Tanggung Jawab Kita

Dahulu, pada awal permulaan proses penciptaan, Allah ciptakan Adam Alaihissalam (AS) dengan segala kelebihan dan karunianya. Melimpah ruahnya kenikmatan dan ragam pengetahuan yang Allah ajarkan.  Semua itu adalah kesempurnaan ciptaan yang karenanya Allah perintahkan malaikat-malaikat bersujud kepadanya—manusia penghuni surga dan dunia, Adam AS; sujud yang bukan bermakna ketaatan antar makhluk namun ketundukan atas perintah Allah, Rabb semesta, yang telah menciptakan keduanya.

Kelak, dengan kuasa-Nya, Allah jadikan Adam AS sebagai pemimpin pembangun peradaban di halaman-halaman bumi ini, jabatan khusus yang dulu sekali pernah ditolak matahari dan bagian semesta lainnya karena khawatir sekujur tubuh mereka terguncang, membelah dan hancur berserak sebab beratnya mengemban tanggung jawab itu.

Berselang masa berlalu, Allah ciptakan Hawa AS sebagai insan pendamping bagi Adam AS, penyejuk relung-relung jiwanya yang sesekali sepi karena nafsu, sekaligus pendukung semangat tugas kenabian dan kekhalifahan Adam AS di dunia. Oleh Allah, diciptakan Hawa AS dari belulang sulbi, agar Bunda Hawa dapat begitu dekat untuk dicintai selalu, pun tidak begitu jauh bila hendak dilindungi.

Kini tatkala lembar lapisan bumi berjuta-juta tahun lamanya bergerak menyebar ke segala arah, saling menumbuk membentuk gundukan baru di permukaan dan memisah membuat palung-palung lebar menajam ke bawah, Allah ciptakan kita. Manusia yang tidak ‘sesempurna’ para pendahulunya nan bertubuh kokoh, tinggi menjulang lagi berusia panjang. Melalui rahim bunda kita, Allah sambungkan belulang-belulang mungil itu dengan serat otot yang kian melemah sejalan dengan lonjakan waktu. Daging nan mudah koyak terluka serta kulit nan akan mengkerut. Hangus diterpa zaman, ketika tubuh kita di akhir hidup nanti, akan serentan saat pertama kita dilahirkan.

Sayangnya, beragam “keterbatasan” yang kita miliki dituntut mampu untuk menyelesaikan masalah hasil rekayasa dari bumi yang menua. Dari golongan manusia lain, kita dapati sebutan pemuda/pemudi. Golongan ini sebenarnya begitu dibangga-banggakan oleh para Nabi. Semenjak Nabi Adam AS diciptakan sampai nabi akhir zaman Rasulullah Muhammad SAW. Merekalah para pengusung utama risalah ambiya. Jumlahnya dominan, peranannya optimal, dinamisme pergerakannya progresif, dan nafas semangat perjuangannya relatif panjang.

Tentu kita ingat pemilik sebutan pemuda/pemudi itu. Ialah Ibrahim AS di antaranya—sosok mulia yang Allah hadirkan di tengah-tengah umat nan bangga akan (keterbatasan) akal dan logikanya, pemuda pandai lagi saleh dari dataran kota Mekkah masa lalu. Dengan ketaatan yang sungguh kepada Allah dan dengan kedua tangan, beliau menyeret tanah berhala buatan sang Ayah yang diniagakan, sebagai tanda kerendahan si berhala serta bukti ketidakkuasaan hasil kreasi ayah beliau tersebut. Begitupun dengan matahari, bulan dan bintang, tiga makhluk yang seharusnya tidak menjadi sesembahan. Dilugaskan oleh beliau bahwa matahari bukanlah Tuhan yang menciptkan alam raya, bulan bukanlah Rabb yang senantiasa menjaga makhluk-Nya, dan bintang bukanlah Sang Penguasa atas kerunutan kerja-kerja kompleks (rumit) seluruh semesta. Mereka hanyalah ciptaan; akan terbenam ketika giliran tiba. Dan tentu saja, berhala itu; seandainya dia adalah Tuhan, dia akan meronta, menolak perlakuan semena-mena atas dirinya atau bahkan menjatuhkan hukum/azab atas manusia yang menyeretnya. Seharusnya dia berkehendak dan berkuasa tanpa tandingan.

Di lain kesempatan, beliau ambrukkan sekaligus kesombongan umatnya atas akal yang mereka punya beserta berhala-berhala di kuil sesembahan hingga tersisa satu: yang paling besar, yang paling dianggap sebagai pemimpin oleh umatnya atas berhala-berhala lain. Ibrahim AS ditangkap, dicerca, dan dihukum. Sementara itu, berhala-berhala sembahan itu tinggal hancur sekeping-keping tanpa ada daya dan yang terbesar justru sedang menanggung beban atas “kesalahannya”, tertuduh sebagai penghancur berhala yang lain.

Namun, saat ini kita harus berhadapan dengan pemuda/pemudi yang berseberang sisi dengan Ibrahim AS. Mereka gamang dengan agamanya. Meronta-ronta menolak hukum syar’i yang telah ditetapkan oleh para ulama. Memaksa mencari celah kemudian menjadikannya tawa canda serta cercaan—terhadap hukum juga ulamanya.

“Ketika si pandir berfatwa, padahal hafalan Al-Quran nggak seberapa. Cuma mampu satu atau dua Surat biasanya. Dua atau tiga juz sudah merasa istimewa. Hadits pun cuma satu-dua, tanpa tahu sanad lengkap dan keutuhan bunyinya. Belum lagi ibadah yang apa adanya. Shalat secukupnya. Puasa belum istiqomah. Qiyamullail sesekali asal tak lupa. Ushul fiqh tak pernah terjamah. Pelajaran fiqh enggan dijumpa. Tiba-tiba bersuara, berkata semampu logika. Sekadar “aku pikir, aku rasa” maka rusaklah agama. Nestapa umat di akhirat karena ikut lisannya. Sementara tanpa sadar, sebagian dari tubuhnya telah bersiap berkemul dan hangus karena api neraka, sebagaimana yang terjadi atas Abu Lahab dan istrinya. Naudzubillahimindzalik, tsumma naudzubillah.

Namun di atas semua masalah itu, aku letakkan segala syukur kepada Allah, Rabb sang pemilik segala ke-Maha-an. Allah hadiahkan dirimu, Sayang, untuk melengkapi seluruh hidupku. Semenjak di dunia hingga akhirat nantinya. Bersama dengan romantisme dan cinta, engkau kokohkan perjalanan kita. Agar senantiasa berada dalam ketaatan dan keutamaan beribadah. Menguatkan keutuhan beragama di dalam keluarga, menciptakan kesalehan-kesalehan internal, serta memantapkan keimanan di setiap lini harian kita. Bertahap, esok kita mekarkan jangkauan capaian kita. Kita sebarkan kesalehan kita. Membaginya untuk masyarakat dan negara. Merubahnya menjadinya kesalehan sosial dan kesalehan bangsa. Sebagaimana Adam AS. dan Hawa. Sebagaimana pula Muhammad SAW beserta Khodijah dan Aisyah. Bersama dengan anak kita, generasi ketiga yang akan kembali mewariskan dan melanjutkan amanah sebagai seorang manusia (kholifah), pemimpin pembangun peradaban. Sebab, itu adalah tanggung jawab kita.