Tahun Politik dan Sedikit Pengantar Untuk Tahun 2015

Tahun 2014 adalah tahun politik. Rasanya tidak ada satu orang di Indonesia pun yang akan menyangkalnya. Riuh rendah kampanye, debat-debat, hingga saling sindir di berbagai media sosial mewarnai perjalanan sepanjang tahun 2014. Bahkan banyak di antara kita—para Pegawai Negeri Sipil—yang konon dilarang berpartisipasi dalam segala aktivitas politik merasa gatal hanya untuk sekadar berkomentar. Tidak jarang yang kemudian menjadi panas. Pertanyaannya kemudian adalah, apa yang sebetulnya kita peroleh?

Hampir tidak ada. PNS, yang segera berubah nama menjadi ASN, tetap berada pada lintasannya, bergerak pada kecepatan yang hampir konstan. Tidak sedikit pun remah pesta politik tersisa bagi PNS. Yang menyedihkan, PNS tetap tidak bisa lepas dari padanan kata terburuknya: pemalas. Meskipun belum tentu premis itu terbukti benar, label tersebut sudah melekat di kepala banyak orang. Bahkan, Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi berulang kali menekankan pentingnya revolusi mental di jajaran birokrat yang dia pimpin demi mengubah paradigma negatif masyarakat terhadap PNS. Sejumlah “gebrakan” pun segera dirancang. Imbauan hidup hemat dengan menyajikan ubi dan larangan rapat di hotel yang sempat ramai, misalnya.

Padahal jika dilakukan survey, yakinlah banyak PNS yang akan segera menolak stigma tersebut. Ada yang berkutat dengan anggaran dan lembur terus-menerus. Ada yang bekerja di remote area sampai-sampai kesusahan mencari sinyal ponsel di tempatnya. Dan banyak yang harus siaga 24 jam demi melayani masyarakat. Semua hanya demi satu kata pengabdian. Namun semua pengabdian tersebut langsung sirna karena ulah oknum-oknum yang memang terkadang berbuat kelewat batas.

Masalahnya, orang terlanjur menganggap PNS sebagai bidak catur yang harus bergerak sesuai dengan keinginan pemain—yang notabene terdiri dari seluruh rakyat di negeri ini. Tak boleh ada gerakan yang meleset. Mereka lupa bahwa seorang PNS juga merupakan seorang manusia yang utuh. Seorang manusia yang punya kehidupannya sendiri, punya keluarga, dan yang terpenting, punya kehendak bebas sendiri. Menganggap kesalahan satu atau dua PNS sebagai kesalahan korps adalah generalisasi yang keliru namun sering dilakukan orang.

Generalisasi tadi sebetulnya bisa dihalau dengan beberapa cara. Salah satunya dengan berserikat dan terus menghasilkan keputusan-keputusan bersama yang menguntungkan bagi anggotanya. Sayangnya perserikatan yang dimiliki PNS, yaitu Korpri, sampai saat ini lebih banyak mengurusi soal domestik—jika tak mau dibilang hanya gincu. Memang tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Sebagai abdi negara, PNS tentu memiliki banyak pembatas. Berbagai peraturan dan kode etik yang cenderung ketat mau tidak mau mengatur hidup PNS dengan detail.

Maka dengan ini Birokreasi menawarkan satu solusi lain, yaitu menulis. Dengan menulis, seseorang bisa menyuarakan opininya agar bisa diketahui tidak hanya oleh orang-orang di dekatnya. Tengok El Nugraheni dan TrendingTopiq yang sempat menulis esai untuk membantah seseorang yang mencela PNS tanpa dasar. Menulislah. Ajukan argumentasimu, wahai birokrat. Selanjutnya, Birokreasi siap menjadi wadah bagi kalian, para birokrat yang hendak mengeluarkan kegelisahannya. Sungguh era ketika informasi bisa bergerak demikian cepat secara viral ini menguntungkan siapa pun yang bisa dan mau memanfaatkannya.

Tapi tidak berarti Birokreasi semata-mata ada sebagai media propaganda. Kami juga menyediakan tempat bagi para birokrat yang menggemari sastra. Cerita pendek, sajak, atau resensi. Pun catatan perjalanan bagi kaum yang gemar bepergian dan menghadiri perhelatan. Hal-hal macam ini, kami sadari, penting bagi kesehatan mental sebagai oase, pelepas dahaga setelah seharian berpeluh dengan pekerjaan.

Bahkan, tahun lalu Birokreasi menggelar Kuda Besi: Kumpulan Dongeng dan Fantasi Anak Bersama Birokreasi. Hasilnya adalah buku yang bisa kaubeli melalui kami dan keuntungan dari penjualan yang sebelumnya telah disumbangkan ke Yayasan Sayap Ibu Yogyakarta. Tahun ini pun Birokreasi berencana mengadakan kegiatan lain yang tidak kalah bermanfaat.

Harapan kami, di tahun yang baru ini para birokrat bisa lebih memaknai dunia literasi dan mau merayakannya bersama kami: Birokreasi.

Tabik.


*) Ilustrasi dari: http://orangeofcake.blogspot.com/2014/06/jokowi-vs-prabowo.html