Melankolia Juni: Krakatau Trip

Sepertinya Juni adalah bulan di mana semua orang berubah menjadi sentimentil. Memang cuma pendapat pribadi dan mungkin tidak semua orang. Tetapi minimal semua orang yang pernah mendengar romantisme Tuan Sapardi dalam puisinya yang tersohor itu, sepertinya pernah menghabiskan suatu hari di bulan Juni yang hujan, sambil memandang menerawang sementara benaknya berkelana jauh entah ke mana.

Dan Juni tahun ini (2014) adalah bulan di mana beberapa orang terdekat dan mantan orang terdekat memulai mengayuh bahtera mereka di kehidupan barunya. Kepada mereka, saya menghaturkan doa terdalam saya ke atas langit. Hanya doa yang diam-diam, tanpa diikuti konfirmasi di linimasa karena menurut saya doa tetaplah personal.

Menganggap segelintir orang berubah menjadi lebih sentimentil bukan berarti saya pun merasa lebih sentimentil. Walaupun pada dasarnya pria melankolis kesepian ini sangat percaya dengan intuisi. Tepat di hari seharusnya saya berada di resepsi yang meriah pernikahan sang mantan kekasih yang menikah dengan pria pilihan orang tuanya, saya malah memutuskan untuk mengunjungi sebuah gunung vulkanis aktif yang ternyata terletak di tengah lautan. Saya menempuh perjalanan ke Gunung Anak Krakatau.

Atas ajakan yang sangat mendadak dan tak diduga oleh seorang teman yang mempunyai sebuah usaha jasa travel service organizerOmbak7tour.com, saya diminta menjadi guide assistant untuk membawa serombongan pemudi dan pemuda yang terlihat sepertinya menekuni karir di bidang kreatif. Tebakan saya hampir tidak meleset setelah saya berkomunikasi lebih lanjut kepada mereka. Bahkan beberapa dari mereka ternyata mengenali wajah saya yang pernah terlibat dalam beberapa acara lomography di embassy store daerah selatan Jakarta.

Perjalanan kami mulai dari terminal Kampung Rambutan. Ini adalah kali pertama buat saya menyentuh terminal yang dulu terkenal dengan tingkat kriminalnya. Namun kemudian rasa waswas saya perlahan menyurut setelah meyeruput kopi instan hangat dalam gelas plastik di warung pinggir terminal selepas isya. Setelah rombongan yang harus saya kawal tersebut lengkap dan siap, perjalanan menggunakan bus antarkota pun kami mulai. Perjalanan ke Pelabuhan Merak memakan waktu kira-kira 2 jam.

Seperti biasa, saya memilih untuk duduk di bagian isle. Perjalanan ke Merak saya isi dengan kegiatan pura-pura tertidur sampai separuh perjalanan karena tepat di sebelah saya ternyata berdiri seorang wanita berjilbab yang tidak kebagian kursi penumpang. Ada sedikit rasa tidak nyaman karena ternyata supir bus mengizinkan penumpangnya berdiri sepanjang perjalanan. Di tengah perjalanan dengan alasan pergi ke toilet saya mempersilahkan wanita berjilbab yang ternyata membawa pasangannya itu untuk duduk di kursi saya. Sekali lagi terbukti bahwa emansipasi wanita adalah sebuah konspirasi.

Sementara saya menuju ke daerah belakang bus untuk ke toilet kemudian menyalakan sebatang kretek, di bagian smoking area. Kebetulan bus yang kami tumpangi berfasilitas toilet, smoking area dan tv yang di pasang di bagian depan. Saya lihat pertandingan Timnas Garuda melawan Timnas Belanda sudah dimulai. Saya sama sekali tidak tertarik untuk menyaksikan bagaimana timnas negara sendiri itu dibantai (lagi).

DSC_1104

Sesampainya di Pelabuhan Merak, kami langsung menuju loket penjualan tiket ferry untuk menyeberang ke pulau Sumatera bagian paling selatan via Pelabuhan Bakauheni. Ketika berbasa-basi menanyakan jadwal penyeberangan, saya diberi tahu kalau ternyata jadwal kapal ferry untuk mengantar penyeberangan datang setengah jam sekali. Saya tidak melihat tumpukan antrean untuk menaiki ferry. Mungkin juga dikarenakan hari yang juga sudah menunjukkan larut malam.

Kira-kira pukul 4 pagi ferry yang kami tumpangi merapat di Pelabuhan Bakauheni yang kemudian kami lanjutkan dengan menaiki kendaraan carteran yang sudah dipersiapkan dahulu oleh teman saya. Kami harus menuju pelabuhan kecil yang lain untuk menyeberang ke Kepulauan tempat Anak Krakatau tersebut berada. Di Pelabuhan Canti ini lah kami mempersiapkan diri untuk memulai perjalanan yang sebenarnya. Tiba-tiba saya teringat bahwa inilah perjalanan saya yang kesekian kali tanpa memberi kabar kepada siapapun, bahkan kepada Ibu di rumah. Karena saya tahu Ibu pasti mengerti.

DSC_1112

Sehabis subuh yang basah karena gerimis yang turun sejak perjalanan ke Pelabuhan Canti. Saya memutuskan untuk menambah energi dengan memesan segelas kopi dan beberapa potong gorengan di satu-satunya warung yang telah buka dan juga telah menyalakan kompornya. Inilah salah satu kenikmatan hidup di Republik ini. Di mana pun kita berada selama ada warung yang memajang juluran-juluran kemasan kopi instan, di situ lah letak kehangatan dan keramahan dimulai. Lalu subuh yang belum terlalu terang itu pun terisi dengan kegiatan menyeruput segelas kopi hitam instan, di tengah kesibukan beberapa awak kapal mulai mempersiapkan pelayarannya.

DSC_1113

Kami menaiki kapal yang menurut nahkoda bisa bermuatan 35 orang itu menjelang naiknya matahari di ujung horizon, yang masih tertutup awan mendung bekas gerimis. Walaupun begitu perasaan asing mencium udara pagi di pelabuhan asing yang baru pertama kali saya datangi tetap saya nikmati dengan mengambil beberapa gambar sekadarnya dengan fitur kamera di perangkat seluler yang saya matikan sinyalnya untuk menghemat konsumsi baterai.

Sempat terpikir untuk meng-upload foto-foto awal perjalanan tersebut ke beberapa akun social media yang saya punya. Namun saya urungkan mengingat masih terlalu pagi untuk muncul di timeline seseorang. Apalagi, pulau yang kami tuju ternyata bukanlah jenis pulau yang menyediakan sinyal seluler yang memadai untuk ber-interweb over sharing.

Perjalanan menuju pulau tempat kami menginap memakan waktu kira-kira 1,5 jam. Nama pulau yang kami tuju adalah Sebesi, pulau kecil yang berada dalam daerah administrasi Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Setelah mengisi perbekalan untuk di Pulau atau Gunung Anak Krakatau, perjalanan menuju Anak Krakatau kami lanjutkan.

Anak Krakatau terletak di belakang Pulau Sebesi apabila mengambil patokan dari dermaga tempat kapal merapat dan terhalangi oleh sebuah gunung juga yang berada di Pulau Sebesi tersebut. Perjalanan ke Krakatau pun sudah mulai menunjukkan pesona kepulauan tersebut. Gugusan pulau-pulau kecil yang hijau subur ditutupi semak dan pepohonan mengisi jalur pelayaran kapal kecil bermesin mobil itu. Lautan yang tidak terlalu bening ternyata tidak melunturkan kebiruan yang berkilau khas warna lautan di Perairan Nusantara. Beberapa kali kalimat “Subhanallah” saya ucapkan dalam hati seiring usaha saya membunuh mimpi untuk pergi berkelana dengan kekasih yang belum juga ditunjukkan wujudnya oleh Yang Di Atas (sedikit curhat).

Kemudian saya tersadar, daya tarik sebuah perjalanan bukanlah dengan siapa kita menjalaninya, tetapi bagaimana cara kita menuju ke tujuan tersebut. Apalagi saya berada di tengah-tengah rombongan yang berusia rata-rata lebih muda dari saya. Seakan saya ditunjukkan oleh Yang Di Atas bahwa begitulah kira-kira gambaran keadaan saya ketika memulai perjalanan-perjalanan sunyi dahulu.

DSC_1125

Setibanya di pantai di mana Anak Krakatau bertempat kami langsung berbondong-bondong menuju toilet terdekat yang hanyalah berbentuk sebuah toilet darurat minim air bersih. Air mineral kemasan pun jadi solusi pengganti. Sebelum jalur mulai menanjak dan melewati tataran pasir-pasir hitam vulkanis yang dikeluarkan oleh Gunung Anak Krakatau kami melewati barisan kecil pepohonan yang didominasi oleh vegetasi pohon Cemara. Ternyata Cemara adalah salah satu tumbuhan yang bisa beradaptasi dengan udara sulfur dan temperatur tinggi khas daratan vulkanis Gunung Anak Krakatau. Pendakian kami mulai sehabis melewati hutan cemara tersebut. Tingkat kemiringan untuk mencapai titik aman terakhir di Anak Krakatau terlihat cukup signifikan.

DSC_1130

Sempat beberapa kali saya berhenti dan membalikkan arah ke belakang untuk menyemangati beberapa anggota rombongan yang terlihat hampir putus asa dan sangat kelelahan menghirup udara berbau mesiu khas udara bercampur gas vulkanis dari kawah Anak Krakatau. Apalagi medan yang dihadapi bukanlah tanah padat statis yang mudah ditapaki. melainkan pasir yang sangat dinamis bercampur pecahan-pecahan batu ukuran besar yang bisa berfungsi sebagai tempat beristirahat saat perjalanan pendakian. Apabila tidak terlalu banyak berhenti untuk mengatur napas dan meluruskan kaki, maka perjalanan menuju titik aman terakhir Anak Krakatau akan memakan waktu tak kurang dari setengah jam berjalan kaki.

DSC_1132

DSC_1134

Selama berada di jalur pendakian kami seakan digoda dengan panorama gugusan perairan dan kepulauan yang mengelilingi Krakatau. Sangat menggoda untuk memutuskan berhenti dan kemudian mengambil gambar. Apalagi terlihat dari bawah bahwa titik pendakian berakhir di gundukan besar pasir dan bebatuan kehitaman yang kurang menarik. Namun ternyata panorama yang disuguhkan di atas titik tersebut cukup mengundang senyum terkesan. Di tengah gundukan pasir dan bebatuan vulkanis itu kami disuguhkan oleh perasaan aneh yang sangat menyenangkan. Bisa jadi ada sedikit pengaruh uap sulfur yang terhirup rongga pernafasan. Puluhan frame foto pun terlihat diabadikan oleh rombongan.

DSC_1145

Tak lupa saya pun mengeluarkan Holga yang sejak awal perjalanan saya simpan untuk menghemat frame. Panorama gugusan pulau di sekeliling Anak Krakatau yang lebih terlihat jelas dari ketinggian mengundang pujian-pujian yang terucap pelan atas salah satu pesona ciptaan Sang Arsitek Kehidupan tersebut.

DSC_1149

Setelah puas mengambil foto dan mengisi tenaga kami memutuskan untuk kembali ke pantai yang berarti harus melewati jalur yang menurun. Beruntunglah jalur yang kami tempuh bukan jalur pasir yang kami hadapi sewaktu mendaki ke atas. Jalur turun yang kami lewati lebih landai namun tetap berpasir dan harus waspada. Beberapa kali saya refleks melompat dikarenakan dataran yang saya pijak merosot ke bawah.

Dikarenakan terlalu fokus memilih jalan, saya dan dua peserta rombongan yang juga terlihat hati-hati memilih jalur pun tertinggal dari rombongan. Ketertinggalan kami bertiga dari rombongan baru saya sadari ketika harus memilih jalur yang bercabang dua dan tidak terlihat jejak rombongan yang meninggalkan kami. Tak ada kepanikan karena pengetahuan bahwa hutan tempat kami tersesat bukanlah seluas hutan tropis Kalimantan ataupun pegunungan Bukit Barisan. Tetapi tetap saja terlihat tricky dan membingungkan.

DSC_1160

Jalur hutan yang kami lewati didominasi oleh tumpukan daun-daun cemara yang rontok akibat udara panas sehingga tidak meninggalkan jejak bekas langkah rombongan yang meninggalkan kami. Saya terpesona sesaat, saya terkagum oleh tumpukan daun-daun cemara tersebut yang terhampar seperti lapisan permadani mahal yang dibentuk secara alami oleh gunung yang syahdan letusannya pernah terdengar sampai ke daratan Eropa tersebut.

DSC_1173

Ketika menyentuh pantai dan kembali bergabung dengan rombongan pun kami dihujani dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak bisa saya jawab dengan kalimat sederhana. Pertama kalinya mendaki Anak Krakatau dan tersasar adalah pengalaman yang baru buat saya. Penjelasan saya akhiri dengan mengambil dan kemudian menikmati kesegaran buah kelapa muda yang telah dipersiapkan untuk kami. Matahari terlihat sudah cukup tinggi namun jam belum juga menunjukkan tengah hari. Kami masih punya banyak waktu untuk melepas lelah dan bermain pasir di pantai tepian Anak Krakatau.

Setelah puas mengisi tenaga dan bermain di pantai, rombongan memutuskan untuk memulai agenda snorkeling di spot paling menarik menurut nakhkoda kapal yang kami tumpangi. Kami menuju Lagoon Cabe, tempat di mana kapal-kapal yang membawa wisatawan-wisatawan domestik dan mancanegara telihat melempar sauh dan mempersilakan penumpangnya untuk menceburkan diri ke perairan air asin yang hangat akibat pengaruh suhu gunung vulkanis yang tengah beraktifitas jauh di dalam perut bumi yang terdalam.

Tak banyak terumbu karang yang berwarna-warni memang, namun seakan terbayar dengan ratusan jenis makhluk hidup lautan yang menghampiri kami yang semuanya memasang muka kagum. Setelah memastikan bahwa rombongan tidak terpencar terlalu acak dan masih dalam jangkauan aman saya memutuskan untuk segera menyusul nyemplung ke laut.

DSC_1183

Setelah menghabiskan beberapa waktu untuk melepas kerinduan saya oleh rasa asin dan basah yang bercampur ketenangan ketika berada di laut. Saya mengambil inisiatif untuk meminjam kamera underwater milik teman yang bertindak sebagai guide leader yang ternyata memutuskan untuk mengawasi dari atas kapal. Dan ternyata tetap saja saya kesulitan untuk melakukan duck diving agar bisa mengambil gambar dari bawah permukaan laut. Alhasil foto-foto hasil jepretan saya di bawah laut pun terlihat sangat biasa berisi badan-badan yang terpotong akibat kurang terlalu dalam menyelam mengambil gambar.

Beberapa kali usaha saya untuk menunggingkan bokong ke atas dan memberikan dorongan ke bawah permukaan gagal dan berakhir dengan kepanikan karena kurang menahan oksigen. Setelah beberapa kali mencoba dan dipandu oleh teman saya mengawasi dari atas akhirnya saya berhasil melakukan duck-diving walaupun tidak terlalu dalam mengingat nafas yang saya tahan tidaklah terlalu banyak untuk berada di bawah permukaan laut. Ketika menginjak lantai kapal, saya merasakan senyum yang terkembang dari wajah saya karena berhasil melakukan duck-diving untuk pertama kalinya.

Setelah puas bermain dengan makhluk-makhluk ramah sekaligus misterius penghuni lautan Selat Sunda tersebut, saya dan rombongan kembali menuju Pulau Sebesi dan mengakhiri kegiatan di dalam air untuk hari itu. Di tengah perjalanan kami disuguhkan panorama sang matahari yang mulai terbenam. Sangat syahdu sekali sebenarnya. Tapi tak lama kemudian lewat lah sebuah kapal sewaan yang ternyata berfasilitas perangkat berpengeras suara. Terdengar dentuman musik yang terdengar tidak sesuai dengan suasana senja di tengah Selat Sunda. Nada-nada beat tinggi yang diolah ala cafe dangdut Pantura terdengar saat kapal kami berselisihan. Saya cuma melihat senyuman-senyuman menyindir dari rombongan. Saya lihat nahkoda dan para pegawainya tersenyum menertawakan dari balik meja kemudi kapal yang kami tumpangi.

DSC_1184

DSC_1188

DSC_1192

Pulau yang kami tuju untuk menginap adalah pulau yang mengizinkan penduduknya mengendarai sepeda motor tanpa plat nomor polisi dan helm. Malahan di tengah perjalanan berjalan kaki menuju rumah tempat kami menginap, beberapa kali kami sempat dilewati oleh beberapa sepeda motor yang dikendarai oleh bocah kecil yang bahkan terlihat belum pernah mimpi basah.

Kegiatan malam hari tenyata berupa menyalakan lampion yang diterbangkan di pinggiran pantai yang lumayan berangin bak Leonardo DiCaprio dalam film The Beach. Cukup menarik juga memerhatikan bagaimana anggota rombongan yang berpasangan dan yang tidak, mencoba menerbangkan lampion yang mereka beli dan bawa dari Jakarta. Ternyata ada sedikit harapan yang mereka kiaskan dalam ritual menerbangkan lampion-lampion tersebut. Saya cuma berharap dalam hati mereka bukanlah salah satu wisatawan yang merusak kesyahduan ibadah Waisak tahun ini di Borobudur yang gagal melihat lampion terbang karena hujan dan aktifitas ibadah yang terganggu.

DSC_1203

DSC_1215

Satu persatu lampion berhasil diterbangkan. Satu-persatu terdengar teriak girang karena lampion atau harapannya akan terkabul karena penerbangan lampion yang diawali ritual make a wish itu berhasil diterbangkan. Perjalanan pulang menuju tempat menginap pun saya dengar terisi dengan gumaman-gumaman penuh riang atas pengalaman menerbangkan lampion atau harapan malam itu.

Keesokan harinya adalah hari terakhir kami di pulau Sebesi itu. Rencana awal yang semula berjadwal sangat pagi itu pun mengulur sampai kira-kira agak siang dikarenakan malamnya kami tertidur dengan perut kenyang berisi ikan bakar yang menyambut di rumah tempat menginap sebelum tidur. Hari kedua berisi agenda menuju beberapa pulau yang namanya saya lupa.

DSC_1238

DSC_1245

Selepas puas bermain air, kami memutuskan untuk kembali ke pulau Sebesi setelah tengah hari untuk bersiap menuju pulang dan kembali ke Jakarta. Tak cukup banyak detil yang coba saya ingat saat dalam perjalanan menuju Jakarta. Perasaan enggan kembali lagi ke kehidupan normal yang saya hadapi cukup menjadi alasan kenapa di tengah perjalanan kapal ferry ke Pelabuhan Merak saya habiskan dengan berdiri di luar ruangan dan memandangi horizon yang ternyata menunjukkan suasana senja kembali.

DSC_1350

Mungkin benar adanya bahwa saya merasa sedikit melankolis di bulan Juni tahun ini.

Perdhana

Jarang menulis. Senang berduskusi. Suka membaca. Benci hura-hura.