100 Surat

Seumur hidup belum pernah kulihat Oma semarah itu.

Urat-urat di lehernya yang kurus tampak timbul, membentuk jalinan sungai berwarna ungu kemerahan. Suaranya melengking nyaring, membuat gendang telingaku terasa sakit. Telunjuknya teracung laksana belati, menghunus tepat ke arah wajah Mbak Ina.

Aku tak terlalu mengerti kenapa semua pertengkaran itu bisa terjadi. Kenapa Mbak Ina sampai tega membanting gelas di ruang tengah. Mama berkata itu karena Oma dan Mbak Ina sama-sama berkepala batu, sama-sama tak mau mengalah. Watak keduanya mirip, seperti sebuah kutub magnet yang sama, mereka menolak satu sama lain.

Aku juga tak paham kenapa Oma sampai hati berkata tidak ingin melihat Mbak Ina lagi. Papa bilang itu karena Oma terlalu menyayangi Mbak Ina. Oma ingin Mbak Ina meneruskan sekolah daripada mengikuti jejaknya menjadi seorang artis. Ya, masuk akal juga. Aku pernah mendengar Oma berkata hal serupa. Dia bilang percuma terkenal dan kaya tapi gampang dibodohi orang.

Itulah saat terakhir aku melihat Mbak Ina, malam itu, 8 tahun yang lalu. Melihat langsung tepatnya, karena setelah itu masih sering kulihat dia muncul di televisi.

Aku sendiri berpendapat Oma dan Mbak Ina sebenarnya tidak saling membenci. Walaupun sudah ada kesepakatan tidak tertulis di dalam keluarga kami, bahwa kami tidak boleh membicarakan maupun menonton acara televisi yang dibintangi oleh Mbak Ina di depan Oma, sering kudapati hal yang terjadi adalah sebaliknya, Oma sedang menonton acara televisi yang dibintangi oleh Mbak Ina.

Ketika diam-diam sedang menonton, terkadang kuintip Oma tersenyum simpul, tertawa geli, atau bahkan menangis sendu. Biasanya dia langsung mengganti channel  jika tahu ada orang lain yang masuk ke ruang tv. Aku tak tahu kenapa, kakakku bilang Oma mungkin malu jika ada orang lain yang mengetahui hal itu.

Pernah kudengar dari Opa bahwa Oma sebenarnya rutin menulis surat, mengungkapkan rasa penyesalan dan rindunya pada Mbak Ina, tapi Oma tak pernah berani mengirimkan surat-surat itu.

Mbak Ina pun begitu. Saat Oma dirawat di rumah sakit karena terkena stroke ringan, dan butuh biaya besar untuk perawatannya, aku tahu Mbak Ina yang diam-diam membayar semua biaya perawatan Oma. Dia juga sering mengirimkan uang kepada kami dan memberikan parcel  di hari raya.

Mungkin selama ini hanya harga diri yang menghalangi keduanya untuk kembali bertatap muka.

Aku kembali teringat kata-kata terakhir yang diucapkan Mbak Ina untuk Oma, sambil membanting pintu depan dia bilang bahwa dia tidak akan menginjakkan kakinya kembali di rumah ini selama Oma masih hidup.

Mbak Ina menepati janjinya.

***

Sesaat setelah Oma meninggal, ketika kami semua sedang menangis tersedu-sedu memandangi tubuhnya yang terbujur kaku dan terbalut kain kafan di ruang tengah, Mbak Ina pulang.

Aku tak bisa membaca apa yang digambarkan oleh ekspresi wajah Mbak Ina. Wajahnya tampak pucat pasi dan kosong. Tapi dia tidak segera masuk ke dalam, hanya berdiri di pintu depan, memandangi jenazah Oma.

Mbak Ina tidak menangis saat itu, tidak terlihat juga raut wajah sedih dan air mata, hanya kekosongan.

Mbak Ina akhirnya masuk ke dalam rumah setelah dibujuk oleh Opa dan Papa, tapi dia tidak bergabung dengan kami di ruang tengah, melainkan langsung masuk dan mengunci diri di dalam kamar Oma.

Berkali-kali kami menggedor pintu dan menanyakan keadannya, tapi dia memohon agar kami semua membiarkannya berada di kamar Oma, untuk satu malam saja. Aku bahkan membawakannya makan malam, tapi Mbak Ina tetap tidak mau keluar, entah sedang apa dia di dalam sana.

Opa merasa khawatir, jadi dia memutuskan untuk berjaga di depan kamar Oma, dia takut Mbak Ina melakukan hal bodoh. Aku yang tak bisa tidur karena masih terbayang semua hal tentang Oma ikut duduk di depan kamar Oma bersama Opa, sampai akhirnya aku tertidur.

***

Pukul tiga pagi, aku terjaga, sepertinya kudengar sayup-sayup suara isak tangis dari dalam kamar Oma.

***

Sekitar pukul enam, saat kami bersiap-siap untuk memakamkan Oma, pintu kamarnya perlahan terbuka. Mbak Ina muncul dengan mata merah dan bengkak, dia menggenggam setumpuk amplop.

Mbak Ina pergi ke ruang tengah, kulihat dia berlutut dan memeluk jenazah Oma, sambil menyelipkan setumpuk amplop itu.

Saat itulah Mbak Ina mulai terisak..

Ekspresi kosongnya sekarang berubah menjadi ekspresi kesedihan yang luar biasa. Berulang kali dia memeluk tubuh kaku Oma, seraya berbisik ke telinganya, mengeluarkan semua isi hati yang selama ini dipendam olehnya. Dia meminta maaf atas semua sifat keras kepalanya pada Oma, bahwa betapa dia sebenarnya sangat menyayangi dan mengidolakan Oma, betapa sesungguhnya semua yang dia lakukan semata-mata untuk membuat Oma bangga.

Dia juga berbisik bahwa dia tahu dari Opa bahwa selama delapan tahun Oma terus menulis surat kepadanya, satu surat setiap bulan. Dia menemukan semua surat itu tadi malam di kamar Oma, dia telah membaca semuanya, dan membalas keseratus surat itu satu-persatu.

Aku menggeleng pelan, “terlambat mbak.. terlambat..”

Setelah itu Mbak Ina kembali menangis.

Tanpa sadar bola mata kami semua yang belum sepenuhnya kering kembali basah mendengar tangisan pilu Mbak Ina.

***

  • http://www.arifkancil.com arif wibowo

    keren mas..asik, kenal dengan satu lagi penulis dari korps DJP, Silahkan mampir ke blog saya mas, http://www.arifkancil.com/