Genderang vs Sangkakala

Kapal besar yang diklaim tak bisa tenggelam itu akhirnya tunduk oleh kuasa alam. Kebocoran lambung akibat menabrak gunung es, pelan tapi pasti, meruntuhkan keangkuhan sang arsitek. Ribuan nyawa melayang akibat hipotermia dan lambatnya pertolongan. Peristiwa yang terjadi pada tahun 1912 itu pada 1997 diangkat ke layar lebar oleh James Cameron.

Saya tak hendak mengulas keseluruhan jalan cerita film yang bergenre roman tersebut. Yang menarik perhatian saya adalah secuil yang mungkin terlewat oleh para pemirsa. Adegan tersebut adalah keteguhan hati para pemain musik yang tetap memainkan “senjatanya” meski kapal hampir tenggelam. Adegan ini konon benar-benar terjadi, bukan rekaan sang sutradara.

Lalu apa yang membuat para pemusik ini sedemikian teguh? Semata-mata untuk menenangkan kepanikan penumpang yang sedang berjuang mencari celah kehidupan. Musik dianggap sebagai sesuatu yang mampu membawa efek ketenangan batin bagi pendengarnya.

Selain Titanic, saya juga teringat dengan seorang penabuh genderang di olahraga perahu naga. Saat rekan-rekan satu timnya sibuk mendayung perahu, atlet yang satu ini malah asyik menabuh genderang di haluan. Perannya tak main-main, memompa semangat rekan-rekannya agar energinya tak surut. Hal serupa juga terjadi di korps Tentara Nasional Indonesia. Jangan bayangkan seluruh serdadu itu selalu berurusan dengan perang dan angkat senjata. Mereka memiliki korps musik. Korps tersebut selain bertugas sebagai bagian dari acara seremonial, juga sebagai barisan penyemangat bagi rekan-rekannya yang sedang bertempur.

Musik—genderang, pujian, teriakan, atau apapun itu—adalah jelmaan sebuah retorika. Retorika dibutuhkan ketika seseorang atau sekelompok orang sedang menghadapi tantangan. Retorika diperlukan agar semangat seseorang tetap terjaga, tak larut oleh kantuk, tak lekang oleh lelah yang mendera.

Ketika manusia dihadapkan pada hal yang rutin, lambat laun akan muncul kebosanan. Ketika manusia dihadapkan pada situasi sulit, secara naluri dia akan mencari siasat untuk keluar dari situasi tersebut. Hal itu akan berlangsung sampai pada satu titik, apakah manusia tersebut akan menyerah atau memenangkan pertarungan. Yang menyerah bukan berarti manusia lemah karena kelemahan bukan satu-satunya faktor penyebab kekalahan.

Segudang kisah tentang rekan-rekan di Direktorat Jenderal Pajak lantas menyeruak. Tengoklah penggalan cerita ini. Ketika sedang menunaikan tugasnya dalam rangka penggalian potensi atau penegakan hukum, seorang petugas pajak menghadapi beragam hal tak menyenangkan. Mulai dari keterpaksaan menalangi uang transportasi dan penginapan, intimidasi dari beking perusahaan, sampai tak adanya dukungan sesama aparat penegak hukum. Belum lagi masalah klasik, keterbatasan sarana kerja, kendala alam, dan jauh dari keluarga. Semua itu bukan cerita rekaan. Bukan pula cerita baru, bahkan nyaris menjadi cerita usang.

Pimpinan tertinggi Direktorat Jenderal Pajak bukannya tak tahu dengan kondisi tersebut. Tak kurang Presiden sendiri pun turun tangan. Sebuah langkah penguatan Ditjen Pajak sedang disiapkan. Namun sampai sekarang publik masih belum mendapatkan gambaran yang utuh tentang hal itu. Suara yang keluar di ranah publik amat samar, cenderung berkutat pada hal-hal normatif. Yang lebih banyak berseliweran di kalangan pegawai Ditjen Pajak malahan isu-isu yang hampir setiap hari berganti topik lalu menghilang tak jelas.

Presiden yang terhormat, ketika Anda mencanangkan penguatan Ditjen Pajak, sebenarnya Anda tengah menjadi penabuh genderang bagi komponen bangsa ini untuk menguatkan diri sendiri. Hanya saja tabuhan Anda kurang keras. Tabuhan Anda lalu sirna ditelan sorak-sorai pendukung kubu lawan. Tabuhan Anda kurang gandem. Malah masih kalah dengan tabuhan Anda sendiri ketika menyemangati Bu Susi.

Presiden yang terhormat, saya tidak akan mengajari Anda cara menabuh genderang. Saya hanya ingin mendengar Anda, dengan bahasa yang lembah manah, berkata begini, “Rekan-rekan Ditjen Pajak. Mulai saat ini setiap penugasan Anda akan dikawal dari Kepolisian dan TNI. Ndak usah mikirin uang rokok mereka. Pak Dirjen, ambilkan dari honor narasumber. Saya sudah bilang sama KPK dan BPK, hal kayak gini jangan jadi temuan mereka. Sudah sana pada kerja yang semangat lagi. Kejar target, bonus tak pikirin. Ini bukan PHP, lho.”

Saya cemas, Pak. Saya cemas jika tak segera mengambil stik pemukul genderang, Panjenengan akan tersalip oleh tiupan sangkakala mafia sebelah.

  • http://www.arifkancil.com arif wibowo

    se hoax apapun kabar berita yang beredar, bagi saya sangat lebih bagus dari pada tidak ada kabar burung sama sekali. ada premis yang mengatakan bahwa manusi itu hidup dari harapan. kalo manusia sudah tidak punya harapan, berarti sudah mati dia.

    tulisan yang mak nyus mas…sangat senang saya bisa berkenalan dengan satu lagi korps djp yang piawai menulis. ijin nyantrik mas, dan kalo berkenan monggo mampir ke sini http://www.arifkancil.com/2015/01/jangan-samakan-den-bagus-dengan-koruptor.html

  • http://www.pradirwan.tk pradirwan

    Klo sekarang kayaknya belum kepikiran buat nabuh genderangnya. Lagi sibuk mikirin polri pak…? 😀
    Tapi artikelnya mantap dah…

  • http://www.fotonyadeddy.com deddy

    topiknya sama kok setiap hari, dengan kemasan dan sumber yang berbeda…hahahaha… tetap semangat!!