Catatan tentang Sebuah Kepulangan (1)

Bagian I: Cerita Dari Bawah Pohon

Suatu Minggu pada sebuah taman rumah sakit. Pagi bangun dari tidurnya yang tidak biasa. Kurasa aku cukup beruntung, di atas langit sedang ada matahari yang masih malu-malu, dan bulan yang belum ingin berlalu. Ibu langit itu memanaskan tungku besar di sebuah ufuk timur – sebab jika ufuk itu barat tentu aku tak akan berada di sini. Sedang bulan menjelma bocah kecil yang tak juga ingin tidur.

Baiklah, bulan dan matahari yang terlihat dalam satu bentang langit barangkali memang luar biasa. Tapi aku tak peduli. Menghirup udara pagi adalah “ketidakbiasaan yang luar biasa” yang sebenarnya untukku. Rasanya sejak pekerjaan-pekerjaan pada kertas dan laporan beberapa bulan ini terus menggelayut manja, belum sekalipun aku berjalan-jalan sepagi buta begini.

Mataku menjelajah di antara kesunyian yang berserakan, taman yang mati, dan udara-udara malam yang sedang menyublim, menyuling embun-embun untuk menyejukkan pagi. Tak seorang pun yang kutemui di sepanjang langkahku, hanya dua kepak kupu-kupu dan seekor kaki seribu di tepi selokan meringkuk penuh kesedihan yang barangkali bisa kusapa. Kaki seribu itu sepertinya kehilangan sepasang kaki. Lalu apakah namanya harus kuganti? Jadi kaki sembilan ratus sembilan puluh delapan, begitu?

Ah, sudahlah. Lagipula siapa juga yang mau berada di luar rumah sepagi buta ini selain aku. Barangkali gadis-gadis malam yang tak laku itu, tapi mustahil kan mereka ada di rumah sakit? Sejenak aku merasa jadi penguasa atas udara.

Langkahku terhenti pada sebuah kursi taman kayu di bawah pohon tua yang aku tak tahu namanya. Sebenarnya aku juga tidak mengetahui umur pohon itu. Kusebut saja dia tua, toh tak mungkin dia memakiku. Aku duduk di sana, merebahkan kaki-kakiku yang belum lelah. Jarak rumahku dengan taman ini tak sampai 200 meter, dan satpam rumah sakit ini adalah tetanggaku, karena itu aku bisa datang kemari pagi-pagi buta begini. Sebenarnya aku ingin mengatakan “merebahkan pantatku”, tapi entah kenapa bagian belakang tubuh itu tak begitu nyaman untuk disebutkan. Pamali kata ibuku.

Kubentangkan tangan selebar-lebarnya. Memasukkan udara segar pada kantong paru-paruku yang sudah menghisap terlalu banyak asap knalpot. Ini menyenangkan. Cobalah melakukannya jika kalian terbangun saat shalat subuh. Keluarlah sejenak dan hirup udara pagi saat itu kuat-kuat. Selama kalian tidak keluar di depan toilet umum, kalian akan mendapat pengalaman yang luar biasa. Setidaknya bagiku.

Tidak butuh waktu lama bagi otakku kehilangan fokusnya. Mataku sudah menerawang entah kemana, melintaskan banyak hal pada otak bebalku, benar-benar banyak. Beberapa adegan bahkan tidak benar-benar bisa terjadi. Jika kalian ingin mengetahui isi otakku saat itu, dengan senang hati akan kukatakan padamu.

Kucingku yang seharian kemarin tak juga bisa turun dari atap rumah, rekan kerjaku yang tiba-tiba badannya menggelembung dan meledak, seseorang di masa laluku yang entah di mana sekarang, kotak sampah berisi plastik pembungkus makan siangku yang masih terselip uang sepuluh ribu rupiah di dalamnya, tentang ibuku yang semakin menua, tentang sebuah rumah yang terbang di atas pesawat kertas, juga sebuah apel yang ternyata rumah kontrakan seekor ulat.

Rasanya tak ada satupun yang berguna bagi kalian, kecuali kalian buru-buru mengorek tempat sampahku dan mengambil uang sepuluh ribu rupiah tadi.

***

“Kamu tidak akan bertemu denganku lagi besok pagi,” seorang kakek tiba-tiba membuyarkan lamunanku.

Aku sendiri tidak menyadari kedatangannya. Tampaknya beliau adalah salah satu pasien rumah sakit ini. Sekarang, kakek itu sudah duduk di sampingku. Mengganggu kesenanganku.

Sedikit yang bisa kugambarkan mengenai si kakek. Semuanya seperti kakek-kakek kebanyakan, kulit punggung tangan yang sudah keriput, rambut yang masih hitam satu-dua helai, dan pandangan matanya yang teduh, bahkan semua ciri-ciri itu tak berbeda dengan kakekku di kampung ayah. Hanya bentuk rahang dan giginya yang tidak sesuai dengan bentuk mukanya yang sedikit menjadi perhatianku, sepertinya kakek itu memakai gigi palsu. Selebihnya, dia hanya seorang kakek biasa yang merusak lamunanku.

Dia mulai bercerita tanpa kutanya, juga tanpa menyadari bahwa dia telah mengganggu Minggu pagiku. Bahkan dia tak memperkenalkan namanya. Tapi biarlah, kadang mendengarkan membuatmu mendapatkan pelajaran hidup. Nanti setelah semua ceritanya selesai, baru kutanyakan namanya.

Lagipula mengetahui namanya sekarang atau nanti tidak ada bedanya bagiku. Aku takut menghilangkan gairahnya jika kupotong ceritanya yang sepertinya baru akan dimulai sekarang. Itu berarti aku kehilangan kesempatan mendapatkan satu cerita yang barangkali luar biasa.

***

Sudah dua puluh tahun beliau berada di rumah sakit ini, setidaknya selama itu dari yang beliau ingat. Hei, Jangan mengernyit padaku, aku hanya mendengar dari ceritanya. Sama sepertimu yang hanya mendengarnya dari mulutku. Jika memang kamu tidak mempercayainya, anggap saja benar. Toh tidak ada ruginya juga buatmu. Masih mau kuteruskan, tidak?

Aku mengangguk-angguk mendengarkan ceritanya. Sesuai dugaanku, beliau memang pasien rumah sakit ini. Dan beliau juga memakai gigi palsu.

Mungkin sebaiknya besok, aku berhenti menjadi akuntan dan mulai membuat jasa detektif swasta. Menyelidiki perselingkuhan artis-artis ibu kota, kehidupan malam pejabat-pejabat, dan memeras uang hasil korupsi mereka. Sepertinya lebih menyenangkan dari kertas-kertas kerja yang hanya berisi angka-angka palsu.

Kakek itu masih terus melanjutkan ceritanya, seolah-olah aku tak ingin menanyakan apapun. Dari ceritanya pula, aku tahu beberapa dokter sempat merawatnya. Yang terakhir seorang dokter muda bernama Ratih. Sambil terkekeh, beliau mengatakan akan mengenalkannya padaku jika aku ke taman ini Senin pagi esok hari.

Tentu saja aku hanya tersenyum, respon apa yang kalian harap aku berikan dari tawaran seperti itu? Meminta nomor pin BBM atau semacamnya? Aku bahkan tak yakin kakek ini mengetahui apa itu Blackberry. Apa yang kamu harapkan bisa kamu ketahui tentang dunia luar? Saat berada dalam rumah sakit selama 20 tahun dengan usia sesenja itu? Lagipula aku juga tak ingin menanyakannya. Jadi jangan memaksaku.

Mendengarkan ceritanya lebih menarik buatku. Setiap pagi mulai pukul lima, dia selalu duduk di kursi taman yang kududuki sekarang ini dan menikmati pagi. Baru aku menyesal. Ternyata akulah si pengganggu itu, sedang dia tak mengganggu siapapun! Yang membuatku makin kesal, tampaknya kakek ini tak memikirkan kekesalan yang sama tentangku, Minggu pagi milikku dan kursi taman ini. Kakek itu tak merasa ada yang mengganggu.

Dari ceritanya, aku juga tahu beberapa merpati terkadang berkunjung ke taman ini.

“Merpati-merpati itu milik seseorang yang bertempat tinggal tak jauh dari taman ini,” katanya seraya menunjuk sebuah rumah yang tak lain adalah rumahku.

Aku tak berniat mengatakan padanya bahwa merpati-merpati itu milikku, rasanya topik mengenai kepemilikan merpati tak cukup menarik untuk dibahas bersama si kakek. Kakek ini bercerita begitu hangat. Barangkali kakek ini salah satu yang tersisa dari mitos “penduduk Indonesia ramah-ramah”. Sebab jaman sekarang lebih banyak yang marah-marah daripada ramah-ramah, kecuali kau punya uang tentu saja. Hampir semua hal di sini, sekarang bisa dibeli. Bahkan senyuman sekalipun.

Beliau berada di sini setelah anaknya memasukkannya kemari, dengan alasan yang tak ingin dia katakan padaku. Beruntung bagiku si kakek tak ingin mengatakannya. Aku sendiri tak ingin memaksakannya menceritakan alasan apapun. Alasan-alasan itu terasa mengerikan, bisa jadi alasannya akan sangat menyakitkan untuk didengar, atau malah sangat mengharukan.

Aku tak cukup berani jika harus mendengar alasan yang sebenarnya dan ternyata itu menyakitkan. Aku juga tak cukup kuat untuk mendengarkan alasan yang mengharukan. Jadi sudahlah, biarkan saja kakek menyimpan alasan itu untuk dirinya sendiri. Aku hanya ingin mendengarkan ceritanya saja.

Mungkin aku akan kemari setiap minggu dan menemani kakek ini setiap pagi. Bahkan aku tidak akan menyesal jika harus mendengarkan cerita yang sama selama bertahun-tahun. Lupakan, aku berlebihan.

“Infus ini mengesalkan, untuk yang satu ini, tulangku ngilu tertusuk jarumnya saat dipasang kemarin sore,” ujarnya sembari menunjukkan bekas jarum suntik di pergelangan tangan kirinya.

Beliau bercerita bagaimana membosankannya satu hari berada di tempat seperti ini, dia sudah sangat muak dengan bau obat.

Karenanya kakek selalu duduk di sini setiap pagi. Suasana pagi membuatnya bersemangat. Menjejakkan kaki di rumput basah adalah definisi bahagia miliknya yang sederhana.

Kakek itu juga membuat sebuah rumah burung yang dipaku pada salah satu dahan pohon di taman itu, dibantu oleh tukang kebun rumah sakit tentu saja.

“Di sana,” kakek menunjuk pada satu pohon. Aku berjanji padanya, akan kutengok rumah burung buatannya saat pulang nanti.

Kakek itu terkekeh. Beliau mengatakan bahwa tidak ada burung yang singgah di rumah burung miliknya.

“Rumah buatan seperti itu tak akan pernah senyaman sarang-sarang mereka,” ujar beliau memberikan alasan padaku. Saat melihatku ikut tertawa mendengar ceritanya tentang rumah burungnya yang kosong.

Senyumanku senyap seketika saat menyadari apa yang tersirat dari ucapannya. Kupeluk pundak kiri si kakek dari sisi kanan tempatku duduk. Erat.

***

Kakek itu bercerita mengenai dokter muda yang sedang merawatnya. Kakek mendefinisikan dokter sebagai orang-orang pintar yang bisa mengembalikannya pulang ke rumah jika beliau kembali sehat.

“Dokter muda yang kali ini istimewa, cantik,” ujar kakek dengan mengacungkan jempolnya padaku. Alis matanya diangkat. Lagi-lagi aku tertawa melihat tingkahnya. Kakek yang satu ini awet muda.

Kakek melanjutkan ceritanya. Pertama kali mereka berkenalan – kakek dengan dokter muda itu, mereka duduk di kursi yang kami tempati saat ini. Pada pagi yang juga sepagi ini. Dokter muda itu memegang tangan si kakek dan mengusapnya sepanjang pagi hingga siang mulai terik.

Kakek juga sempat bertanya pada dokter itu, mengapa ia datang pagi-pagi buta.

“Lalu dokter itu menjawab apa?” Entah apa yang menyihirku, aku jadi begitu menikmati cerita kakek ini.

Kakek mengangkat kedua bahunya, tanda bahwa dokter itu tak menjawab apa-apa. Kakek bilang dokter itu hanya tersenyum dan mengusap pundaknya, persis sama seperti yang kulakukan tadi. Karena itu si kakek ingin mengenalkanku padanya.

“Sepertinya kalian akan serasi,” kata beliau sambil mengusap-usap punggung tanganku. Aku tertawa terbahak-bahak karenanya.

Tiba-tiba air muka si kakek berubah, tetap teduh walaupun kali ini begitu sendu. Beliau bertanya, “Jika kamu ada pada umurku dengan keadaan seperti ini, apa yang akan kamu lakukan?”

“Entahlah kek, tapi sepertinya aku tak akan setegar kakek.”

Aku yang menyadari perubahan raut mukanya tak tahu harus memasang topeng ekspresi yang seperti apa. Cepat-cepat aku mengalihkan pembicaraan, kutanyakan mengenai dokter muda itu. Kakek itu terkekeh dan berjanji akan mengenalkannya padaku besok pagi.

Beliau menepuk pundakku, “Sudah terlalu siang, matahari seperti ini terlalu panas untukku,” katanya sambil berdiri, “silahkan kembali menikmati hari Minggumu anak muda.”

Lalu beliau berjalan setumit setumit meninggalkanku.

Lima langkah dari depanku dia berhenti, “Oh ya, apa menurutmu tali infus ini cukup kuat menahan tulang-tulang hidup sepertiku ini?”

Aku tak paham maksud ucapannya, jadi kujawab saja sekenanya, “hahahaha, rasanya tidak pak tua.”

Kakek itu tersenyum dan berjalan setumit setumit lagi, menjauh setelah mengucapkan terima kasih basa-basi. Setengah berteriak, aku berkata pada beliau bahwa aku ingin bertemu dengan dokter muda itu dan aku akan datang lagi ke sini Minggu pagi berikutnya.

Beliau menoleh. Berhenti sejenak untuk menatapku dalam-dalam, aku tak mengerti artinya, tapi dia terlihat kuyu. Sayu.

“Aku tidak akan kembali ke sini minggu depan, Nak.”

Kakek itu berlalu begitu saja. Kursi ini kembali kukuasai sendirian. Setelah kakek itu menghilang, baru kusadari satu hal. Ah, aku lupa menanyakan namanya.

(bersambung)

 

Timika, 01 februari 2015