Pion

Entah mengapa, semakin hari keadaan semakin baik, tapi juga semakin dalam “galau” ini menjarah otakku. Hey, ini bukan tentang asmara atau epilog percintaan, karena hal itu masih dalam lingkaran kendaliku. Lagi, ini tentang ladang pencarian kehidupan. Tidak ada yang salah, tokoh-tokoh di dalamnya sangat baik memerankan skenario Ilahi. Mungkin kami adalah bidak-bidak dari Sang Mahapatih yang berkuasa, di mana ujung tombak percaturan ini menjadi ajang bunuh diri bagi pion-pion tak berdaya.

Di belakang kami, ada sederet perwira dengan berbagai macam karakter. Benteng. Dia hanya tau bahwa langkah yang diambil harus lurus, tak peduli aral menghadang. Keras, kokoh, sulit ditembus. Ironisnya, di berdiri di pojok-pojok pertahanan kami. Dan tetap, pion di depannya sebagai pelindung. Dia tidak akan bergerak, sebelum pion didepannya dimangsa musuh. Secara kodrat dia tidak bersalah, karena sejak awal struktur yang disusun memang seperti itu. Entah kapan kami bisa berlindung di balik benteng.

Kuda. Dia membentuk huruf L (kapital), entah di mana korelasi antara “kuda” dengan huruf L. Itu mengungkung dirinya, tidak bisa leluasa menjelajah setiap sudut papan catur, kehidupan. Vonis atas langkahnya, seperti tali kekang yang erat, mengebiri kreativitas. Padahal dia menjadi tunggangan yang diharapkan mampu mengantar pada kemenangan. Mungkin, hanya karena bentuk fisiknya yang menyerupai huruf L saja, menjadi dasar langkah, juga hidup matinya. Lagi-lagi, rupa fisik.

Menteri, atau Luncur. Gesit, mematikan. Dia menjadi agen penting dari kerajaan ini. Sayang, geraknya selalu miring (kalau tidak boleh disebut menyimpang) menjelajah setiap sudut papan catur. Lagi-lagi, di depannya harus tetap dilindungi sang pion malang.

Mahapatih. Dialah yang paling berkuasa, bisa bergerak ke mana saja. Bisa jadi dia adalah raja yang sebenarnya. Atau dia sengaja diprogram seperti itu, karena frustasi melihat langkah bidak-bidak lain yang monoton dan tidak ideal? Seharusnya sang Mahapatih ini mampu merubah, mereformasi gerak dan struktur kerajaan ini. Atau, sebenarnya memang dia yang arogan? Entahlah, setidaknya dia selalu mati paling akhir, setelah yang lain habis dibantai. Bahkan untuk membunuhnya harus dengan peringatan “Ster” terlebih dahulu. Seistimewa itukah?

Ratu. Engkau di tengah, paling dilindungi, tapi juga paling lemah. Engkau tak lebihnya seperti pion yang mati duluan. Bagaimana bisa, engaku mengatur kerajaanmu ini? Selalu bersembunyi di ketiak Mahapatih. Tapi aku salut, semua bidak melindungimu. Propaganda seperti apa yang engkau terapkan? Yah, itulah permainan. Cukup. Kami adalah bidak-bidak yang punya otak. Sistem yang ada ini memang tidak ideal. Tersusun atas bidak-bidak yang tidak sesuai, tidak ideal dan bahkan menyimpang. Tapi, sejauh ini permainan catur memang seperti itu bukan? Tidak ada yang komplain. Kemenangan bisa diraih. Tujuan bisa tercapai. Dari ketidaksempurnaan itu, kita bisa berjalan dalam sebuah sistem permainan yang elegan. Kreativitas muncul dari karakter setiap orang di dalamnya. Benteng, kuda, menteri, mahapatih, ratu, dan tentu saja pion. Yup, sang pion terus bergerak maju, mencapai ujung papan catur. Menjelmalah ia menjadi mahapatih.

Muhammad Fauzi Iqbal

kantor yang hakiki itu ya di rumah

  • http://pradirwancell.blogspot.com/ Pradirwan

    bener-bener mantap nih artikelnya… terpikirkan idenya seperti itu. kalimat penutupnya top. “Yup, sang pion terus bergerak maju, mencapai ujung papan catur. Menjelmalah ia menjadi mahapatih.” dan hanya pion yang mampu menyentuh ujung papan caturlah yang bisa berubah menjadi mahapatih.

    • http://katafauziqbal.wordpress.com Muhammad Fauzi Iqbal

      terimakasih mas :) sebuah perumpamaan yang menggambarkan kegelisahan hati.hehehe..semoga suatu saat akan ada permainan catur yang “bersih” dari berbagai keculasan. ^^

  • Pingback: Menulis 2015 |()