Gone Girl: Mimpi Buruk Pernikahan

Ada masa dalam kehidupan seseorang di mana pernikahan selalu menjadi tajuk utama dalam setiap perbincangan, baik dengan teman sebaya maupun dengan orang asing. Pernikahan, bagi kebanyakan dari kita, adalah ujung dari setiap pangkal hubungan antargender. Ia bagaikan muara dari dua sungai yang bertemu, dan sungai-sungai yang bertemu pasti tidak hanya sekadar mengalirkan air; keduanya mempertemukanikan-ikan, bebatuan, atau bahkan lumpur kotor yang terbawasepanjang perjalanan dari hulu. Muara, atau pernikahan, adalah tempat berkumpulnya baik dan buruk yang diantarkan oleh dua sungai. Dari sinilah “Gone Girl” mengangkat kisah.

“Gone Girl” adalah film terbaru karya David Fincher, yang banyak penggemar film anggap sebagai rajanya film misteri dan turunannya. “Gone Girl” diangkat dari novel laris berjudul sama karya Gillian Flynn; belakangan novel ini juga sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul “Yang Hilang”, dengan sampul warna hijau pirus dan ukuran jauh lebih besar dari versi orisinilnya. Saya sudah membaca “Gone Girl” lebih dari enam bulan sejak akhirnya saya menonton adaptasi filmnya dua hari yang lalu (dengan mengunduhnya secara ilegal, tentu saja, karena film yang dijadwalkan rilis awal Oktober ini batal tayang di Indonesia karena tidak tercapai kesepakatan antara bioskop dan distributor tentang perlakuan lembaga sensor yang memotong bagian-bagian esensial dari film), dan siapapun yang telah membaca bukunya akan berpendapat bahwa novel ini adalah novel yang istimewa: ia ditulis dalam dua sudut pandang, sudut pandang sang suami dan sudut pandang sang istri, secara bergantian di tiap bab. Tidak berhenti sampai di situ, setiap sudut pandang bahkan bergerak ke linimasa yang berbeda-beda pula.

“Gone Girl” adalah kisah misteri tentang—tentu saja—perempuan (dalam hal ini, seorang istri) yang menghilang. Di hari ulang tahun kelima pernikahan mereka, Nick Dunne (diperankan oleh Ben Affleck) mendapati istrinya, Amy Dunne (diperankan oleh Rosamund Pike), menghilang dari rumah mereka di Missouri. Ia menemukan berbagai indikasi bahwa Amy telah dibawa paksa dari rumah mereka, seperti meja yang terbalik, kaca yang pecah, dan cipratan darah di beberapa tempat. Namun, seiring dengan berjalannya penyelidikan oleh kepolisian dan diangkatnya kasus oleh media, rahasia kehidupan pernikahan mereka pun mulai terkuak. Nick menjadi bulan-bulanan publik, akibat tingkahnya yang sembrono di hadapan pers, hingga akhirnya semua pihak mulai menuduhnya sebagai dalang dari menghilangnya (atau terbunuhnya?) Amy.

Bagi penonton yang telah membaca novelnya, kisah penuh kejutan dan rahasia tentang kehidupan pernikahan Nick dan Amy Dunne tentu bukan lagi jadi jualan sang pembuat film yang akan kita beli dengan harga mahal. Apalagi setelah Gillian Flynn, sang penulis novel yang ditunjuk langsung untuk menulis skrip filmnya, mengatakan di sebuah sesi Ask Me Anything di Reddit bahwa walaupun ada sedikit perubahan cerita untuk versi filmnya, itu hanya perubahan kecil yang tidak merubah substansi cerita secara berlebihan. Maka jadilah “Gone Girl” sebuah film yang (terlalu) setia dengan novelnya, tidak hanya dari segi cerita tetapi juga segi penceritaan.

Gaya penceritaan dua sudut pandang versi novelnya dipertahankan sampai ke filmnya, membuat film “Gone Girl” kaya akan cuplikan flashback dari kedua tokoh utama. Saya ingin mengeluh tentang hal ini (karena saya berharap Fincher dan Flynn punya cara lain memformulasikan gaya narasi yang terlalu text-book itu ke bentuk yang lebih movie-ready), tetapi kemudian saya mahfum bahwa mempertahankan gaya penceritaan seperti itu adalah keputusan yang paling baik. Karena di sinilah kemampuan kru mengolah segi teknis menemukan arenanya untuk unjuk gigi. Di sebuah adegan saat Nick berbincang dengan saudari kembarnya Margo (diperankan oleh Carrie Coon), Nick menenggak bourbon dalam gelas hingga habis, lalu meluncurkan gelas tersebut di atas meja hingga masuk ke fokus kamera, lalu layar fade-out dan cerita berpindah sudut pandang ke Amy yang tengah menulis entri untuk diary-nya. Permainan visual macam ini membuat penonton terperangah dan sadar bahwa mereka tidak sedang menonton film misteri biasa. Belum lagi olahan musik “berisik” karya Trent Reznor dan Atticus Ross, duo komposer yang belakangan jadi langganan David Fincher sejak “The Social Network”, yang memberikan efek mengganggu dan mendebarkan, membuat penonton terus antusias duduk manis menguntai kisah yang tersulam panjang dalam hampir 2,5 jam durasi film.

Tapi betapapun, ini adalah fiksi yang berlandaskan narasi. Seperti apapun olahan teknisnya, jika kisahnya tidak menarik, sia-sia saja. Dan “Gone Girl” kembali membuktikan bahwa membuat kisah yang telah diketahui banyak orang menjadi tetap menarik adalah tantangan yang entah mengapa terasa ringan di tangan David Fincher. Ia tetap membuat film ini menusuk hati dan pikiran setiap penonton, seperti mendoktrin bahwa pernikahan bisa jadi adalah hal yang paling mengerikan dalam hidup seseorang. Ia berhasil menghantui penonton dengan bayang-bayang terburuk yang mungkin terjadi saat dua sungai kehidupan bertemu dalam muara pernikahan, saat endapan lumpur yang terbawa arus kadarnya lebih pekat dari air jernih yang menderaskan ikan-ikan.

Dalam beberapa adegan yang hampir pasti akan kena gunting sensor jika jadi tayang di bioskop lokal (membuat saya bersyukur saya tidak menontonnya di bioskop), kekuatan visual menerjemahkan permainan kata-kata ala novel dengan cara yang paling brutal, melampaui imajinasi saya saat mencerna kata-kata yang saya serap saat membaca novelnya, membuat penonton merasa tidak nyaman—entah dengan filmnya atau dengan kekhawatiran mereka bahwa yang mereka saksikan di film mungkin bisa terjadi nyata di hidup mereka. “Gone Girl” adalah mimpi buruk setiap pernikahan, sekaligus bukti bahwa kisah sederhana tentang orang hilang bisa menjadi suguhan menarik di tangan mereka yang serius dan visioner. Menikah? Pikir lagi.

***

Gone Girl (2014)

Diadaptasi dari novel “Gone Girl” karya Gillian Flynn

2014 / Drama, Thriller / 149 menit / R

Sutradara: David Fincher

Pemain: Ben Affleck, Rosamund Pike, Carrie Coon, Neil Patrick Harris, Tyler Perry, Kim Dickens, Patrick Fugit, Emily Ratajkowski, dll.

  • http://galihrakas.com Galih Rakasiwi

    nice review. agak kecewa sama ben affleck yg main ala kadarnya aja di film ini. beruntung, rosamund pike di film ini badass betul aktingnya. never thought she could be that good.

  • http://dedehate.tumbr.com Masboi

    Keren bang ulasannya. Rosamund Pike akhirnya mendapatkan peran yang semestinya.