Hadiah

Alkisah, di sebuah desa terpencil di kaki gunung, hiduplah seorang perajin muda. Dia adalah seorang pria yang tinggal sendirian di rumahnya yang sederhana di pinggir desa.

Seperti selayaknya semua pemuda, pria itu menyukai seorang gadis. Seorang gadis istimewa dengan wajah bercahaya dan senyum paling indah di dunia. Dia mencintai gadis itu sepenuh hatinya. Sayangnya dia tidak memiliki cukup keberanian untuk mengatakan perasaannya secara langsung. Dia adalah seorang pengecut yang lebih suka menunggu.

Suatu hari, pria itu dengan penuh semangat mengambil sebuah cetak biru dari dalam raknya. Dia menyingkirkan semua barang yang berada di atas mejanya dengan satu ayunan tangan, setelah itu dia menghamparkan cetak biru itu di sana.

Dia tersenyum. Ini akan jadi hadiah teristimewa untuk sang gadis yang telah lama menjadi pujaan hatinya. Pria itu menatap kalender kecil yang terpasang di dinding. “Satu bulan …,” dia punya cukup waktu.

Pria itu kemudian mulai bekerja. Hari pertama dia pergi jauh ke pedalaman gunung untuk menebang sebuah pohon raksasa. Pohon tua dengan kayu elastis, kuat nan harum semerbak. Lima hari kemudian dia kembali membawa batang kayu sepanjang sepuluh meter. Dia menggotong sendiri batang kayu tersebut dari dalam hutan selangkah demi selangkah, sampai kakinya lecet dan berdarah. Tapi dia tetap tersenyum, karena ini semua adalah demi dia, sang gadis istimewa.

Hari berikutnya dia habiskan untuk memotong-motong batang kayu itu, keringat mengucur deras dari seluruh tubuhnya, membuat serupa kolam di sekitarnya. Tapi dia tetap tersenyum, karena ini semua adalah demi dia, sang gadis istimewa.

Potongan kayu itu dia susun dan ukir sedemikian rupa sehingga membentuk sebuah kotak kecil yang sangat indah.

Setelah itu dia langsung pergi ke kota. Selama dua minggu dia berlatih memainkan alat musik. Satu-demi-satu panggung orkestra dia datangi. Siang dan malam dia berlatih untuk memainkan biola dan piano, harpa dan cello, sampai keseluruh jarinya melepuh, kulitnya terkelupas dan mengeluarkan darah. Tapi dia tetap tersenyum, karena ini semua adalah demi dia, sang gadis istimewa.

Hasil latihannya yang berupa simfoni kemudian dia tuangkan dalam sebuah piringan hitam, sebuah simfoni cinta yang dapat menggetarkan hati siapapun yang mendengarkannya.

Dia memasang piringan tersebut ke dalam kotak, kemudian dengan susah payah dia membuat sebuah mekanisme yang mirip dengan kotak musik, agar ketika kotak itu dibuka, simfoni yang telah dia rekam sebelumnya akan langsung terputar. Berhari-hari dia habiskan untuk membuat mekanisme rumit dan mendetail, sampai-sampai matanya sayu dan tubuhnya kering kerontang karena tidak sempat makan dan tidur. Tapi dia tetap tersenyum, karena ini semua adalah demi dia, sang gadis istimewa.

“Selesai!”

Tepat di hari ketigapuluh, dia selesai mengecat kotak itu dengan warna cokelat dan emas. Untuk membuat kotak itu lebih bersinar, dia rela menjual harta bendanya yang tidak seberapa untuk dibelikan kuningan, yang kemudian dia gunakan untuk menghias kotak tersebut. sekarang dia tak punya apa-apa. Tapi dia tetap tersenyum, karena ini semua adalah demi dia, sang gadis istimewa.

Pria itu berjalan dengan pincang, dengan tubuh kering kerontang, serta tangan penuh perban. Dengan gugup mengetuk pintu rumah sang gadis. Dia tidak tahu apakah gadis itu akan menyukai hadiah pemberiannya atau tidak, dia sudah berusaha semampunya, dia bahkan meletakan kepingan hatinya sendiri di dalam kotak itu, agar bisa disimpan oleh sang gadis jika dia mau menerima hadiahnya.

“Tok … Tok … Tok …”

Gadis itu membuka pintu. Wajahnya tampak bercahaya di mata pria itu, gadis itu terkejut melihat sang pria, dia rupanya bahkan tidak mengenal pria itu.

Sang pria dengan ragu memberikan hadiah itu kepada sang gadis, sambil mengucapkan selamat. Gadis itu menerima hadiah dari sang pria dengan sangat riang. Dia tersenyum kepada sang pria, mengatakan bahwa hadiah itu adalah hadiah terindah yang pernah dia terima seumur hidupnya.

Pria itu balas tersenyum. Dia merekam semua momen ini di dalam kepalanya, mengabadikan setiap detiknya dalam ingatan. Apa yang dia lakukan selama satu bulan terakhir ternyata tidak sia-sia. Setelah itu dia pamit pulang dengan hati senang.

***

Tak jauh dari sana, dikisahkan seorang pria lain berjalan di sepanjang jalan menuju ke arah rumah sang gadis. Pria itu tinggi, dan tampan, kaya dan berkuasa. Dia kemudian ingat bahwa hari ini adalah hari spesial untuk sang gadis. Pria itu menepuk jidatnya, dia tidak sempat mempersiapkan apapun.

Dengan tenang pria itu kembali berjalan, lalu saat menemukan sebuah kios bunga, pria itu merogoh sakunya, mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membeli seikat bunga mawar.

Dia sampai di depan pintu rumah sang gadis, setelah memastikan bahwa penampilannya telah sempurna, pria itu mulai mengetuk pintu.

“Tok … Tok … Tok …”

Gadis itu membuka pintu, di tangannya masih ada kado pemberian pria tadi, kali ini wajahnya tampak sangat bercahaya.

Sang pria memberikan seikat bunga itu ke tangan sang gadis, gadis itu segera menyimpan kotak itu di meja kecil di samping pintu, kedua tangannya lalu meraih bunga yang diberikan. Dia tersenyum kepada sang pria, mengucapkan terima kasih, memeluknya, dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.

***