Kepada Tuan yang Menganggapku Matahari

Kepada Tuan yang menganggapku matahari,

Aku ingin memulai ini dengan menanyakan kabarmu, tapi kita berdua tahu itu hanya akan jadi basa-basi klise. Kabarmu terlalu banyak beredar, datang dari asupan teman sekitar. Percuma, keluh batinku tiap kali melihat media sosial; kau tidak ada di daftar seluruh media sosialku tapi kau ada di semua pesan yang dikirim orang sekitarku. Namamu disebut paling tidak lima kali seminggu. Aku datang ke acara perayaan temanku dan teman yang duduk di depanku bergumam berkali-kali apa kau akan datang. Aku datang ke keriaan di kota yang kusukai dan kau, tanpa janji dan sebenarnya tertebak sekali, ada di sana. Orang yang jatuh cinta padaku mengajakku untuk pergi dengannya sambil menyebut namamu pula. Aku membeli minuman dingin di warung dan, tak ada angin tak ada hujan, penjualnya menyebutmu meski tanpa nama. Ini gila. Lama-lama aku akan memotong kupingku hanya agar lepas dari suara-suara yang tak kunjung henti menggemakan kau.

Kau mungkin sudah lupa bahwa berbulan lewat sejak terakhir kali kau membawakanku lili. Berbulan pula, aku ingat kata terakhir yang kau bilang padaku, bahwa kau bilang seharusnya aku benci padamu agar semua ini masuk akal. Kubilang, aku tidak. Aku tahu, hari itu saat kau melangkah pergi, kau sibuk dengan pikiran yang kau doktrin sendiri. Bahwa aku tidak cinta kau dan kau seharusnya benci aku. Doktrin yang akan selalu aku biarkan tumbuh meski saat melihat punggungmu menjauh aku merasa kakiku tidak lagi layak untuk menapak di bumi yang, sejak hari itu, seperti menelanmu jauh. Lilimu layu dalam seminggu kau pergi, Tuan, wajahku beranjak kuyu seketika, saat itu juga.

Aku bukan lagi matahari, aku berganti menjadi bulan dengan segala sisi yang jauh dan tak terlihat. Gelap.

Kepada Tuan yang (dulu) menganggapku matahari,

Kita memang sama-sama suka hujan, tapi aku pikir, aku hanya suka hujan jika kita sedang bersama. Aku jadi punya alasan untuk tak pulang. Tertahan. Untuk orang seambisius aku, ini satu-satunya jenis tertahan yang kusukai. Tapi mungkin kau lebih suka musim penghujan dibanding aku. Aku sudah dirundung musim penghujan berkepanjangan, beranjak menahun, dan kau hanya datang sekilas dalam masa yang kupikir akan membunuhku pelan-pelan. Ada rindu yang menelusup diam-diam meski selalu kutolak datang. Ada sakit yang tak bisa terhindar saat kau masuk ke bingkai mataku, dan suaramu—ah suaramu—halus menyeruak ke gendang telinga, yang rasanya ingin kusahut pada tiap jedanya, tapi tak bisa. Sial sekali. Padahal di cerita kita, kalaupun ada yang menulisnya, harusnya kau yang patah hati. Bukan aku. Siapa nyana malah begini. Sial. Dan kini, kau pasti menjalani hari menyalahkanku karena tidak mau hidup denganmu, sambil sibuk minum kopi dengan kekasihmu yang lain. Sementara aku hanya bisa memandang kalian dari luar semestamu dengan mata nanar.

Kepada Tuan yang menjelma matahariku,

Tiap senja datang, aku selalu ingat untuk menatap jingga. Membawaku padamu, mereka. Segalaku. Membuatku ingin lari. Jawab aku, bisa tidak semesta berhenti di penghujung dua ribu sepuluh?

  • http://sandityario.wordpress.com Priananda Sanditya

    Kok dada terasa berderit ya pas baca ini :(