Sepuluh Film Terbaik 2014

Beberapa dari pembaca mungkin tahu bahwa saya punya blog pribadi yang isinya melulu film dan saya sendiri masih punya utang film yang harus ditonton sebelum menggelar parade artikel tahunan yang rencananya baru akan dimulai di minggu terakhir bulan ini (berkunjung, ya!). Jadi, jika tiba-tiba saya duluan membuat daftar 10 film terbaik tahun 2014 di laman Birokreasi, maka itu adalah bentuk penghormatan saya kepada pembaca dan juga Birokreasi sendiri (serta kakak-kakak adminnya yang ramah, penyayang, dan menggemaskan).

Apa yang akan saya tulis ini adalah rekapitulasi film-film yang menurut saya paling baik di tahun 2014. Dan, satu hal yang menarik, sembilan dari sepuluh film di daftar ini belum pernah tayang di Indonesia (oh, satu dari sembilan itu pernah tayang di Jakarta International Film Festival beberapa bulan yang lalu, tapi mungkin luput dari perhatian). Jadi, jika pembaca tertarik untuk menonton, silakan berburu di belantara internet atau hubungi saya melalui kanal pribadi. Hehehe.

10. The Tale of The Princess Kaguya

10-The Tale of The Princess Kaguya

Sementara studio-studio animasi di negeri Paman Sam berlomba menghadirkan teknologi tiga dimensi tercanggih, Studio Ghibli asal Jepang setia dengan lukisan cat air yang minim detil tetapi sungguh-sungguh dan imajinatif. Ibaratnya, Putri Kaguya itu Timun Mas; sementara yang satu lahir dari timun, yang ini lahir dari rebung. Pula keduanya berbeda takdir; yang satu diincar raksasa, yang ini gundah gulana karena hendak dipinang lima pangeran. The Tale of The Princess Kaguya menguraikan kisah yang polos, jenaka, dan bersahaja ini dengan kecantikan natural, seperti mengamini pepatah bahwa yang indah itu yang sederhana.

9. Winter Sleep

09-Winter Sleep

Yang satu ini pernah diulas dengan sangat apik oleh tetua Birokreasi di sini. Durasi hampir tiga setengah jam dilibas habis oleh Winter Sleep, film yang mencuatkan tidak hanya dua, tetapi tak-berhingga sisi dari sebuah koin bernama intelektualitas. Berbeda dengan film sebelumnya, dibutuhkan waktu yang hening untuk mencerna Winter Sleep agar dialog-dialog emasnya tak sekedar menembus mata (karena ia berbahasa Turki, jadi jelas Anda akan membaca subtitel), tetapi juga hinggap dalam pikiran dan meresap hingga ranah otak yang paling dalam. Winter Sleep adalah kebijaksanaan yang ditangkap secara berimbang untuk menjadi bahan renungan, untuk meredakan letupan-letupan retorika yang belakangan banyak membuncah di sekitar.

8. Ida

08-Ida

Lagi, yang ini bukan dari Hollywood. Ida, asal Polandia, adalah film hitam-putih yang justru terlihat modern berkat gaya sinematografinya yang menawan. Dan, hei, saya rasa lagi-lagi kita akan menemukan kebijaksanaan di dalamnya. Ini tentang spiritualitas; seorang biarawati Katolik yang sejak kecil dipiara di gereja membentur kenyataan bahwa ia terlahir Yahudi dari orang tua yang telah wafat saat perang. Bersama bibinya, yang hobi pesta dan berganti pasangan, ia menelusuri jejak-jejak masa lalunya melalui jalur terjal yang kerap menggoyahkan iman yang tertanam sejak kecil. Ida memotret pencarian manusia akan religiusitas yang kadang bersubstitusi dengan realita.

7. Like Father, Like Son

07-Like Father Like Son

Kisah tentang anak yang tertukar sudah bukan barang baru di televisi Indonesia. Beberapa laris terjual walau kerap tidak digarap maksimal. Like Father, Like Son adalah eksekusi yang sangat mapan atas topik yang tak lagi segar ini. Ingat bahwa perkara menghidupi anak hingga besar, yang belakangan diketahui bukan dari sperma atau telur sendiri, tidak selesai hanya dengan mengembalikannya kepada pengasuh yang semestinya; anak harus beradaptasi lagi dengan orangtua yang baru, dengan cara asuh yang baru. Terdengar sinetron sekali? Percayalah, kalau bukan karena kedewasaan mengaplikasikan cerita melalui berbagai sudut pandang dan kondisi yang riil, Like Father, Like Son tidak akan masuk dalam daftar ini.

6. Under the Skin

06-Under the Skin

Ini bukan karena Scarlett Johansson bertelanjang bulat walau hanya satu-dua detik; tersirat feminisme yang kuat dalam Under the Skin. Paham yang belakangan menemukan kembali jati dirinya ini adalah juga apa yang saya terawang dari Under the Skin. Ini tentang makhluk luar angkasa berwujud wanita cantik nan sintal yang melumat pria-pria hidung belang hingga tersisa kulitnya saja. Pria manakah yang tak mau diajak semobil bersama, sementara si jelita memegang kemudi seraya merayu mesra. Under the Skin adalah artikulasi pelajaran moral dalam balutan sensualisme yang surealis. Catatan: film ini semestinya dilabeli NSFW, jadi jelas: jangan nonton ini di kantor!

5. Interstellar

05-Interstellar

Kakak yang saya sebut secara anonim di paragraf untuk “Winter Sleep” di atas pernah mengkritisi habis-habisan penggunaan sains yang sembrono dalam Interstellar. Saya, yang otaknya beruntung masih mengerti walau belakangan menumpul akibat kebanyakan merekam SPT ini, tak sedikitpun membantah cukilannya. Tetapi, Interstellar tetap bersikukuh di nomor urut lima daftar ini sebagai apresiasi saya terhadap usaha keras sang pembuat film untuk memperkenalkan sains tingkat tinggi dengan bahasa yang sederhana, dengan alur cerita yang menarik, layaknya film-film arus utama. Bukankah memprihatinkan mendengar seorang teman mengaku tak pernah tahu apa itu lubang cacing sebelum menonton film ini? Sampai di hal seperti ini saja, saya kira film ini sudah lebih dari berhasil.

4. Enemy

04-Enemy

Dari sekian banyak film yang meledakkan pikiran penonton di tahun 2014 yang lalu, saya memilih Enemy karena ia lebih dari sekadar meluluhlantakkan otak; ia juga meremukkan belulang. Saya tidak bisa bergerak, pun tidak bisa berpikir. Bagaimana tidak, saya sudah menyusun ribuan keping-keping puzzle menjadi gambar yang sempurna, tetapi saat meletakkan tiga keping terakhir, saya menyadari bahwa itu bukan gambar yang dimaksud. Jadi, saya bongkar lagi. Menonton Enemy rasanya seperti itu: membingungkan, melelahkan, tetapi mengasyikkan di setiap detiknya. Indah sekali, bukan, menikmati diri sendiri dibuat bingung oleh sebuah karya seni?

3. Whiplash

Whiplash-5570.cr2

Whiplash adalah tentang bakat, mimpi, ambisi, dan batas-batas halus di antara ketiganya. Ini lebih dari sekadar tentang konduktor band jazz instrumental yang mendorong penabuh drum didikannya berlatih melampaui batas; Whiplash menjelaskan mengapa sebagian orang berbakat berakhir menjadi biasa-biasa saja sementara yang lain menjadi kenamaan dunia, sejalan dengan petikan dialognya yang paling mengena, “There are no two words in the English language more harmful than ‘good job’.” Benar, setelah “good job”, usaha akan dituntaskan dan “luar biasa” akan berpendar menjadi “biasa saja”. Menarik? Tunggu hingga Anda mendengar berbagai alunan musik jazz instrumental yang tak lama lagi mengisi daftar antrean pemutar musik saya.

2. The Grand Budapest Hotel

02-The Grand Budapest Hotel

Bayangkan sebuah film yang jika Anda putar sepenuh layar komputer dan Anda menekan tuts printscreen kapanpun, Anda akan selalu memperoleh gambar yang pantas untuk Anda pajang menjadi wallpaper. (Tentu saja kalau Anda unduh yang kualitas blueray). Itulah The Grand Budapest Hotel, di mana kecermatan menjadikan setiap detiknya bagaikan ilustrasi buku dongeng anak-anak berwarna-warni pastel. Kisahnya tiga lapis (seseorang menceritakan tentang seseorang yang bercerita tentang seseorang), seperti membuktikan bahwa kali ini sang sutradara tidak hanya melimpahkan tenaga untuk memoles visual saja; ia juga menghidupkan karakter-karakternya yang unik lagi jenaka dalam petualangan menggemaskan yang mustahil tak menghadirkan tawa.

1. Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance)

01-Birdman

Rasanya seperti orgasme. Bukan karena seks, melainkan karena film. Bagaimana saya mendefinisikan senyum lebar, sumpah serapah memuji, tawa-tawa geli, dan tatapan tak teralihkan dengan mulut terbuka saat saya menikmati Birdman? Moviegasm: terpuaskan oleh karya sinema luar biasa yang menjadikan waktu dua jam saya di hari itu menjadi jam-jam paling berharga. Bayangkan sebuah film yang kameranya terus merekam seperti hampir tak tersunting, sementara ia berkisah tentang dunia seni peran itu sendiri dengan pemain-pemain yang rasanya seperti memerankan diri mereka sendiri. Dan, satu lagi, musik perkusi! Semua aspek sempurna. Kini saya memutarnya lagi, lagi, dan lagi.

Akbar Saputra

Twitter: @akb_r