Kota Tanpa Lampu Jalan

Di kota tempat ibuku kecil, juga aku kecil, gedung-gedung bertingkat seperti mercusuar dengan lampu sorot sebesar telur dadar raksasa. Gedung-gedung itu menghabiskan batu bara hanya demi terlihat berkelip-kelip seperti pantat kunang-kunang.

Dulu tidak seperti ini. Dulu kunang-kunang masih banyak, begitu ibuku pernah bercerita. Kunang-kunang itu hewan pemalu, tidak suka dengan tempat terang-benderang. Ketika kecil ibu sering melihat hewan itu di kuburan sedang memain-mainkan cahaya di pantatnya. Ibu bilang kunang-kunang suka bermain di kuburan. Juga di tepi-tepi sungai di depan rumah, bermain di antara rumput-rumput di mana kodok-kodok berteriak-teriak saat musim kawin. Atau di pinggir-pinggir juglangan bebek simbah putri. Atau di pematang sepanjang petak-petak sawah. Atau di rahim simbah putri, juga di rahim ibuku. Atau  dimana-mana. Kata ibu memang begitu. Dulu kunang-kunang memang masih banyak, mereka ada di mana-mana.

Nenek lain lagi. Nenek bilang kunang-kunang itu umpan kail setan kuburan. Mereka menarik perhatian anak-anak kecil lalu ditangkap oleh setan-setan yang ingin punya anak. Kurasa cerita itu bualan. Nenek hanya mengarang dongeng itu. Nenek hanya tidak ingin ibu mendekat ke kuburan dan melihat kakek duduk di sana malam-malam.

Sekarang kuburan juga dipasangi lampu besar-besar. Dalihnya agar tidak terlihat menyeramkan. Padahal mereka tidak tahu kalau aku tahu alasan pemasangan lampu-lampu itu yang sebenarnya. Orang-orang dewasa hanya ingin mengusir kunang-kunang! Orang dewasa memang egois. Sekarang nenek tidak bisa lagi mencegah ibu untuk melihat kakek di kuburan malam-malam, hanya saja ibu tidak akan melihat kakek duduk di sana. Sekarang kakek tidur di kuburan. Kamar kakek di rumah sudah berubah jadi mushola.

Di tempat asalku itu juga, malam sudah sama benderangnya dengan siang. Bulan menjadi seorang bocah kecil muram yang selalu merasa disisihkan. Para buruh-buruh rokok tak bisa lagi menyembunyikan muka-muka lelah mereka ketika pulang malam-malam. Anak-anak kecil juga tak tahu lagi kapan mereka harus pergi tidur. Para pelacur juga sama. Sekarang mereka merayu para lelaki siang-siang, dengan celana-celana ketat sebatas selangkangan, hanya karena mereka tak bisa lagi membedakan siang dan malam.

Di sana, orang-orang berjalan dengan mata terbuka lebar-lebar dan hati tertutup rapat-rapat. Mereka belum juga sadar, lampu-lampu itu tak bisa membelalakkan hati. Beberapa dari orang-orang itu bahkan menjadi sangat keji. Kudengar mereka meracun komodo-komodo di kebun binatang karena lahan itu ingin mereka ganti jadi pusat perbelanjaan. Brengsek, kadal-kadal itu tidak punya dosa. Lagipula lahan itu juga tempat hidup banyak pohon besar. Apa mereka kira bangunan batu dengan lampu-lampu terang itu bisa membuat mereka tetap bernafas? Apa mereka kira uang bisa membuat paru-paru mereka tetap bekerja? Dasar bajingan! Orang dewasa memang egois. Semoga Tuhan mengijinkan hati bocahku tetap mendekam di tubuhku yang mulai tinggi. Aku benar-benar berharap begitu. Terserah apa harapanmu,  harapanku akan tetap begitu.

*****

Jangankan lampu-lampu sebesar telur dadar, kota tempatku singgah sekarang ini tanpa lampu jalan. Tidak ada tiang-tiang lampu yang seperti pohon kelapa yang berhadap-hadapan dengan ujung menyala. Tidak ada besi-besi tinggi terpancang rapi dan tegak, yang berbaris lebih rapi dari tentara yang lari pagi, bahkan juga berdiri lebih tegak dari hukum-hukum yang ada di seluruh kerajaan ini.

Keadaan yang seperti itu sempat membuatku kikuk setiap keluar rumah malam-malam. Aku terbiasa dengan keadaan di mana aku tak tahu yang mana siang, yang mana malam, seperti pelacur-pelacur di kota asalku. Tiba-tiba saja aku dihadapkan pada kenyataan, gelap itu ada. Mataku tak lagi terbiasa dengan gelap yang seperti ini, pupilku tak bisa membesar seperti kucing jika keadaan berubah gelap. Terang saja aku buta. Setiap malam aku hanya diam di dalam rumah dan duduk di bawah cahaya lampu.

Pada malam ke tujuh puluh tujuh, rumahku mati lampu. Kupikir setelah itu aku akan ikut mati. Aku jadi ingat kakekku. Tempat kakekku tidur sekarang mungkin seperti ini. Gelap dan pengap. Gelap yang membuat bulu kudukku berdiri  dan pengap  yang membuat dadaku sesak. Aku tak pernah mengunjungi kuburan kakekku. Nenek bilang waktu ibu masih kecil kakek menghilang. Sekarang mungkin kakek sedang tidur, ditumpuk bersama ratusan orang lainnya yang juga dianggap PKI. Aku tak tahu di mana kakek sekarang tidur, tapi nenek membuat sebuah kuburan yang tak berisi belulang di pemakaman umum dekat rumah. Agar bisa kukunjungi setiap lebaran, katanya. Tapi yang seperti itu tak pernah kuanggap. Bukankah kakekku juga tak pernah ada di sana?

Masih pada malam yang sama, aku juga masih duduk di bawah lampu. Lampu yang sekarang sedang tak suka menyala. Perusahaan Listrik Milik Negara itu membenciku, dan menghasut lampu di rumah agar ikut membenciku. Begitu mudahnya benci ditularkan. Penyakit endemik manusia yang menyebar cepat dan menjangkit seluruh kota.

Badanku menggigil. Tadi pagi hasil tes darah memvonisku terserang malaria. Penyakit, selain benci, yang juga endemik di kota ini. Rasanya benar-benar seperti bermain-main dengan kematian, dan aku masih menunggu-nunggu Izrail menemukanku pada permainan petak umpet ini. Mungkin dia sedang  asik mengobrol bermain poker dengan calon-calon presiden dengan taruhan sederhana, yang kalah harus disingkirkan lebih dulu dari persaingan. Atau mungkin dia sedang mengasah sabit. Entahlah, aku sendiri masih tidak mengerti kenapa dia digambarkan seseram itu, berjubah hitam menutupi kepalanya yang hanya tersisa tengkorak dan membawa sabit melengkung yang sangat besar. Kematian seharusnya tidak dibuat menjadi hal yang menyeramkan, bukan?

Tapi  memang begini lah keadaan malam di sini. Jalan-jalan sepi, melewatinya malam-malam hanya membuatku merasa menjadi seekor rusa, sedang diintai dengan panah dari suatu tempat. Kematianku akan dibiarkan begitu saja tanpa pemberitaan. Aku tidak pernah membaca tentang kematian rusa yang terpanah di harian pagi, atau berita di televisi. Televisi-televisi itu lebih suka menayangkan iklan rokok daripada kematian rusa. Aku tahu kenapa mereka suka iklan rokok. Rokok-rokok itu akan membuat lebih banyak kematian daripada anak panah. Artinya mereka akan punya lebih banyak berita tentang duka. Penonton suka berita tentang apa pun yang sudah mati, dan televisi-televisi itu pintar. Mereka membuat investasi dengan sangat brilian.

Kegelapan sebenarnya tak seburuk yang kubicarakan. Mereka membuatmu mengenal cahaya, membiarkan diri mereka sendiri terlihat buruk agar kamu bisa memuji sisi lain dari gelap terang. Suatu pengorbanan yang sudah punah di kota asalku sana. Di sana, aku sering dibuat kagum sendiri oleh kemampuan orang-orang mencari sisi terang dirinya  sendiri dan melihat sisi gelap orang lain. Tapi di sini semua orang menghargai kegelapan. Para ayah, ibu, anak-anak kecil, kakek yang merasa semakin sendirian, polisi gendut, juga tentara pincang. Benar-benar semua.

Setiap malam, masing-masing jiwa menikmati remang bulannya sendiri-sendiri. Biasanya para ayah memangku anak-anak di dalam rumah, bercerita tentang siang dan matahari, atau semua yang terjadi di antaranya. Tentu saja anak-anak kecil itu yang bercerita, dan ibu-ibu mereka tersenyum mengapit lengan para ayah. Tentara-tentara pincang sibuk mengurut foto kekasihnya yang berada di pulau Jawa, atau Sumatra, atau juga di belahan lain Indonesia. Karena itu mereka pincang. Sebelah hatinya tak pernah turut serta. Semua bahagia melakukannya, mereka bahagia akan hal-hal sederhana. Tanpa Armani atau Prada.

***

Pada setiap malam disini yang penuh dengan kunang-kunang, aku masih terus saja bertanya, mana di antara mereka yang pernah singgah pada rahim ibuku? Mana yang menjelma aku? Mana yang menjelma kakakku? Mana yang menjelma kamu? Ah ya, kamu. Begitulah rindu. Kalau sedang malaria begini, aku jadi berharap bisa melihat wajahmu sebelum mati. Apa pun yang kulihat, yang bercermin lekat pada mata, semua menjadi katalis sempurna untuk kerinduan. Aksi-reaksi yang cepat, membuat ada semua yang tiada. Wajahmu benar-benar fatamorgana oase di padang pasir bagi batang otakku yang dehidrasi hampir mati.

Setiap aku diserang rindu yang datang dengan pengecut, aku membaca buku darimu, Mrs. Cook, Marele Day. Lembaran-lembarannya yang mulai kuning tak pernah gagal membuatku tersenyum. Cerita di dalamnya bukan lelucon, menunggu kekasihmu yang mengukur luas lautan mencari benua baru tak pernah pantas ditertawakan. Bukan, aku tidak tertawa karena itu. Lembar-lembar coklat itu penuh sindiran, bahwa aku harus sadar, perahuku punya pelabuhan besar untuk bersandar. Hatimu, pelabuhan besar itu tak mengijinkan perahu mana pun untuk merapat. Aku harus ingat, kamu menunggu. Kamu ini Marele Day?

Setelah tandas belasan lembar, aku tak kuat lagi membaca. Rindu tak pernah bisa dikurung. Mereka suka menjadi uap-uap yang berkumpul mengepul memintal awan rindu. Lalu mengambang bersama dengan rindu-rindu orang lain untuk kemudian jatuh di kotamu dan kota tujuannya masing-masing. Hujan-hujan itu akan menggerimis mengantar getar yang sama. Lalu kamu juga rindu, akan terus begitu hingga kiamat. Permasalahannya, kotamu jarang hujan dan aku tak mau rindu sendirian. Jadi aku berhenti, biar aku tak terlalu rindu.

Kamu pernah dengar ini? Biar rindu jadi batasnya, maka manis tak jadi cuka. Aku tak suka ungkapan itu. Bukan karena kata-katanya yang terlalu romantis, tapi karena peribahasa itu penuh kebohongan, tak sama denganmu. Air mukamu tak pernah manis saat rindu, selalu seasam cuka. Tak ada yang tahu,  kecuali aku.

Mozes Kilangin, 31 Oktober 2014