Catatan tentang Sebuah Kepulangan (2)

Bagian II: Kenyataan Dalam Buku Harian (habis)

“Eyang kakungmu belum meninggal, Tih.”

Papa menunjuk sebuah buku harian di meja kamar rumah sakit yang papa tempati.

“Ratih simpan buku itu, Ratih baca nanti di rumah. Papa malu, papa takut Ratih benci sama papa.”

Aku hanya mengangguk, keadaan seperti ini membuatku tak ingin mendebat papa. Tentang apapun.

“Sekarang Ratih pulang, Papa ingin istirahat. Tolong sebelum pulang, Ratih bilang sama Suster Rima untuk jaga papa. Biar Ratih tenang pulang ke rumah. Sudah malam, besok, Ratih praktek pagi, kan?”

Papa menghela nafas, matanya sudah terpejam.

Papa memang begitu sejak dulu. Selalu memberi perintah tanpa mengkonfirmasi jawaban lawan bicaranya. Menegaskan pada setiap orang di depannya, titahnya bagai Raja Hayam Wuruk. Tak pernah boleh dijawab dengan gelengan.

Pintu kamar rumah sakit itu tetap berderit walau sudah kututup begitu perlahan. Mataku mencuri lihat ke tubuh papa yang berbalut selimut rumah sakit. Syukurlah, papa masih terpejam.

Kakiku melangkah menyusuri lorong sepanjang rumah sakit. Entah kenapa rumah sakit semahal apapun tetap memiliki aura yang begitu mencekam. Selalu kudapati mata-mata tak terlihat yang sedang mengawasi, seakan-akan aku ini ancaman. Padahal kalau mata-mata itu memang ada, bukankah aku yang seharusnya merasa terancam?

Tujuanku jelas, ruangan suster. Aku harus mencari Suster Rima sesuai perintah papa. Setelah kusampaikan pesan papa, Suster Rima mengangguk dengan ramah. Aku kira mungkin dia tak berani menolak, papa relasi dekat Om Rudi, pemilik rumah sakit ini. Maka menolak keinginan papa sama saja bunuh diri.

Setelah menyapa semua suster, aku berjalan keluar. Buku harian Papa sudah kubawa. Suster Rima menemaniku hingga halaman tempat mobilku terparkir.

“Buat beli susu Dik Anton,” kataku saat menyelipkan lima lembar uang seratus ribuan di tangannya, Suster Rima tersenyum lalu berterima kasih.

Dia tahu, pemberianku tak boleh ditolak atau aku akan marah besar. Lagipula uang itu bukan hinaan, bukan juga sogokan. Hanya sekedar ucapan terima kasihku padanya karena menjaga papa dengan begitu sabar. Papa itu menjengkelkan, papa hanya mau dijaga oleh Suster Rima, yang lain tidak. Kalau begitu kan aku jadi tidak enak hati pada suster yang satu ini, dan dia akan makin tidak enak hati padaku jika terus menerima pemberianku.

“Suster yang lain galak,” begitu kata papa saat kutanyai alasan kenapa harus suster Rima. Seperti anak kecil kan? Padahal umur papa sudah lima puluh sembilan.

“Oh ya, Suster, tolong beritahukan bagian maintenance, pintu kamar papa berderit. Besok kalau Om Rudi masuk ke kamar dan tahu pintu itu berderit, bakalan jadi masalah,” kataku sebelum masuk ke dalam mobil.

Kulihat suster Rima tersenyum dan mengangguk. Kubuka kaca mobil, menganggukkan kepala dan balas tersenyum.

***

Di dalam mobil, otakku menjelajahi dunia dalam dirinya sendiri. Meletakkan tubuhku di tengah jembatan panjang selebar rambut di antara bentang-bentang kabut. Pertanyaan-pertanyaan menjerit-jerit meminta jawaban dari bawah jembatan. Membaur bersama halimun, kuhisap masuk ke dalam paru-paru dan membuatnya sedemikian sesak.

Di mana aku bisa menemukan jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan yang menjerit itu? Di mana eyangku sekarang? Apa maksud papa memberikan buku harian itu padaku? Kenapa pintu rumah sakit itu berderit? Apa arti senyuman Suster Rima? Di mana bisa kutemukan semua jawaban itu? Di ujung jembatan? Bukankah cerita-cerita mengatakan jembatan yang seperti ini berujung surga? Apa aku harus menuju surga? Kenapa aku memikirkan surga?

Setengah jam kemudian aku sampai di rumah. Kurebahkan badanku dan mencoba melewati jembatan-jembatan surga itu. Hingga aku teringat buku harian papa.

Ringkas kubongkar tasku dan memungut buku terlantar itu dari dalamnya. Kuhela nafas kuat barang dua kali, lalu mulai membaca. Lembar-lembar pertama buku harian papa tidak menarik, berisi keluhan papa tentang pekerjaannya. Hingga mataku berhenti pada satu tanggal dengan nama eyang di dalamnya, Suyatno.

5 Juni 1993

Pak, maafkan Yanto, Pak. Yanto tidak punya pilihan lain. Kematian Ibuk melantakkan kehidupan Bapak dengan begitu telak. Kenangan tak pernah lagi bersahabat. Sejak itu Bapak terus berdoa agar senja datang lebih cepat dan kau bisa berhenti mengingat. Setiap repih-repihnya yang berserak, Bapak injak demi menghukum diri sendiri atas kematian Ibuk. Berkali-kali kukatakan kematian Ibuk itu jalan terbaik dari Tuhan. Tapi Bapak tidak pernah mau peduli, Bapak terus meraung-raung, dan aku tak pernah bisa melakukan apa-apa.

Istriku ketakutan, Pak.

Bapak tahu kan, aku tidak sering ada di rumah. Menggantikan posisi Bapak mengurus perusahaan ini, tidak mengijinkanku berdiam di rumah.

Kasihan istriku, Pak, kasihan Ratih juga. Ratih juga ketakutan. Aku tidak tega melihat mereka berdua. Maaf, Pak, anakmu ini durhaka. Aku tak pantas menjadi anak satu-satunya Suyatno Guntur Prawiro. Apa kamu akan mengutukku, Pak?

Eyang Kakung, masih lekat kuingat memanggilnya begitu. Walaupun wajahnya hanya terbayang samar-samar di kepalaku berkat foto-foto dalam album abu-abu yang begitu berdebu. Mama selalu mengatakan padaku kalau eyang sudah meninggal. Mama juga selalu berpesan untuk tidak menanyakan apapun tentang eyang pada papa.

“Mama tidak mau papa sedih,” begitu kata mama. Dan aku selalu mengiyakan. Lagipula aku juga tak ingin melihat papa menangis.

Apa alasan mama mengarang kematian eyang kakung? Sayangnya, aku tidak bisa menanyakan apapun pada mama, mama meninggal enam tahun yang lalu. Kanker otak. Salah satu alasan yang membuatku bersikeras pada papa bahwa aku ingin jadi dokter.

“Pa, mama nyusul eyang kakung ke surga ya pa?” Fahmi, adikku, menanyakannya begitu saja pada papa. Di depan jenazah mama.

Papa terlihat begitu terpukul, suami mana yang tidak terpukul saat melihat kematian istrinya? Mama menepati janjinya saat bersumpah di gereja, hanya maut yang bisa memisahkan mama dan papa.

“Siapa bilang eyang sudah ke surga sayang?” Papa bertanya.

“Mama,” Fahmi menjawab pelan, matanya begitu lekat pada jasad mama yang terbujur kaku di kamar jenazah saat itu.

Aku lupa menyampaikan pesan mama pada Fahmi, atau barangkali Fahmi yang lupa mengingat pesan mama padanya. Tapi aku diam, sebab papa juga diam.

07 April 2008

Pak, berani-beraninya Yanti bilang pada Fahmi kalau Bapak sudah meninggal. Apa Yanti tidak ingat bagaimana Bapak menangis saat merestui pernikahan kami? Bagaimana bisa Yanti mengeluarkan kata-kata sampah macam itu, menyumpah Bapak seperti itu.

Duh Gusti. Maafkan Yanti, Pak, Yanto tidak bisa menasehatinya lagi. Yanti meninggal tadi pagi. Aku jadi tidak begitu peduli. Yanti kurang ajar. Malam ini, aku memilih berangkat ke Paris. Ratih marah besar padaku, dia bilang aku tidak sayang mamanya. Tapi aku tidak bisa mengatakan apa-apa.

Sudah cukup, Pak. Bulan depan sepulang dari Paris, aku akan membawa Bapak pulang ke rumah.

Ah ya, aku masih ingat betapa aku murka pada papa hari itu. Bagaimana tidak, belum sehari kematian mama, papa lebih memilih untuk pergi ke Paris mengurus bisnis daripada berkabung bersama kami. Papa hanya diam dan tetap saja pergi. Seingatku, kami, aku dan papa, tidak bercakap-cakap seminggu penuh setelah itu.

Tak ada eyang kakung di rumah setelah itu, tidak pernah ada.

***

Tiga bulan lalu, aku menerima telepon dari Om Bejo, tangan kanan papa di Paris. Sebenarnya namanya John, tapi papa bilang namanya tidak pas untuk orang Jawa, jadi papa memanggilnya Bejo. Tak ada protes, tak ada demonstrasi, sebab gaji Om Bejo naik tiga ratus kali lebih besar dari kenaikan harga Bahan Bakar Minyak. Om Bejo bilang papa pingsan di sana, besok papa dipulangkan ke Indonesia dengan penerbangan paling pagi. Om Bejo tidak mengatakan bagaimana kondisi papa, Om Bejo hanya bilang, “Semua baik-baik saja tih, papamu juga sudah siuman,” begitu katanya.

Kuhitung perbedaan waktu antara Paris dan Jakarta. Mengira-ngira jam berapa aku akan menjemput papa.

Sejak saat itu hingga hari ini papa terbaring di rumah sakit. Ya, Om Bejo berbohong, tidak ada yang namanya baik-baik saja. Papa sakit parah, yang tak kuketahui separah apa, juga menyerang bagian tubuh papa yang mana. Semua orang merahasiakannya. Bahkan pegawai lab tidak memberikan hasil pemeriksaan padaku. Tak ada jalan bagi ilmu kedokteran yang sudah kutamatkan untuk mencari tahu. Semua jalan diberi larangan lewat oleh Om Rudi, seakan-akan presiden sedang melintas dan tidak boleh ada siapapun yang mengganggu jalannya.

Tapi tak ada Presiden yang lewat, tak ada kemacetan, tak ada kepentingan negara. Hanya Papaku yang sedang sakit dan aku tak boleh mencari tahu. Aku bisa saja menerka gejala-gejala, mencari sebab dari akibat-akibat. Jangan lupa, aku tetap seorang dokter. Tapi hasil hipotesaku mengerikan. Aku berharap semuanya salah, dan menghujat analisaku sendiri.

07 Januari 2014

Pak, aku sekarat …

Sejak kematian mengambil haknya pada istriku, kupikul kewajiban untuk membenci hidupku sendiri. Barangkali kehidupan tak suka dibenci jadi dia menjauhiku. Dia membenciku juga.

Sekarang, kita lihat siapa yang lebih merindukanku, kehidupan atau Yanti. Sebentar lagi. Rasanya tak lama lagi aku bisa melihat siapa yang menang, siapa yang mendapatkanku.

Apa aku masih boleh merindukan Yanti, Pak?

Aku ini kualat ya, Pak?

***

Lembar berikutnya tersobek, dan lembar-lembar setelahnya kosong. Barangkali papa tak lagi cukup kuat untuk menulis. Atau Om Rudi menyimpan buku ini di laci, dan papa tak cukup kuat untuk berdiri. Meminta tolong pada suster? Mustahil, harga diri papa terlalu tinggi.

Aku mengulangi setiap halaman tulisan tangan papa. Mencari tahu kehidupan papa yang begitu rapat disembunyikan. Mencari tahu keberadaan eyangku sekarang.

Telepon genggamku berdering. Om Rudi.

“Ratih, ke rumah sakit sekarang!” Suara Om Rudi terdengar dari seberang saluran telepon. Dibuat begitu tenang dan terlalu dibuat-buat.

Bawa Fahmi juga!” lanjutnya.

Sesampai di sana, kamar papa kosong. Kutelepon Suster Rima, dia berkata aku sudah ditunggu Om Rudi di ruangannya. Apa papa naik meja operasi lagi? Aku berjalan menuju ruangan Om Rudi sendirian. Fahmi memang tak kuajak, adikku itu sudah tidur sejak aku tiba di rumah.

Om Rudi langsung memelukku saat aku masuk ke ruangannya. Seketika kedukaan menyeruak berebut masuk ke dalam dadaku. Suster Rima berbohong. Tak ada pembicaraan. Tak ada satupun diantara kami yang menyampaikan kata-kata. Sepi. Aku benci keheningan ini, membuatku begitu jelas mendengar tangisan air-air mata yang begitu erat mencengkeram pipi.

Semua orang pembohong! Om Bejo, Suster Rima, barangkali Om Rudi juga sedang membohongiku. Apa Om Rudi juga sedang berbohong?

“Papa di mana, Om? Aku ingin melihatnya,” kataku pada om Rudi. Masih kudengar tangisan air-air mata itu.

“Kamu kuat?” Om Rudi bertanya.

Aku hanya mengangguk. Apa yang perlu kutakutkan, bukankah Om Rudi sedang berbohong?

Kami berjalan ke ruang jenazah – seperti yang sudah kukira. Aku masih berharap Om Rudi sedang mencoba menyusun kebohongannya sesempurna mungkin. Tapi tidak, kurasa Om Rudi tidak berbohong. Di kamar jenazah itu, aku melihat tubuh papa ditutup kain putih. Sama persis seperti mama, enam tahun lalu. Apa-apaan ini, papa juga ikut berbohong?

Entah bagaimana lagi caranya untuk membedakan kebohongan dan kenyataan. Keduanya menyamar begitu kembar. Kepalaku menjadi cermin yang merefleksikan kebohongan-kebohongan dan kenyataan tanpa bisa menyimpulkan. Mana di antara keduanya yang hanya bayangan?

“Om Rudi, apa Om Rudi juga membaca buku harian papa?”

Om Rudi mengangguk. Matanya tak cukup kuat untuk melanjutkan kebohongannya.

“Papamu orang baik, Tih.”

“Apa dengan begini papa bahagia? Jika seluruh kehilangannya ini harus diakhiri dengan kematian?”

Om Rudi diam. Aku juga bungkam. Mataku terlalu sibuk memandang tubuh papa. Di sana, aku melihat saput yang berlapis-lapis. Kafan yang mengaburkan kematian, kematian menyamarkan kekosongan, kekosongan membalur rapat kehilangan-kehilangan, hingga tak ada yang tersisa untuk menyembunyikan kesedihan-kesedihan milikku. Sejak hari itu papa mewariskan padaku sebuah tanggungjawab yang ternyata tak cukup kuat dipikulnya: membenci kehidupan. Sebab buah tak pernah boleh menghianati pohonnya, kan?

***

Beberapa minggu setelah kematian papa.

Malam itu Om Rudi menyerahkan secarik kertas padaku, “Papamu pesan, kalau papamu kenapa-kenapa, kamu harus mengetahui alamat ini.”

“Eyang kakung?” Aku bertanya, Om Rudi hanya mengangguk.

Tanganku terulur begitu lambat, selambat minggu-minggu ini yang tak tahu harus kuhabiskan dengan cara apa. Aku tahu jantungku berdetak begitu menghentak, tapi aku tak mengerti, apa yang mendeburkannya sedemikian debar? Barangkali lipatan-lipatan kertas itu. Bagiku mereka terlihat begitu mengganggu, seperti mencoba menghalangiku untuk menemukan harapan bahwa tak ada yang harus dibenci dari kehidupan.

06 Juni 2014

Papa harap Ratih tidak membenci papa. Eyangmu masih hidup, Sayang. Mama berbohong, papa juga tak tahu apa alasan mama. Tapi papa mohon, maafkan papa, maafkan mamamu juga.

Ratih tolong papa ya, Sayang? Ratih bawa eyang pulang ke rumah. Apapun yang Ratih lihat nanti, Ratih tetap harus membawa eyang pulang ke rumah. Papa tulis alamat eyang di sini.

Salam sayang,

Papa

Nb. Ini alamat eyang, Ratih: Jalan Menur 120, Surabaya.

Aku berdiri. Om Rudi bertanya, “Mau ke mana?”

“Ke mana lagi.”

Om Rudi menggeleng, “Besok saja, sekarang sudah terlalu malam, kasian bapak jika dikunjungi semalam ini.”

Aku baru tahu, Om Rudi memanggil eyangku juga dengan sebutan bapak.

***

Pagi-pagi, Om Rudi mengantarkanku ke alamat itu. Aku memakai baju praktekku. Setelah dari sana, aku berencana ke rumah sakit, ada seorang anak kecil yang harus segera dioperasi. Leherku tercekat melihat tulisan di papan nama tempat itu yang begitu mengerikan. Rumah Sakit Jiwa. Gila, setelah sekian banyak kesedihan, Om Rudi masih juga mencoba membohongiku lagi!

Aku tidak mau ikut masuk ketika Om Rudi menemui pemilik rumah sakit ini. Menunggu di luar dan memperhatikan setiap orang tua yang lewat lebih menarik. Mungkin itu eyang, hanya kemungkinan itu yang berkelebat setiap melihat orang-orang tua yang lewat.

Om Rudi akhirnya keluar.

“Bapak ada di sana,” Om Rudi menunjuk seorang lelaki senja duduk di bawah pohon besar.

“Berjalan saja, jangan lari. Kamu akan membuat bapak ketakutan, Tih.”

Tangan om Rudi menahan tanganku saat aku bersiap lari.

Aku menurut, aku juga tak mau eyang takut. Rasanya kakiku melangkah begitu tergesa, tapi jarak yang ada antara aku dan eyang tak juga menghilang. Setelah menit yang terasa begitu lama, eyang sekarang berada di depanku. Aku hanya duduk menggenggam tangan eyang, aku tak ingin eyang pergi lagi.

“Kamu dokter baru? Kenapa datang sepagi ini?” Eyang bertanya. Tentu saja eyang tak mengenalku, eyang sudah di sini sejak aku berumur enam tahun.

“Tidak ada apa-apa, saya hanya ingin bertemu eyang,” rasanya mataku mulai panas.

“Siapa namamu, Cantik?” Tanya eyang. Ramah sekali.

Ingin aku memeluknya sekarang. Tapi aku hanya merangkul pundaknya dan menangis di sana.

“Ratih eyang, nama saya Ratih. Mulai sekarang saya yang menjaga eyang ya.”

“Oh, kamu yang menggantikan Dokter Bram. Duh, kenapa tidak dari dulu saja aku dirawat dokter secantik kamu, Nduk. Kamu harus berjanji padaku, aku harus sembuh. Bisa kan? Kenapa kamu menangis? Gadis yang sedang menangis itu jelek.”

Eyang mengurut punggung tanganku. Bertanya tanpa jeda, tangisku makin jadi. Eyang masih terus mengurut punggung tanganku, sedang aku tak tahu bagaimana caranya berhenti menangis.

Sejak saat itu aku selalu kesana setelah subuh hingga pukul tujuh. Menemani eyang kakung menghabiskan pagi. Dokter Bram, dokter jaga eyang yang sesungguhnya, belum membolehkanku membawa eyang pulang. Enam bulan lagi katanya, dan aku menurut. Dari dulu aku memang penurut, apalagi sesama dokter, aku cukup mengerti semua pertimbangannya.

Tiga bulan setelah rutinitasku bertemu eyang, Dokter Bram menelponku. Pukul lima pagi, saat aku hendak berangkat ke sana. Dokter Bram bilang eyang mencoba bunuh diri, merobek nadi tangan dengan jarum infus. Duniaku gelap sekali lagi, tiba-tiba selaput-selaput tipis kain kafan itu datang lagi di otakku. Apa aku harus benar-benar membenci kehidupan?

“Apa sih kerja suster-suster itu? Apa perlu aku menelepon Suster Rima untuk menjaga eyang?”

Air mata deras jatuh sepanjang perjalananku ke rumah sakit itu.

“Tinggal eyang, satu-satunya yang aku dan Fahmi punya. Aku baru menemuinya lagi selama tiga bulan, setelah dua puluh tahun! Jika eyang kakungku benar-benar meninggal, kubunuh suster itu satu-satu.”

“Eyang selamat, Dik Ratih, hanya saja masih belum siuman. Maafkan saya, ini kelalaian saya. Saya yang salah,” Dokter Bram meminta maaf padaku.

Aku tak tahu harus berkata apa. Tanganku gemetar menggenggam jari-jari keriput eyang yang terbujur di ranjang. Setidaknya sekarang aku tahu, nyawa pertama yang harus kulepas dari tubuhnya jika eyang tak tertolong.

Hari ketiga sejak percobaan bunuh diri itu, aku masih tidak kemana-mana. Rumah sakit tempatku praktek sudah memberiku ijin tak masuk hingga eyang sadar. Aku ingin menjadi orang yang pertama kali melihat eyang kakung membuka mata. Ya, hari itu juga keinginanku dikabulkan Tuhan, tak butuh waktu lama, aku menangis sejadinya-jadinya.

“Eyang harus pulang, eyang sudah sembuh. Aku tak peduli kata Dokter Bram, eyang sudah sembuh. Eyang mau ikut aku pulang kan, Eyang?” Aku sesenggukan di dada eyang kakung.

Kurasa tak ada satupun kata-kataku yang cukup jelas kuucapkan. Kukira juga, eyang tak akan cukup jelas mendengarnya. Aku sendiri tak cukup peduli, aku lebih sibuk bersyukur pada Tuhan melihat eyang kembali sadar. Tapi aku masih bisa dengan sangat jelas mendengar kata-kata eyang itu,

“Ini surga?”

 Timika, 01 Februari 2015

Cerita sebelumnya …