Birdman: Sindiran Komikal untuk Dunia Hiburan

Ini kisah nyata: dua atau tiga hari yang lalu saat tautan BRRip “Birdman” muncul di jagat maya, rekan kerja yang pegang kuasa atas akses internet kantor menimbang apakah akan mengunduhnya atau tidak. “Tentang apaan nih, Bar?” katanya. Saya, yang seperti biasa tidak mahir bicara apalagi persuasi, tentu tidak menyebutkan bahwa film ini saya jadikan yang terbaik di 2014 sesuai yang saya tulis beberapa minggu yang lalu di sini. Saya hanya bilang, “Filmnya kayak direkam dua jam non-stop, ga ada cut.” Walau sayangnya, pendapat saya itu diikuti tawa merendahkan tentang apa mungkin kameranya tidak kehabisan baterai.

Lantas saya berkata begini, “Tapi filmnya berat, nanti lo ga ngerti.”

Dia tetap mengunduhnya.

Bukan maksud saya mengeksklusifkan diri bahwa yang saya tonton pastilah film-film filosofis yang bikin pegal karena isinya melulu dialog. Tetapi “Birdman” merefleksikan dunia hiburan yang terkesan jauh panggang dari api dan tabu untuk jadi konsumsi banyak orang, terutama mereka yang tahunya hanya menikmati bukan mengkritisi apalagi mencipta. “Birdman” adalah sindiran komikal tentang jati diri hiburan dan popularitas. Melalui sudut pandang para pelaku dunia hiburan dan pergulatan mereka meraih kepuasan dan harga diri, “Birdman” mencukil diskusi-tak-terselesaikan tentang mengapa penonton lebih suka ledakan-ledakan, tembak-tembakan, atau perkelahian dalam film, atau mengapa seri “Transformers” meraup ratusan juta dolar sementara film-film berkelas Oscar kadang tak sampai meraih seperempatnya, dan mencampurnya ke dalam racikan bumbu-bumbu humanis tentang pencarian manusia akan eksistensi. Hasilnya? Semanis gula, sepedas lada.

Teater

Riggan Thomson (diperankan oleh Michael Keaton) terkenal di Hollywood berkat perannya sebagai superhero Birdman dalam trilogi “Birdman” yang rilis lebih dari 20 tahun yang lalu. Masyarakat tak pernah memanggilnya Riggan tanpa embel-embel “Si Birdman”. Menyebalkan? Entah, tapi Riggan merasa demikian. Ia menolak tawaran berperan di “Birdman 4” untuk menggali bakat aktingnya dalam genre-genre lain, tetapi sayangnya itu tidak berhasil. Popularitasnya kian menurun (bahkan saat terjadi suatu peristiwa di pesawat yang ia tumpangi bersama George Clooney, media sama sekali tidak menyebut namanya; mereka hanya menyebut Clooney), begitupun harga dirinya sebagai aktor. Itu sebabnya ia memutuskan untuk banting setir ke dunia teater.

Di Broadway, ia mendefinisikan kembali dirinya. Ia menulis, menyutradarai, sekaligus membintangi sebuah pementasan adaptasian bertajuk “What We Talk About When We Talk About Love”, yang juga dibintangi oleh Lesley (diperankan oleh Naomi Watts), Laura (diperankan oleh Andrea Riseborough), dan Mike (diperankan oleh Edward Norton). Ia mengorbankan hampir segalanya, baik harta (seperti rumah yang harusnya ia wariskan untuk putrinya) maupun pikiran (seperti pergulatannya setiap hari mengabaikan suara Birdman yang terus saja menggaungkan keraguan dan rasa ingin menyerah), untuk meraih kembali salut dan aplaus dari publik, kali ini bukan sebagai seseorang dalam topeng dan kostum burung, melainkan sebagai aktor, penulis, sutradara, dan—yang terpenting—pekerja seni.

Kita diajak untuk melihat perkembangan kesiapan pementasan “What We Talk About When We Talk About Love” mulai dari tiga preview pendahuluan sampai ke opening night. Anda pernah nonton teater? Seingat saya, saya tidak pernah. Itu menjadi nilai tambah untuk memperluas wawasan kita yang selama ini hanya tahu bahwa seni peran hanya ada dalam film dan televisi saja. Tidak seperti di sini (di mana bakat seni seseorang terabsahkan oleh popularitas belaka), di Hollywood sana, panggung teater adalah pembeda antara selebritis dan aktor sejati. Atas nama seni, panggung teater adalah ajang para pelakon untuk mendulang kualitas, mencari simpati, dan mengukuhkan self-respect alias harga diri.

Self-respect adalah frasa yang menjadi kata kunci dan selalu diulang-ulang dalam “Birdman”. Artinya meluas; ia tidak sekadar bermakna harga diri, tetapi juga kebanggaan, keinginan untuk dicintai, popularitas, atau bahkan prestise. Jika dilihat secara mendetail, kentara bahwa yang mencari self-respect di sini tidak hanya Riggan. Bagi Lesley, self-respect adalah penghormatan dari Mike, mantan pacarnya, atas usahanya berdebut di Broadway. Bagi Mike, self-respect adalah berita tentang dirinya di halaman pertama surat kabar atas aktingnya yang realis. Bagi Laura, self-respect adalah sebentuk ucapan “you’re beautiful, you’re talented” dari Riggan untuknya atas hubungan yang mereka jalin pasca-perceraian Riggan dengan mantan istrinya, Sylvia (diperankan oleh Amy Ryan), yang bersama putri mereka, Sam (diperankan dengan sangat gemilang oleh Emma Stone), mendambakan self-respect berupa perhatian lebih dari Riggan—karena Riggan, tentu saja, sibuk menggapai self-respect-nya sendiri. Beda lagi dengan sang produser, Jake (diperankan oleh Zach Galifianakis), self-respect adalah saat seseorang yang berbicara dengannya, baik secara langsung maupun melalui telepon, berhenti bicara dan mau mendengarkannya barang sejenak.

Kaitan antara berbagai wujud self-respect ini, dan makna hiburan yang hakiki, menjadikan “Birdman” satiris bagi keduanya. Saya yakin Anda tahu rasanya mencoba berbagai hal hanya untuk meyakinkan diri bahwa Anda mampu, terlebih jika hal-hal yang dulu Anda kuasai tak lagi dipandang menakjubkan di mata banyak orang (dan Anda tahu bahwa berbagai hal baru yang Anda coba adalah usaha untuk memberi bukti bukan kepada siapa-siapa, tetapi diri Anda sendiri). Tetapi satu hal yang luput dari berbagai pencarian akan self-respect yang dilakukan para karakter dalam “Birdman”, terutama Riggan, adalah kata “self-” yang mengawali frasa tersebut. Bahwa sejatinya respect hadir dari dalam diri (=”self“); bahwa seharusnya usaha difokuskan untuk mengukuhkan yang di dalam, alih-alih mencari dukungan dari orang lain.

Para pelaku dunia hiburan ini, walau berkeras secara retoris bahwa mereka tidak butuh eksistensi dan pengakuan berwujud popularitas, tetap saja mendambakan pujian, standing ovation, atau ulasan positif dari para kritikus. Popularitas, mereka sadari, membuat mereka terkungkung dalam satu wujud dan membutakan audiens dari usaha mereka untuk menjadi berbeda, untuk tumbuh lebih besar dari kungkungannya. Sebagian berusaha tetap kerdil seperti bonsai agar selalu muat dalam sangkarnya, karena di dalamnya bersemi ketenaran dan keuntungan-keuntungan material. Tetapi, yang lain mendamba sangkar yang lebih besar, karena mereka sadar bahwa ada hal lain yang memuaskan mereka, lebih dari sekedar ketenaran ataupun keuntungan material.

Mungkin itu sebabnya, Bruce Willis—yang tenar berkat berbagai peran di film action—masih ambil bagian di film-film drama. Atau Jim Carrey—yang lihai sekali melucu dan berkomedi—tiba-tiba berperan melankolis di “Eternal Sunshine of the Spotless Mind”. Atau juga Barry Prima—yang selamanya akan dianggap sebagai aktor beladiri—berani jadi transseksual di “Realita, Cinta, dan Rock ‘n Roll”.

Penutup

Sampai di sini, saya kira tak perlu lagi menjabarkan betapa rumit sekaligus menakjubkannya gaya one continuous shot yang membuat “Birdman” tampak seperti sekali rekam, dan betapa inventifnya irama perkusi yang mengisi setiap sapuan kamera sepanjang lorong gedung teater. “Birdman”, berbekal sebait rasionalisasi usang yang berbunyi “manusia takkan pernah puas”, menyindir dunia hiburan dan orang-orang yang terlibat di dalamnya, baik secara aktif maupun pasif. Ini bukan lagi terjemahan saya; filmnya sendiri mengeja makna tersebut dengan sangat jelas: bahwa Riggan menghabiskan hidupnya membangun kekayaan dan reputasi, tetapi ia menyia-nyiakan keduanya hanya untuk banting stir ke dunia yang dipedulikan segelintir orang—karena mayoritas sisanya, seperti yang dilontarkan si Birdman dengan mata berapi-api yang tertuju langsung pada kita, lebih suka darah dan perkelahian ketimbang omong kosong filosofis dan depresif seperti teater.

Hal yang bodoh? Tidak juga. Siapa tahu bakat yang tak terduga, yang selama ini dinihilkan oleh kebimbangan, penolakan, dan kekhawatiran, baru akan lahir setelah darah dan perkelahian tertumpah—mengamini omong kosong filosofis dan depresif si Manusia Burung.

Akbar Saputra

Twitter: @akb_r