Dalam Diam

“Lho, jadi sekarang kamu sama dia?” Gurau Sugeng pada Rustri dan Sembadra yang kala itu, secara kebetulan, jalan berduaan ke arah parkiran, sepulang kerja. Keduanya kompak membalas dengan senyum simpul, lantas beranjak pergi. Mereka bertiga teman seangkatan, mulai bekerja sejak lima tahun lalu di KUD Inti Murni Pati.

“Gimana kabar? Kamu masih sama mas mantri itu?” Ucap Sembadra. Sekadar kalimat tanya basa-basi untuk mencairkan suasana, mengingat masih ada sekitar dua ratus meter jalan yang memisahkan mereka dengan parkiran. Tentu tak elok apabila diisi dengan saling berdiam diri. Oh ya, sekadar info, Sembadra tak begitu mengenal Rustri. Mereka dahulu sempat sekelas saat kuliah, tapi tak bisa dikatakan dekat. Tak sering bicara, meski saling mengikuti di social media. Yang Sembadra tahu, Rusti sangat menggemari musik metal, sementara di sisi lain ia seorang muslimah yang taat. Biasa saja, toh keduanya tak saling berkaitan. Sembadra tak mau bersikap seperti orang kebanyakan. Di zaman itu, masih banyak orang yang menganggap musik metal sebagai musik setan. Entah kalau sekarang.

“Masih,” jawab Rustri singkat. “Kamu gimana, masih sama Laksmi?” Lanjutnya cepat tanpa sempat memberi Sembadra waktu untuk bertanya lebih lanjut.

“Masih,” jawab Sembadra.

“Jadinya kalian kapan nih?”

Sembadra tahu, ini pasti urusan perkimpoian. “Dua tahun lagi, Insya Allah,” jawabnya.

“Lho, gak mau dipercepat?”

“Ya itu kan baru rencana. Kalau Tuhan menghendaki, bisa lebih cepat, bisa juga lebih lama. Siapa yang tahu, tho?”

“Oh iya, setuju. Jadi keluargamu dan Laksmi udah saling kenal dong pastinya?”

“Hm … Laksmi sih udah dua kali ke Grobogan, nginep di rumahku. Aku kasih tau nih, dia gak ngeluh lho pas harus nglewatin jalan ke desaku. Jalan yang rusak parah itu, yang dari dulu gak pernah dibenerin sama Pak Bupati. Ah, mungkin kepeduliannya tak sebesar lingkar perutnya. Aku juga udah, kalau ga salah, sembilan kali mengunjungi Rembang. Sejak sawah di sana masih ribuan hektar luasnya. Sampai ketika, katanya, sebagian besar sudah digusur demi proyek pabrik PT. Semen Indonesia. Di semua kesempatan itu, aku nginep di rumah Laksmi juga.”

“Wah, udah deket banget dong ya,” tukas Rustri dengan agak terkejut setelah mendengar jawaban Sembadra barusan. Sembilan kali, menginap di kediaman orangtua Laksmi pula.

“Ya, bisa dibilang begitu. Keluarganya ramah banget, pertama kali aku kesana, ibunya bahkan langsung nyambut pake cipika-cipiki. Bapaknya baik, adik perempuannya cantikā€”

“Trus, kalau boleh tahu, kenapa kamu musti buat dia nunggu dua tahun lagi? Setahuku, kalian udah pacaran lama, kan ya?” Tetiba topik perkawinan membuat suasana mencair dan percakapan terus mengalir.

Sembadra tersenyum sejenak lantas berkata, “Ya kalau bapakku sih emang orangnya suka bercanda ya. Dia bilang, kalau aku mau, ngelamar ke Rembang besok lusa pun dia sanggupi. Tapi ibuku berbeda, katanya aku harus fokus menikmati hasil kerjaku dulu, sebelum penghasilanku terpakai untuk menafkahi anak-istriku kelak. Rasa-rasanya, aku setuju akan hal itu.”

“Eh, tapi anak-anak kampus kita itu emang pada cepet-cepet nikah ya. Jadi bikin iri,” Rustri mencoba melebarkan topik pembicaraan.

“Begini, Rus. Aku percaya, bahagia itu banyak macam juga bentuknya. Bahagianya mereka, mungkin, bisa menikah lebih dini. Sementara bahagiaku, contohnya, bisa mengumpulkan biaya nikah dan DP rumah, sebelum menikah Laksmi dua tahun lagi. Jadi, kenapa harus iri?”

“Aku bercanda kali, ah kamu serius amat!” Ucap Rustri sambil menepuk bahu lelaki itu. Tak terasa mereka telah sampai di parkiran, menuju ke motornya masing-masing. Rustri dengan motor matic berbagasi luasnya, Sembrada dengan motor sport 250cc-nya.

“Hati-hati ya!” Keduanya mengucap hal yang sama sembari saling melempar senyuman.

Diam-diam Rustri kecewa. Ia telah menyukai Laksmi sejak lama.

***

Post Scriptum:

Lahan persawahan hendak diubah jadi pabrik semen di Rembang merupakan peristiwa nyata. Beritanya bisa dibaca lewat tautan ini atau cari saja tagar #SaveRembang di Twitter.

Catatan Redaksi:

Bertepatan dengan Hari Kasih Sayang sedunia, 14 Februari 2015 kemarin, Melanie Subono mempetisi Ganjar Pranowo (Gubernur Jawa Tengah) dan Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc. (Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan) dengan tuntutan “Hentikan operasi pabrik semen yang menggusur warga di Pegunungan Kendeng, Rembang, Jawa Tengah!”. Forum Komunikasi Masyarakat Agraris (FKMA) juga membuat flyer yang apik yang bisa di-download di sini.