Pembela PNS VS Penyinyir PNS: Anda Perang, Kami Senang!

Dengan hormat,

Perkenalkan, kami @PNS_Ababil. Yang follow akun kami mungkin tahu kalau kami adalah para PNS berkelakuan ababil yang gemar main game, pergi ke mall, memalsukan eLPeJe dan tidur pas rapat. Hihihihi. Setelah sedikit membaca tulisan menarik pembuka 2015, kami jadi ingin ikut-ikut sumbang sedikit. Maklum waktu luang kami banyak. Apalagi setelah pasar-pasar banyak kebakaran, kami jadi kekurangan tempat nongkrong. Apa boleh buat, terpaksa menulis saja deh. Lagipula bahaya kalau PNS-PNS baik mulai terinspirasi akibat tulis-menulis, lalu berorganisasi, lalu … lalu … hidup ababil kami terancam!

Kami rasa, kritik terhadap PNS merupakan hal yang sudah semakin lumrah. Berita-berita di media―terutama online―seringkali menunjukkan betapa buruk kinerja PNS. Posting di media sosial juga acap kali memojokkan PNS. Bahkan baru-baru ini, Mbak El Nugraheni harus membuat tulisan untuk membalas tulisan satir sahabat kita, Arman Dhani. Kelihatannya sih bukan dia saja yang suka menyatiri PNS, kami juga. Wahahaha. Bayangkan kalau semua PNS harus menangani satu-persatu para penyinyir. Wah, bisa habis waktu ngegame kita, Cyin. Yekaaan?

Tapi mari kita lihat kembali, meskipun kami tak pegang data, tapi kami berani mengklaim bahwa sebagian besar penyinyir PNS pasti bukan PNS. Sebaliknya, pembela PNS mayoritasnya pasti PNS. “Kebijakan singkong” dan anti-hotel pun terpolarisasi seperti itu. Secara umum. Kami yakin pasti si menteri berasa membela rakyat bangeut waktu bilang PNS tak boleh rapat di hotel―dan kemudian kementeriannya sendiri bikin rapat di Balai Kartini (LoLz). Sementara bagi para PNS, menteri ini bikin repot, mengurangi jatah kami jalan-jalan, mengurangi rezeki yang sudah sedikit ini―kecuali yang nakal ya, pakai kuitansi bohongan. Hiks sedih.

Eniwey subyektivitas itu akan berasa, terlebih bila anda belum pernah jadi PNS, dan PNS belum pernah jadi … well, rakyat. Rakyat jelata yang tidak begitu mengerti birokrasi, seringkali berpikir over-simplifikasi, menggeneralisir, dan abai terhadap hal-hal yang ditulis Mbak El Nugraheni. Sebaliknya, Mbak El mungkin hanya paham instansinya, hanya melihat yang sedih-sedih, tapi abai dengan layanan yang tak nampak. Seperti rancangan strategis yang tak jelas, implementasi kajian yang tak jalan―halah kajiannya saja bohongan, dan well, korupsi yang mungkin lebih kejam terjadi di Kementerian/Lembaga dan Pemda di luar Satker Mbak El. Wajar, penderitaan PNS dia rasakan sendiri, namun hasil kerja PNS yang abstrak, agak sulit dinilai dengan mata telanjang. Mas-mas yang mengkritik PNS itu merasa berhak karena sudah bayar pajak (kami asumsikan semua rakyat bayar pajak), tak merasa dapat apa-apa selain seringnya PNS keluyuran, korupsi, de-el-el. Bahkan menteri-menteri kita yang bikin kebijakan non-populer di kalangan PNS pun (yang sekarang capernya level dewa), background-nya bukan PNS kan?

Analoginya seperti jalan raya. Pengguna motor mengutuki mobil karena gede, lambat, dan menghalangi jalan. Lah pengguna mobil juga mencaci pengguna motor karena tengil, semaunya sendiri, kadang yang nyetir bocah tanpa helm dan mati lampu belakangnya. Hm … analogi yang kurang pas ya? Tapi tak apa, kami kan PNS, wajar kalau bego. Wahahaha!

Ketika anda bicara kinerja PNS, sebenarnya anda sedang berbicara manajemen organisasi pada umumnya. Tidak ada yang berbeda sama sekali antara manajemen PNS dengan manajemen korporasi yang profit oriented. Potong gaji ya, harapkanlah kinerja menurun, termasuk dari PNS yang baik-baik ini. Orang sabar ya ada batasnya kali, kecuali Bunda Teresa mungkin. Bedanya, PNS dengan organisasi lainnya, anda berkesempatan mengawasi cara kerja pemimpin kami para PNS, karena pemimpin kami adalah hasil didikan politik. Hm, mungkin beda lainnya adalah, perasaan bahwa anda bayar pajak membuat anda merasa berhak mengkritisi kinerja PNS, dengan mengesampingkan faktor-faktor dalam manajemen. Lagi-lagi subyektivitas. Untungnya tak sedikit juga penyinyir PNS yang akhirnya malah daftar PNS. Hihihihi. Khusus untuk potong gaji dan golden shake hand, akan kami bahas di tulisan lain ya.

Sayangnya―untungnya bagi kami, generalisasi membuat banyak masyarakat yang abai dengan fakta kalau dibanding zaman dulu, faksi PNS yang meyakini kalau jalan PNS (tak semua PNS seiya-sekata, red.) sekarang ini salah, sudah mulai banyak. Kinerja PNS sekarang sudah lebih baik daripada zaman dahulu. Anda boleh deh melupakan pembuat kebijakan yang katanya diisi PNS-PNS lama hasil didikan Orde Baru, yang katanya sosialis, atau yang katanya terbiasa dengan perilaku korupsi. Namun staf sekarang sudah jauh lebih baik. Pernah tengok perencanaan dan keuangan, misalnya (contoh yang general)? Mereka sudah menggunakan aplikasi perencanaan dan penganggaran yang lebih sulit diakali. Bahkan kawan kami melaporkan bahwa bendahara di tempat dia cuma bisa plonga-plongo, ahirnya si kawan itu yang menggarap Silabi-nya (aplikasi SPM), tapi tak dapat tunjangan bendahara. Anak-anak ini, hasil rekrutan yang sudah lebih terbuka dan transparan, adalah apa yang seharusnya kalian konsentrasikan, karena masa depan PNS ada di tangan mereka. Duapuluh tahunan lagi, anak-anak ini yang akan memimpin instansi. Makanya kami senang sekali waktu pemerintah melakukan moratorium perekrutan pegawai baru, bukannya memberlakukan golden shake hand. Keduanya sama-sama mengurangi jumlah PNS, tapi anda bisa tebak mana yang lebih efektif untuk perbaikan organisasi.

PNS yang mengharapkan perubahan baik adalah teman dari kalian, para rakyat yang mengharapkan PNS berubah baik. Perkelahian satu sama lain adalah hal terakhir yang harusnya kalian pilih. Kecuali kalau memang mau mengedepankan ego masing-masing, apa boleh buat, kita tetap harus menunggu juru selamat yang tidak mungkin ada itu. Dan selagi kalian saling ribut, kami para PNS Ababil akan terus me-brain wash darah-darah muda ini untuk jadi ababil seperti kami. Main Zuma, jalan-jalan ke pasar, dan hal-hal menyenangkan lainnya―surga yang disponsori rakyat ini. Yihaaaa!

Demikian, atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih.

Hormat kami,

Sebut saja Bil (bukan nama sebenarnya)

  • jeo

    Saya sepakat dengan si penulis, saya bekerja di lembaga non profit yang sering jadi lawan dan terkadang juga menjadi teman dari para PNS. Saya tahu betul ada juga para punggawa PNS yang berani keluar dari TUPOKSI nya untuk berinovasi dan berkreasi. Tidak hanya yang muda tapi beberapa kepala kantor saat ini tidak seperti PNS yang anda bayangkan sebelumnya.

    Setahun yang lalu pernah ada diskusi kecil yang mengundang orang ADB (dahulu juga dia pernah bekerja di world bank), si pembicara ini bilang bahwa beberapa program lembaga intergovernmental saat ini adalah memperkuat champion (jawara) dari balik meja birokrasi. Mereka sudah mulai sadar bahwa beberapa PNS ini mental nya adalah pembangun dan pereformasi dan orang-orang ini lah yang harus diperkuat untuk membantu kejayaan bangsa Indonesia.

    Jadi saya rasa bagi kawan-kawan PNS jadilah para champion ini, dan bagi para “rakyat” yang bekerja di sektor profit dan non profit mari kita dukung bapak dan ibu PNS yang benar-benar bekerja tanpa pamrih. Mereka ada di sana dan mereka butuh dukungan kita! Go PNS !

  • http://www.arifkancil.com arif wibowo

    wakakakakka…….asik banget nih Bil.
    saya juga PNS, PNS yang belajar tidak ababil…
    wkwkwkwkwk…
    sila mampir ke http://www.arifkancil.com/2014/12/dan-benar-saya-pegawai-negeri-sipil.html

  • http://demokrasipancasilaindonesia.blogspot.com/ kelebihan demokrasi

    memang nih malah ada yang senang dengan bertengkarnya pro dan kontra

  • mbah bromo

    Semoga darah2 muda tersebut wara’ hingga pensiun. Tidak dikader oleh es melon2nya untuk menyelamatkan es melon setelah pensiun.
    Jadi PNS tidak cukup jujur, tetapi harus cerdas, cerdas menghindari jebakan batman. Jangan sampai tragedi rohmin dahuri terulang. Maunya jujur tp malah sekolah di cipinang