Nak

Usiamu sudah tujuh bulan, Sayang. Engkau masih sering terlelap mimpi dalam kandungan bunda. Sesekali terbangun, menggoda bunda untuk menyapamu. Memeluk lembut perutnya. Mengusap sayang tubuhmu. Kala itu, bunda akan bersenandung dalam hati. Berbincang tentang masa depan, tentang cita-cita, menyoal gundahnya, dan berbagi resah dalam hati. Di selang-selang waktu, antara dua salatnya, bunda lantunkan Quran untukmu. Mahakarya Sang Kuasa untuk kita. Ayat-ayat Tuhan yang akan menemani kita selamanya. Menuntun hidup kita, mengarahkan langkah kaki kita, menguatkan landasan perjalanan panjang kita, memotivasi, dan menghidupkan hari-hari kita. Di dunia dan akhirat.

Dahulu, agar engkau tahu, betapa bunda merindu dirimu. Bunda kerap kali menadah-mengharap pada Allah, Tuhan yang seharusnya disembah. Pemilik kesempurnaan dan ke-Maha-an. Sementara yang lain, hanya hasil cipta manusia. Dari proses mengarang panjang, mengadopsi kebudayaan-kebudayaan abstrak, dan produk cetakan dari negosiasi yang sangat permisif. Bunda berharap sepenuhnya pada Allah dengan segala ketaatan dan kepasrahan yang dimiliki. Hingga kabar itu tiba.

Kabar ketika bunda mendapati dirimu sedang tertidur dalam rahimnya. Dalam bentukan yang sangat kecil. Namun hidup. Seakan berbisik, “Bunda, inilah aku.” Jantung kami berdegup. Mengalir jatuh butir bening dari mata bunda atas hadiah dari Allah, anak kesayangan yang dinanti, belahan hati yang dirindu. Jiwa yang akan menemani bunda, mengantar pergantian waktu satu ke lainnya. Seutuhnya kami cinta padamu, Ananda sholehah.

Tiga bulan kemudian, tetiba langit berubah mendung. Semenjak pagi menjelang siang sampai di ujung sore hari. Sayup udara saat itu mengalir lembut. Menebar sejuk dan membagi hawa nan tentram. Seseling di antara keduanya, nikmat-nikmat melimpah jatuh berhambur dari langit. Hujan turun membasuh muka bumi. Membasahi lumpur-lumpur. Mengisi genangan-genangan di ceruk danau dan samudera. Menumbuhkan dahan-dahan kering, membangkitkan semangat benih-benih untuk segera menatap mentari. Sebagai wujud cinta Tuhan pada makhluknya, juga bukti sayang langit pada bumi.

Di kala itu, seakan Allah sedang meniupkan roh terbaik untukmu. Waktu yang tepat, seolah bumi beserta semesta sedang menyambut hadirmu, menyanjung-nyanjung dengan pujian, dan meninabobo dengan kesejukan di dunia ini. Sebagai pengemban misi pembangun peradaban. Semuanya setelah dirimu berjanji menghamba pada-Nya. Bersaksi bahwa Allah adalah Rabb yang semata harus disembah. Ber-azzam agar senantiasa me-lafadz doa untuk kami, “Allahummaghfirli, duhai Allah, merendah diri ini memohon ampunan. Waliwalidaiya, untuk diri dan kedua orang tuaku. Warhamhuma, taburkan limpahan kasih sayang untuk keduanya. Kamarabbayani shaghira, sebagaima tatkala keduanya memberi tanpa pamrih kasih sayang kepadaku.”

Post scriptum:

Judul “Nak” diberikan oleh editor karena penulis tidak menyertakan judul dalam tulisannya.