Khuldi

Aku pernah bertemu Iblis. Kalian tak percaya? Baiklah, aku tidak akan memaksa kalian percaya. Tapi kalau boleh bersumpah demi apapun, aku tidak berbohong.

Saat pertemuan pertama kami itu, aku sedang berjalan-jalan di bundaran Taman Kuala Kencana, sebuah negara di dalam kota Timika yang dibangun dari emas-emas Indonesia yang dikirim ke luar negeri. Sendirian. Kesepian. Sebab hatiku sedang jatuh. Aku patah hati. Kulihat dia, Iblis itu, sedang duduk begitu khusuk memperhatikan sepasang kekasih yang berpelukan di kursi taman yang berseberangan dengannya. Tangannya bersedekap di dada, matanya tak lepas dari sepasang kekasih yang sudah tak lagi hanya berpelukan, mulai melakukan ritual yang … ah, rasanya tak pantas untuk kusebutkan. Awalnya, kukira dia adalah kekasih dari gadis yang sedang dicumbu itu, sedang mencari momentum yang tepat untuk mendaratkan kepalan di mata laki-laki yang mencumbui kekasihnya. Untuk beberapa saat aku masih mengira seperti itu, hingga sebuah suara yang entah berasal darimana berdengung di kepalaku.

“Kalau kau begitu penasarannya padaku, lebih baik datanglah dan duduk di sebelahku, jangan mengintaiku seperti itu! Tidak ada jawaban yang akan kau temukan dari sana. Cepat kemari!”

Aku begitu yakin suara itu berasal darinya. Aku juga tak tahu sirep apa yang digunakannya padaku,  tapi aku bukan Kapimoda, wanara tua yang tak mempan guna-guna karena lebih tua dari sirep Indrajit seperti yang diceritakan Walmiki. Maka ilmu apapun itu telah berhasil mengundangku datang dan duduk di sebelahnya, saat itulah aku menyadari kalau dia itu Iblis.

“Bagaimana kau tahu kalau aku ini Iblis?” Iblis itu bertanya. Bibirnya tak bergerak, tapi dia bersuara, suara yang berdenging di dalam kepalaku.

“Hanya Iblis dan ibuk yang bisa membaca pikiranku. Kau bukan ibuk, jadi kau pasti Iblis,” mataku ikut memperhatikan sepasang kekasih itu. Laki-laki di depanku itu mulai menjamah payudara gadis yang barangkali dicintainya. Ada geliat yang aneh dari gadis itu, seperti kenyamanan yang sangat tidak nyaman.  Aku memandang dadaku sendiri, memang seperti apa rasanya?

“Malaikat juga bisa. Apa kau tak percaya malaikat, Nak?” dia bertanya lagi, masih dari dalam otakku.

“Aku manusia, tak ada malaikat yang mau menampakkan diri pada manusia kecuali Jibril. Itu juga kalau aku nabi,  tapi aku bukan nabi. Jadi kau juga pasti bukan Jibril.”

Iblis tertawa di dalam kepalaku, tapi hanya sesungging senyum yang terpoles di wajahnya, “yayaya, aku memang Iblis. Kau pintar, seperti ibumu.”

“Lalu kau sedang apa?” aku bertanya.

“Bertaruh dengan Izrail, kau lihat kakek berpakaian hitam di sebelah kanan kursi taman itu? Dia Izrail.”

Aku menoleh ke arah yang ditunjukkan ekor matanya, seorang kakek berpakaian hitam duduk di sana. Aku tak mengerti apa yang sedang dipertaruhkan, tapi Izrail di seberang sana terlihat begitu gelisah.

“Kami bertaruh laki-laki itu akan mati dalam keadaan yang bagaimana, Izrail bilang dia akan menahan nafsunya dan mati sebagai laki-laki bermoral, tentu saja aku bilang sebaliknya. Sepertinya kali ini aku menang lagi,” kali ini dia melihat mataku. Tatapannya  dingin, membuatku merinding.

Iblis itu beranjak dari tempat duduknya, kakek tua di seberang sana juga melakukan hal  yang sama. “Sudah, mari pergi dari sini, kamu tak akan ingin melihat kejadian setelah ini.”

Tak lama kemudian kudengar jeritan wanita dari belakang punggungku.

“Jangan menoleh! Izrail tak suka dilihat saat bertugas,” Iblis lagi-lagi masuk ke kepalaku tanpa ijin terlebih dahulu. Dia melihatku dengan tersenyum, “kau punya mata ibumu nak.”

***

Tidak, bukan hanya sekali itu kami bertemu. Pada hari Jumat dua bulan kemudian, dimana langit begitu sedang gembira, aku melihatnya di dalam masjid sedang mendengarkan khutbah Jumat. Iblis itu menyamar dengan sangat baik diantara manusia-manusia yang sedang khusyuk berdoa, memakai jubah putih panjang dan entah bagaimana caranya, jenggotnya sudah sebesar sarang lebah. Tapi aku masih mengenalinya, dia tidak akan bisa menipu mataku. Hanya saja aku tak tahu kenapa pembangkang sepertinya berada di sana menghadap pada Tuhan? Tapi apa ibadah Iblis yang telah ditetapkan menghuni neraka seperti itu bisa diterima? Kenapa dia tidak terbakar? Seluruh pertanyaan itu berlari-lari di dalam otakku dan mengusik waktu ibadah jumatku. Aku jadi kesal padanya.

Setelah berdoa cukup lama untuk kesehatan ibuku (aku tidak akan mengatakan padamu kalau aku berdoa agar gadis itu kembali padaku), aku menghampiri Iblis itu yang masih terlihat begitu syahdu berdoa. Entah apa yang dibaca olehnya, apapun itu aku tak boleh mengganggu orang – juga Iblis – yang sedang berdoa. Makanya aku menunggunya menyelesaikan ritual batinnya itu. Tak lama dia membuka mata dan tersenyum padaku.

“Oh, kamu. Kita bertemu lagi, bagaimana kabarmu nak?”

“Tidak baik, kau menggganggu ibadahku. Aku tahu memang begitu saja kerjamu, mengganggu manusia  hingga nanti langit merekah. Tapi tidak bisakah kau mencari orang lain saja untuk kau buat masuk neraka? Lagipula kenapa kau ada di sini? Memangnya Iblis sepertimu mau beribadah?”

“Hahaha, menurutmu aku tidak boleh beribadah? Aku ini munafik, kamu tidak tahu kalau Iblis itu munafik? Aku sedang berbohong, menipu diriku sendiri agar bagian diriku yang tadi kau bilang pembangkang itu percaya kalau aku ini tunduk pada Tuanku. Lalu kamu? Sedang apa kamu disini? Sedang berbohong juga?”

“Tentu saja beribadah. Aku bukan sepertimu yang sudah dipastikan tempatnya nanti pada hari kiamat. Aku tidak punya sedikitpun keinginan berada di neraka bersamamu selamanya nanti.”

Dia tertawa begitu keras menarik perhatian seisi masjid, “Nak, Tuanku itu bercanda. Biar kuberitahukan padamu, surga dan neraka itu tidak ada. Nanti kau hanya mengantri untuk memasuki dunia abadi, siapa yang datang lebih dulu boleh mengambil tempat yang dia sukai. Jadi, kalau kamu mau tempat yang kamu inginkan, cabut nyawamu sekarang.”

“Bohong!” Aku berteriak spontan, aku tak terima siapapun membelokkan kepercayaanku seperti itu, biar Iblis sekalipun! Beberapa orang menatap kami sekali lagi, barangkali bagi mereka kami adalah pasangan homoseksual sedang bertengkar. Tapi aku tak peduli.

“Anggaplah benar bahwa aku pasti akan dimasukkan ke dalam neraka, maka jika aku beribadah atau membocorkan rahasia Tuanku itu tak akan ada bedanya, aku tak peduli Nak. Buat apa aku membohongimu?”

“Sebab kau munafik! Dan kau ingin aku menemanimu di neraka nanti! Ya benar, kau bilang sendiri padaku kalau kau munafik! Kamu pasti berbohong!” Aku beranjak pergi. Meninggalkan Iblis tukang bohong itu.

Iblis itu makin kencang tertawa, “hahahahahah, terserah nak, kau boleh percaya padaku, tak percaya pun aku tak akan marah. Terserah.”

Pada satu kesempatan sekedipan mata aku mencuri lihat lagi pada Iblis itu. Iblis itu tak beranjak dari tempatnya bersila, dia tampak melanjutkan doanya dengan sangat khusyuk. Sepanjang perjalanan aku memikirkan kata-katanya. Apa ketaatanku sekarang ini hanya karena aku sedang patah hati? Dengan alasan seperti itu apakah berarti ketaatanku ini palsu? Apa aku juga munafik? Apa surga dan neraka cuma omong kosong? Ah, sudahlah. Biar saja. Tak ada gunanya bukan mendengarkan perkataan moyang setan.

***

Angin di atas jembatan ini terasa menghantam tubuhku dengan sangat tergesa. Seakan mereka menyuruhku lekas-lekas melompat dan tenggelam ke dasar liuk-lekuk sungai Pomako, ditelan ikan gabus raksasa lalu hilang seperti penumpang pesawat yang jatuh. Aku sendiri masih menimbang-nimbang, mana diantara pilihan-pilihan di dalam otakku yang lebih berat, menjalani hidup dengan kenyataan gadisku itu akan menikah dengan orang lain bulan depan, atau melompat ke dasar sungai  dan berharap aku masih di antrian depan untuk  memilih tempatku di surga.

Tunggu dulu, bagaimana bisa aku mengatakan hal itu,  bahwa aku berharap mendapat antrian depan? Brengsek, Iblis itu pasti di sekitar sini dan kembali memasuki kepalaku. Gila, apa keimananku seburuk itu, hingga Iblis itu begitu leluasa memasuki kepalaku ini? Kuputar perhatianku ke seluruh sudut yang bisa dilihat mataku, mencari Iblis itu yang entah akan datang darimana.

“Jadi kau sudah ingin mati?” Iblis itu sudah berdiri di sebelah kananku, mulutnya mengunyah entah apa. Tapi dari bibirnya  yang begitu merekah merah kurasa dia sedang mengunyah buah pinang.

“Kau mengunyah pinang?” Aku balik bertanya. Aku masih juga heran dengan kebiasaan mengunyah pinang. Sudah pernah kucoba  dan rasanya jauh dari menyenangkan di dalam mulutku.

“Aku harus berbaur nak,” katanya  sambil meludah, ludah merah yang seperti darah. “Kamu mau mendengarkan ceritaku lagi?”

“Kebohongan macam apa lagi? Ceritakan saja sesukamu,” tanyaku tak peduli.

“Aku tidak pernah mencoba membohongimu, nak. Tapi barangkali buku-buku yang kamu baca telah menuliskanku sebagai pembohong terbesar dalam sejarah. Jadi kukatakan sekali lagi, terserah padamu percaya atau tidak. Aku pernah seperti dirimu, mencintai seseorang yang bahkan sedari lahir sudah ditetapkan bukan sebagai tulang rusukku. Aku sejak awal sudah tahu, Tuanku juga tahu, tapi aku tetap saja jatuh cinta, dan menurutmu siapa lagi yang membiarkan cinta itu menghutan di dalam dadaku? Ya, Tuanku itu biang keladinya. Aku kesal, jadi kubuat gadis itu dan kekasihnya terusir dari surga. Namun, pada akhirnya aku meminta pada Tuanku itu agar ikut diusir juga dari surga, agar aku tetap bisa melihat gadis itu. Aku begitu mencintai gadis itu, sangat mencintainya. Hingga aku bertemu ibumu di bumi …,”

Iblis itu mengakhiri kalimatnya sendiri yang kurasa belum sampai pada akhirnya. Barangkali dia tahu aku tak akan menyukai kelanjutan ceritanya.

Itu sudah keterlaluan. Dia boleh berbohong tentang surga, tentang neraka, tentang apapun di dunia ini, kecuali ibuku. Tak ada yang boleh membual tentang ibuku. Aku ingin mendorongnya jatuh ke dasar sungai, tapi buat apa? Toh dia Iblis, tak akan mati.

“Ya … ya … ya … Kamu boleh mendorongku ke sungai itu. Aku tak akan marah, aku hanya ingin membantumu, bunuh diri tidak akan menyelesaikan apa-apa. Jin sungai ini dengan senang hati akan menyerupaimu dan membuatmu seolah menjadi penunggu sungai yang mati bunuh diri. Kamu hanya akan menjadi korban fitnah yang tak pernah bisa menjelaskan apa-apa.”

Aku diam.

“Kamu tahu nak, alasan Adam dan gadis itu tak bisa secepatnya kembali ke surga? Sebab mereka harus memakan buah itu sekali lagi untuk kembali, buah yang kuberikan pada mereka itu. Mereka terus mencari dan tetap saja sia-sia. Tapi aku membawakannya untukmu. Sebelum pergi dulu, aku membawa turun ke bumi dua buah.” Iblis itu menyodorkan dua buah apel padaku.

“Untuk apa kau berikan padaku?” Aku akhirnya bertanya.

“Pertanyaan apa itu? Tak ada ayah yang membiarkan anaknya bunuh diri, Nak. Kau pegang buah ini, lakukan semua yang kamu ingin lakukan dengan buah ini. Berikan pada gadis itu dan makanlah sendiri, agar kalian berdua pergi ke surga, tapi jangan bunuh diri. Aku pergi. Oh ya, itu bukan apel.”

Dia menghilang, meninggalkanku yang tak tahu harus berbuat apa.Terlepas dari dia Iblis dan mengaku-ngaku menjadi ayahku, kata-katanya ada benarnya juga. Tak ada gunanya aku bunuh diri. Tapi apel ini mau kubuat apa? Apa iya ini apel? Eh, tadi dia bilang apa? Dia ayahku?

***

Sementara itu, sepotong apel tergeletak di meja tamu seorang gadis ketika calon suaminya datang malam Minggu. Melihat apel segar, tanpa bertanya laki-laki itu langsung memakannya.

Gadis yang sebentar lagi menikah itu datang membawa minuman, laki-laki itu bertanya, “Ini apel beli dimana? Enak.”

“Oh, itu dari mantan pacarku.”

 

 

Timika, 18 Januari  2015

  • http://sandityario.wordpress.com/ Priananda Sanditya

    Bagus. Selalu menyenangkan membaca cerpen bikinan Mas Cahya ini :)

  • http://cahyabagushere.blogspot.com cahyabagus

    duh, terima kasih..:)