Perempuan yang Melahirkan Berhala

Ibuku cantik. Ibuku lembut. Ibuku yang lembut dan cantik itu makin cantik karena ia tampak rapuh. Kau tahu kan, perempuan dengan tulang pipi yang tipis, mata yang redup, rambut yang halus, yang jika berjalan tampak seakan-akan ia sedikit melayang, yang jika kau bikin ia malu sedikit saja maka warna merah jambu akan menjalar cepat ke pipinya dan membuatmu ingin mendaratkan kecup di sana? Ibuku secantik itu. Ia punya sesuatu yang membuatmu akan seketika merasa harus turut menjaganya, ia seperti sesuatu yang mudah pecah, semacam vas bunga kristal yang kau lebih ingin menaruhnya di lemari kaca ketimbang meletakkannya di meja karena takut orang-orang ceroboh atau anak-anak nakal yang selalu berlarian akan menjatuhkannya.

Barangkali ibuku memang pernah pecah, lalu ayahku yang baik dan sabar membantunya memungut pecahan-pecahan dirinya dan menyatukannya lagi dengan lem ajaib. Tapi kau pasti tahu, segala sesuatu yang pernah pecah tidak akan pernah sama lagi sepintar apapun kau menyatukannya kembali. Ibuku juga begitu. Aku bisa melihatnya retak dan bagaimana ia terus memeluk dirinya sendiri seeratnya, berusaha agar tidak kembali pecah. Aku tahu ia melakukannya bukan demi dirinya atau ayah, melainkan demi aku. Ini membuatku merasa begitu dicintai sekaligus merasa sangat bersalah pada waktu yang sama.

Ibu pernah bercerita padaku dengan suara lembutnya yang selalu terdengar seperti datang dari jauh, bahwa pada saat aku masih dalam kandungannya, tepat pada malam kehamilannya memasuki usia tujuh bulan, aku sempat menghilang. Kau tahu hal-hal semacam itu sering terjadi, saat tiba-tiba seorang perempuan hamil kehilangan bayi dalam kandungannya begitu saja. Orang-orang yang suka bergunjing sangat senang dengan cerita-cerita macam ini, mereka akan dengan rahasia berbisik-bisik tentang bagaimana tiba-tiba perut seorang perempuan hamil mengempis, tentang siapa-siapa yang mungkin berniat jahat dan memakai bantuan dukun berilmu hitam untuk memindahkan si jabang bayi dari rahim ibu kandungnya ke dalam rahimnya sendiri. Ibuku pernah bilang, beberapa orang memang senang mencuri, tapi terkadang mereka mencuri dari orang yang salah atau mereka mencuri sesuatu yang tahu cara melawan. Ibu selalu memujiku sebagai anak yang sangat kuat, aku memang hilang beberapa saat tetapi ibu tahu bahwa aku akan kembali padanya. Dan ya, berkat keyakinan ibuku, aku kembali kepadanya, tinggal di dalam rahimnya dan menjadi anaknya yang setia, sampai sekarang.

Pada ibu aku selalu bisikkan, “aku adalah anak yang paling tidak ingin kemana-mana di dunia. Satu-satunya tempatku adalah bersamamu, Ibu.”

Saat aku mengatakan semua itu, ibu akan tersenyum dan mengusap sudut matanya. Tentu saja aku tahu itu airmata bahagia. Aku adalah hal yang paling dekat dengannya dan penilaianku tak mungkin keliru mengenainya.

Ibuku hampir tak pernah salah mengenai apapun. Satu-satunya kesalahan ibuku barangkali adalah bahwa ia terlalu menyayangiku. Ayahku, ia tidak pernah menyayangiku, kalau tidak bisa dibilang membenciku. Aku tidak menyalahkannya. Mencintaiku memang hal yang sama sekali tidak mudah. Kalau bukan karena kekeraskepalaannya dalam mencintai ibu, aku yakin ayah sudah pergi dari kami. Dari ibuku aku tahu bahwa ayah cemburu padaku, menurutnya ibu sudah terlalu melebih-lebihkan segala hal karena aku.

Ayahku orang yang baik (meski tentu saja tetap tak sebaik ibuku), dan ia sangat taat pada agamanya. Dia selalu membawa kitabnya kemana-mana, dibacanya saat waktu luang seperti orang membaca koran. Kadang-kadang aku merasa ayahku membutuhkan sedikit hiburan. Ia begitu serius, serius saat bekerja, serius saat olahraga, serius saat bicara dengan ibuku, bahkan ia serius saat bercanda. Orang-orang di sekitarnya akan tertawa, jenis tawa yang mau tak mau kau akan lepaskan saat kau mendengar seseorang mengatakan sesuatu yang tak kau pahami lalu ia tertawa atas leluconnya sendiri dan kau tak tega jika tak ikut tertawa. Ayahku begitu, terlalu serius, tapi ia baik. Kecuali kepadaku.

Ayah sangat menginginkan anak laki-laki. Aku mengerti keinginan ayah, aku juga mau adik laki-laki, siapa yang tidak? Mungkin sulit buatnya menghadapi dua perempuan keras kepala di rumah, barangkali ia ingin anak yang bisa ia ajak kelahi-kelahian, yang bisa menemaninya menonton pertandingan bola sampai larut malam sementara aku baginya sama sekali tidak bisa diharapkan. Tapi lagi-lagi ayah harus kecewa. Ibu terlalu mencintaiku. Dia tidak bersedia mengandung lagi sebab menurutnya itu akan membawa pengaruh buruk buatku. Ibu tidak bisa membagi diri dan kasihnya untuk anak selainku.

“Tidak! Kubilang tidak. Apa yang akan terjadi pada Ara kalau aku sampai mengandung lagi? Kau tahu kalau sampai terjadi apa-apa pada Ara aku tidak akan bisa menanggungnya.”

“Kau ini sampai kapan akan begini terus Rana?! Yang harus terjadi pada anak itu sudah terjadi. Kau mau aku melakukan apa?”

“Kau bisa menikah dengan orang lain. Oh ya, dan kau bisa berhenti menyebutnya dengan -anak itu-, dia punya nama, Cemara.”

Itu pertengkaran mereka dulu sekali, pertengkaran yang terus kudengar diulang-ulang kembali sampai bertahun-tahun kemudian. Saat itu aku baru berumur lima tahun, aku meringkuk dan masih ingat bagaimana ibuku mengelusku pelan saat dengan suaranya yang dingin dan jauh itu ia menyuruh ayah menikah dengan orang lain. Ibu selalu begitu, ia selalu menyuruh ayah meninggalkannya setiap ayah berbicara tentang kemungkinan memiliki anak lagi juga setiap ayah menegurnya mengenai kedekatan ibu denganku yang menurutnya tidak wajar. Aku tidak mengerti kenapa ayah tidak pergi saja, apakah ayah memang benar-benar sedemikian cintanya pada ibu, menerima seperti apapun adanya ibu? Tetapi kalau dia memang menerima ibu mestinya ia juga menerimaku bukan? Aku sebundel-sepaket dengan ibu, kami tidak mungkin dipisahkan kecuali jika sudah mati salah satu. Apa sulitnya ayah memahami itu?

Sesering apapun ibu mempersilakan ayah meninggalkan kami, selama itu juga ayah bergeming. Lama-kelamaan aku merasa agak berlebihan kalau aku bilang bahwa ayah bertahan semata-mata karena saking cintanya ia pada ibu. Aku lebih percaya itu karena ayahku adalah orang yang taat pada apa kata kitabnya. Agamanya tidak mengenal perceraian. Aku percaya ayah mencintai ibu, namun aku juga percaya sebesar itu pulalah sebenarnya ia ingin pergi dari ibu. Tapi bagaimana mungkin seorang yang pekerjaannya membaca firman Tuhan bisa meninggalkan istrinya? Seseorang yang dikirim Tuhan untuk ia kasihi (dan sudah pasti juga diciptakan untuk menguji keimanannya) tidak mungkin ia tinggalkan begitu saja bukan? Lagipula meski bercerai di meja hijau, di sebuah tempat yang agung di Roma sana, perceraian mereka tidaklah berarti apa-apa. Bukankah apa yang sudah diikat Tuhan, tidak akan bisa diceraikan oleh manusia?

“Yang sudah dikirimkan Tuhan adalah yang terbaik, terbaik dalam sukacita atau terbaik dalam ujian-Nya.”

Demikian aku sering mendengar ayah berbisik pada dirinya sendiri setiap malam, sesaat setelah ia mematikan lampu meja di samping kiri tempat tidurnya. Kadang suaranya sangat lirih, kadang datar, dan sesekali kau akan bisa mendengar suaranya meragu dan gemetar. Tapi selebihnya dia selalu mengucapkannya dengan yakin dan sungguh-sungguh, seperti layaknya seorang pemeluk teguh.

Senaif apapun ayahku, sesungguhnya tidak akan sulit buatku menerimanya sebagai ayah. Ia tampan, juga gagah dan ramah, jauh dari memalukan untuk diakui sebagai orang tua. Sayang sekali ia tidak mengerti aku, tidak mengerti ibu. Hanya aku yang mengerti ibu, seperti halnya cuma ibu pula yang mengerti aku. Sementara orang lain lebih suka menganggapku tidak ada, ibuku tidak pernah bosan mengajakku bicara, tentang apa saja. Dia setia membacakanku seri dongeng dunia setiap malam sampai aku berumur dua belas tahun. Dia mengenalkanku pada puisi, ia selalu membaca buku keras-keras, memastikan aku mendengar setiap kisah yang ada pada buku di tangannya. Ibuku senang bernyanyi, kadang-kadang ia mengajakku menari mengelilingi kamar atau ruang tengah. Setelahnya dia akan mengusap dahinya yang sedikit berkeringat sambil tertawa gembira.

“Kau benar-benar anak paling tenang dan penurut sedunia, Ara,” begitu ia memujiku setiap kami selesai bermain bersama. Oh, lihatlah ibuku yang demikian hangat dan penuh cinta, mengapakah dunia begitu sulit memahaminya?

Demikianlah kami berdua bertahan dari tahun ke tahun. Terkadang aku merasa rancu antara apakah aku yang bergantung pada ibu atau ibu yang bergantung padaku. Ibuku, vas bunga cantik yang ada di lemari kaca itu, semakin hari aku melihatnya semakin rapuh. Aku sungguh ingin melindunginya tapi sepertinya aku justru malah melemahkannya. Di malam-malam yang paling larut, atau menjelang dini hari, ibuku akan mengerut di tempat tidur, merintih-rintih pelan karena kesakitan, lalu diam dengan tubuh menegang saat dirasanya ayah bergerak atau terbangun. Pada pagi-pagi setelahnya, aku dan ayah akan melihat wajahnya yang pucat dengan lingkaran mata yang gelap dan bibir biru gemetar. Berkali-kali ayah memaksa membawanya memeriksakan kesehatannya, tapi kau tahu ibuku, semakin gigih ayah memaksa, semakin keras ia menolak. Ibuku kian kurus dan layu, ayahku nampak makin menderita. Jika aku punya satu saja kesempatan untuk menyelamatkan ibuku, demi seluruh dongeng dan cerita yang pernah kudengar, aku akan melakukannya. Aku akan mencari cara, segera!

***

Namaku Cemara. Ibuku biasa memanggilku Ara. Dia satu-satunya orang yang sudi menganggapku ada. Pada hari yang seharusnya jadi ulang tahunku kesekian belas, ayah menemukan ibuku tergeletak tidak sadarkan diri di kamar mandi dengan darah mengalir deras dari sela pahanya. Aku berteriak-teriak sebisaku meminta ayah agar segera menolong ibu. Sepertinya kali ini ayah mau mendengarku karena ia segera membawa ibu ke bangunan besar beraroma aneh dan berhawa dingin, tempat yang selalu dihindari ibuku sejak lama sekali, rumah sakit. Aku terus mengikuti kemana ibu dibawa, dan kami sampai pada sebuah ruangan dengan lampu-lampu menyilaukan dan orang-orang bermasker hijau, bertutup kepala dari semacam plastik tahan air. Ibu, apakah mereka alien seperti yang dulu sering kau dongengkan padaku? Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, ibu diam tak menjawabku. Aku hanya bisa merasakan ketakutan dan dingin yang sangat mulai merayap ke seluruh tubuhku.

Aku tidak tahu apa yang terjadi, kini aku, ayah dan seorang laki-laki berwajah ramah dengan kemeja kelabu yang ditutupi jas berwarna putih berada di sebuah ruangan lain yang hawanya menggigit oleh mesin pendingin ruangan. Ayahku duduk tegang dengan wajah lelah. Aku ketakutan dan terus bertanya-tanya ibu di mana.

“Sebenarnya istri saya sakit apa, Dok?”

Laki-laki yang ayah panggil Dok tersenyum mendengar suara ayah yang tak sabar,

“Ibu Rana kondisinya belum sadar tetapi stabil, sekarang ada di ruang perawatan untuk pemulihan. Dan, istri Bapak sebenarnya tidak sakit.”

Oh aku lega sekali mendengar bahwa ibu tidak sakit, tapi ayah sepertinya tidak begitu, duduknya malah beringsut maju menempel ke meja di depannya.

“Mak-sud Dok-ter?”

Ayahku terdengar frustrasi, dahinya mengerut dan kedua telapak tangannya saling menggenggam. Dia seperti sedang mencari kekuatan dan aku ingin sekali mengulurkan kitab sucinya kepadanya saat itu juga. Kitab suci selalu bisa membuatnya tenang.

“Lithopedion.”

“Lithopedion?”

“Kami menemukan janin berumur dua puluh delapan minggu. Kemungkinan Ibu Rana pernah mengalami keguguran dan janinnya masih tinggal di dalam rahim. Barangkali saat itu tidak dilakukan dilatasi dan karena ada mekanisme untuk menghindarkan tubuh ibu dari infeksi sebab busuknya organ sang janin, jasad bayi tadi mengalami kalsifikasi atau bisa dibilang membatu.”

Aku melihat wajah ayah memutih dengan cepat, mulutnya berulang kali terbuka kemudian mengatup kembali tanpa menghasilkan suara. Aku bisa mendengar mesin pendingin ruangan mendengung halus, juga jam dinding berdetak tajam.

“Enam belas tahun.”

Suara ayah terdengar jauh dan lelah, ia kini bersandar lemah di kursinya.

“Rana keguguran enam belas tahun yang lalu. Sejak itu ia sama sekali tidak pernah mau menginjak rumah sakit. Saya tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Enam belas tahun ia membawa mayat yang membatu dalam tubuhnya.”

Lelaki berjas putih berwajah sabar yang kini kutahu adalah dokter tampak menahan napas sejenak.

“Lithopedion memang langka sekali terjadi.”

Ayah diam. Aku diam.

“Karena itulah kami perlu menyimpan ini di lab kami untuk keperluan penelitian medis. Bapak tidak keberatan?”

Belum sempat ayah bereaksi, dokter menyodorkan kepada ayah sebuah wadah alumunium yang tadi berada di meja di samping tempat duduknya.

Ayah dan aku sama-sama tercekat.

Akhirnya kami saling tatap.

***

Namaku Cemara. Ibuku selalu memanggilku Ara. Aku tinggal di rahim ibuku selama enam belas tahun. Ayahku tidak pernah menyukaiku. Pada saat kami pertama kali bertemu di umurku yang keenam belas, dia sama sekali tak mau menyentuhku. Wajahnya nampak menyedihkan, pucat seperti mayat. Barangkali aku menakutkannya, seperti iblis yang dia baca di kitab sucinya. Konon orang-orang di luar sana menyamakanku dengan batu berhala, kudengar mereka menyebutku seperti Latta atau Uzza dalam ukuran yang kecil. Kau tahu, mereka orang-orang yang sama yang enam belas tahun lalu berbisik-bisik rahasia mengenai perempuan yang bayi dalam kandungannya hilang dicuri oleh dukun ilmu hitam. Kini mereka saling bertemu kembali untuk berbisik-bisik tentang perempuan malang yang melahirkan berhala.

Aku rindu ibuku. Ibuku yang cantik dan rapuh seperti vas bunga dalam lemari kaca itu kini pecah untuk kedua kalinya. Dari balik tabung kaca berisi cairan formalin, aku menyaksikannya hancur berderai-derai. Ayahku tak pernah bisa kembali merekatkan pecahan ibuku. Lem ajaibnya sudah hilang dari sejak dia bersitatap pertama kali dengan sepasang mataku yang beku.

  • Anggia Yong Pratama

    Saya emosi bacanya, setelah sampai di paragraf-paragraf akhir, baru sadar ini cerpen. Saya kira kisah nyata.