat anak panah. Saat dia diam dia hanyalah sebuah anak panah. Berbeda, saat ia dan busur digerakkan dan dibidik, ia akan menjadi senjata yang mematikan.”

“Cukup dengan analogi-analogi itu!” Kataku dalam hati.

“Kamu tahu kan, emas juga sebelum menjadi berharga mahal harus melewati proses yang panjang.”

Tanpa sadar, air mata menetes di pipiku.

“Kenapa harus ke Papua untuk itu?” Batinku.

“Begitu juga manusia, harus terus bergerak dan terus belajar agar bisa terus berkembang.”

“Aku … aku tahu kamu adalah air yang mengalir itu, adalah anak panah yang siap melesat, dan emas yang berkilau. Aku nggak mau jadi wadah yang membuat air menjadi keruh, aku nggak mau menjadi penghalang anak panah untuk melesat, dan aku nggak mau menjadi penghalangmu menjadi emas.”

Kini kamu yang terdiam. Kita terus berjalan. Tanpa terasa, akhirnya sampai di depan kosanku. Di situlah kami memutuskan kami berpisah. Belakangan aku baru ternyata pelangi di malam hari itu benar ada. Itulah moonbow.

***

Catatan penulis:

Ini hanya kisah fiktif belaka. Jika ada kesamaan tokoh dan cerita, never mind.