Logika Ubi Jalar dan Umbi-umbian Lainnya

Catatan: tulisan ini sebenarnya ditujukan untuk Arman Dhani atas tulisannya di mojok.co. Barangkali dikarenakan tidak lolos kuratorial di mojok.co yang super ketat dan hanya mengunggah tulisan-tulisan berkualitas terwahid dari yang paling wahid, atau yang semacam panduan penting hidup seperti ini, maka tulisan ini cuma mengonggok di pojok kotak surat redaksi Mojok.

***

Mas Dhani yang budiman dan nikahable, saya selalu mak tratap setiap kali membaca tulisan-tulisan situnya. Sungguh saya seorang pengikut setia setiap cuitan Mas Dhani. Sedemikian keranjingannya, saya sampai sempat mempunyai pikiran cemerlang: seandainya saja saya punya anak perempuan umur dua puluhan yang kalem, baik, pintar, lucu, alim lagi setia, sungguh saya akan relakan dia naik bus umum Jakarta-Jember untuk berbakti kepada ibu Mas Dhani yang mana pada akhirnya saya bisa memiliki anak mantu se-mbois Arman Dhani sang Beyond Hipster Selebtwat.

Kenapa saya harus mengandaikan anak saya dan bukannya saya sendiri untuk mendekati Mas Dhani? Tentu saja karena Mas Dhani tidak mungkin mau sama saya, apalagi kalau tahu saya ini seorang PNS, Penggerutu Negeri Sipil pada Kementerian Sihir Sok Nduiti di Lapangan Banteng. Itu lho lapangan yang ada patung laki-laki melakukan gerakan penuh makna filosofis dengan membuka lebar kedua telapak tangannya ke atas seperti sedang menghamburkan uang. Iya betul, lapangan yang saat malam hari sering dipakai sebagai tempat mangkal mas-mas penyedia jasa senang-senang syubidu-syalala.

Meski keinginan saya mengambil mantu situnya—atau jenis hubungan kedekatan apa pun lainnya—sungguh tak tertanggungkan, manalah berani saya dekat-dekat Masnya. Menyapa saja segan, apalagi saya adalah salah satu daripada target ubi-jalarisasi pemerintahan presiden anyar Jokowi. Uh oh, sungguh saya tak ada nyali memecungulkan diri di hadapan Arman Dhani. Lha bagaimana, Zarry Hendrik yang kekar gagah berotot saja dilibas semudah namplok lalat pakai raket listrik—yah, walaupun setelahnya tetap ada mediasi yang berakhir makan malam romantik, tapi tetap saja—rasanya saya tak berani membayangkan mesti berdandan cosplay apa biar bisa tidak keder bertemu Masnya.

Saya sungguh menyesalkan pikiran saya yang cetek ini—yang jika bisa dihela, pasti sudah saya cambuki supaya bisa mengikuti larinya pikiran Mas Dhani yang gilang-gemilang—sebab sesaat setelah membaca tulisan terbaru Mas Dhani perihal PNS dan umbi-umbian rebus, saya tercekat. Alangkah pemikiran Mas Dhani semangkin moncer adanya.

Mestinya saya sih amin-amin saja atas sabda Masnya. Sebagai salah seorang generasi paling beruntung (atau sial?) yang bisa terlibat (atau terbelit?) langsung dalam proses birokrasi, logikanya saya ikut misuhi Jokowi. Apa-apaan, lha wong saya ini simpatisan dia sejak zaman dia masih culun jadi Wali Kota Solo je. Ikut pula ngebuzz beliaunya di media sosial saya yang seadanya saat pilpres—jangan bandingkan dengan kontribusi media sosial situnya ya, ndak comparable blas—masih harus di-bully pula oleh lingkungan terdekat karena pro presiden anyar kita itu, lha kok ming diupahi ubi.

Ubi! Rak ya tela tenan ta? Ndak tahu terima kasih Jokowi itu. Saya kan njuk nyesel, kenapa saya tidak memilih Jenderal Gembil saja yang menyadari bahwa “birokrasi adalah koentji“, pastinya kami akan diganjar dengan kenaikan gaji gila-gilaan. Belum lagi perkara larangan menyelenggarakan acara di hotel dan keharusan memakai maskapai penerbangan paling murah—yang rutin kecelakaan dan sering terlambat itu. Sungguh, semua itu hanya membuktikan satu hal: Jokowi ndak sayang sama kami.

Mas Dhani yang unyu menggemaskan laiknya trewelu, ini antara kita saja ya, barangkali kesalahan utama Jokowi adalah bahwa dia terlampau pro-poor, sedangkan kebanyakan PNS adalah kelas menengah—yang sering ditambahi predikat ngehe oleh para pegiat twitter sekalian—sehingga inilah kesan yang tertangkap: demi merangkul rakyat kecil, Jokowi seakan terpaksa ngipatke kami, kaum medioker.

Namun, dasarnya saya ini terlalu naif. Saya percaya bahwa jurus penghematan ini memang salah satu usaha memperbaiki sistem. Jadi saya tidak bisa berdiri di sisi sana—seperti seorang ibu-ibu di bus jemputan saya, misalnya—meneriaki Jokowi sebagai pangkal segala jenis penderitaan (anyar) kami. Betul bahwa kami banyak rugi. Kasihanlah, Mas, pokoknya. Ngenes, lha kami ini sebenar-benarnya buruh belaka. Bagi yang ngabdi di Jakarta tetapi tinggal di pinggirannya, kami mesti berangkat setelah Subuh. Untuk bekerja delapan setengah jam setiap hari dengan risiko upah dipotong saat terlambat atau terlalu awal pulang meski cuma lima menit.  Tekor setiap pulang malam akibat ongkos taksi yang tidak tertutup upah lembur itu biasa. Iya, Mas, kami harus naik taksi karena kadang pulang di atas pukul sebelas malam, saat bus Transjakarta dan KRL sudah dikandangkan semua, beberapa teman bahkan harus menginap di kantor pada saat-saat demikian.

Belum lagi soal keselamatan di perjalanan pulang. Ya, saya tahu di manapun dan sedang apapun, yang namanya sial bisa saja terjadi. Tapi Masnya yang selalu ngehits ini pasti paham tentang kejahatan di taksi dan angkutan umum lain yang makin sering menimpa penumpang perempuan akhir-akhir ini. Saya sih ndak paranoid-paranoid amat, lha wong sopir taksi saya yang malah sering ketakutan mengangkut saya.

“Ke mana, Mbak?”

“Pondok Ranggon, Pak.”

“Aduh! Pondok Ranggon yang TPU itu?”

“Iya, Pak. Kenapa?”

“Duh, kemarin teman saya ada yang harus diambil taksinya oleh orang pul taksi pagi-pagi karena sopirnya pingsan saat malam-malam ngantar penumpang perempuan. Tahu-tahu kawan saya itu sudah ada di tengah kuburan.”

“Hi hi hi.”

“Kok Mbaknya ketawanya gitu sih?”

“Ndak apa-apa, Pak, tenang saja, saya bukan setan.”

Kira-kira begitulah, Mas Dhan, percakapan yang harus saya hadapi setiap pulang mendekati tengah malam. Bahkan, setelah dicurigai sebagai setan saya tetap harus membayar, Mas! Melelahkan ya? Iya.

Mas Dhani yang bijak bestari, itu tadi saya bukan mengeluh lho ya. Sama sekali bukan. Saya hanya memaparkan keadaan saja. Toh yang saya ceritakan memang biasa saja, ndak ada yang istimewa. Begini-begini nasib saya jauh lebih baik daripada kawan-kawan kami (dari Bea dan Cukai, misalnya) di daerah-daerah perbatasan sana: Nanga Badau, Entikong, Atapupu, Nabire, Amamapare, Bajoé, Jagoi Babang, dan lain-lain. Sehari-hari menjaga Kantor Bantu di sekitar pos perbatasan, kadang-kadang mesti berhadapan dengan penyelundup atau gerakan pengacau keamanan yang tidak jarang bersenjata. Sudahlah terpencil, terpisah dari keluarga (atau pacar), tunjangan kemahalan tidak menutup biaya hidup, mau beli tiket pulang harganya selangit, daerahnya rawan konflik pula. Jangankan menginap di hotel, tidak kena malaria saja sudah syukur. Bahkan bisa jadi alternatif mengisi waktu luang mereka cuma dua: kalau tidak ibadah, ya merancap. Indah, bukan?

Dan jangan dulu ngomongin sinyal operator seluler, Mas, ndak ada itu. Kecuali kalau bersedia naik bukit atau menggantung ponsel di teritis atap kantor. Kasihan mereka, Mas, sms dan telepon saja sulit, mana bisa online, main fesbuk, bikin status bijak nan cerdas atau apalagi mencuit dan dolanan hashtag dengan kekerapan cuitan mencapai satu cuitan per-mili-detik sampai bisa jadi selebtweet merangkap buzzer fashion atau sepatu terkenal. Mereka mana kenal kemewahan seperti yang Mas punyai, sambil ngupil atau duduk di atas closet, bisa mbribik dedek-dedek dan mbak-mbak ca’em, cerdas lagi menggemaskan, atau adu pintar dengan pemikir-pemikir dan budayawan tenar setiap ada isu baru. Sungguh suatu kemewahan yang tak terbayangkan dunia-akhirat. Mereka juga ndak bisa jualan Tupperware, Mas, nemu piring beling cap Sango saja sudah untung. Buat mereka, mau ada ketentuan harus makan ubi, atau larangan berkegiatan di hotel, atau keharusan naik pesawat dengan harga tiket termurah sama sekali tidak ada artinya. Seperti kentut saja gitu, bau sebentar terus lewat.

Mas Dhani yang tajam lidah dan otak, saya ini sudah berusaha keras lho, bikin perjalanan dinas fiktif, bikin acara ndak jelas dan juga mencoba korupsi, tapi ternyata susah sekali. Saking culun dan dhaif-nya, saat dinas luar ke sebuah kota di Jawa Timur sana, bukannya untung, saya malah buntung banyak. Karena mesti menginap di tempat menginap atasan saya yang standar biayanya jauh dari ketentuan tarif untuk saya. Tahu kan, Mas, rasanya tombok? Sudahlah capek badan dan pikiran, tekor pula. Kayak sudah repot pedekate, njajakke kesana kemari, nyatanya cuma dianggap seperti-kakak-sendiri. Sakit, Mas, kayak yang dibilang Mbak Cita Citata. Maka saya menjura pada mereka yang bisa melipat anggaran seperti sulap saja. Saya pengin belajar, biar kalau ada yang menulis kayak Mas Dhani kemarin, saya boleh melu mongkok, bangga hati bisa sampai dibahas perilaku korup, pula nir-produktivitas serta berbagai sepak terjang ndregil kami oleh priyantun ageng seterkenal Mas Dhani .

Lha sekarang ini, jangankan uang rakyat, korupsi bandwith saja saya sulit. Kampret sungguh. Apalagi kalau mesti memenuhi kebutuhan intelektual saya untuk stalking cuitan Mas Dhani yang selalu ngehits itu, saya mesti pakai bandwith sendiri, beli modem, beli paket internet. Cuk nan!

Jangan, Mas Dhan, jangan biarkan siapapun di dekatmu terperosok menjadi PNS. Karena pada akhirnya, mereka cuma bakal jadi objek nyinyir aktivis dunia maya, disamaratakan dengan Gayus Tambunan, pula tak bebas berpolitik. Kalau kaya dicurigai, kalau miskin kok ya tolol sekali, ndak bisa memanfaatkan kesempatan. Satu lagi, ndak boleh poligami. “Menjadi PNS ialah keniscayaan menggadaikan SK demi bermacam-macam cicilan,” demikian bunyi “hadis” sahih yang diriwayatkan oleh Kepala Biro Umum kami. Duh!

Ndak, saya sih ndak mau punya menantu PNS. Saya mau mantu saya nanti budayawan muda pencinta buku dan pembela minoritas yang vokal, kritis lagi artsy. Ehem. Iya, kayak situnya. Paling mbois memang jadi seperti Mas Dhani, sudahlah nyeleb, pengikutnya ribuan, pula piawai mendedah status  jomblo dan riwayat asmara sekaligus. Bagaimanapun, itu kelas tertinggi dalam piramida sosial kekinian. Social climbing jelas jauh lebih sulit ketimbang panjat pinang saat pesta tujuhbelasan. Untuk itu, saya benar-benar menjura pada Masnya. Jangan pelit bagi ilmu ya, Mas. Saya juga akan sangat bahagia jika Mas Dhani bersedia membagi kudapan bijih uraniumnya sehingga kamipun bisa menjadi reaktif-revolusioner sebagaimana Masnya.

Oh ya, Mas Dhani yang selalu pintar menempatkan diri di segala situasi, Zuma itu apa ya, kok bisa di komputer saya tidak ada aplikasinya. Apakah itu semacam game? Sejenis permainan buat mengisi waktu luang? Isshh, yang suka main Zuma itu pasti belum tahu enaknya mainin perasaan mantan ya, Mas?

Tabik ya, Mas, au bocahmu pokmen!

  • Wahyu Budianto

    syedap tenan tulisannya,